OHH, No!!!

OHH, No!!!
32. Sosweet



Pagi telah tiba, kicau burung kian mewarnai dunia dengan suara merdu mereka dengan matahari membentangkan sinar terang benderang menyinari seluruh alam, menarik jiwa-jiwa dalam dunia mimpi, kembali pada raga tanpa penghuni.


Perlahan Kana membuka mata dan nampak Kari sudah tidak ada di depan matanya. Suara air kran yang mengalir mengalihkan pandangan mata Kana dan tak lama Kari keluar dengan telanjang dada yang hanya terbalut handuk di rambutnya yang basah.


"Udah bangun, morning." Sapa Kari kala melihat Kana bersandar pada tambok belakang kasur.


"Hmm, morning too."


Kari berjalan menghampiri Kana melihat cairan infus yang hampir habis dengan santai Kari menekan tombol yang ada di samping bed Kana dan tak berselang lama seorang perawat datang masuk dalam ruangan.


"Apa ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya sang perawat.


"Itu cairan infusnya sudah mau habis," Bukan Kana yang menjawab tapi Kari yang duduk di atas bed pasien.


"Baik dok. Saya izin megambil gantinya dulu." Jawab seng perawat dengan senyum malu melihat roti sobek yang tercetak jelas di perut Kari.


"Huek... "


"Hai kamu kenapa, sebentar jangan muntah dulu." Perintah Kari dengan berlari kecil masuk dalam kamar mandi untuk mengambil ember. "Keluarkan, jagan ditahan."


"Huek... Huek... Hu.. Huekkk... " Seperti biasa hanya cairan yang keluar dari mulut Kana.


"Keluarkan semuanya," Kari memegang ember dengan tangan Kiri dan tangan kanan dia gunakan untuk memijat dan mengusap punggung Kana.


"Sudah?" Tanya Kari dengan nada lembut tepat di samping telinga Kana, yang di jawab anggukan kepala oleh Kana.


"Saya izin buang muntahan kamu dulu ya, nanti saya balur perut sama punggungnya dengan minyak kayu putih." Kari kembali berjalan masuk ke dalam kamar mandi membuang dan mencuci ember itu hingga bersih lagi, agar tidak menimbulkan bau yang akan menyebabkan Kana bertambah parah saat muntah karena mencium bau ember nya.


Kari kembali menghampiri Kana dengan membawa minyak kayu putih, membalur punggung Kana dengan di iringi sedikit pijatan di sana. "Adek rewel di dalam perut karena bunda lagi sakit, yaa!"


"Sini berbaring ayang," Pinta kari dengan membantu Kana berbaring di atas kasur lalu mengoleskan minyak kayu putih dengan perlahan di atas perut Kana.


Tak berselang lama setelah Kana berbaring, segerombolan perawat perempuan delapan orang dan satu perawat laki-laki masuk kedalam kamar rawat Kana yang di pimpin oleh dokter Zino di depan mereka.


"Ternyata ini yang menjadi topik perbincangan pagi hari di ruang perawat," Celetuk Zino tiba-tiba. "Padahal punya saya nggak kalah sixpack dengan perut Kari."


Kana yang awalannya bingung dengan mereka kian paham setelah dokter Zino menjelaskan maksudnya. "Ayah ihh pakai bajunya dulu sana,"


"Bentar loh bunda, ayah lagi ngobrol sama adek." Jawab Kari dengan cengengesan. "Adek mau makan apa pagi ini?"


Kari mengangkat kepalanya, menatap Kana dengan teduh tanpa mempedulikan para perawat yang menatap kagum dirinya. Pasalnya Kari tak pernah bertelanjang dada ataupun menggunakan pakaian pendek, Kari selalu menggunakan pakaian lengan panjang saat bekerja. "Bundanya mau makan apa pagi ini?"


"Burger sama Pizza,"


"Nggak ada pizza ataupun burger, sebagai makanan pagi hari. Bubur aja ya nanti saya buatkan," Tawar Kari pada Kana.


"Iyaa, ayah."


"Kita disini mah apa, cuma nyamuk yang nggak dianggap kehadirannya." Protes Zino tak terima dicueki oleh Kari sadari tadi.


"Lagian lo masih pagi udah datang, ganggu aja." Jawab Kari dengan pandangan mata tajam menatap Zino dan Zino yang ditatap begitupun oleh Kari tak peduli dengan memutar bola matanya.


"Ckkk... dasar mie kari goreng. Kau itu harusnya sadar diri semalam lo izin tidur enak-enakan mesra-mesraan, lah gue bergadang handle semua pasien. Jadi sekarang gue visit pagi, mau pulang istirahat sama istri gue soalnya. Mumpung dia libur kerja."


"Sejak kapan mie kari jadi goreng?" Tanya Kari tak kalah nyolotnya pada Zino.


"Enak bener lo mau pulang, yang bantu gue nanti siapa. Dokter Ilham lagi dinas,"


"Ya gue nggak perduli. Hari ini gue bebas menikmati waktu santai dan tenang, entar malam gue berangkat jam lapan." Jawab Zino dengan memasang stetoskop pada kedua telinga. "Apa ada keluhan?"


"Lo mah nggak setia kawan No. Keluhan Kana semalam demamnya naik dan pagi ini masih mual setelah bangun tidur."


"Hmm... Saya periksa dulu ya," Zino menempelkan stetoskop pada dada kiri kana dan beralih ke berapa sisi pada bagian atas Kana. "Kalau nafas susah nggak, mau pakai bantuan oksigen?"


"Nggak usah dok,"


"Baiklah, ini sepertinya cowok terlihat banget dari ciri-cirinya." Ungkap Zino.


"Sok banget lo jadi dokter, pakai ramal-ramal segala belum kelihatan itu jenis kelaminnya." Sosor Kari tak terima anaknya di ramal oleh Zino, memang agak lain Kari ini karena yang meramal anak dia itu dokter senior di atas Kari, tapi bisa-bisanya dia.


"Mau taruhan?" Tantang Zino mengulurkan tangan kanannya.


"Seratus juta." Putus Kari dengan yakin menerima jabatan tangan Zino yang di iringi suara riuh tepuk tangan para perawat.


"Deal," Dengan senyum lebar Zino kembali melanjutkan pemeriksaan pada Kana dengan menekan beberapa sisi perut Kana.


"Lo kalau nekan jagan keras-keras lah, kasihan istri gue anjir." Protes Kari tak terima lagi, namun Zino seakan menulikan telinga tak mempedulikan perkataannya.


"Ini dedeknya sehat, cuma aseupan gizinya harus lebih di pedulikan dengan di tingkatkan lagi. Kalau mual saat makan ganti dengan ngemil roti, buah ataupun yang lain. BB adeknya kemarin itu masih rendah nggak sesuai." Jelas Zino pada Kana tanpa mempedulikan Kari. "Apa ada pertanyaan lain?"


"Nggak ada si dok,"


Zino menuliskan sesuatu pada kertas yang dibawa oleh salah satu perawat, "Baik kalau begitu saya pamit, jika ada pertanyaan silahkan bertanya pada suami kamu. Selamat pagi, saya pamit undur diri."


"Pagi," Kini tinggallah Kana dan Kari dalam kamar ini, hening mulai tercipta sebelum Kari beranjak dari kasur melihat tetesan infus yang sudah di atur oleh perawat tadi setelah diganti.


"Kamu mau mandi sekarang atau nanti?"


"Nanti aja."


"Yasudah saya masak bubur dulu buat makan kita bertiga." Kari mencium puncak kepala Kana sebelum bergulat dengan alat dapur yang tersedia.


Kari memasak dengan telaten dan tenang tanpa keributan seperti Kana saat bergulat dengan alat dapur, hingga membangunkan para burung yang sedang tertidur. Dari kejauhan Kana mengamati Kari dan dengan diam-diam Kana mengambil Foto Kari yang senang memasak.



Ayah itu nganteng dek, batin Kana dengan gerakan tangan mengusap perutnya.


"Makanan sudah siap untuk mendarat pada tempat tujuan, aaaa buku mulutnya. Good," Kari berjalan membawa mangkok bubur dengan sendok yang berisi bubur dia gerakan layaknya sebuah pesawat menuju mulut Kana. "Ini harus habis ya dek."


Suap demi suap telah masuk ke dalam mulut Kana dengan senyum merekah tercetak pada wajah manis Kana. Pada dasarnya perempuan hanya ingin di perhatikan dengan di beri canda gurauan oleh sang pasangan. Suasana rumah akan terasa nyaman saat pasangan yang menempati itu saling mengerti dan memahami.


"Hore... sudah habis, tepuk tangan, adek hebat ayah acungi dua jempol." Ujar Kari dengan mengelus perut Kana. "Sekarang ayah harus kerja, nanti kita main lagi yaa."


"Saya kerja dulu ya, maaf harus meninggalkan kamu sendiri lagi dalam ruangan. Nanti mandinya dibantu sama suster nggak apa-apa?" Ucap kari dengan memakai baju dan celana formal seperti sedia kala yang di gunakan untuk bekerja. Celana panjang, baju panjang, dan tak lupa dengan keca mata yang dia kenakan.


"Nggak papa,"


"Terimakasih, aku sayang kamu." Ungkap Kari tepat di samping telinga, setelah dia mencium dahi dan pipi Kana. Hal itu juga sempat membuat Kana shok hingga warna merah muncul pada kedua pipi Kana.