
Hari demi hari kian berlalu, kedekatan hubungan kedua insan Kara dan Kari semakin intens terlebih mereka tidak memperkerjakan seorang pembantu tetap dalam rumah ini, mereka hanya menerima seorang bersih-bersih setiap pagi lalu akan pergi saat sore hari.
Pagi yang cerah dengan sinar mentari menerobos masuk melalui jendela kaca. Pagi ini Kana sedang bergulat dengan spatula dikedua tangannya, memasak ayam kecap sebagai menu sederhana.
"Baunya bikin lapar," Ucap seseorang dengan satu tangan tiba-tiba merengkuh tubuh Kana dari samping. "Bunda capek ya?"
Kana tak menjawab hanya memanggukan kepada sebagai jawaban pertanyaan Kari. Karena Kana merasa jika suhu badannya terasa sedikit hangat dengan satu lubang hidung tersumbat.
Kana menuang ayam itu ke piring setelah ia rasa semua bumbu yang digunakan telah meresap, lalu setelannya Kana membawa ayam tersebut menuju meja makan dengan dikuti oleh Kari yang membawa satu gelas susu bumil.
"Di perusahaan banyak banget ya tugasnya, sampai demam gini badannya?"
"Iyaa, banyak meeting dihotel. Lagi musim nikah soalnya." Kana menjawab dengan canda dan sedikit tawa.
"Di RS juga, lagi musim hamil. Tanggung jawab pasien saya meningkat disana dan kemungkinan nanti pulangnya sedikit malam dari sebelumnya. Bunda mau tetap berangkat kerja?"
"Iya, kalau nggak kerja nanti kita mau makan apa?"
"Saya memiliki satu buah atm pemberian dari ayah bunda yang tidak pernah saya gunakan saat kuliah, kita makan dari uang itu untuk sementara waktu." Kari menjawab dengan ekspresi wajah memelas layaknya seorang pengangguran tanpa usaha.
"Saya juga ada dua atm dari ayah dibank yang berbeda. Tadinya hanya ayah buatkan satu atm, tapi karena jarang saya pakai uangnya jadi hingga 2m lebih dalam kartu tersebut sehingga kelebihan uangnya saya pindahkan ke bank lain, agar aman jika terjadi hal buruk yang tidak diinginkan. Karena yang dijamin lembaga penjamin simpanan hanya 2m jadi tidak bisa lebih jika nanti uangnya hilang atau bank mengalami kegagalan masalah maka uang aku hanya akan diganti 2m jika ada lebihnya itu tidak akan diganti."
"So, bunda nggak usah kerja ya. Istirahat di rumah." Perintah Kari dengan tangan mengarahkan gelas yang berisi susu bumil itu pada mulut Kana.
"Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali saya menikmati uang yang ayah berikan, rasanya begitu hampa dan menyedihkan. Selalu diberi uang namun tidak pernah jalan bersama membeli barang yang saya suka."
"Bunda ingin sesuatu?"
"Tidak! saya tidak menginginkan apapun." Dengan tegas Kana menjawab namun, diiringi derai air mata kian mengalir membasahi pipinya.
Kari yang sadar akan suasana hati dalam diri Kana langsung menarik Kana dalam dekapan dada bidang miliknya, dengan diikuti tangan yang direntangkan merengkuh tubuh Kana untuk memberi pelukan kehangatan dan usapan lembut pada punggung Kana.
"Saya sudah hancur sejak kecil,"
"Mufi telah menceritakannya pada saya. Akan saya cari dan saya satukan lagi puing-puing kehancuran diri kamu hingga utuh kembali, Kana."
"Sudah menjadi tugas saya untuk membersihkan berantakan itu hingga tertata rapi kembali, Kana. Kekacauan pikiran diri kamu akan saya bereskan."
"Saya gila,"
"Kamu tidak gila, tapi pikiran kamu yang mendorong kamu menjadi gila. So, akan saya buat pikiran kamu menjadi tenang agar memproduksi memori indah hingga pikiran negatif dalam diri kamu terkubur dalam-dalam dan kamu tidak akan sanggup lagi untuk mengingatnya, karena memori kebahagiaan yang akan kamu dapatkan."
"Saya buruk,"
"Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk memperindah diri kamu Kana. Jika menikah menjadikan kamu tertekan, maka saya gagal membahagiakanmu. Jika menikah menjadikan kehidupan kamu jauh lebih buruk dari yang kamu jalani saat sendiri, maka saya gagal menghidupi kamu Kana. Jika dengan menikah saya membuat kamu tertekan mental, maka saya tak pantas disebut sebagai seorang suami. Karena tugas saya mengantikan orang tua kamu dalam menjaga dan melindungi fisik maupun mental kamu dari bahaya yang mengancam dan membuat kamu tertekan."
"Ayah... " Kari merasakan gelengan kepala dari Kana yang ada dalam dekapan dada bidang miliknya,
"Apa bunda?" Jawab Kari dengan tangan mengelus puncak kepala Kana. "Tolong percakapan kebahagiaan kamu kepada saya. Saya berjanji tidak akan menyakiti, tolong jangan simpan luka kamu sendiri ada saya Kana. Saya rumah kamu selamanya hingga kita mencapai batas usia, tolong manfaatkan saya karena saat kamu menyimpan, melakukan, dan mengatasi segalanya seorang sendiri saya merasa seperti seorang suami yang tidak berguna. Saya gagal," Lanjut Kari.
Kana menggelengkan kepala sebagai jawaban atas ketidak setujuan yang Kari katakan, "Saya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja saya terbiasa mendiri. Saya merasa sungkan untuk minta tolong jika saya masih bisa melakukannya seorang diri,"
"Begitu tegas cara ayah kamu mendidik putri kecil ini, hingga sekarang menjadi sosok putri dewasa yang mengikat kuat jiwa anak kecil yang masih bersarang dalam diri kamu. Saya ada untuk memberikan warna dalam hidup kamu, tidak ada salahnya jika kamu meminta bantuan pada saya untuk hal sekecil apapun itu saya dengan siap membantu."
"Saat kecil saya dituntut untuk bisa melakukan segala hal secara mandiri dan tidak diperbolehkan memanggil ataupun meminta bantuan pada orang lain sekalipun pada seseorang pembantu. Saya tidak boleh menangis, saya juga tidak boleh mengeluh, dan saya tidak boleh menampakan wajah lemah dengan penuh kesedihan. Saya selalu dituntut untuk sempurna dengan menggunakan topeng setiap harinya. Saya hancur namun tidak boleh memperlihatkan pecahan kehancuran saya. Saya tidak boleh mengeluh karena saat saya mengeluh akan dimarahi habis-habisan hingga mendapat sebuah hukuman dan setelahnya saya akan dihakimi karena mereka semua jauh lebih lelah, letih dan capek dari saya."
"Inner child kamu terluka Kana," Kari semakin erat memeluk tubuh Kana, baru kali ini Kana memperlihatkan sisi lain dari dirinya pada Kari, sisi tubuh Kana yang lemah dan penuh luka dalam jiwa.
"Inner child?"
"Iyaa, kita sembuhkan secara perlahan yaa." Dengan hangat dan penuh kelembutan Kari mengecup singkat dahi Kana yang diikuti oleh tangan yang mengelus dan menepuk pundak Kana. "Terimakasih sudah bertahan sejauh ini wanita kuat. Saya tau sedikit tentang kamu, tentang kamu yang selalu dipaksa ceria namun menyimpan banyak luka. Tentang kamu yang selalu membawa luka dalam kegelapan agar tidak nampak oleh sekitar dan menangis dalam diam. Sekarang ada saya kamu bebas mengekspresikan kesedihan, kehancuran, dan kegelisahan diri pada saya. Saya akan selalu ada untuk kamu hingga akhir nanti,"
"A-ayah tolong jangan buat calon generasi penerus kita ini merasakan penderitaan yang saya rasakan dan kesedihan yang ayah alami. Dia harus penuh dengan kebahagiaan dan dukungan,"
"Pastinya bunda, maka dari itu saya mengajak bunda untuk belajar parenting bersama untuk kebahagiaan anak kita nantinya." Kana memegang perut keras Kana yang sedikit menonjol. "Anak kita akan mendapatkan kebahagiaan tanpa tekanan internal dan eksternal. Beby akan tumbuh dengan jiwa beby sendiri, bunda dan ayah tidak akan menuntut nantinya. Setiap malam nanti sebelum tidur kita belajar parenting ya bunda."
Kana menarik sudut bibirnya, kala melihat interaksi Kari dengan calon anak beby yang ada didalam perutnya, "Iya ayah."