OHH, No!!!

OHH, No!!!
30. Saling terbuka dan memaafkan



Disisi lain Kana berbaring seorang diri tanpa ada yang menemani ada didalam kamar inap dengan badan lemas dan infus yang terpasang. Kana sungguh tak nyaman dengan keadaan diri yang seperti ini.


Badan Kana yang terasa lelah dan sakit kian mendorong diri Kana terpejam masuk dalam dunia mimpi yang penuh khayalan semata di dalamnya.


Mata yang terpejam itu kian terbuka secara perlahan menyesuaikan cahaya ruang kamar setelah dia tertidur cukup lama. Pandangan mata Kana kini fokus pada jam yang ada di atas nakas samping tempat tidur yang menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit. Kana menatap sekeliling ruangan dan terlihat tidak ada satupun orang yang menemani dirinya.


Netra hitam itu kian mengeluarkan air mata, kala kesedihan dalam diri tidak bisa diungkapkan dengan ucapan kata. Air mata menetes membasahi bantal yang Kana tiduri, menjadi saksi betapa pusingnya kepala kana dan betapa sedihnya hati Kana dengan dekap jantung berdetak dengan cepatnya.


Bunyi pintu yang di dorong masuk mengalikan pandangan mata Kana. Terlihat seorang laki-laki dengan keadaan badan yang nampak lebih segar, dari pertama kali tadi dia datang menemui dirinya.


"Sudah bangun, apa ada yang sakit?" Kari berjalan maju menemui Kana yang terbaring di atas brankar pasien. "Kenapa nangis? Apa ada bagian tubuh yang terasa sakit ataupun kurang nyaman?"


Kari menatap lekat mata Kana yang terpejam dengan mengeluarkan air mata dan isak tangis dari bibir manggil yang sedikit terbuka. Kari yang geram dengan Kana yang tak kunjung menjawab langsung melepas stetoskop yang ter kalung pada lehernya, memeriksa keadaan tubuh kana hingga tiba pada perut Kana yang baik-baik saja tanpa ada hal yang serius ataupun salah dalam diri Kana.


"Kamu kenapa hmm?" Dengan perlahan Kari melepas sepatu yang dia kenakan dan bergegas naik pada ranjang tempat tidur Kana. Kari merebahkan diri di samping Kana dengan meletakan kepala tepat di samping kepala Kana dan tak lupa juga tangan Kari mendekap tubuh Kana, membawa Kana kedalam pelukan hangat dirinya. "Coba katakan apa yang menjadi sebab air mata kamu keluar?"


"N-nggak,"


"Kamu marah dengan saya?"


"Enggak,"


Kari semakin dalam mendekap tubuh kana dalam dirinya, "Gemasnya istri saya ini..."


"Jagan dekat-dekat, jagan sentuh-sentuh, lepas..." Kana berusaha melepaskan diri dari Kari, namun usaha yang Kana lakukan hanyalah sia-sia. Karena perbedaan energi diantara mereka"L-lepass"


"Kalau saya nggak mau?"


"Terserah." Kana diam dalam dekapan Kari dan tak lagi memberontak untuk membebaskan diri.


"Ngambek ni, ceritanya?"


"Nggak,"


"Coba sini lihat wajahnya," Kari sedikit memundurkan diri dari posisi tidurnya untuk melihat wajah Kana. Nampak Kana juga menatap Kari dengan hidung dan mata memerah lalu tanpa aba-aba ataupun peringatkan, Kari langsung mencium dahi Kana cukup lama. "Maaf ya, sudah buat kamu nangis."


"Permintaan maaf saya tolak,"


"Jagan gitu. Dosa menolak maaf suami yang sudah dengan tulus meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak ingin mengulanginya lagi."


Kana tak mempedulikannya lagi kalimat yang Kari lontarkan. Karena emosi kiam merambat dalam diri dengan ego yang menguasai diri Kana saat ini. Namun, Kana tak sanggup mengatakan apapun lagi selain menangis.


"Maaf jika saya belum bisa membuat kamu bahagia dengan saya, kamu tertekan, dan kamu terluka karena saya. Saya minta maaf dengan sungguh-sungguh dan sedalam-dalamnya atas perbuatan saya yang menyakiti dan menyinggung diri kamu. Saya ingin keterbukaan diri kamu agar saya bisa memperbaiki sikap saya yang tidak kamu suka." Ungkap Kari dengan menatap netra hitam dimata Kana yang tertidur di samping dirinya.


"Saya nggak suka dengan ekspresi wajah kamu saat sedang marah ataupun kesal. Saya nggak suka kamu menunjukkan ekspresi tersebut pada saya atau pada anak kita nanti. Saat baby nanti lahir di dunia yang pertama dia lihat, baca dan dia amati adalah ekspresi wajah dari kedua orang tuanya. Termasuk kamu sebagai ayahnya, kalau kamu menampakan wajah sebal, marah, dan kesal pada anak kita nanti yang ada dia akan takut karena melihat ekspresi wajah kamu dan hal ini nanti akan berpengaruh pada cara dia berinteraksi secara sosial dengan orang lain. Kamu menatap dia dengan tatapan sedih, benci, ataupun marah maka dia akan menatap sekelilingnya dengan ekspresi seperti itu juga dengan rasa takut yang menjalar dalam dirinya dan kalau kamu terus-terusan saat marah menunjukkan ekspresi negatif maka anak kita nanti akan menghindar dari kamu sebagai seorang ayahnya. Dia akan takut dengan kamu, lalu akibatnya apa. Anak ini akan kekurangan kasih sayang dari seorang ayah, saya tidak menginginkan hal itu terjadi... "


Kari menatap Kana begitu lekat dan teduh, dia merasa jika posisi dirinya sangatlah jauh dibawah Kana. Dulu Kari berfikir jika Kanalah yang belum siap memiliki anak, namun sekarang Karu merasa jika dialah yang belum siap dengan kehadiran seorang anak. "Maaf, akan saya kendalikan emosi dan ekspresi diri ini. Saya akan berusaha lebih sabar lagi untuk masa depan anak kita nanti."


"Janji harus berubah. Saya nggak mau anak kita lahir dalam keadaan mengenaskan, dimana antara saya dengan kamu belum siap memiliki seorang anak. Sehingga dia merasa kehadiran dia di dunia ini itu tidak inginkan dari kedua orang tuanya."


Kari tersenyum mengecup puncak kepala Kana berkali-kali, "Terimakasih,"


"Untuk?"


"Untuk menjadi istri saya yang masih banyak kurangnya, menerima dia, dan terimakasih atas segala pengorbanan yang sudah kamu lakukan. Kita sama-sama belajar ya." Ungkap Kari dengan telapak tangan menyentuh pipi Kana.


Kana menarik sudut bibirnya dan memanggukan kepala sebagai jawaban dari apa yang Kari ucapkan. Memang pada dasarnya dalam hubungan rumah tangga adalah keterbukaan dan saling mengerti untuk bisa berusaha menyesuaikan dengan keinginan yang terbaik antar pasangan bagi kelangsungan masa depan mereka.


"Kita makan dulu ya. Kamu belum makan sejak siang tadi dan hanya terbantu oleh cairan infus. Saya ingin anak yang berkualitas dengan saya akan menyiapkan dan memperhatikan asupan gizi kamu saat mengandung dia. Saya ingin kamu menerima kehadiran dia bukan karena keterkejutan ataupun tekanan. Saya mohon untuk hal ini, kita terima dia dengan kesiapan kita ya." Jelas Kari dengan tangan mengusap pipi Kana.


"Terimakasih sayang. Sekarang kamu harus makan,"


"Iya sayang," Balas Kana pada Kari yang langsung membuat pipi Kari memerah. Senjata makan tuan nih, niat hati ingin menggoda malah dia yang salting dengan jawaban Kana.


"Saya bantu kamu duduk," Kari membantu Kana duduk dengan menaikan brankar yang ditiduri oleh Kana. "Kamu mau makan ini atau makan yang lain?" Tawar kari dengan memperlihatkan makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit yang berisi telur, sayuran, dan tempe.


"Itu aja,"


Dengan telaten Kari menyuapi Kana, yang lelet macam siput saat makan. Namun Kari dengan sabar menunggu Kana menelan makanannya. Suap demi suap telah masuk dalam perut Kana, hingga tiba di suapan ke12 Kana merasakan mual yang menghantam perutnya secara tiba-tiba.


"Sudah, mual..."


"Baiklah, kamu mau makan buah?" Tawar Kari dengan membantu Kana minum air putih.


"Buah apa?"


"Buah strawberry, melon, apel, dan jeruk. Tadi saya beli di alfamart bawah sebelum kesini atau kamu mau es krim?"


"Emang boleh makan es krim?"


"Boleh kalau kamu nggak lagi demam dan kamu juga dianjurkan untuk makan es krim. Soalnya berat bedan dedek terlalu kecil, nggak sesuai kata Zino tadi,"


"Mau es krim sedikit boleh?" Tanya Kana dengan cengengesan memperlihatkan deretan gigi rapi nan putih miliknya.


"Boleh, tadi saya beli es krim strawberry ini yang cup kecil buat kamu."


"Terimakasih," Kana menerima es krim itu dengan senang hati saat Kari memberikan pada dirinya dan langsung saja Kana makan tanpa mempedulikan ataupun menawarkan es krim itu pada Kari.


"Maaf tadi saat kamu sudah selesai diperiksa oleh Zino, saya nggak langsung datang melihat keadaan kamu."


"Iya nggak apa-apa," Jawab Kana dengan santai dan hanya fokus pada es krim strawberry miliknya.


"Kamar sebelah kamu ini itu tempat calon istrinya Nata. Jadi saat kamu pendarahan dan di tangani oleh Zino saya kan tungguin kamu di depan ruangan, terus saya lihat ibunya dia keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa dan saya penasaran lalu saya masuk dalam ruangan itu lalu saya mendengar seseorang yang merintih kesakitan. Terus saya tanya, ternyata dia terpeleset di dalam kamar mandi dan saya bantu dia saya periksa dan saya juga yang membantu dia lahiran," Jelas Kari layaknya seorang anak yang sedang mengadu pada sang ibu.


"Iyaa, terus gimana?"


"Lalu anaknya itu nggak mau keluar-keluar sedangkan ibunya udah berjuang cukup lama dan saya minta pada sang ibunya dia untuk di panggilkan ayah dari bayi didalam kandungan ini dan nggak lama Nata datang mengusap perut sang ibu lalu sekitar sepuluh menit kemudian bayinya lahir cowok dan Nata akan tanggung jawab dengan hal tersebut. Sepertinya mereka itu sama dengan kita dulu, tapi saya nggak mau terlalu ikut campur dengan masalah mereka juga, jadi saya nggak terlalu paham dengan masalahnya, cuma saat Nata datang dia bilang 'saya akan menikahi kamu setelah bayi ini lahir' Nata bilang gitu sama Emi."


"Hmm, anaknya gimana ganteng seperti Nata putih, tinggi, imut dan mengemaskan nggak?" Tanya Kana memandang Kari dengan serius hingga dia berhenti sejenak memakan es krim di tangannya.


Kari tercengang dengan pertanyaan yang Kana lontarkan, memang Kana ini lain dari yang Lain. "Enggak ganteng biasa aja dan berat badannya itu kecil,"


"Saya mau lihat,"


"nggak boleh."


"Kenapa, nggak boleh?"


Bagaimana bisa Kari mengungkapkan jika dirinya sedang cemburu dengan Nata. Terpaksa Kari harus memutar otak untuk memberikan sebuah alasan pada Kana, "Kita kan belum beli hadiah buat mereka, jadi besok aja ya. Masa kita datang dengan tangan kosong,"


"Iya juga ya, yaudah besok kita harus kesana. Kamu beli hadiah ya nanti buat anak mereka,"


"Nggak cuma anaknya, nanti saya belikan racun juga buat ayahnya." Gumam Kari.


"Kamu bilang apa, saya nggak dengar tadi?"


"Nggak, udah itu dihabiskan es krimnya. Saya kupas kan apel buat kamu." Ujar Kari dengan berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci apel tersebut.