OHH, No!!!

OHH, No!!!
19. Jawaban perkataan Mufi



Jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore hari dan tidak ada hal penting yang harus Kari tangani sehingga dia bisa pulang saat ini, dengan membawa chicken dan burger ditangannya yang dia beli diperjalanan tadi. Kari berjalan dengan perasaan senang dengan senyum yang merekah memasuki kamar dengan perlahan takut jika membangunkan Kana yang sedang tertidur.


Bau pengharum kamar wangi bunga menembus memasuki indra pencium Kari hingga sampai pada pikiran Kari yang menimbulkan ketenangan dalam diri.


"Saya pulang," Lontar Kari meletakan makanan itu diatas meja sofa, setelah melihat Kana tidak ada diatas tempat tidur jadi bisa Kari pastikan jika Kana ada di dalam kamar mandi dengan pintu yang tertutup itu.


Kari berjalan menuju meja kerja dengan mengeluarkan laptop dan berkas-berkas pasien yang dia bawa. Lama kari menunggu, namun Kana tak kunjung keluar dan tak terdengar dari dalam suara air yang mengalir. Dengan tenang namun perasaan Kari mulai tegang ia berjalan membuka pintu kamar mandi namun nampak tidak ada Kana didalamnya. Kari menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan pikiran lalu menghembuskan dengan kasar, perasaan takut kian menjalar dalam tubuh Kari. Kari melangkah keluar untuk mencari keberadaan Kana.


Tanpa suara ataupun seru panggilan, dan teriakan Kari terus berjalan melangkahkan menuju taman belakang. Saat ini feeling Kari begitu kuat menunjukan tempat yang kemungkinan besar Kana singgahi saat ini.


Terdengar suara ribut perempuan dari belakang membuat langkah kaki Kari semakin cepat menuju sumber suara. Hingga nampak diperbatasan ruang taman belakang Kari menghentikan langkah kakinya. Dengan ekspresi terkejut yang tak dapat Kari sembunyikan, ia menyimak dan mendengar dari kejauhan tanpa ingin mendekatkan diri untuk saat ini kesana.


"Tidak ada kebaikan yang mendapatkan karmanya dan tidak ada kebenaran yang mendapatkan hukuman, bahkan pemecatan didalam perusahaan. Jika anak anda ini saya pecat itu karena kesalahan anak anda sendiri," Seru Vina dengan wajah memerah yang disebabkan ekspresi memanas dalam diri yang ia tahan sejak tadi yang diiringi dengan butiran buing-buing keringat menetes membasahi diri, menahan luapan amarah yang ia tahan sedari tadi.


"Saya tidak mempermasalahkan hal itu bu, masalah saya dengan ibu Kana yang telah merebut kebahagiaan adik saya."


Suara tamparan begitu keras mengenai pipi seseorang perempuan muda didepan Vina dan diiringi suara tamparan berikutnya mengenai wajah Kana. Kana meringis merasakan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Apa maksud ibu menampar saya?" Kana membalas tamparan yang dia dapatkan dari seorang ibu tua yang ada dihadapannya.


"Sialan brengsek, beraninya lo nampar ibu gue. Rendahan tidak punya sopan santun dasar miskin biadab!" Perempuan tersebut maju kedepan ingin menghampiri Kana yang dihalangi oleh Vina,


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa karena dia adik saya Asta mati bunuh diri, jika adik saya mati maka dia juga harus mati ditangannya. Kana itu gila dia tidak pantas dengan dokter Kari, dia pantas untuk mati. Asta tidak bisa memilikinya, maka dia juga tidak berhak dinikahi oleh doker Kari!" Bentak Veny di hadapan Kana dan Vina.


Suara kerasnya tamparan dari tangan Kana mengenai pipi mulus Veny hingga mengeluarkan darah dan diiringi dorongan setelahnya hingga punggung Kana menghantam meja, Kana memejamkan mata sejenak merasakan rasa sakit yang kian menjalar pada punggung belakangnya.


"Asal anda tau, saya tidak tertarik dalam sebuah ikatan pernikahan. Saya tidak menyangka seseorang perempuan berpendidikan seperti anda memiliki pola pikir yang sangat rendah. Prinsip saya tidak menikah dan jika bukan karena adik anda yang memasukan obat perangsang dalam minuman dokter Kari hal ini tidak akan pernah terjadi. Kedua adik anda begitu licik dan kejam, Asta menjebak saya dengan dokter Kari yang dimana saya tidak menyangka hal itu akan terjadi dalam hidup saya, hingga merubah hidup saya saat ini. Lalu, adik anda Hasta berusaha untuk membunuh saya dengan sebuah cairan suntikan namun hal itu digagalkan oleh kak Mufi. Saya disini korban atas perlakuan kejam kalian semua. Termasuk anda dan Ibu anda yang berusaha membunuh janin saya dengan obat cytotec yang dicampurkan dalam air susu minuman saya. Saya tidak gila saya menggingat semuanya, semua peristiwa kelam yang saya alami semenjak kalian hadir dalam hidup saya. Sekarang kalian semua baik anda, ibu dan hasta akan saya pastikan membusuk dalam jeruji besi. Kalian tidak sadar dan melihat siapa lawan kalian saat ini, saya Kana Feo Indahlia putri tunggal dan satu-satunya pasangan Arin Starlia almarhum dan Aro Edinata, saya yakin kamu pasti tau sedikit tentang kedua orang tua saya. Sekarang kalian tidak akan bisa melangkah pergi kemanapun, karena rumah ini telah dikepung oleh pasukan ayah saya dan kalian akan melangsungkan persidangan diEropa," Hardik Kana cukup membuat kedua orang tersebut bungkam, dengan diiringi suara helikopter dan puluhan orang berbaju hitam dengan senjata tajam menerobos masuk kedalam rumah mengepung keberadaan Veny dan Ayu.


Keterkejutan mereka semakin menjadi setelah seseorang perempuan dengan pakaian perawat diseret masuk secara tidak manusiawi oleh dua orang laki-laki yang diiringi dengan masuknya seorang laki-laki tua yang tak lain, tuan Aro Edinata seorang pemimpin perusahaan dalam berbagai bidang industri Peternakan, Perikanan dan Pariwisata, tak lupa juga jika dia adalah seorang Mafia yang menjual senjata dan obat terlarang ke penjuru dunia. Selain itu dia juga mewarisi kekayaan keluarga almarhum istri tercintanya yang memiliki kurang lebih lima rumah sakit dipenjuru Eropa yang kini telah dia kembangkan hingga berdiri puluhan rumah sakit yang tersebar diEropa dan Australia, tak sampai disitu saja dia juga mendirikan sebuah lab yang digunakan untuk pembuatan obat-obatan oleh para ilmuwan.


"Ayah datang tepat waktu bukan walaupun sedikit telat. Tetapi setidaknya ayah tidak seperti suamimu yang berdiam diri menyaksikan diujung pintu tanpa berani menghadapi ataupun membantu kamu yang kesakitan atas sebuah tamparan." Sindir Aro menatap Kari dengan sudut matanya.


Kari yang ada di samping Aro sedikit malu akan sikapnya tadi, seharusnya dia langsung melangkah maju saat Kari melihat Kana mendapat tamparan pertama dari mbok Ayu ibu dari Veny.


"A-ayah... " tutur Kana pelan dengan derai air mata kian menetes keluar dari mata bulat bening yang nampak terlihat kuat sadari tadi namun sebenarnya sangatlah lemah, Kana sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya.


Aro yang paham dengan panggilan Kana langsung merentangkan tangannya, yang langsung Kana sambut dengan hempasan tubuh memeluk sang Ayah begitu kuat untuk meredam suara histeris tangisan Kana dalam dada bidang Aro.


Seberapa kuat dan hebatnya Kana, dengan darah seorang Mafia mengalir dalam diri dia tetaplah seorang perempuan yang rapuh, yang membutuhkan pelukan hangat sosok ayah sebagai pengganti prisai dirinya yang telah hancur berkeping-keping.