
Kana mengedipkan bulu lentik matanya beberapa kali, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada netra mata bulatnya. Suara berisik sekitar menganggu pendengaran telinga Kana.
"Air... air... air... " Suara halus nan serak Kana mengalihkan pandangan seluruh sosok laki-laki yang sedang berkumpul berbincang disofa yang tak jauh dari bed Kana.
Salah satu diantara mereka datang lebih dulu menghampiri Kana yang tertidur dengan tubuh yang lemas, menaikan bed yang Kana tiduri lalu membantu Kana bersandar dengan nyaman dan setelahnya membantu Kana meminum air putih yang tersedia disamping nakas tempat tidur.
Pandangan kana kosong dan hampa seperti tidak ada kehidupan dimatanya, hanya satu arah pandangan Kana yaitu fokus kedepan.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Kari dengan membenarkan bantal yang digunakan oleh Kana untuk bersandar. Kana hanya menjawab dengan gelengan kepala lemah.
"Dek, apa yang kamu rasakan?" Tanya Mufi dengan menyentuh telapak tangan kana, membawa dalam dekapan hangat kedua tangannya.
Kana menatap Mufi dengan kosong nan sandu tanpa ekspresi sedih ataupun bahagia. "Kana, are you okay?" Tanya Mufi sekali lagi yang tak mendapat jawaban dari Kana.
"Hai, apa kamu masih ingat saya. Saya dokter Reza yang kemarin malam meriksa kamu di klinik."
"Hai saya Zino dokter penanggung jawab kamu."
"Saya devin, dokter bedah umum dirumah sakit ini, sahabat dari Mufi."
"Saya Aris dokter spesialis penyakit dalam, jika kamu merasakan suatu rasa sakit kamu bisa bicarakan pada saya. Terutama sakit hati."
Kana tak menjawab hanya menatap mereka yang bicara secara bergantian dengan pandangan mata kosong dan hampa.
"Dek, kamu tidak apa-apa?" Kana menatap Mufi kembali dengan pandangan mata yang sama seperti sebelumnya, kosong.
"Saya periksa yaa, Maaf." Zino berjalan mendekat menggeser Kari yang masih terpaku disamping Kana. lalu setelahnya ia memeriksa perut Kana hingga keseluruhan kesehatan Kana yang belum pulih sepenuhnya.
"Harus istirahat yang cukup agar cepat pulih, keadaan tubuh kamu masih lemah dan tidak ada energi. Makan dulu yaa, biar adek bayinya tidak kelaparan didalam."
Kana menatap Zino dengan pandangan polos, yang memperlihatkan tanda tanya atas ucapan yang Zino lontarkan padanya, "Adek bayi? Kana nggak mau punya bayi, Kana nggak mau ada bayi didalam sini!"
Dengan kedua tangan Kana memukul perutnya beberapa kali secara tiba-tiba yang membuat Mufi dan Kari yang berada tak jauh dari posisi tangan Kana langsung memegangnya dengan erat.
Devin yang melihat reaksi Kana langsung menyiapkan obat penenang untuk dirinya. Dengan sekali tusukan Kana langsung terdiam lemas dengan mata terpejam.
Kari terduduk dengan kedua tangan yang mendekap telapak tangan Kana. Ia menangis sesenggukan melihat apa yang terjadi diluar prediksi pikiran Kari. Begitu juga sebaliknya dengan Mufi yang menangis karena ulah perbuatannya, Kana terluka kembali. Luka mental yang pernah hampir merenggut kehidupan Kana sebelumnya.
Mufi adalah sepupu dari Kana mereka begitu dekat hingga Mufi paham betul dengan apa yang Kana derita dan Kana alami.
"Dia stres," Cletuk Zeno tiba-tiba.
"Kana dulu pernah mengalami hal seperti ini pandangan mata yang kosong tanpa ada gairah kehidupan didalam dirinya, saya tidak menyangka jika luka itu masih ada. Saya menyesal membantu kamu Kari Arkara, sekarang adik saya jadi korbannya."
Kari tak menjawab masih menangisi keadaan yang Kana alami saat ini, memang ini salahnya. Ialah sumber masalahnya, karilah yang telah memanfaatkan Kana. Seorang gadis baik, tegas, dan cerdik. Namun Kari kalahkan dengan kelicikan dan kebohongan dirinya.
"Yang sudah terjadi maka, biarkan berjalan dengan semestinya. Tidak ada gunanya kita mempermasalahkan hal yang sudah terlewat, kecuali memperbaiki dan mengembalikan seperti sedia kala. Walaupun hasilnya tak sempurna sebelumnya, tapi setidaknya kita berusaha." Devin menengahi perdebatan yang akan terjadi diantara Kari dan Mufi.
"Berusahalah Kari untuk memperbaiki masalah ini, jalan keluar itu ada bagi mereka yang ingin berusaha. Jagan lari meninggalkan masalah ini, karena hal ini terjadi karena kesalahan kamu. Saya yakin dia bisa berubah, bahkan menjadi lebih baik jika kamu ingin berusaha. Ubah dia kari, temui ayahnya lalui nikahi Kana walaupun tanpa kehadirannya." Lanjut Devin.
Solusi yang Devin lontarkan memberikan efek luar biasa pada diri kari, Saya harus memperbaiki semua kesalahan ini. Batin Kari menyakinkan diri sendiri.
"Saya akan segera mengurus segala urusan surat yang diperlukan untuk menikahi Kana kurun waktu tiga hari mendatang." Ucap Kari penuh kemantapan dan keyakinan atas keputusan yang dia ambil.
"Terimakasih, saya akan segera menemuinya agar masalah ini lekas selesai. Maafkan saya kak, tolong jaga Kana."
"Tanpa kau minta saya akan menjaganya, kari!" Jawab Mufi tanpa menolehkan maya pada Kari.
"Tolong urus penerbangan saya kebandung hari ini, saya tidak mau tau alasannya. Hari ini saya susah harus sampai dibandung." Kari menelfon tangan kanannya.
Tak disangka perjalanan singkat namun cukup memakan waktu, tenaga dan pikiran. Hingga Kari telah sampai dikota pasundan bandung dan ia langsung menuju hotel tempat ayah Kana menginap.
Dengan didampingi Rio selaku pengurus perusahaan ayah Kari hingga kini Kari telah sampai didepan pintu tempat ayah Kana menginap, Kari mengetuk pintu tersebut tiga kali. Hingga muncullah sosok laki-laki berbadan besar dan tatapan mata tajam menatap dirinya dari bawah hingga atas. "Masuk! Tuan besar sudah menunggu anda didalam."
Dengan ragu dan takut Kari melangkah masuk, terlebih apa yang telah dikatakan oleh orang itu bahwa tuan besar telah menunggunya.
"Akhirnya kamu datang juga Kari Arkara, putra tunggal Nio Bagaskara. Apa yang membawa kamu datang jauh-jauh kemari?"
"Bukankah anda sudah tau kedatangan saya tuan?" Kari menyipitkan mata setelah bertemu dengan sosok yang ada di hadapannya ini.
"Benar-benar duplikat Nio. Lalu kamu ingin saya merestui hubungan kamu dengan putri saya satu-satunya?"
"Tentu saja, karena itu tujuan saya kemari." Kari melipat tangan didepan dada lalu mendudukkan diri pada sofa yang ada disana, tepat di depan calon mertuanya.
"Kalau saya tidak setuju dengan hal itu. Kamu bisa apa?"
"Anak anda akan hancur, karena saat ini Kana hamil anak saya." Dengan senyum remeh dan ucapan Kana cukup membuat orang tersebut memekikan mata.
"Iyakah? Bukankah kamu yang akan hancur kari. Kamu yang cinta mati padanya. Bagaimana jika saya membawa dia dengan anak yang ada didalam kandungannya pergi jauh hingga kamu tak dapat menggapai nya, sangat jauh dari jangkauan kamu Kari?"
"Ayolah om, jagan seperti ini. Saya hanya ingin om menikahkan saya dengan Kana. Saya akan bertanggung jawab penuh terhadap Kana, saya berjanji akan membahagiakan, menjaga dan memastikan Kana dalam keadaan sehat fisik dan mental."
"Lalu, mengapa dia kembali seperti dulu. Sebuah luka yang pernah saya tancapkan padanya. Mengapa dia mengalami depresi kembali, sebuah depresi atas permasalahan yang telah kamu perbuat padanya?"
Kari menundukkan kepala, "maaf om, saya salah. Namun saya mohon berikan saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Jika kamu tidak sanggup membahagiakannya, saya bawa Kana pergi boleh?"
Kari menatap Aro selaku ayah Kana dengan tatapan mata sangat sendu sangat menyedihkan. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar "Boleh, jika saya menyakiti dan Kana tidak bahagia dengan saya, om boleh membawa pergi dia."
"Bagus, kita langsung saja akad malam ini masalah berkas biarkan mereka yang mengurusnya dalam sekejap mata." Aro menatap bawahannya yang berdiri dibelakang Kari dengan senyum cengengesan.
Dengan pakaian seadanya disaksikan oleh para orang yang bersangkutan baik penghulu dan yang lain. Kari memegang erat tangan Aro yang ada di hadapannya, jantung Kari berdetak dengan cepat untuk mengambil keputusan akhir dari hidupnya ini. "Saya nikahkan engkau saudara Kari Arkara bin Nio Bagaskara dengan anak saya yang bernama Kana Feo Indahlia dengan mas kawin berupa satu paket berlian dengan uang 1 milyar dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Feo Indahlia binti Aro Edinata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan sekali nafas Kari menjawab dengan lancar dan lantang.
"Bagaimana saksi?"
"Sah."
"Alhamdulillah,"
Simpel dan sederhana tapi mampu membuat Kari menitikkan air mata. Yang tak dapat lagi Kari bendung sebelumnya. Ini adalah langkah awal dirinya menaiki satu langkah tangga kehidupan.
"Saya telah menyakiti masa kecilnya, tolong jangan sakiti dia dimasa tua. Perhatikanlah keadaannya, kesehatannya baik fisik dan mental dia. Jika kamu tidak sanggup dan tidak mampu lagi tolong kembalikan dia kepada saya, agar saya bisa menghapus luka yang telah kamu perbuat padanya. Walaupun saya juga menancapkan luka pada dirinya semasa kecil, namun saya tetaplah seorang ayah yang menginginkan putri kecilnya bahagia." Aro berkata dengan derai air mata menitik perlahan membasahi pipi. Sekuat-kuatnya sosok ayah ia akan tetap goyah jika putri kecilnya terluka, sosok putri kecil yang tak pernah ia sadari kehadirannya.