OHH, No!!!

OHH, No!!!
25. I hate you



Kerap sekali pertikaian disebabkan karena lamanya durasi waktu mandi perempuan. Namun hal itu tidak masalah bagi seorang Kari Arkara yang paham dengan permasalahan organ wanita.


Halnya sejak perbincangan tadi hingga memutuskan mereka untuk mandi. Sebetulnya Kari telah melarang Kana untuk mandi pagi ini, terlebih dalam kondisi badannya yang demam. Namun, perdebatan dengan perempuan tidak akan ada habisnya selain membiarkan dia merasakan akibat dari keras kepalanya sendiri.


"Astaghfirullahalazim... Kana," Dengan hembusan nafas kasar, wajah datar dan mimik mata tajam, menatap Kana yang ada dihadapannya setelah sekian lama menunggu.


Dengan sigap Kari mendudukkan Kana pada kursi kerjanya, lalu menancapkan hairdryer pada stop kontak yang ada ditembok samping, dan setelahnya Kari mengeringkan rambut Kana dengan lembut, telaten, dan penuh kehati-hatian diiringi dengan sesekali menyisir rambut Kana dengan sisir yang dia bawa.


"Saya sudah berbaik hati dengan mengizinkan anda mandi pagi ini, lalu mengapa anda berani sekali keramas di pagi hari. Padahal saya sudah cukup lama menunggu anda dengan perasaan cemas dan khawatir. Saya juga sudah mengalah dengan mandi diluar karena lamanya anda didalam." Ungkap Kari dengan tutur kata setenang mungkin, tanpa meninggikan volume suara.


Mimik wajah kedinginan itu kian mengeluarkan air mata "Maaf.... "


"Kenapa keramas, bisa tolong jelaskan secara singkat namun rinci. Kana?"


"K-karena saya tidak mau ke rumah sakit,"


"Alasan lebih jelasnya?"


"Saya belum keramas beberapa hari ini karena sibuk dan nanti malu jika dokter memeriksa."


Kari mengubah posisinya, kian Kari berjalan ke depan menatap wajah Kana lalu membelai wajah halus nan cantik itu, "Baiklah jika begitu, sekarang kita berangkat."


"Tapi saya takut nanti kalau disuntik lagi gimana?"


"Kamu takut disuntik?" Tanya Kari dengan posisi berjongkok didepan Kana menjajarkan posisi wajah Kari dengan Kana.


"Hmm, itu sakit. Kemarin mereka benar-benar memperlakukan saya layaknya orang gila terlebih dokter Zino,"


"Dokter Zino memperlakukan kamu seperti apa kemarin?" Sungguh Kari penasaran , karena jika Zinolah penyebab Kana trauma maka Kari siap baku hantam degannya.


"Seperti orang gila, sampai tangan saya sakit dan pegal semua. Dia menyuntik tanpa berperasaan sama sekali, mengambil darah saya dua kali selama satu hari dan entah untuk apa semua darah itu. Terus, dia suka sekali memasukan obat melalui selang infus itu sangat menyakitkan." Dengan mata berkaca-kaca Kana menjelaskan ketakutan dalam dirinya.


"Saya paham. Ya sudah nanti kamu periksa kandungan saja dengannya dan untuk selebihnya rawat inap kamu menjadi tangung jawab saya. Nanti saya yang akan memasang infus kamu jika diperlukan dan juga saya yang akan memasukan segala obat melalui suntikan pada tubuh kamu. Tenang kalau saya yang melakukan tidak akan terasa sakit, Karena saya melakukannya dengan cinta dan perasaan tulus didalamnya."


"Tapi saya nggak mau rawat inap disana,"


"Itu keputusan dari sana Kana, kita lihat saja dulu nanti gimana."


"Tapi saya nggak mau rawat inap titik nggak pakai koma pokoknya."


Tidak, ini bukanlah Kana yang sebenarnya dengan tingkah kalem dan penurut. Namun pagi ini, Kana cukup membuat Kari kesal dengan segala tingkahnya. Jika ini sifat Kana yang sebenarnya maka tidak menutup kemungkinan jika Kari juga akan gila nantinya.


"Kita lihat nanti yaa. Sekarang kita berangkat dulu!" Ujar Kari sebelum pergi keluar meninggalkan Kana seorang diri.


Dengan perasaan kesal Kana berjalan menuju almari, memilih baju yang cocok dengan dirinya, lalu menganti baju tersebut didalam kamar mandi.


"Tolong, berhenti bicara yang tidak-tidak dengannya Kana. Dia merespon dan paham dengan apa yang kamu bicarakan," Potong Kari secara tiba-tiba masuk kembali kedalam kamar, lalu melihat Kana bermonolog dengan sang buah hati mereka. "Saya sudah mendapat panggilan beberapa kali Kana, untuk bertemu dengan seseorang pagi ini dan dia sudah menunggu di sana. apakah kamu bisa lebih cepat, tolong?"


"Saya sudah siap sejak tadi anda meninggalkan saya," Dengan kesal Kana mengambil tas yang ada diatas nakas dengan handphone yang telah ia masukan kedalamnya. "Ayo berangkat."



"Kamu yakin dengan pakaian kamu seperti itu? Kita akan kerumah sakit Kana bukan ke pesta ataupun bertemu dengan kolega." Kari mengeram kesal dengan sikap Kana saat ini, entah Kana sedang menguji kesabarannya atau dia benar-benar bodoh dan polos dalam memilih pakaian.


"Untuk mengatakan jika baju ini kependekan apa susahnya si, pakai libatkan pertemuan dengan kolega segala. Sudah, sekarang kamu mau protes apa lagi?"



"Yang benar saja Kana, yang saya permasalahan itu baju kamu yang pendek dan mau bagaimanapun kamu tutupi seperti itu akan sama hasilnya karena nanti baju kamu akan disigap keatas diruang periksa nanti." Sungguh Kari benar-benar kesal dengan sikap Kana pagi ini, mulai dari dia Keramas di pagi hari dan caranya berpakaian saat ini. Kari berjalan menuju almari memilih baju yang cocok untuk kondisi Kana saat ini.


"Ganti baju gih," Kari mengulurkan tangan pada Kana dengan baju yang telah ia pilih ada pada genggaman tangannya.


Mimik mata Kana kian mengembang dengan air mata yang ia tahan. Kana sangatlah kesal dengan sikap Kari, apakah dia tidak paham dengan kondisinya saat ini yang sedang hamil dengan perasaan yang sangat sensitif.


"Apa perlu saya mengantikan baju kamu Kana Feo Indahlia?" Dengan kesal Kana mengambil baju tersebut lalu menggantinya didalam kamar mandi.



"Setidaknya ini jauh lebih baik dibanding yang tadi," Ucap Kari dengan berangsur keluar, namun dengan perasaan bimbang sekaligus bingung yang diikuti rasa menyesal pada Kana. Kari tak pernah merasa sekesal ini sebelumnya, terlebih sampai emosi menguasai dirinya.


"Akhhh..." Dengan kesal kari memukul stir kemudi menunggu Kana yang tak kunjung datang hingga Kari memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan kembali masuk kedalam rumah. Namun, baru saja Kari melangkah sampai pintu dia urungkan niatnya karena melihat Kana keluar dengan tas baju sederhana yang dia bawa.


"Saya bukan supir, pindah depan." Protes Kari kala Kana duduk di kursi kemudi tanpa mempedulikan dirinya.


Tanpa protes ataupun menjawab pertanyaan Kari, Kana langsung berpindah tempat di samping kursi kemudi.


Tak ada pertanyaan ataupun jawaban, hanya suara mesin melaju menembus jalanan. Hingga mereka sampai pada rumah sakit tempat Kari bekerja.


Kari memperkirakan mobilnya dengan tepat dan benar, pada tempat parkir khusus dokter. "Kamu urus berkas dulu di bagian administrasi sebelum melakukan pemeriksaan. Saya ada urusan dengan seseorang dan dia sudah menunggu saya sejak pagi tadi, karena ulah kamu saya jadi tidak bisa tepat waktu."


Kana menatap nanar kepergian Kari yang terburu-buru dengan meninggalkan dirinya seorang diri pada tempat parkir yang sepi. Terlebih dalam kondisi Kana saat ini, drmam yang dia cerita semakin meningkat suhunya kala angin pagi ini menerpa dirinya. Jam tangan masih menunjukan pukul 04:30 esok hari dan Kana harus mandi jam tiga pagi karena mengikuti jadwal Kari yang harus rapat untuk operasi pagi ini.


"Saya tidak menyangka jika kamu sama saja dengan ayah saya. lebih mementingkan pekerjaan dibanding keluarga, terimakasih atas kejutannya pagi ini." Butur air mata menitik begitu saja yang langsung Kana tepis dengan kasar.


Cahaya silau mobil kian datang menyinari tubuh rapuh yang kedinginan. "Kana, hai... " sapa seorang laki-laki dengan snelli dokter membalut tubuhnya. Kana menatap lekat sosok tersebut sebelum pandangan matanya teralih menatap mobil Kari yang terkunci.


"Hai, sudah lama kita tidak bertemu." Dengan senyum cerah merekah laki-laki tersebut menghampiri Kana dan langsung memegang telapak tangan Kana yang dingin namun panas.


"Kamu demam?" Dengan wajah datar tanpa ekspresi Kana menatap sosok yang ada didepan matanya. Sosok yang mampu membuat jantung Kana berpacu begitu cepat saat ini, sejak dia memegang telapak tangan Kana secara tiba-tiba.