OHH, No!!!

OHH, No!!!
14. Pertanggung Jawaban Laki-laki



Bentuk pertanggung jawaban atas kesalahan penyebab trauma yang fatal, hanya bisa ditebus dengan jaminan seumur hidup bagi korban atas dasar kesungguhan ingin berubah menjadi lebih baik.


Tepat pukul sepuluh siang hari yang panas ini, Kari mengendarai mobil dengan Rio duduk di samping dirinya. Ia sudah tak sabar lagi untuk segera kembali kerumah sakit menemui sang istri tercinta Kana yang terbaring lemas disana.


Perjalanan yang cukup memakan waktu kurang lebih sembilan jam untuk sampai pekalongan dengan melewati tol dan mungkin malam hari Kari baru sampai di sana.


Suasana siang yang panas, hingga berganti sore lalu malam yang gelap. Menggiring perjalanan laju mobil Kari, mengapa Kana tidak menaiki pesawat. Karena, untuk menggunakan pesawat butuh waktu bagi mereka untuk menunggu hingga esok hari sesuai jadwal penerbangan.


"Kar, gue salut sama lo. Jujur lo hebat!" Rio membuka bicara setelah dirinya bangun dari tidur yang panjang karena kelelahan. Rio adalah sahabat Kari semasa Sma.


"Hebat? Maksudnya bagaimana yo?"


"Lo hebat berani tanggung jawab atas perbuatan yang telah lo perbuat."


"Karena hal itu satu bagian penting dari bentuk pertanggung jawaban gue, yo."


"Gue nggak seberani lo. Dulu saat mengetahui Intan hamil gue pernah menyuruh, bahkan membawa intan untuk menggugurkan kandungannya. Gue laki-laki brengsek yang merusak perempuan," Rio membuang muka menghadap jendela luar yang memperlihatkan gedung-gedung menjulang tinggi.


"Really?" Kari menatap Rio kaget sekaligus bingung, karena yang Kari tau Rio adalah sosok yang tegas dan pemberani dalam menangani resiko apa bila ada kesalahan, sehingga wajar jika Rio menempati posisi tinggi dalam perusahaan.


"Sungguh, gue brengsek soal cewek Kar. Apalagi saat itu gue dijebak dengan teman gue sendiri."


Kari menoleh pada Rio sebentar sebelum pandangan matanya kembali fokus kedepan, "Lo tau? gue juga dijebak. Dijebak oleh asisten gue sendiri hingga hal itu terjadi lalu mendatangkan buah hati."


Rio memekikkan mata menatap Kari yang ada disebelahnya, "Dan lo mau tanggung jawab, padahal itu terjadi kerena ketidak sengajaan. Kalau gue si dulu, menolak untuk bertanggung jawab. Karena itu bukan salah gue sepenuhnya, itu karena si angga dan ya gue pernah melemparkan masalah ini pada angga. Namun, angga tidak mau mempertanggung jawabkan dampak dari perbuatannya dan gue suruh intan untuk menggugurkan bayi itu. Tapi intan tidak ingin menggugurkannya, dia menolak dan berakhir kita menikah."


Kari menghela nafas kasar dan membuangnya keluar jendela, "Gue tanya sama lo, saat hal itu terjadi lo lampiaskan pada intan karena intan yang memberikan dirinya atau?"


"Gue yang tarik intan saat itu, yang notabennya orang asing. Karena saat pesta itu hanya intan yang paling menarik dimata gue. Lalu, gue bawa intan menuju kamar penginapan gue di hotel itu dengan dalih minta tolong."


"Gue juga korban!"


"Lo minta angga tanggung jawab karena ulahnya, emangnya lo ikhlas anak lo panggil angga ayah?"


Rio terdiam bibirnya kelu setelah mendengar apa yang Kari tuturkan, "Y-yaa enggak,"


"So, jagan bilang hubungan lo dan intan? Apalagi intan baru melahirkan bro!"


"Gue nggak pernah pulang untuk mereka, saat hamil pun gue jarang pulang, cuma gue selalu kirim uang bulanan buat intan belanja dan kesenangan dirinya."


Kari semakin kuat menekan stir kemudi, giginya bergemuruh, karena ia gesekan satu sama lain untuk mereda emosi yang ada dalam dirinya. "Bro lo tau, Kana menderita depresi berat setelah mendengar jika dirinya dinyatakan hamil oleh dokter Zino. Pertanggung jawaban sosok laki-laki bukan hanya dari uang namun juga kasih sayang, perhatian dan memahami perasaannya. Intan merupakan salah satu perempuan tangguh yang ada diluar sana, yang rela mempertahankan buah hati yang tak bersalah dari hubungannya. Lo tau gimana terpukulnya gue saat Kana tak memiliki gairah hidup, lo tau betapa takutnya gue terhadap anak yang ada dikandungan Kana, gue berusaha mati-matian untuk tidak membunuh anak gue sendiri bro walaupun itu hasil dari kesalahan dan ketidak sengajaan kami. Namun, gue bersyukur Kana yang mengandung benih gue. Karena, Kana sosok yang tangguh tak pernah mengeluh, permata yang tidak ada duanya di dunia kilau pancaran cahaya Kana begitu terang sebelum gue redupkan. Intan berharap kehadiran lo bro, bukan hanya kebutuhan materi saja yang dia butuhkan, namun batin dan mental yang juga harus kamu perhatikan Rio."


Dengan sekali tarikan nafas Kari menjelaskan tanpa ada jeda dalam kalimatnya, "Sekarang gue tanya, saat lo pertama kali bertemu dengannya karena dia paling menarik dibandingkan yang lain. Itu sudah membuktikan rasa ketertarikan lo pada intan, lo cinta pandangan pertama. Pandangan mata yang lo sorotkan pada intan dulu, itu juga bentuk pandangan laki-laki lain saat melihat intan dan lo harus sadar jika intan itu sangat indah sebelum lo rusak berkeping-keping. Rasa cinta dalam diri lo itu tinggal lo kembangkan. Karena yang berperan besar memupuk keindahan permata itu laki-laki, jadi tidaknya cahaya permata itu bersinar kembali itu ada ditangan laki-laki. Sebuah hubungan butuh keterbukaan, saling memahami dan saling mengerti. Jagan egois jika lo tidak ingin terbunuh dengan rasa penyesalan seumur hidup. Ingat baik lo dan intan itu sama-sama korban dan lo harus ingat ini, bahwa yang paling rugi dalam rumah tangga itu perempuan bukan lo bro. Pulang dan minta maaflah padanya, kasihan intan lo telantarkan."


"Gue nggak telantarkan dia bro, gaji gue 75% untuknya!" Rio tak terima atas kalimat akhir yang Kari ucapkan padanya.


"Lo telantarkan dia, karena lo tidak memenuhi batin dan mentalnya. Sekarang banyak loh setelah melahirkan para ibu mengalami beby blues,jagan sampai intan mengalami hal tersebut karena jika intan mengalaminya maka secara perlahan intan akan mati dengan pikiran kacau dan rasa benci pada buah hati tercinta yang baru saja lahir didunia, bahkan dia juga akan membenci lo."


"N-nggak, intan nggak akan mungkin mengalami hal itu."


"Nggak mungkin, mengapa tidak? Saya yang menyambut anak lo lahir di dunia dan lo menyaksikan sendiri bukan betapa tersiksanya intan saat itu mengalami proses-proses berat, tahap demi tahap pembukaan hingga melahirkan. Sadar bro, dengan pemenuhan materi saja tidak akan cukup untuk mempertanggung jawabkan dia. Perempuan juga butuh dimengerti akan perasannya dan kita sebagai seorang suami harus mendengarkan dengan seksama atas semua keluhannya. Perempuan juga butuh dipahami walaupun dia tidak mengatakan namun kita harus sadar dengan keinginannya."


Rio terdiam menitikkan air mata, hatinya tertampar dengan semua perkataan yang Kari ucapkan padanya, sungguh Rio menyesal terlebih Intan begitu baik padanya. "Gue jahat, maaf."


"Katakan maaf itu pada intan bukan pada saya," Dengan ketus kari menjawab tanpa menolehkan kepala pada Rio yang ada disebelahnya.


Maafin gue intan, gue jahat sama lo. Padahal selama ini lo baik. Saat gue nggak pulang, lo antar bekal makan ke kantor. Walaupun berkali-kali gue marah dan bandingin lo dengan perempuan lain. Kamu permata intan akan saya kembalikan cahaya permata kamu. Batin Rio berucap dengan derai air mata mengalir, menyuarakan suara hatinya yang telah mengotori dan menyakiti sebuah permata seperti intan.