OHH, No!!!

OHH, No!!!
12. Kesalahan



Memaafkan kesalahan itu berat, namun bukan berarti kita harus bermusuhan bukan? Seribu kebaikan bisa terhapus karena satu kesalahan, lantas seribu kesalahan bisa terhapus dengan satu kebaikan tulus.


"Kamu benar-benar melakukannya dengan dia Kana?"


"Iya, kak saya melakukannya dengan dokter Kari. Tapi itu semua diluar kendali kita berdua, saya takut hamil kak. Saya belum siap dan saya tidak sanggup."


"Kamu tenang dulu, kakak akan kirimkan obat untuk kamu nanti. Besok kakak pulang. Kamu tenang yaa, belum pasti juga kan jika kamu hamil?"


"Iyaa, terimakasih kak Mufi."


Kedekatan antara Mufi dan Kana sudah terikat sadari kecil saat mereka menjadi tetangga. Rumah yang bersebelahan dengan tembok sebagai penghalang namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk bermain bersama.


Kana terdiam dalam kamar dengan minimnya cahaya lampu malam. Hati yang tak tenang dengan pikirkan kacau tak karuan memutuskan niatnya untuk memeriksakan diri pada klinik yang ada didepan hotel. Dengan pakaian tidur seadanya dan sandal hotel terpasang dikakinya. Kana melangkah menyebrangi ramainya jalan raya hingga sampai didepan klinik tersebut.


Tak terlalu ramai namun bukan berarti tak ada pasien, hanya beberapa orang yang sedang berobat disana, hingga nama Kana terpanggil untuk masuk kedalam ruang pemeriksaan. sebuah ruang yang khas dengan warna putih dengan alat medis dan poster tertempel pada dinding ruangan.


"Selamat, malam." Sapa seng dokter laki-laki yang duduk pada kursi, dengan posisi menghadap pintu masuk. Wajahnya yang nampak cerah merekah menyambut para pasien yang berobat padanya.


"Malam, dok." Kana mendudukkan diri pada kursi yang ada didepan dokter ini.


"Apa keluhannya, bu?"


"Beberapa hari ini saya mengalami mual, pusing, dan mudah lelah apakah saya hamil dok?"


Dokter tersebut nampak berfikir sebentar, "Coba kita periksa,"


Kana berjalan menuju brankar yang ada disampingnya, lalu menidurkan diri dengan posisi gelisah dan resah. Dengan diikuti sang dokter yang berdiri disamping Kana.


"Tenang dan rileks ya." Dokter tersebut menekan perut Kana beberapa sisi, hingga stetoskopnya ikut andil bekerja disana.


"Sepertinya ibu hanya masuk angin, tidak ada tanda-tanda adanya janin yang tumbuh pada rahim ibu. Saya akan meresepkan obat untuk ibu," Dokter dengan nama Reza itu berjalan menuju tempat duduknya dengan diikuti oleh Kana dibelakangnya.


"Ini beberapa resep untuk ibu dan untuk membantu masalah ibu yang mual di pagi hari, ibu bisa meminum susu ibu hamil. Hal itu dimaksudkan untuk membantu pemenuhan nutrisi bagi ibu, karena susu ibu hamil tidak hanya untuk dikonsumsi oleh seseorang yang hamil saja."


"Baik dok, terimakasih atas sarannya."


"Sama-sama ibu," Kana pamit keluar di ikiti dengan senyum yang mengembang tercetak wajahnya.


Dengan langkah perlahan dan santai Kana berjalan menuju apotek klinik untuk menembus obat yang telah dokter resepkan, lalu dirinya melangkah kembali menyebrangi jalan hingga sampai pada lobi hotel, Kana melangkah dengan tenang dan profesional. Hingga sang penjaga resepsionis menghentikan langkah kakinya, memanggil dirinya dari belakang,


"Ini ada titipan obat untuk, ibu"


"Terimakasih,"


"Sama-sama."


Kana kembali melangkahkan kaki hingga sampai pada kamar sekaligus kantornya, dulu dirinya yang menolak tidak ingin tinggal disini namun sekarang ia sudah tidur pada kamar ini beberapa hari.


Kana menghamburkan diri pada kasur, memijat pelipisnya beberapa kali karena kepala Kana terasa sangat pening kali ini. Hingga tanpa sadar Kana tertidur dalam keadaan hati resah, kepala pusing dan kondisi badan yang lelah.


Lalu esok harinya, seperti biasa Kana akan bangun pukul tiga dini hari untuk menyelesaikan dan memahami segala tugas urusannya. Terlebih untuk jadwalnya siang nanti.


Kesibukan yang Kana lakukan pagi hingga sore hari ini cukup membuatnya bertambah pusing bukan main terlebih jika malam nanti dirinya harus menjemput Mufi di bandara tapi dia belum mandi ataupun makan dari sore tadi. Kana saat ini ada di rumah Mufi dengan posisi tidur yang tak tergambarkan bentuknya dengan selimut yang acak-acakan tak karuan, menggulung tubuh Kana sepenuhnya.


"Na, bangun kamu harus jemput mas Mufi di bandara." Dengan sekuat tenaga Vina membangunkan Kana yang tertidur layaknya kerbau yang sulit bangun.


"Iya vin, baru jam 7 juga. Santai aja kali." Kana menjawab Vina dalam keadaan mata yang masih terpejam lalu dengan kesal tangan Vina terulur membuka mata Kana dengan jari telunjuk dan jempolnya.


"Buku matanya, lihat jam noh sudah hampir jam sembilan Kana."


"Masak," Mata Kana perlahan terbuka hingga melebar sepenuhnya, "Astaghfirullah kenapa kamu nggak bangunin saya dari tadi Vina!"


"Saya sudah membangunkan kamu dari tadi, Kana. Kamunya aja yang kebo."


Kana tak mempedulikan lagi perkataan Vina ia langsung bergegas mengambil baju dalam almari dan berlari masuk kedalam kamar mandi, tanpa make-up diwajahnya ataupun parfum, Kana langsung bergegas mengambil tas dan kunci mobil lalu berlari keluar rumah.


Mobil Kana melaju menembus padatnya jalanan kota hingga memasuki pintu tol menuju semarang. Berkali-kali Kana menghembuskan nafas, bahkan jalanan kota dengan indahnya lampu malam tak dapat Kana nikmati malam ini.


Kurang lebih satu jam untuk Kana sampai dibandara dan langsung saja setelah memarkirkan mobil ia melangkah menuju restoran yang ada disana, untuk menemui Mufi yang sudah lama menunggu dirinya.


"Maaf telat dikit,"


"Iya nggak apa-apa. Hanya telat sedikit ko, nggak lama hampir satu jam soalnya, belum telat sampai dua puluh empat jam." Sebetulnya Kanalah yang mengusulkan diri untuk menjemput Mufi, karena supir mereka sedang sakit jadi tidak memungkinkan untuk pergi keluar.


"Oke, terimakasih kak Mufi," Kana cengengesan, lalu mereka berdua berjalan keluar dari bandara dengan satu tangan Kana membawa tas Mufi.


Diperjalanan hanya tenang diantara mereka tanpa adanya suara, Kana yang ada disebalah kursi kemudi merasa tak nyaman dengan perutnya beberapa kali tangan Kana mengelus dan menekan, membuat Mufi sadar akan kegelisahan yang Kana rasakan.


"Kamu kenapa?" Tangan mufi terulur memegang dahi Kana yang terasa hangat. "Kamu sakit?"


Kana tak menjawab namun mulutnya terus mendesis kesakitan, sebuah rasa sakit yang tak tertahankan. Sedangkan mobil mereka sudah turun dari tol dan akan menuju pintu exit tol pekalongan.


"Kita kerumah sakit sekarang, kamu tahan sakitnya dan tetap sadar Kana." Ujar Mufi setelah dirinya menyadari suatu hal.


Sesampainya pada lobi rumah sakit tempat Mufi bekerja, Kana langsung diangkat oleh Mufi lalu dituturkan pada bed kosong pasien yang ada diUGD.


Dengan keadaan setengah sadar dan mata yang hampir terpejam, Kana sudah tidak sanggup lagi untuk membuka mata. Namun telinga Kana masih berfungsi sepenuhnya.


"Panggilkan Kari kesini, pastikan keadaan Kana dan janin yang ada dalam kandungannya baik-baik saja." Pinta Mufi pada dokter yang menghampiri mereka.


Perkataan yang Mufi lontarkan cukup membuat Kana terkejut, namun apa bisa buat kesadaran dirinya secara perlahan kian menghilang hingga Kana tak sadarkan diri sepenuhnya, dia pingsan tak mendengar apapun lagi dan tak lagi merasakan pergerakan manusia yang ada sekitarnya.