OHH, No!!!

OHH, No!!!
4. Hak Dasar Anak



Kana tersenyum dengan lebar, memperlihatkan deretan gigi bersih nan putih miliknya. Sungguh dirinya lelah jika harus membahas tentang pernikahan, banyak problem yang Kana khawatirkan.


"Hak anak itu hak dasar yang wajib diberikan dan didapatkan seorang anak dari orang tuanya. Diantaranya anak berhak mendapatkan pendidikan, hak anak untuk gembira, hak atas kebahagiaan, mendapatkan perlindungan, memperoleh nama, hak mendapatkan makanan, kesehatan, rekreasi, serta kesamaan hak peran dalam pembangunan."


Anggukan kepala Mufi membuat Kana bisa bernafas kembali, "Itu yang ada dalam pdf psikologi parenting?"


"Iyaa, kak."


"Hmm. Kesimpulan dari hak anak adalah. Anak berhak atas kelangsungan hidupnya, yaitu hak anak untuk mempertahankan hidup, mendapatkan nama yang baik, serta beribadah sesuai agama yang dianut. Yang kedua hak tumbuh kembang anak sesuai potensi untuk mendapatkan standar hidup yang layak seperti tempat tinggal, pendidikan, bermain, bergaul dan istirahat yang cukup. Ketiga, hak perlindungan bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari tindakan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, kekerasan dan perlakuan salah lainnya. Yang terakhir, hak berpartisipasi yaitu hak anak untuk menyatakan dan didengar pendapatnya, mencari dan menerima informasi sesuai dengan kehidupannya sebagai seorang anak." Imbuh Mufi menjelaskan dengan rinci.


"Tapi banyak diluar sana para laki-laki tidak memikirkan hak-hak dasar anak yang wajib dipenuhi," Ucap Kana dengan penekanan disetiap kalimatnya. Hati Kana bergemuruh benci dan pikirannya tidak bisa menerima toleransi, bagi laki-laki yang hanya memikirkan nafsu semata, tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Menurut saya, kamu tidak bisa menggolongkan dari jenisnya, Kana. Melainkan manusianya. Karena semuanya tergantung pada diri orang itu masing-masing. Memang ada beberapa laki-laki yang seperti itu namun tidak menutup kemungkinan jika perempuan juga ada yang tidak memikirkan hak-hak dasar dari anaknya."


"Tapi kak, kenapa banyak laki-laki tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya, mereka kebanyakan sibuk kerja dan berpikir jika hanya itu tugasnya sebagai seorang suami. Hanyalah bekerja tanpa ingin tau keadaan rumah dan buah hatinya. Mengapa dan apa alasan mereka, apa mereka pikir tanggung jawab dalam rumah tangga mereka hanya kerja untuk memenuhi kebutuhan materi keuangan saja, tanpa memikirkan kebutuhan diluar materi seperti kebutuhan dasar anak dan istri?"


"Sekali lagi Kana, kamu tidak bisa menggolongkan itu secara jenis kelamin melainkan manusia. Tidak 'kenapa laki-laki' tetapi 'kenapa manusia' karena kesan pertanyaan kamu membuat seolah hanya laki-laki saja yang seperti itu," Jelas Mufi tidak terima jika Kana hanya menyebut laki-laki saja, padahal tidak sedikit perempuan juga melakukannya.


Kana memenyumkan bibirnya, berdecak sebal dengan Mufi. Toh apa salahnya jika dia menyebut laki-laki, karena menurutnya banyak laki-laki yang seperti itu. Intinya Kana hanya butuh jawaban dari Mufi atas pertanyaannya."Iya manusia, kak. Lalu apa jawaban dari kak Mufi akan hal itu?"


"Bicara dari sudut pandang laki-laki, mungkin ada beberapa laki-laki yang hidup pada lingkungan yang mengutamakan peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama, sehingga menyebabkan mereka fokus secara berlebihan pada pekerjaannya. Mereka merasa jika tanggung jawabnya dalam rumah tangga hanya untuk mencari nafkah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan materi keluarga, yang mengarah pada prioritas utamanya yaitu pada keunangan. Mereka beranggapan jika anak dan istri tercukupi dengan baik maka dia sudah berhasil mempertanggung jawabkan rumah tangganya sebagai seorang suami, sehingga tenaga mereka diforsir habis-habisan pada pekerjaan, namun yakinlah pikiran mereka hanya tertuju pada keluarga. Selai-"


"Tetapi banyak tuh kak, laki-laki yang selingkuh. Jadi pikiran mereka tidak tertuju pada keluarganya." Potong Kana sebelum Mufi menyelesaikan jawabannya. Namun siapa sangka Mufi hanya tersenyum atas perbuatannya yang kurang Mufi sukai itu.


"Dengarkan saya dulu, oke. Jagan memotong karena nanti akan menjadi kesalahan pahaman. Mungkin ini akan ada kontra nantinya, tapi dengarkan penjelasan saya dulu sampai selesai. Selain itu hal yang kurang kamu sadari adalah banyak laki-laki yang mendapat tekanan dan tuntutan pekerjaan, jika dalam pekerjaannya menuntut banyak waktu dan tenaga mereka, maka akan sangat sulit baginya mengalokasikan waktu untuk kehidupan pribadi. Terlebih jika pengalaman masa lalu juga terlibat dalam diri mereka yang mengubah sudut pandang mereka, salah satunya pengalaman keluarga mereka sendiri yang mempengaruhi pandangan dan perilaku mereka terhadap perannya sebagai seorang ayah dan suami. Contohnya dalam kehidupan keluarganya dulu, mungkin dia merasa kurang tercukupi sebagai seorang anak sehingga sekarang dia fokus pada pekerjaan agar anaknya tidak merasa kekurangan seperti apa yang dia rasakan dulu. Sudah, kamu boleh bertanya."


"Halnya dengan gelapnya langit malam hari, jika kamu tidak menganggap bulan dan bintang itu ada. Maka akan sulit bagi kamu untuk menatap kebahagiaan diri sendiri dalam bayangan dunia pernikahan. Yang kamu ketahui dan bayangkan tentang dunia pernikahan hanya gelap tanpa cahaya, namun sadarilah masalah-masalah yang timbul dalam rumah tangga adalah cobaan sementara yang menghasilkan cahaya, sehingga terbentuknya hubungan yang lebih baik dan semakin terikat dengan kuatnya kepercayaan diantara keduanya. Seorang manusia itu berbeda mereka tidak sama, begitu juga dengan cara mereka membentuk rumah tangga. Kebanyakan dari pikiran mereka para laki-laki itu sama dengan perempuan dalam hal rumah tangga, bahkan bisa jauh lebih dari yang kamu bayangkan. Mereka sama juga dengan kamu yang menginginkan kehidupan rumah tangga jauh lebih harmonis dari hubungan kehidupan rumah tangga orang tuanya. Begitu juga dengan mereka yang memiliki sudut pandang dan impian yang ingin memperlakukan calon generasi penerusnya jauh lebih baik dari apa yang orang tua mereka berikan dan perlakukan padanya dulu." Jelas Mufi panjang lebar, kali tinggi dengan penataan kalimat ringan yang dapat Kana pahami.


"Tapi banyak laki-laki yang selingkuh kak, banyak dari mereka yang gila kerja, dan banyak dari mereka yang melakukan kekerasan rumah tangga. Saya takut hal itu akan menjadi ancaman bagi saya dan kesehatan mental anak. Saya tidak ingin anak saya mengalami gangguan mental seperti saya dulu, "


Mufi menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia merasa kembali pada dirinya dulu saat menyakinkan Vina untuk menikah dengannya. Pertanyaan-pertanyaan yang Vina lontarkan dulu cukup menguras tenaga dan pikirannya lalu sekarang Mufi merasakannya lagi.


"Saya paham dengan apa yang kamu khawatirkan dan kamu pikirkan, maka carilah laki-laki yang dapat mengelola emosinya dan dapat mengatur waktunya."


Dengan punggung yang Kana tegakkan menatap Mufi dengan diiringi tawa hambar, ditemani angin malam yang bertiup menghempaskan kalimat terakhir Mufi. "Dimana saya harus mencarinya?"


"Dia tidak perlu kamu cari, karena dia akan datang sendiri kepada kamu. Tunggu dan bersabarlah sedikit lagi, ini tidak akan lama percaya pada saya."


Kalimat yang baru saja Mufi lontarkan membuat dirinya pusing tak karuan. Entahlah ia malas membahas hal tentang pernikahan terlebih dengan seorang Mufi.


"Aku menunggu kak," Dengan menarik sudut bibirnya kesamping, Kana tersenyum remeh pada Mufi.


"Saya mohon kepada kamu untuk bersabar sebentar lagi, saya akan segera menyelesaikan semuanya dan besok saya akan pergi keluar kota untuk menemui kedua orang tua Vina, tolong besok antar Vina cek kandungan,"


"Apa orang tua Vina akan setuju dan menerima?"


"Tentu saja mereka akan setuju, saya memiliki kuasa apa kamu lupa?" Tawa jenaka dari bibir Mufi membuat Kana terbawa suasana malam ini, sampai terbuai dengan kalimat yang Mufi lontarkan padanya.