
Siang menjelang petang pun tiba dimana matahari telah menyembunyikan wajahnya, berganti dengan rembulan yang menyinari alam sekitar, dibantu oleh lampu-lampu putih di sepanjang jalan.
"Kana, bagaimana jika kamu tinggal denganku untuk beberapa waktu?" Usul Vina sudah lelah dengan sahabatnya ini, begitu banyak tawaran tempat yang bisa dia tinggali, mulai dari rumah mewah, perumahan elit, dan apartemen mewah. Semua data ada diatas meja tapi satupun tak menarik bagi Kana. Sungguh Vina benar-benar lelah dengan sahabatnya yang satu ini, jika bukan dia bosnya mungkin sudah Vina tendang dari ruang kerjanya sejak tadi. Terlebih Kana yang seharusnya menempati ruang sebelah kini berpindah dalam satu ruang dengan Vina dengan alasan ingin menjaga Vina yang sedang hamil, sikap posesif kana tidak berubah setelah bertahun-tahun lamanya.
"Ide, bagus. Saya setuju, yuk pulang. I'm coming cava-cevi." Lihatlah sekarang, bahkan kana yang berjalan duluan meninggalkan Vina dalam ruangan. Vina tidak habis pikir dengan anak itu, dia pemilik hotel ini namun tidak ingin tinggal disini. Sekedar mengindap saja dia tidak mau, padahal kamar khusus telah disiapkan untuk kedatangannya.
Ck... Insting saya menurun. Bahkan saya tidak bisa membaca jalan pikir anak tuyul satu itu. Batin Vina menjerit, tertekan batin dengan kana yang sedikit bicara namun orang lain harus bisa memahami kemauannya. Karena, Kana tidak akan mengatakan apa yang dia inginkan, namun orang lain harus bisa membaca apa yang dia butuhkan.
Dalam keheningan malam, mobil mereka melaju menembus jalanan kota yang asri dengan pepohonan di sampingnya. Penjual kaki lima ditepi jalan menambah kesan ketenangan malam ini, dengan suasana nyaman diiringi bintang-bintang yang berhamburan didaratan dan lampu kota yang berbaris dipinggir jalan. Sungguh kota ini begitu indah dimatanya.
"Bentar deh Na, kalau dipikir-pikir malah kepikiran. Gue kayaknya pengen belanja daster deh," Ide yang cerdik dan cerdas, bagaimana bisa hanya mainan Cava dan Cavi yang ada didalam mobil ini, mereka mendapatkan berbagai bentuk mainan sedangkan dirinya? tidak mendapatkan apapun sebagai oleh-oleh Kana dari Eropa.
"Daster? Bukannya kamu nggak suka pakai daster waktu hamil dulu saja kamu pakainya rok dan baju bukan daster?" Tanya Kana terheran-heran dengan keinginan Vina.
"Itukan dulu anak yang saya kandung cowok, Nah kalau sekarang diakan cewek. Jadi bedalah, Na. Kamu gimana sih?"
"Emang bisa gitu, setau saya sama aja mau cowok atau cewek yang menentukan pakaian yang ingin dipakai kan diri kamu sendiri Vina, bukan anak yang masih dalam kandungan kamu."
"Gini ya Na, pikiran ibu hamil dan mood ibu hamil itu juga tergantung anak ini. Kalau dia nggak mau, ya nggak akan mau. Jika permintaannya tidak dituruti maka dia akan menyiksa saya dengan segala tingkah perbuatannya, mual, pusing, mood buruk dan paling parah malas beraktivitas apapun."
"Emang bisa gitu?"
"Yaa, bisalah. Makannya nikah biar tau rasanya hamil bagaimana." Diam, itulah keputusan yang tepat untuk Kana jika ada yang menyinggung tentang pernikahan. Kapan dirinya menikah? Adalah pertanyaan yang tidak kana sukai. Baginya, menikah bukan sekedar sebuah permainan namun sebuah kesiapan fisik dan mental. Menikah bukan karena malu dengan umur, namun karena siap dengan resiko dan tanggung jawab yang harus dibendung.
"Udah turun, pilih apapun yang kamu mau saya yang bayar." Tutur kana membuat Vina kegirangan bukan main, lumayan bukan merasakan kembali harumnya uang kana setelah bertahun-tahun lamanya, kini dia bisa merasakan uang kana lagi.
Berbagai jenis, desain, dan motif ada dalam toko ini. Sebuah toko sederhana khusus batik yang Kana singgahi berada di pinggir jalan namun menyedikan berbagai macam batik dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Helaan nafas berhembus keluar dari hidung kana. Kana tidaklah pelit dan perhitungan ia tidak pernah mempermasalahkan uang yang telah keluar untuk belanja, namun sebaliknya dia akan sangat mempermasalahkan uang yang masuk walupun hanya selisih seratus ribu saja.
Rumah mewah tiga lantai dengan halaman rumah yang begitu luas dan bunga mawar berbagai warna, tertanam sebagai hiasan didepannya.
Pajero merah kian terparkir dibagasi mobil samping rumah dan tak lama setelahnya, keluarlah mereka berdua dari pintu kemudi dan penumpang dengan menjinjing paper bag dikedua tangan. Begitu banyak barang yang mereka beli hingga memanggil pembantu untuk mengambil barang yang masih ada dalam bagasi.
"Hai, bro. Apa kabar bro? Baik nggak bro? Kelihatan lusuh sekali wajahmu itu bro, apa tidak di setrika oleh Vina bro?"
"Bro-Bro, saya lempar diatas genting juga kamu ya. Biar seperti burung beo dibelakang rumah. Bro... Bro... Bro..." Cibir Mufi dengan menirukan suara burung beo peliharaannya.
Dehaman Vina menggantikan perdebatan diantara Kana dan Mufi, sungguh setiap bertemu pasti akan seperti ini ada saja drama diantara mereka berdua.
"Maaf sayang dia yang mulai duluan," Mufi berjalan menghampiri Vina yang sedang membuka-buka semua jenis pakaian yang telah dia beli tadi.
"Astaga telinga saya elergi dengan suara kak Mufi, sangatlah menjijikan untuk didengar."
"Kana! Kenapa lebih banyak mainan Cava dan Cavi dari pada baju saya. Apa-apaan ini puluhan lego, sungguh saya benci benda ini begitu kecil dan menjengkelkan. Harusnya tadi saya meminta satu toko bukan beberapa helai baju seperti ini," Ucap Kana membuat Kana melonggo, bagaimana bisa puluhan baju yang dia ambil tidak nampak dimatanya sehingga hanya mengatakan beberapa helai saja.
"Bisa-bisanya kamu Vin, iri dengan anak sendiri astaga."
"Lagian kamu datang jauh-jauh yang dibelikan oleh-oleh hanya cava, Cavi. Saya sebal," Mulai ini mode ngambeknya kalau sudah begini susah dikendalikan hanya sang suami tercinta Vina yang bisa mengatasinya, jadi lebih baik Kana segera pergi keluar dari kamar ini. karena hawanya sudah tidak bersahabat lagi.
"Maaf Vin. Ini handphone saya, terserah kamu mau beli apa. Saya pergi dulu, kak Mufi ini istrinya diurus." Ujar kana sebelum benar-benar pergi menjauh dari mereka berdua, tak lupa paper bag mainan Cava dan Cavi dia bawa dikedua tangannya. Tujuannya saat ini hanya satu menuju ruang belajar mereka berdua yang ada di lantai dua. Sebetulnya kamar utama mereka semua ada di lantai dua, begitu juga dengan Vina dan Muf hanya saja saat keadaan Vina sedang hamil maka mereka berdua akan tidur di lantai bawah sementara waktu, agar memudahkan Vina untuk tidak naik-turun tangga.
"Setelah ini kamu menghadap saya Kana Feo Indahlia," Lontar Mufi setelah Kana menutup pintu kamar mereka. sungguh kana merinding bukan main setelah mendengar apa yang Mufi katakan. Berhadapan empat mata dengan Mufi adalah hal yang paling Kana hindari karena Mufi adalah seorang dr. SpKJ atau spesialis kedokteran jiwa. Sehingga akan sangat sulit bagi Kana untuk berbohong di hadapannya. Jadi saat Mufi bertanya sangat kecil peluang bagi Kana untuk tidak menjawab dengan jujur.