OHH, No!!!

OHH, No!!!
36. Rencana Kana dan Mufi



Suasana sore yang tenang dengan matahari yang kian menghilang dengan suara riuh ibu kota penuh dengan kemacatan di jalan.


"Kasi minyak kayu putih lagi," Pinta Kana pada Kari yang sedang mengusap perut buncitnya. "Kok bisa ya rasanya beda, kalau saya yang ngusap dengan tangan saya sendiri itu rasanya nggak sehangat dan senyaman kamu,"


"Mungkin karena kamu yang kurang berperasaan saat mengusap dia." Jawab Kari tanpa menoleh pada Kana. "Ck... Sakit tau kamu ini,"


Kana yang mendengar hal tersebut langsung memenyumkan bibir 3cm setelah berhasil melempar buku catatan kehamilannya pada Kari, "salah kamu sendiri bicaranya gitu banget, saya itu sudah sangat-sangat berperasaan tau. Emang anak kamu aja yang kelewat manjanya,"


"Maaf sayang, tadi reflek." Jawab Kari dengan mengutuk dirinya sendiri atas refleknya kalimat yang dia keluarkan. Sebenernya Kari mendengar obrolan diantara Kana dan Emi tadi, walaupun dirinya juga sedang mengobrol bersama Nata.


"Kalau di pikir-pikir jadi kepikiran. Orang tua yang masih memiliki luka batin lalu di karuniai seorang anak itu gimana ya nasib anaknya, terlebih mereka tidak belajar dan mempersiapkan diri dengan ilmu parenting. Padahal belajar perenting itu tidak hanya untuk calon generasi kita nanti, tapi juga untuk menyembuhkan luka yang ada dalam diri kita sendiri." Alih Kana tersenyum bahagia, setelah mendengar kalimat maaf dari Kari.


"Kemungkinannya itu ada dua, anaknya yang berusaha bebas dengan memahami dan mengerti keadaan ibunya, lalu menguraikan dalam hal positif atau anaknya juga ikut gila dalam tekanan mental sejak balita. Baik nanti anak tersebut yang tidak bisa mengontrol emosi, karena emosinya tidak langsung di tangani saat dia masih belita sehingga saat dewasa dia mudah terpaut emosi,"


Tatapan serius nan tajam Kana tautkan pada netra hitam Kari, "Sayang, saya juga memiliki luka batin. Dari kecil saya sering di abaikan, jadi nanti kalau si gembul lahir terus saya cuekin saat dia nangis gimana? Apa lagi nanti kalau mood saya lagi jelek, rasanya ingin marah, dan menyendiri. Itu gimana nanti sama adek, saya belum siap menjadi seorang ibu. Berat sekali kalau saat malam saya membayangkan keadaan diri saya nantinya bagaiman."


Hembusan nafas halus Kari keluarkan secara perlahan dengan di iringi dirinya yang ikut membaringkan diri di samping Kana. "Sayangku, cintaku, belahan duniaku. Anak ini ada sebagai pelengkap di antara kita, jadi dia adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya kamu saja. Jagan pikirkan hal-hal berat itu lagi ya. Nanti, kalau kamu sudah melahirkan lalu melihat wajah perpaduan kita maka naluri keibuan kamu akan tumbuh dengan sendirinya, kamu nggak akan tega menyueki dia, ataupun mengabaikan wajah lucunya, dan kamu tidak akan tega mendengar suara tangisannya. Kita besarkan dia bersama, oke. Saya juga bertanggung jawab dengannya."


"Boleh saya minta suatu hal dengan kamu?"


"Tentu saja boleh, saya ini suami kamu. Jadi apapun yang kamu inginkan adalah tanggung jawab saya dan sudah sepantasnya saya kabulkan, mau apa hmm?"


Kana menatap langit-langit kamar inapnya, "Berjanjilah pada saya, jika kamu akan bertanggung jawab dengannya. Tolong jagan berat satu sisi, dimana kamu lebih memberatkan pekerjaan di bandingkan kami."


"Saya paham maksud kamu bagaimana. Tapi, kamu tau sendiri bukan jika saya adalah seorang dokter kandungan jadi mau tak mau saat keadaan darurat saya harus segera pergi. Namun untuk pekerjaan setelah saya pulang kerja saya tidak akan menyueki anak kita, saya akan habiskan waktu saya di rumah untuk dia. Kamu takut bukan, saat saya lebih memberatkan pekerjaan dimana saat saya pulang kerja dan dia ingin bermain dengan saya tapi saya abaikan saya tinggal begitu saja. Saya tidak akan seperti itu Kana, anak ini adalah hal yang saya dambakan dari dulu. Kehadiran dia itu hal yang saya harapkan dan saya inginkan. Sekarang kamu tidur yaa, jagan pikiran hal itu lagi dan biarkan saya membuktikan apa yang saya katakan nanti saat sudah waktunya. Kamu cukup melihatnya dan tolong tegur saya jika saya berbuat kesalahan."


Kari menarik Kana dalam dekapan dada bidangnya, dengan sesekali ia mencium puncak kepala Kana. "Saya mencintai kamu dan anak kita, saya akan berusaha untuk kenyamanan dan kebahagiaan rumah tangga kita Kana."


"Saya pegang kata-kata kamu."


"Iya, kamu bisa pegang kata-kata saya. Jika nanti saya menyakiti kamu, tolong katakan pada saya apa yang tidak kamu sukai dari sikap yang terkadang tidak saya sadari dan katakan pada saya apa yang kamu inginkan untuk menembus kesalahan itu."


Hening kian tercipta diantara mereka berdua, larut dalam pikiran masing-masing hingga mata hampir terpejam sebelum pintu yang di buka secara brutal menyadarkan mereka kembali.


"Emm, maaf dok tapi itu saya di perintahkan oleh kak Mufi untuk memanggil dokter ke ruang mayat segera." Jelas seorang perawat dengan terbata-bata.


Baik Kari maupun Kana langsung membuatkan kedua bola mata setelah mendengar nama Mufi di ucapan olehnya. Tak menunggu lama Kari langsung berlari pergi meninggalkan Kana seorang diri dalam kamar ini.


"Ada apa di sana?" Tanya Kana pada sang perawat.


"Itu meninggal,"


"Siapa yang meninggal?"


"Itu perempuan dan laki-laki,"


"Kamu itu ya kalau jawab, ck. Udahlah saya mau kesana. Antar saya dimana ruang mayat berada." Kesal Kana langsung bergegas pergi lebih dulu yang di susul oleh sang perawat di belakangnya.


Setengah berjalan cukup jauh dari ruang kamar rawat Kana, kini sampailah mereka di depan ruang mayat yang hanya berisikan dua orang yang tertutup kain putih dan terlihat Vina menangis sesenggukan sambari memeluk salah satu kain putih yang tertutup itu.


"Ini siapa yang meninggal?"


"Kedua orang tua Vina," jawab Kari dengan merangkul tubuh Kana. "Mereka kecelakaan saat perjalanan kesini untuk memberi kejutan di hari ulang tahun Vina saat ini."


Kana menangguhkan kepala, "Ohh ini kejutannya,"


"Maksud kamu gimana?" Tanya Kari bingung dan tidak enak atas jawaban dari Kana, "Kamu nggak boleh gitu ini lagi berduka, kasihan Vina."


Jujur saja jika Kari merasa tidak enak dengan Vina di mana dia yang tadinya menangis dengan hebatnya. Kini fokus dengan Kana atas jawaban yang sudah Kana ucapkan.


"Ck.. ini kejutan yang sudah saya dan kak Mufi rencanakan sebelum saya kesini."


"MAKSUDNYA, KAMU YANG BUNUH KEDUA ORANG TUA AKU KANA?" Teriak Vina dengan lantang yang cukup membuat Kana terperanjat kejut, karena pasalnya Vina tak pernah membentak dirinya.


"Nggak bukan gitu Vin, kamu kok nuduh saya. Orang tua kamu nggak mati ini prank yang suami kamu rencanakan sampai dia waktu itu beralasan dinas keluar kota padahal untuk membahas rencana nya, kak Mufi menemui kedua orang tua kamu dan..."


"Dan inilah kejutannya, happy birthday Vina..." Potong Mufi dengan membawa kue ulang tahun berbagai macam bentuk dan tak berselang lama kedua orang tua Vina menyingkirkan selimut putih yang menutupi tubuh mereka.


"Happy birthday, happy birthday, happy birthday Vina. Selamat uang tahun Vina. Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday, happy birthday


Happy birthday to you


Selamat ulang tahun, kami ucapkan


Selamat sejahtera, sehat, sentosa


Selamat panjang umur dan bahagia. Tiup lilinnya - tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga..." Suara tangan yang disatukan kian memenuhi satu ruangan.


"Jahat kalian semua," Tutur Vina setelah meniup tiga kue yang di sodorkan pada dirinya.


"Memang jahat kalian pada anak saya," Sambung Isma selaku ibu Vina. "Terutama kamu Mufi dan juga kamu Kana. Astaga Kana... Kamu hamil?" Hardik Isma kala melihat perut Kana yang menonjol.


"Hehe iya Bun,"


"Sama siapa?"


"yaa sama suami saya Bun,"


"Kapan nikahnya, kenapa nggak undang bunda?"


"Kebobolan mereka Bu, mainnya kurang aman. Tapi mereka langsung dapat sekali masuk langsung gol dan akhirnya langsung nikah deh Bu."


Isma membulatkan kedua bola matanya setelah mendengar penjelasan dari Vina, "bagus kalau gitu langsung halal dari pada main di luar ikatkan yang ada hanya menumpuk dosa, sang kuasa tau gimana baiknya. Siapa suami kamu Kana?"


"Saya Bu,"


"Kamu suami Kana?"


"Iya Bu,"


"Jaga dia baik-baik, paham. Awas aja kalau kamu sakiti dia, apa lagi main di belakang Kana, saya gantung kamu di pohon mangga."


"Iya Bu, saya tidak akan menyakitinya. Karena saya cinta dengan Kana sejak dulu dan akhirnya kami di satukan karena suatu insiden."


Isma tersenyum, "Kejutan luar biasa ini bagi saya. Anak-anak ibu sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing sekarang. Ibu senang sekaligus bangga dengan kalian berdua kedua putri ibu yang luar biasa. Mari kita bersula dengan air aqua," Jelas Isma dengan mengangkat botol aqua yang dia pegang dan di lanjut oleh seluruh orang yang ada di dalam ruangan dengan menyatukan dan mendekatkan air minum yang mereka bawa mendekat pada Isma.


Vina adalah anak tunggal begitu juga dengan Kana, hingga mereka di pertemukan dan kenal begitu dalam. Sampai Kana dan Vina seperti saudara dan Isma menganggap Kana sebagai anaknya juga. Isma tak pernah membedakan di antara mereka, baik Vina dan Kana, dan hampir semua yang Isma beli dulu selalu sama warna dan bentuknya. Baik itu tumbler, baju, jam dan lain-lain untuk mereka berdua.


"Selamat ulang tahun Vina,"


"Terimakasih. Akhh... Perut aku sakit banget nggak kuat." Rintuh Vina setelah meneguk botol aqua yang dia bawa.


"Vina kamu kenapa?" Tanya Mufi dengan menyentuh perut Vina yang menegang.


"Sepertinya adek mau keluar kak, aku sudah merasakan kontraksinya dari semalam."


"Tapi ini belum waktunya, ini tidak sesuai dengan prediksi dokter."


"Prediksi waktu dokter tidak selalu benar kak, adakalanya sang bayi lahir kurang dari prediksi yang sudah dokter tetapkan dan ada kalanya dia melebihi perkiraan yang dokter tetapkan. Sebaiknya kita langsung bawa Vina menuju ruang persalinan, biar saya periksa keadaannya." Jelas Kari memotong percakapan Mufi yang terlihat cemas dan takut.


Tanpa menunggu lama setelah Kari angkat bicara dia langsung mengangkat tubuh Vina menuju ruang persalinan dan Vina langsung ia letakan pada bed kosong yang ada disana dan di sambut oleh dokter jaga dan beberapa bidan yang ada.


Kana yang tak sengaja ikut masuk ke dalam langsung tercengang saat tiba-tiba perut Vina ditekan beberapa sisi oleh sang bidan untuk mengetahui posisi janin. "Kak...,"


"Kamu kenapa disini, kamu nggak boleh ikut kedalam sayang. Ayo keluar, nggak apa-apa jagan pikirkan hal apapun, lupakan apa yang sudah kamu lihat tadi." Jelas Kari dengan menarik Kana keluar, "Devin, Aris, Celvin, Nio, dan Vero, tolong jaga istri saya sebentar. Kalian sedang senggang bukan?"


"Iya dok," jawab mereka secara serentak.


"Good, kalau bagitu jaga Istri saya sebentar." Ujar Kari dengan langkah kembali masuk kedalam ruangan dan tinggallah Kana dengan beberapa orang yang tidak Kana kenal.


"Suami kamu dokter?" Tanya Isma dengan duduk disamping Kana.


"Iya Bu,"


"Gimana ceritanya kalian bisa nikah?"


"Panjang Bu ceritanya,"


"Ceritakan dari awal gimana, ibu pemasaran Kana."


"Lain kali aja ya Bu, Kana mau istirahat di ruang inap Kana dulu." Jawab Kana lesu tanpa tenaga, entahlah moodnya memburuk secara tiba-tiba. "Saya permisi dulu Bu,"


"Kakak mau kemana?" Tanya salah seorang sahabat Kari yang tidak Kana ketahui namanya.


"Kalian tenang saja, saya hanya ingin kembali keruangan dan istirahat."


"Perlu saya antar kak?"


"Tidak perlu, cukup kalian beri kabar pada saya jika ada hal penting menyangkut keadaan Vina dan bayinya." Jelas Kana sebelum kembali melangkahkan kaki menuju kamar rawat inapnya.