
"Kana, bagaimana bisa kamu pendarahan seperti ini?" Hardik Kari dengan sedikit bentakan kala melihat bercek darah tersebut.
Kana yang tak paham dengan apa yang terjadi dengan dirinya ia langsung reflek memekikkan bola mata pada Kari. "Saya nggak tau, ini berbahaya tidak?"
"Tentu saja ini bahaya, sangat berbahaya kamu bisa keguguran jika seperti ini."
"Terus saya harus gimana? Tapi perutnya nggak sakit hanya kram."
"Saya nggak tau, kana. Saya nggak paham!" Jawab Kari dengan perpaduan wajah takut, kecewa, dan sedih kian berpadu menjadi satu dalam wajah tampannya.
Kana yang geram dengan jawaban yang Kari lontarkan, tangannya langsung terulur menarik rambut Kari dengan telapak tangannya, "Kamu itu dokter kandungan bukan si?"
"Saya... dokter kandungan. Stop, Kana, cukup." Dengan wajah memerah, kesal, dan air mata berlinang kana melepas, jambakan mautnya pada rambut Kari.
Helaan nafas berat terdengar jelas dari hembusan nafas Kari dengan tangan mengambil handphone pada saku bajunya. Dering telfon kian terdengar diantara mereka dengan Kana yang menangis sesenggukan, takut jika hal buruk menimpa calon buah hati yang baru berusia beberapa bulan ini.
"Sini lo, nggak pakai lama!" Lontar kari tanpa mempedulikan jawaban dari sebrang sana. Entah siapa yang telah kari telfon, Kana tak peduli yang penting dirinya cepat tertangani.
Suara gebrakan pintu masuk terdengar jelas dari dalam kamar. Kana membuka pintu kamar mandi dan melihat siapa yang baru saja masuk kedalam.
Bola mata kana kian membulat sempurna kala melihat siapa yang telah Kari hubungi, dengan kesal dan sebal Kana memandang Kari dengan tajam namun hal ini tidak Kari pedulikan.
Devin dan Aris yang baru saja masuk kedalam memandang Kari dan Kana dengan tatapan bingung, karena pasalnya penampilan rambut kana yang kacau dengan rambut Kari yang berantakan dan tak lupa juga mata Kana yang sendu memperlihatkan air mata yang ia tahan keluar.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Devin melihat keadaan Kana yang mengenaskan.
"Lo lihat ini, Kana pendarahan!" Kerasnya suara gemparkan Kana mengenai punggung Kari secara tiba-tiba.
Kana tak habis pikir lagi dengan suaminya ini, bagaimana bisa dia memperlihatkan ********** pada kedua teman Kari ini. Apakah Kari pikir kana tak memiliki urat malu?
"Gila kamu ya,"
"Kamu kenapa si? Tadi jambak saya secara tiba-tiba dan sekarang tiba-tiba mukul saya."
"Kamu itu sudah gila? Saya capek, kepala saya pusing. Kenapa kamu panggil mereka berdua, kenapa tidak telfon dokter Zino?"
"Saya nggak tau Kana, karena nomer Devin yang ada di baris atas data telfon saya."
"Tujuan lo telfon kita hanya untuk ini?" Tanya Aris dengan tatapan bingung.
"Iya, gue bingung. Lo yang tangani Kana gue nggak bisa."
"Yang benar aja bro, gue dokter penyakit dalam sedangkan Devin dokter bedah. Apa lo mau anak lo lahir sekarang?"
"Maksud lo apa?"
"Lo gila, lo bodoh, dan lo tidak profesional. Dia anak lo bro dan disini posisi lo sebagai dokter kandungan bukan dokter gadungan." Dengan langkah pelan Aris maju kedepan menjajarkan posisi tubuhnya dengan Kari dengan diiringi ucapan lembut namun tegas dan menusuk.
"Lo kenapa si, beberapa hari ini mancing emosi gue terus?"
"Gue nggak ngerasa mancing emosi lo, cuma lo aja yang lemah dalam mengendalikan diri."
"KELUAR KALIAN!!!" Bentak Zino yang baru saja datang memasuki ruangan setelah Devin menelfon dirinya yang diikuti Reza dan Mufi di belakangnya membawa nampan berisikan alat kedokteran yang akan mereka gunakan untuk mengecek dan menghentikan pendarahan Kana. Karena sebelumnya Devin telah memberitahu Zino jika Kana mengalami pendarahan.
"Dek, kamu nggak apa-apa?"
"Kak Mufi sakit."
"Iya kakak tau, bisa jalan tidak?" Tanya Mufi yang dijawab gelengan kepala oleh Kana. Karena keadaan tubuh Kana lemas seketika kala melihat darah tersebut dan juga dia menyaksikan perdebatan antara Aris dan Kari didepan matanya sendiri dan itu cukup mengingatkan memori kelam Kana hingga terputar kembali didalam kepala.
"Kalungin tangan kamu keleher kakak," Dengan cepat Mufi mengendong tubuh lemas Kana dengan bagian bawah tercetak merah, terlebih pakaian yang kana kenakalan bercorak putih hitam dan posisi Kana yang berjongkok dibawah tadi membuat darah tersebut menetes pada pakaian.
Dengan pelan Mufi membaringkan tubuh Kana diatas bed pasien, "Kak bayi aku gimana?"
"Kamu tenang tarik nafas hembuskan. Baik kamu dan dia akan baik-baik saja, percaya sama kakak." Tatapan teduh itu selalu bisa menenangkan pikiran Kana kala sedih melanda dan ucapan nada lembut nan halus itu selalu bisa menenangkan hati Kana.
"Sayang kamu sekarang akan baik-baik saja. Saya akan memastikan hal itu, baik kamu dan dia akan baik-baik saja. Zino gue mohon lakukan yang terbaik untuk Kana."
"Keluar,"
"Nggak, kak."
"Keluar,"
"Tolong kak, biarkan saya di dalam menemani Kana."
"Jagan sampai saya mengulangi kata yang saya keluarkan hingga ketiga kalinya atau kamu tidak akan bertemu Kana lagi." Ucapan yang Mufi lontarkan cukup membuat Kari menelan selvia nya dengan susah payah.
"Detak jantungnya masih terdeteksi, tapi kita perlu melakukan USG." Ujar Reza pada Zino yang dijawab anggukan kepala olehnya.
"Tolong kakinya ditekuk dan dibuka lebih lebar, maaf ya ini akan terasa sedikit sakit." Ucap Mufi dengan tegas tanpa ekspresi pada Kana.
"Udah, kalian berdua ikut gue keluar." Devin dan Aris langsung menarik Kari keluar dari ruangan karena dirasa akan menganggu Zino jika Kari ada didalam sana.
setelah mereka berdua keluar, terdengar ruang pintu rawat Kana terkunci begitu saja dari dalam. mungkin Mufi yang melakukannya.
Kian tubuh Kari lemas bagaikan jeli hingga dia tak sanggup lagi untuk berjalan dan hanya bisa terduduk dibawah pintu kamar rawat Kana.
"Lo nggak seharusnya gitu bro, mungkin pagi tadi gue muji lo, tapi sekarang gue nyesel muji lo. Karena apa? lo sanggup menyelamatkan nyawa mereka tapi disisi lain lo ingin membunuh darah daging lo sendiri. Nggak seharusnya lo kebingungan seperti tadi, karena ratusan bahkan ribuan orang telah lo selamatkan, sedangkan hal ini? lo nggak bisa menyelamatkan buah hati lo sendiri."
"Jujur Dev... gue bingung, gue seperti orang bodoh saat didekat Kana dan gue nggak bisa menangani dia."
"Setidaknya lo bisa berfikir jernih bukan?" Devin berjongkok dihadapan tubuh Kari yang terduduk diatas dinginnya jubin rumah sakit. "Hampir aja lo kehilangan anak lo sendiri, karena kebodohan yang telah lo lakukan. Gue akui jika yang dikatakan oleh Aris itu benar jika lo belum bisa mengendalikan diri,"
"Gue harus gimana, gue bingung. Lo tau sendiri bukan, gue sulit mengekspresikan kasih sayang gue pada Kana."
"Semua ada dan tergantung pada diri lo sendiri. lo tau mana yang terbaik untuk rumah tangga lo. Tenangkan diri lo dulu bro, gue pamit ke kantin dulu," Kari menatap langkah Devin yang semakin menjauh dari dirinya dan kini tinggal dia seorang diri dalam lorong yang sepi ini.
...itu adalah pakaian Kana jika kalian lupaš...