
Malam telah tiba, jarum jam menunjukan pukul delapan malam dan Kari tak kunjung datang sejak jam lima sore tadi dia pergi kembali meninggalkan Kana seorang diri.
Panas kian merambat tubuh Kana, suhu ac telah di naikkan namun Kana masih merasa hawa dingin menerpa tubuh yang berbalut selimut ini.
Pintu terbuka dan masuklah seorang laki-laki dengan paras tegas ban berwibawa Mufi Pratamaja.
"Gimana keadaan kamu Na?" Tanya Mufi dengan mendudukkan diri pada kursi yang ada di samping Kana.
"Sedikit lebih baik kak."
Kari mengulurkan punggung tangannya untuk menyentuh dahi Kana, "Badan kamu masih panas Na?"
"Iya kak, kalau malam panasnya naik tapi kalau siang panasnya turun."
Mufi memangukan kepala dan pintu kembali terbuka masuklah seorang perawat yang akan menyuntikan cairan obat pada selang infus Kana.
"Jagan di lihat kalau kamu takut." Ujar Mufi dengan menutup mata Kana. Mufi mengamati respon tubuh Kana yang memperlihatkan kerutan pada dahi dan Mufi juga merasakan jika tangan yang dia gunakan untuk menutup mata Kana terasa basa.
"Malam dok," Sapa perawat tersebut pada Mufi dengan berlalu pergi yang sebelumnya Mufi jawab anggukan kepala.
"Sakit ya?" Tanya Mufi dengan mengambil tisu yang ada di atas nakas untuk mengusap air mata Kana.
"Sakit banget rasanya, kak."
"Nggak apa-apa, itukan biar kamu cepat sembuh." Mufi meletakan telapak tangannya di atas dahi Kana dengan mengelusnya pelan. "Orang tua Vina setuju mereka akan segera datang lusa."
"Terus Vina gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, sesuai kesepakatan dan ide kita beberapa bulan lalu saat kamu berbicara dengan mereka."
"Hmm... kana ikut kak Mufi aja gimana baiknya,"
"Nah good, nanti kakak kabari info lebih lanjutnya."
"Usia kandungan Vina sekarang berapa kak?"
"Delapan bulan, kenapa?"
"Nggak apa-apa, tanya aja."
"Hanya beda lima bulan dengan kamu,"
"Iya kak."
Tak lama dari itu Kari datang dengan senyum lebar namun hanya untuk menutup kesedihan yang Kari sembunyikan. Senyum bisa menampakan kesedihan namun mata tidak bisa berbohong.
"Kakak pamit dulu ya, kasihan Vina udah tunggu di rumah."
"Iya kak, hati-hati." Pamit Mufi pada Kana.
"Kok langsung pergi aja kak, saya baru datang tadi habis tindakan." Ujar Kari kala melihat Mufi beranjak dari duduknya
"Iya, saya ngga bisa lama. Kasihan Vina di rumah."
"Yasudah kak, hati-hati di jalan."
"Siap bro, thanks." Mufi mengacungkan jari jempol pada Kari sebelum beranjak keluar pintu.
"Tubuh kamu panas lagi," Tanya Kari saat menyentuh dahi Kana.
"Kepala saya pusing,"
"Saya papah, pelan-pelan." Jawab Kari dengan senyum merekah.
Menolak pun tidak bisa Kana lakukan, jika sudah seperti ini. Jadi mau tak mau Kana harus turun dari bed pasien yang Kana tiduri dan berjalan menuju kasur dengan di papah oleh Kari.
"Sebentar saya atur dulu bantalnya biar kamu nyaman," Kari menata bantal, lalu membantu Kana berbaring perlahan yang di ikuti dirinya ikut berbaring di samping Kana.
Kana yang lelah ingin rasanya langsung memejamkan mata, hal itu karena efek obat yang sudah Kana minum tadi.
"Ayang jagan tidur dulu, saya mau cerita." Ujar Kari dengan menyentuh pipi Kana yang tidur dengan posisi miring menghadap dirinya.
"Hmm, apa?" Kana membuka matanya kembali walupun terasa berat.
"Tadi saya membantu seorang ibu melahirkan dan tim juga sudah berusaha yang terbaik untuk membantunya. Tapi sayang kita harus mengorbankan salah satu di antara mereka. Kamu tau ibu itu datang seorang diri, melewati pembukaan sendiri, nggak ada yang menemani. Tapi keluarganya datang saat ibu itu sudah waktunya melahirkan, lalu saat proses melahirkan itu dia nggak kuat dan kita tanya keluarganya siapa yang ingin diselamatkan antara keduanya dan kamu tau apa jawabannya? keluarga dia menjawab untuk menyelamatkan sang bayi, tapi saat dalam ruangan ibunya bilang untuk dia yang di selamatkan. Lalu kita berusaha dan kalau bayinya yang diselamatkan itu tidak memungkinkan, jadi ibunya kami selamatkan tapi bayinya meninggal." Papar kari bercerita panjang lebar pada Kana. "Nanti kalau kamu melahirkan, saya nggak mau kehilangan salah satu diantar kalian. Jadi kita operasi aja ya?"
Kana yang setengah tidur langsung membuka matanya, "Nggak mau operasi, saya maunya normal."
"Tapi nanti kamu kalau ngga-"
"Shut... Kamu itu dokter kandungan pasti tau apa yang harus dipersiapkan untuk lahiran normal."
"Hufh... Iya maaf, saya akan berusaha semaksimal tenaga buat adek ama kamu nanti."
"Nah gitu," Kana tersenyum dengan tangan mensigap baju yang Kana kenalan dan mengelus perutnya sendiri yang sedikit membuncit.
"Kamu kenapa?" Tangan Kari ikut terulur turun mengelus perut Kana yang sudah terbuka karena bajunya kana sigap keatas.
"Nggak nyaman perutnya, rasanya itu nggak enak kram."
"Kenapa nggak bilang sama saya?" Kari sangat menyayangkan tindakan Kana saat ini yang tidak mengatakan apapun padanya.
"Kan kata kamu nggak boleh manja, jadi harus di rasakan sendiri dan di tangani sendiri dalam diam." Jawab Kana dengan ekspresi sedih.
"Maaf atas perkataan saya tadi, kamu jagan seperti ini. Saya merasa direndahkan dan tidak berguna dalam hidup kamu."
Kana diam tanpa mau menjawab perkataan Kari dengan tangan Kana masih mengelus sang buah hati yang ada di dalam perut.
"Adek maafin ayah ya. Bilangin sama bunda dek untuk jagan gitu sama ayah, ayah juga ingin tau keadaan adek di dalam." Kari mendudukkan diri dan berucap di depan perut Kana. "Maafin aku ya, kamu jagan diam sama keadaan tubuh kamu, saya harus ikut andil berkontribusi juga Kana."
"Dimaafin nggak ya?" Jawab Kana songong dengan menarik sudut bibir ke kanan dan ke kiri.
"Ya harus di maafin, maaf ya bunda."
"Iyaa, ayah."
"Makasih bunda, makasih adek. Adek lagi ngapain di dalam belum tidur, mau ayah bacakan cerita kancil. Bentar ya ayah ambil tab dulu." Kari beranjak mengambil tab yang ada di dalam almari lalu kembali mendudukkan diri di depan perut Kana yang terbuka. "Pada zaman dahulu ada seorang kancil yang cerdik, lalu kancil bertemu dengan... " Kari bercerita dengan menirukan suara dari hewan tersebut dan ekspresi-ekspersi lucu yang membuat Kana tersenyum lebar.
"Tamat, besok adek mau di ceritain apa?" Tanya Kari dengan menempelkan telinga pada perut Kana, "Apa? Candi Borobudur. Baiklah ayah akan menceritakan asal usul candi borobudur besok, sekarang adek tidur ya. selama malam kesayangan dan kebanggaan ayah bunda."
Kari mencium perut Kana lalu menutup baju yang Kana kenakan dan mengelar selimut untuk menutupi tubuh Kana dan Kari. "Kamu kenapa belum tidur, pegal punggungnya, mau saya pijat?" Tanya kari yang di jawab gelengan kepala oleh Kana.
"Nggak, saya udah ngantuk."
"Yaudah sini saya peluk," Kari melingkarkan tangan pada tubuh Kana lalu mencium dahi Kana sebelum dia tidur dengan Kana yang juga sudah memejamkan mata.
"Saya bersyukur sekali bisa memiliki kamu, yang baik, sabar dan mengerti keadaan saya. Kalau nggak sama kamu, saya nggak tau sama siapa lagi. Makasih ya." Kari mencium kembali dahi Kana dengan penuh ketulusan dan kasih sayang.