
Jam dinding menunjukkan pukul 04:55 dini hari. Hawa dingin terasa menjalar, menyerap, menyentuh seluruh bagian tubuh. Pagi menjelang siang dengan matahari kian memancarkan sedikit sinar kebahagiaan untuk seluruh insan dipenjuru alam. Senyum merekah mentari pagi ini akan segera datang, membangunkan seluruh manusia yang masih terlelap dalam mimpi.
Dengan perlahan Kana membuka kelopak matanya dengan diiringi mulut yang terbuka lebar, menguap di pagi hari yang menandakan bahwa waktu tidurnya masih kurang, karena semalaman penuh Kana bergadang untuk memahami data keuangan dan perkembangan hotel.
"Sudah pagi, selamat pagi dunia hari ini. Semangat untuk diri sendiri, hari ini kamu harus melakukan tugas, tangung jawab kamu dengan baik dan benar. Masalah yang harus kamu perbaiki dari hari kemarin adalah belajar mengontrol kesabaran dan belajar memahami diri sendiri." Dengan posisi duduk dan badan yang disandarkan kebelakang kasur, Kana berucap dengan mata terpejam diiringi senyuman. Lalu setelahnya ia berfokus pada hembusan nafasnya, walupun beberapa kali terkadang nafasnya terasa pendek ataupun lebih cepat, namun kana tetap tenang memfokuskan pikiran pada pernafasan.
Setelah dirasa pikirannya membaik dan tidak tersabotase dengan hal negatif, Kana melanjutkan dengan meletakan telapak tangannya tepat pada posisi dada kiri tempat jantungnya berdetak. Merasakan betapa hebat dirinya mampu bertahan hingga sekarang dalam menghadapi segala ujian dan permasalahan yang kian menghadang.
"Saya siap menghadapi dunia hari ini," Kana membuka kedua mata menelusuri sekitar lalu merasakan kendali penuh atas pikiran dan tubuhnya. Ia segera turun dari kasur melakukan ritual pagi hari tanpa menunda dan untuk hal-hal berikutnya Kana telah memikirkan semuanya, dari setelah mandi dia akan membantu memasak dan setelahnya berangkat kerja. Sungguh, ketika Kana bisa mengendalikan tubuh dan pikirannya sendiri maka tidak ada waktu baginya untuk menunda pekerjaan selanjutnya. Karena prinsip Kana adalah segera mengerjakan tugas hari ini untuk ketenangan esok hari, menunda sama halnya menyiksa dan membodohi diri sendiri.
Dengan langkah kaki perlahan Kana menuruni tangga lalu berjalan menuju dapur. Hingga sampai di penghujung perbatasan dapur Kana berhenti sebentar mengamati para maid yang sedang membuat makanan, hingga pandangan matanya tertuju pada satu maid yang sedang menyuir ayam dan di samping maid tersebut terdapat daun bawang, seledri, dan tomat yang belum terpotong. Kana mengamati dengan jeli lalu melangkah menghampirinya.
"Hari ini menunya apa?" Tanya Kana dengan mendudukkan diri pada kursi di samping maid tersebut.
"Soto, non. Apa non Kana membutuhkan sesuatu, biar saya buatkan?" Maid tersebut nampak gugup, kaku, dan takut. Kala Kana menghampiri dirinya, karena pagi tadi saat para maid berkumpul mereka telah diberi tahu oleh ketua jika sahabat nyonya besar menginap di rumah ini.
Kana tersenyum canggung, "Tidak, saya tidak membutuhkan apapun. Kalaupun saya perlu sesuatu, saya bisa membuatnya sendiri. Apa semua ini akan dipotong?" Tanya Kana dengan pandangan mata melirik toping soto yang ada didepannya.
"Iya non, itu semua akan dipotong kecil-kecil sebagai toping soto."
"Kalau begitu biar saya yang memotong ini semua,"
"Tidak non, biar saya saja. Non Kana cukup diam dimeja makan menunggu kami yang hampir selesai."
"Tidak apa-apa, biarkan saya melakukan suatu pekerjaan pagi ini." Kana menjawab dengan membawa daun bawang, seledri dan tomat tersebut untuk dicuci. Lalu setelahnya kembali meletakkannya diatas meja dan mengirisnya dengan perlahan agar pisau tersebut tidak mengenai tangannya.
Setelah Kana berhasil menyelesaikan potongan daun bawang dan seledri, secara tiba-tiba seseorang menepuk pundak belakangnya. "Non Kana, apa kabar? Sudah lama nenek tidak bertemu Non Kana."
"Astaghfirullah nenek, kabar Kana baik. Nenek gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah nenek juga baik, sehat walaupun umur sudah hampir mendekati kepala lima. Nenek tetap sehat, kuat dan gagah. Nenek masih bisa loh kalau cuma angkat air galon,"
"Haduh, nenek sudah tua masih saja suka bercanda." Kana tertawa dengan gerakan tangan yang ia rentangkan memeluk sang nenek yang ada dihadapannya.
"Non Kana duduk aja didepan, kenapa disini? Masih saja seperti dulu. Rendah hati dan tidak sombong." Jelas sang nenek yang tak lain ketua maid yang sudah berumur empat puluh sembilan lebih, namun masih kuat dan terlihat seperti umur tiga puluhan. Dia adalah Ati, maid tertua diantara yang lain.
"Kalau saya berubah nanti nenek terkejut dengan perubahan Kana,"
Nek Ati tersenyum dan mengelus punggung belakang Kana, karena tubuh Kana jauh lebih tinggi dibandingkan tubuhnya. "Kapan nikah nih, kesini kok nggak bawa calon?"
Kana hanya mampu menyengir kuda, memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Doakan nek."
"Pastinya, nenek akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Non Kana. Siapa tau nanti tiba-tiba minggu ini dapat calon diluar sana dan bulan ini langsung menikah. Jodoh mati nggak ada yang tau."
"Semoga saja nek, terimakasih doanya. Kalau begitu Kana kedepan dulu ya nek." Dengan senyuman merekah, semerekah bunga mawar Kana memutuskan untuk keluar dari dapur, moodnya langsung down Kana tidak akan sanggup lagi jika ada yang bertanya tentang kapan dirinya menikah.
Dilain sisi pandangan mata Kana tertuju pada keluarga kecil Mufi dan Vina yang sedang bercanda gurau diatas meja makan. Jujur dalam lubuk hati terdalam Kana, dia sangatlah iri dengan mereka. Tunggu saja ini tidak akan lama, batin Kana menyakinkan diri sendiri.
"Morning," Kana mendudukkan diri pada kursi kosong yang ada di samping Mufi, sehingga posisi Mufi ada di tengah-tengah Vina dan Kana.
"Morning too,"
"Kenapa dengan wajah kamu, apa ada suatu hal yang membuat kamu tidak nyaman pagi ini?" Tanya Mufi yang ada di samping Kana.
"Tidak ada, kak Mufi berangkat jam berapa nanti?"
"Penerbangan nanti jam delapan, jadi habis makan saya langsung ke bandara." Jelas Mufi yang hanya dijawab anggukan kepala.
Tak berselang lama makanan kian tersaji rapi diatas meja. Baik Mufi, Kana, Vina, Cava dan Cavi. Langsung makan dengan keadaan hening tanpa suara.
"Ayah, bunda, mami Cava dan Cavi berangkat dulu yaa." Ujar Cavi dengan mengendong tas biru dipundaknya. Lalu menghampiri mereka dan mencium punggung tangan Kana, Mufi, dan Vina yang diikuti Cava di belakangnya.
"Siap bos."
"Jagan nakal disekolah, jagan buat ribut disekolah, jadilah anak baik boy,"
"Iya, ayah."
"Semangat sekolahnya, kalau guru menjelaskan didengarkan dengan baik. Kalau nggak paham minta guru menjelaskan lagi apa yang Cava dan Cavi kurang pahami dari penjelasannya."
"Siap mami, sampai jumpa semuanya. Cavi berangkat dulu babai." Pamit Cavi sebelum berjalan keluar rumah yang sudah ditunggu oleh seorang supir khusus mengantar dan menjemput mereka.
"So, kita juga berangkat sekarang?"Perintah Vina.
"Sebentar Vin, saya ambil tas dulu diatas dan juga ganti baju."
"Jagan lama-lama Kana, makna sebentar bagi kamu itu setengah jam bagi saya!" Teriak Vina setelah Kana berlari keatas menaiki tangga.
Segala persiapan koper Mufi telah ada didalam bagasi, begitu juga dengan kana yang sudah siap.
"Maaf Vin, saya tidak bisa duduk pada bangku belakang."
"Apa ayang bisa pindah duduk di bangku belakang?" Tanya Mufi pada Vina yang sudah duduk pada kursi samping kemudi.
Vina tersenyum manis, namun mematikan dan berucap demikian. "Tidak bisa sayang, aku sudah mager untuk berpindah tempat. Jadi lebih baik kamu saja yang dibelakang dan biarkan Kana yang menyetir mobilnya."
Kana menghirup udara sekitar begitu dalam masuk dalam paru-paru lulu membuangnya dengan kasar, dengan berat hati dia yang harus menyetir mobil ini hingga sampai bandara Internasional Achmad Yani yang ada di Semarang. Waktu berjalan sesingkat mungkin hingga mereka tanpa sadar telah sampai disana.
"Ayang jagan lama-lama yaa tugasnya, cepat pulang nanti baby kangen."
"Saya usahanya secepat mungkin untuk segera pulang. Baby jagain bunda ya jagan nakal-nakal selama ayah pergi." Mufi menjawab dengan mengelus perut bulat nan keras milik Vina.
Sedangkan Kana yang ada di samping mereka menatap jenuh hal tersebut. Definisi dunia hanya milik mereka berdua tanpa mempedulikan sekitar yang kepanasan.
"Saya masuk dulu, kalian hati-hati dijalan jagan bawa mobil terlalu cepat kana. Ingat jam 11 kamu ada janji sama dokter kandungan dirumah sakit."
"Iyaa, sayang juga hati-hati ingat kesehatannya. Jagan telat makan."
"Terimakasih sayang," Mufi mencium kening Vina lalu melangkah pergi, tapi sebelum itu dia sempat mengedipkan bulu mata atasnya dua kali kepada Kana. Hingga Kana memekikkan kedua bola matanya, namun Vina tidak menyadari hal itu.
"Sudah jam setengah delapan lebih ni vin, kita langsung pulang ya?" Ucap Kana setelah mereka berada didalam mobil.
"Iya, hari ini ada 1 meeting dan dua pertemuan. Meeting jam sembilan dan pertemuan dengan perusahaan andina jam sepuluh untuk membahas kerja sama pembukaan cabang hotel yang ada di bandung."
"Nanti kamu cek kandungan jam sebelas. Ini waktunya cukup nggak, jika kita selesaikan semuanya sebelum jam sebelas?"
"Yaa nggak cukuplah Kana, masalah cek kandungan itu mah mudah tinggal nanti saya telfon dokternya untuk pengunduran jadwal."
"Tidak Vin, kamu harus melakukan cek hari ini juga, biarkan saya yang mengurus semuanya nanti."
"Kamu tenang saja Na, itu masalah mudah. Saya akan tetap cek kandungan hari ini, kamu takut dengan Mufi jika nanti dia telfon lalu marah karena saya tidak jadi memeriksakan kandungan hari ini dan setelahnya kamu akan disalahkan karena kamu adalah bosnya?"
Kana hanya dapat menjawab dengan anggukan kepala sebagai jawabannya, karena yang dikatakan Vina itu benar adanya. Jika Kana memang takut dengan Mufi.
"Hari ini kamu akan bertemu dengan jodoh kamu Na, percaya dengan perkataan saya kali ini."
"Maksud kamu gimana Vin, saya sungguh tidak paham apa maksudnya. Bisa kamu jelaskan lebih detailnya?"
Bukannya menjawab tapi Vina tersenyum, Vina tetaplah Vina yang suka membuat orang lain penasaran. Sungguh Kana penasaran dengan perkataan Vina karena apa yang Vina katakan pasti hasilnya 98% itu real.