
Dengan wajah terkejut Nata menatap Kari dengan mimik wajah kebingungan, karena Kari dengan lancangnya mencium Kana secara tiba-tiba. "Apa yang dokter lakukan?"
"Saya suami Kana dan kamu jagan coba-coba untuk mendekati dia, ataupun berusaha merebut Kana dari saya. Saya peringatkan hal itu baik-baik sebelum kamu tau akibatnya. Paham!!!"
"Ekhm... Saya akan kembali tiga puluh menit lagi, silahkan kalian selesaikan masalah ini dengan kepala dingin." Ujar Zino diiringi dengan langkah kaki melenggang pergi yang juga diikuti oleh Mufi, Devin dan Nata yang ditarik paksa oleh Devin untuk keluar dari kamar rawat Kana.
"Maaf..." Tangan itu kian terulur memeluk Kana yang berbaring dengan kepala yang Kari telusupkan di samping kepala Kana dengan muka menghadap bantal.
"Pergi..."
"Maaf saya salah, tidak seharusnya saya meninggalkan kamu... "
"Pergi... "
"Nggak,"
"Punya telinga kan?"
Kari mendudukkan diri pada kursi jaga yang ada di samping brankar Kana. Tatapan mata sendu kari dan tatapan mata tajam Kana saling beradu sebelum Kari lebih dulu memutuskan kontak mata mereka, lalu pandangan mata teduh itu kian terfokus pada perut Kana yang sedikit menonjol dari sebelumnya. Kian telapak tangan Kari terulur ingin menyentuh perut Kana, sebelum Kana tepis lebih dahulu saat ia menyentuhnya.
"Kenapa?"
"Jagan sentuh anak saya."
"Dia anak kita,"
"Nggak, keluar kamu sekarang juga!!!" Dengan kesal Kana meninggikan volume suara, hingga perutnya menegang secara tiba-tiba.
"Maaf Kana, saya salah..."
"Kamu sudah berbohong kepada saya, lantas apa lagi yang saya harapkan dari kamu, Saya banci kebohongan. Kamu jahat, sama dengan ayah. Kamu egois yang gila kerja, lebih baik setelah anak ini lahir kita cerai saj..."
"Berhenti membicarakan hal itu Kana, saya sudah minta maaf sama kamu. Apa lagi yang harus saya lakukan, saya sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Jagan egois jadi perempuan itu, lo hanya hamil doang semua perempuan juga merasakan hal tersebut. Tapi nggak ada yang seperti kamu manja, egois, pemarah, dan menguras emosi." Dengan amarah yang menggebu Kari berdiri dari duduknya.
Namun siapa sangka dengan balasan Kana atas perkataan yang Kari lontarkan padanya, sebuah senyum bulan sabit yang terbentuk pada wajah Kana cukup membuat tubuh Kari kaku seketika. "Berusaha yang terbaik yaa? sedangkan saat malam punggung dan pinggang saya kerap pegal tapi kamu nggak ada di samping saya. Kamu selalu pergi ke rumah sakit setelah menerima panggilan."
"Itu sudah menjadi tugas saya dan resiko untuk kamu yang memiliki seorang suami dokter kandungan."
Kana terus menyeka air mata yang kian menetes keluar semakin deras. Sungguh, kana benci keadaan ini saat dia terlihat lemah karena air matanya. "Semua perempuan merasakan hamil, namun mereka dalam keadaan siap untuk hamil sedangkan saya? Mereka hamil dengan orang yang tepat, yang mereka cintai, sedangkan saya bingung dengan perasaan saya sendiri. Saya egois ya? Padahal saya sudah mengurangi waktu kerja untuk kesehatan anak ini, saya merelakan keindahan tubuh saya kerena kehadiran anak ini, saya merelakan semua tubuh saya untuk kehadiran dia, capek, lelah, kram, pegal, semua sendi linu sudah saya rasakan dan saya tidak pernah mengeluh dengan kamu bukan, jika saya merasakan hal tersebut. Apa dengan saya meminta dibawakan makanan dari luar beberapa kali dalam minggu ini saat kamu pulang kerja itu termasuk manja? Apa dengan saya meminta kamu menata tempat tidur itu termasuk manja? Sedangkan saya setiap pagi menyapu kamar, menyiapkan kamu makan, menata pakaian kerja yang akan kamu gunakan, dan menyiapkan makan malam, apa itu belum cukup bagi kamu. Apa kurang cukup saya mengerti diri kamu, apa kurang cukup saya merelakan tubuh ini. Apa dengan saya mengingatkan kamu setelah mandi untuk meletakan handuk pada tempatnya itu termasuk saya menguras amarah kamu?"
"Tidak, maaf." Diam seribu bahasa yang dapat Kari lakukan, kala dirinya salah bicara dengan kalimat yang sudah dia lontarkan.
Kana menghela nafas dengan mata berkaca-kaca dan air mata yang dia tahan. Terlalu berat kesakitan dalam diri yang dia simpan tanpa bisa kana lampiaskan.
"Maaf, saya tidak akan mengulangi hal itu lagi."
"Saya memiliki seorang suami namun terasa sendiri, apa dunia tidak mengizinkan diri ini bergantung dengan orang lain. Mengapa dunia tidak membiarkan saya bahagia?"
"Maaf,"
"Rasanya begitu sangat menyakitkan saat saya membutuhkan pertolongan namun diabaikan, ditinggalkan, dan dibiarkan sendiri. Sangat menyakitkan sekali seperti apa yang saya alami dulu, saat saya membutuhkan pertolongan atas goresan pisau tajam pada jari saya. Namun semua tak diizinkan menolong, siapapun tidak diizinkan menolong oleh seseorang yang seharusnya menjadi pahlawan saya, tempat berlindung saya, dan tempat perlindungan bagi saya. Tapi itu hanyalah angan-angan semata karena dialah yang membiarkan luka saya tetap terbuka. Mungkin hal itu tidak akan menyakitkan bagi mereka para orang dewasa, namun tidak dengan saya seorang balita berusia empat tahun yang baru saja mengenal dan memahami bentuk benda." Kana memejamkan mata, merasakan tumpahan air mata yang mengalir kebawah kanan dan kiri bantal yang ia tiduri.
"Apakah saya tidak pantas mendapat perlindungan. Dari kecil saya selalu menghadapi semuanya seorang diri, menyembuhkan luka saya sendiri, dan berusaha seorang diri. Sudah banyak luka yang saya dapatkan dan sudah beribu-ribu masalah mengulang tubuh ini. Tolong jagan abaikan saya seperti ini, kamu tidak menyakiti fisik saya, tapi batin saya terluka, pikiran saya kacau, dan dorongan untuk menyakiti diri sendiri itu ada dalam keadaan saya saat seperti itu. Saya benci diabaikan, rasanya seperti saya tidak ada di dunia ini. Saat kamu mengabaikan saya itu rasanya seperti saya tidak ada di dunia ini, itu menyakitkan..."
"Maaf... Maaf... Maafkan saya Kana." Tutur kata kana yang amat menyayat hati seorang suami, saat sang istri telah mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Sebuah komunikasi antar diri yang jarang diterapkan dalam rumah tangga Kari Arkara karena kesibukan antar kedua belah pihak.
Kana tak mempedulikannya, pikirannya sangat kacau kali ini dan hatinya yang tersayat akan perbuatan Kari tadi pagi, yang sedang dilanda emosi. Dia dokter kandungan namun perbuatan yang dia lakukan, mencerminkan jika dia bukan seorang dokter yang paham dengan pasien. Kana jadi ragu jika Kari bukanlah seorang dokter.
"Mau kemana?" Tanya kari kala melihat Kana duduk dan mengarahkan kakinya kebawah.
"Kamar mandi."
"Biar saya bantu," Kari memapah tubuh Kana yang lemas dan panas menuju kamar mandi, walaupun sedikit ada penolakan dari Kana sebelumnya.
"Kamu kenapa ikut masuk kedalam, keluar!"
"Tidak, saya akan membantu kamu."
"Dasar mesum,"
"Biarin dengan istri sendiri."
Dengan pelan telapak kaki Kana berjalan menyentuh dinginnya jubin kamar mandi, semakin dalam kaki Kana melangkah masuk dengan diikuti oleh Kari disebelahnya.
"Mau saya bantu untuk melepaskan," Ujar Kari kala melihat Kana kesusahan saat menyibak baju yang ia kenakan keatas, untuk membuka dalaman bawahnya. Pergerakan tangan Kana terbatas karena selang infus yang menggantung pada tiang di samping tubuh Kana.
"Hmm,"
"Maaf ya," Kana mengalihkan pandangan mata kala Kari berdiri tepat dihadapan dirinya dengan pipi Kana bersemu merah kala tangan Kari merambat masuk kedalam.
"Tolong cek apa ada darahnya?" Tanya kana kala Kari berusaha menarik ********** kebawah.
"Maksud kamu apa?" Belum selesai kari melepas hal itu, namun pertanyaan yang Kana ucapkan cukup membuat jantungnya kian berpacu begitu cepat.
"Entah, saya merasakan ada aliran yang keluar." Dengan cepat Kari melepas ****** ***** tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan bercekan darah tercetak jelas di sana.