
Hari terus berganti berlalu dan Kana belum mengingat apa yang telah terjadi dengan keadaan dirinya yang sebenarnya.
Dengan langkah pelan dah perlahan Kana berjalan menelusuri rumah Kari yang nampak sederhana namun sungguh luar biasa dalamnya, dimana dalam setiap desain ruangan Kari menyelipkan keunikan tersendiri sebagai ciri khasnya. Halnya dengan ukiran kancil yang ada pada pintu ruang belajar, yang berisikan buku-buku berbagai macam jenis dan golongan didalamnya.
Mata bulat hitam Kana terkagum-kagum melihat pemandangan dan penampakan yang ada didalam rumah ini, salah satunya taman bunga asri dengan berbagai macam warna mawar tertanam disana dan juga benda-benda antik tertata rapi didalam almari yang ada disamping sofa tamu.
Setelah puas mengelilingi taman depan kian Kana menuju taman belakang yang tak terlalu luas dengan pohon mangga ditengahnya. Kana mendudukan diri pada ayunan yang ada ditengah taman. Menikmati sejuknya angin sore yang sepoi-sepoi dengan dedaunan yang bergoyang.
Hembusan demi hembusan halus terasa menerpa wajah Kana, ini adalah rumah impian. Pandangan mata Kana menelusuri sekeliling taman belakang hingga terfokus pada sosok yang tak asing dimatanya namun ia lupa, hingga orang asing tersebut berjalan keluar melalui pintu belakang. "Orang itu,"
Tak ada yang menyadari jika Kana ada di taman belakang hingga petang menjelang, Kana melangkahkan kaki masuk kedalam menuju kamarnya kembali.
Didalam kamar nampak Kari yang baru saja pulang, terdengar dari air yang mengalir dengan jas dan tas yang tergeletak diatas kasur. Kana menghela nafas, dengan berat hati Kana menyimpan tas Kari pada meja kerja lalu menggantungkan jas Kari pada tempatnya. Walupun sudah Kana peringatkan berkali-kali namun tetap sama hasilnya, karena Kari sulit melakukannya sebelum menjalankan kebiasaan itu selama 60 hari berturut-turut.
"Dari mana?" Tanya Kari keluar dari kamar mandi dengan rambut basah tanpa atasan.
"Taman,"
Dahi kari nampak berkerut, "Kenapa, maksudnya kenapa ketaman?"
"Cari angin,"
"Kan ada AC kenapa harus ketaman?"
Suara ketukan dari luar membuat Kana dan Kari menyatukan mata saling pandang satu sama lain dengan pandangan saling bertanya, siapa?
Kari berjalan mengambil baju sebelum membukakan pintu kamar, lalu nampaklah pembantu mereka yang membawa susu bumil dan kopi untuk Kari.
Dengan langkah sedikit terburu-buru ia melangkah masuk meletakan minuman kami, dia adalah pembantu baru atas nama Ayu saudara dari mbok Isma yang baru tiga hari bekerja setelah Kari menyetujuinya.
"Silahkan tuan dan nyonya,"
"Iya, terimakasih." Jawab kari sebelum Ayu benar-benar keluar dari kamar mereka, setelah meletakkan susu tersebut diatas nakas.
"Diminum dulu susunya sini," Kari mendudukkan diri disampai kanan tempat tidur tepat disebah Kana.
"Nggak,"
"Kasihan anaknya kalau kamu egois gitu, sini!" Perintah Kari untuk Kana mendekat pada dirinya yang ada ditepi kasur.
Kana tak menjawab, pandangan matanya fokus pada buku tulis yang ada di tangan dengan menggoreskan tinta disana menggambar apa yang Kana pikirkan karena itulah yang diperintahkan oleh Mufi pada dirinya agar tidak menyakiti diri sendiri, jadi ia lampiaskan pada sebuah buku dan pena.
Berkali-kali Kana berusaha memuntahkan semua isi yang ada dalam perutnya namun tidak ada makanan yang keluar hingga Kana merasa lemas dan lelah.
"Maaf," Dengan penuh perhatian Kari memapah tubuh Kana untuk berbaring ke kasur, lalu menyelimuti tubuhnya.
Setelahnya Kari mengambil stetoskop yang ada didalam tas dan minyak kayu putih diatas meja kerja yang terletak di pojok kamar.
"Lemas, hmm?" Tanya Kari dengan memasang stetoskop pada kedua telinga lalu memeriksa detak jantung Kana dan beralih pada perut Kana yang keras. Setelah selesai Kari menuangkan minyak kayu putih pada kedua telapak kanannya lalu memijat perut Kana yang masih nampak rata.
Kana hanya diam saja dengan pandangan yang semakin lama semakin terpejam karena pijatan nyaman dan hangat Kari diatas perutnya.
"Jagan tidur dulu, kamu belum makan." Kari menghentikan pijatannya, membangunkan Kana yang telah terpejam lalu membantu Kana bersandar kebelakang tempat tidur.
"Tunggu sebentar, kita makan dulu jagan tidur." Perintah Kari sebelum dia berjalan keluar dan tak berselang lama Kari kembali dengan satu piring makan dengan lauk pauknya.
"Makan dulu, yaa... " Dengan telaten Kari menyuapi Kana secara perlahan dan sabar karena butuh waktu lama bagi Kana untuk menelan makanannya.
"Udah, enek rasanya ndak enak."
"Tiga suap lagi,"
"Nggak mau." Kepala Kana yang digelengkan membuat Kari menyerah begitu saja karena jika ia memaksa maka Kana akan memuntahkan lagi makanan yang baru saja ia telan.
Mau tak mau Karilah yang harus menghabiskan makanan sisa dari Kana, bahkan sudah beberapa hari ini Kari melakukan hal itu makan-makanan sisa dari Kana.
"Saya siapa? Mengapa saya tidak mengingat segalanya."
Kari menatap mata Kana penuh keteduhan. "Kamu istri saya,"
"Ck... Tapi saya tidak mengingat saat kita menikah,"
"Karena kamu sedikit amesia dan tidak mengigat semuanya,"
"Anak ini?"
"Itu anak kita. Setelah ini kita tidur nggak ada lagi bergadang atau hal lain semacamnya. Kamu tidak boleh kecapekan apa lagi bergadang paham?"
"Paham," Kari berjalan keluar meningggalkan Kana dengan raut kesedihan, inilah yang tidak Kana suka dari Kari yaitu ada suatu hal yang Kari sembunyikan dari dirinya. Terlebih jika menyangkut masa lalu Kana, maka Kari akan berusaha mengalihkannya.