OHH, No!!!

OHH, No!!!
15. Trauma Baru



Apa kalian tau suasana malam paling menenangkan? Banyak orang yang berlaku lalang namun saling menghormati antar kamar, tidak berucap jika hal itu tidak penting. Tidak bersuara untuk hal yang tak ada faedahnya, tidak ada lelucon ataupun candaan disana. Yaa, itu rumah sakit. Rumah paling nyaman yang saling menghormati dan saling memahami tanpa perlu kita bicara untuk menjelaskan bahwa saya butuh ketenangan.


Kari berjalan menelusuri lorong rumah sakit, yang penuh dengan cahaya di atasnya. Namun, tidak mengurangi rasa horor yang menyelimuti diri disepanjang lorong.


Jemari tangan Kari membuka gagang pintu kamar vip nomer 1 dengan pandangan mata menelusuri fasilitas yang ada didalam ruangan. AC, kamar mandi, kulkas, almari, sofa dll. Mata bulat, indah nan bening itu kian terfokus pada perempuan cantik yang tertidur ditengah ruangan dengan kondisi badan yang nampak kurus dari terakhir kali Kari melihat dirinya.


Kari berjalan menghampiri perempuan itu, dengan tangan yang terikat disamping bed tempat tidur. Hati Kari hancur berkeping-keping melihat pemandangan mengenaskan itu didepan matanya. Layaknya seorang tahanan yang tak diizinkan menikmati kebebasan karena sebuah tuduhan, itulah yang dirasakan oleh Kana saat ini. Jika bisa mengantikan mungkin sudah Kari gantikan, namun apa bisa buat? Selain hanya berusaha untuk membantu Kana terbebas dari jeratan diri sendiri.


"Hai... Maaf. Maaf telah membuat kamu seperti ini. Jika saja saya bisa memutar waktu kembali maka lebih baik saya memberikan kamu pil kontrasepsi agar bayi ini tidak ada didalam diri kamu. Maaf atas keegoisan saya."


Suara isak tangis yang Kari keluarkan cukup membuat Kana terganggu akan tidur nyenyak nya. Perlahan mata indah itu terbuka melihat Kari yang ada disebelahnya.


"Kamu siapa?" Ujar Kana dengan lirih dan pelan.


Suara tegas dan keras kian menghilang dari dalam diri Kana, berganti dengan suara lirih nan halus. Namun sangat menyayat jantung siapapun yang mendengar suaranya. Begitu juga dengan mata tajam Kana kian menjadi mata sendu yang membuat orang lain iba bila melihat matanya.


"S-saya dokter," Dengan bibir gemetar dan tubuh yang menegang Kari menjawab pertanyaan Kana dengan tatapan mata yang tak lepas dari wajah perempuan yang ia rindukan dua hari lalu. "Apa yang kamu rasakan saat ini, apa ada yang sakit?"


"T-tangan sakittt," Kari yang mendengar rintihan jawaban dari bibir Kana, langsung mengambil kunci yang ada diatas nakas samping tempat tidur. Lalu membuka borgol yang terpasang di kedua tangan Kana yang dikaitkan pada bed tempat tidur.


"Dokter sudah pulang?" Suara pertanyaan dari seorang perawat yang baru saja masuk membuat tubuh Kana menegang.


"P-pergi.... Akhhh pergi... pergi... Jagan mendekat pergi!" Kari terkejut dengan reaksi tubuh Kana yang melihat Hasta didepan mata. Kana menangis histeris dengan tangan menjambak rambutnya sendiri begitu kuat, hingga beberapa helai rambat rontok berjatuhan karena ulah tangannya.


"KELUAR KAMU HASTA!" Tanpa sadar Kari membentak Hasta untuk pergi dan hal itu cukup membuat Hasta terkejut karena pasalnya Kari tak pernah meninggikan volume suara, bahkan dalam keadaan marah sekalipun Kari akan berbicara dengan tenang dan lembut.


Hasta mengurungkan niatnya untuk mendekat setelah mendengar bentakan Kari, "D-dokter?" Hasta langsung keluar dari ruangan Kana.


Dengan tubuh yang menegang Kari menekan tombol yang ada disamping bed Kana dan setelahnya Ia memeluk Kana begitu erat, sangat erat dalam menyalurkan rasa rindu dan rasa sakit hati Kari pada diri sendiri. Lalu setelahnya tangan Kari terulur mengelus tangan Kana yang ada di kepala agar ia mau melepas jambakan pada rambutnya sendiri. "Tenang yaa, tarik nafas perlahan hembuskan. Bagus. Ulangi lagi secara bertahap. Pelan-pelan jagan terburu-buru."


Tak lama dari itu Devin dan Zino datang dengan tergesa-gesa memasuki ruangan Kana. "Sudah pulang kar?" Masih dengan nafas memburu Devin bertanya pada Kari yang merengkuh tubuh Kana begitu erat.


Suara pukulan Devin kala memukul punggung Kari terdengar menggema dalam ruangan, "S-SAKIT JANGAN, TOLONG!" Bukan suara Kari namu suara Kana yang kembali pada mode awalnya sebelum kehadiran mereka. Bukan lagi menjambak, namun Kana memukul kepalanya sendiri berkali-kali dengan kedua tangannya. "S-sakit... "


Kari berusaha memegang tangan Kana yang memukul kepalanya sendiri, sungguh fisik Kari lelah dan sekarang batinnya juga terserang setelah menyaksikan keadaan Kana yang sebenarnya.


"Kana Feo Indahlia... Dengarkan dokter, kalau kamu terus memukul kepala kamu sendiri maka saya tidak segan-segan untuk menyuntik kamu sekarang juga."


Fokus Kana kian kembali setelah mendengar ucapan Zeno yang mengancam dirinya, dengan patuh Kana terdiam menatap Zeno yang berdiri di samping dirinya. "Sekarang tidur atau saya brojol kamu kembali!"


Kana terdiam dan menidurkan dirinya, lalu tak berselang lama dari itu datanglah Mufi memasuki ruang inap Kana.


Mufi berjalan mendudukkan diri pada sofa yang ada disana, diikuti dengan Devin yang menghampiri Mufi lalu Zeno dan Kari yang juga menghampiri Mufi setelah Kana tertidur kembali.


"Kana sebelumnya tidak seperti itu dia sudah kembali setelah satu hari sejak kepergian kamu. Mufi yang terapi dan membantu meditasi Kana, hingga dia bisa fokus dan menerima dirinya sendiri dengan bayi yang ada di kandungannya. Namun itu tak berlangsung lama setelah Kana kami pindahkan dalam rungan dan kami fokus pada pekerjaan, selang berapa jam setelahnya Kana kembali seperti semula bahkan jauh lebih parah. Dia takut dengan suntikan dan suster yang datang, tak sampai disitu saja dia bahkan tak segan-segan melukai dirinya sendiri seperti tadi yang kamu lihat. Cctv susah kami cek namun tidak ada tanda-tanda dari penyebab Kana mengalami depresi." Jelas Zeno pada Kari setelah mereka mendudukan diri.


"Tidak mungkin, pasti ada yang melakukan sesuatu pada Kana," ujar Kari setelah menyimak dan memahami apa yang Zeno jelaskan.


"Memang, namun kami tidak tau apa yang terjadi, Cctv ruangan dihapus oleh pelaku." Imbuh Mufi


"Keadaan Kana sudah sehat dia pulih begitu cepat, kau boleh membawa pulang Kana besok. Namun untuk keadaan mental Kana itu Mufi yang menentukan," Jelas Zeno karena selama dua hari ini Kana makan dengan teratur walaupun tidak sering namun dia makan pagi, siang dan malam dengan benar. Tapi untuk berat badan Kana menurun karena beban pikiran yang ia simpan sendiri, Kana tak ingin bercerita ataupun berbicara.


"Saya setuju jika Kana kamu bawa pulang Kari, karena disini tempat Kana mendapat trauma. Kana akan menangis histeris dan melukai dirinya sendiri jika ada perawat yang datang dan dari reaksi yang Kana perlihatkan kemungkinan besar yang melakukan hal buruk pada dirinya saat tidak dalam jangkauan pengawasan kami adalah seorang perawat dan Kana takut dengan jarum suntik, maka kemungkinan besar benda itu yang digunakan untuk mengancam Kana." Jelas Mufi pada Kari dengan pandangan mata datarnya. "Kana tersabotase oleh pikirannya sendiri, " lanjut Mufi dengan menatap Kari tajam.


"Baik kak, besok pagi Kana akan langsung saya bawa pulang."


"Cie... Manggil kakak," Goda Devin pada Kari yang telah resmi menjadi Adik ipar dari Mufi.


"Diam atau saya lempar," Ancam Mufi menghentikan Tawa Davin. Karena apa yang Mufi katakan itu penuh dengan kenyataan tanpa gurauan ataupun candaan.