OHH, No!!!

OHH, No!!!
3. Kesiapan calon ibu



Anak adalah harta paling berharga dari apapun yang ada didunia ini, anak adalah bentuk rezeki yang tidak ternilai nominalnya. Anak adalah bentuk amanah tanggung jawab dari sang pencipta untuk dijaga dan didik seiring berkembangnya usia, hak-hak anak harus dipenuhi oleh kedua orang tua sebagai bentuk pertanggung jawaban dilahirkannya didunia.


"Cava, Cevi. Mami datang." Teriak Kana mengalihkan fokus kedua anak laki-laki berusia 7thn yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Cava yang sedang membaca dengan kaca mata terpasang di kedua matanya dan Cavi yang sedang menyusun lego mainannya. Sungguh anak kembar, Mufi dan Vina sangatlah tampan dengan kulit seputih susu, badan berisi, dan mata bulat dengan netra tengah berwarna coklat.


"Mami!" Hanya Cavilah yang menghampiri dirinya, lalu memeluk kedua kaki Kana dengan erat. Sedangkan Cava, jangan harap dia akan menghampiri Kana yang baru datang lalu memeluknya. Jikapun hantu paling menyeramkan muncul di samping Cava dan dia sedang membaca, maka yang Cava lakukan hanya meliriknya saja tanpa mempedulikan hantu tersebut.


"Mami tau tidak?" Tanya Cavi dengan senyum yang tak luntur sejak Kana memasuki ruangan itu. Sungguh senyum Cavi sangatlah candu, dengan lesung tercetak dikedua pipi tembem miliknya. Senyum yang menenangkan layaknya senyum rembulan yang bersinar terang dimalam ini.


"Jumlah mainan yang mami beli ini begitu banyak, terus tadi Cavi foto buat story whatsapp dan banyak teman Cavi yang mau beli mami. Kata bunda, kita tidak boleh berlebihan dalam memiliki suatu barang, nanti kasihan orang lain yang tidak bisa membelinya, karena semua mainan sudah habis dibeli mami." Jelas Cavi pada Kana yang sedang memasang lego kecil menjadi sebuah bentuk kapal.


Kana memekikkan matanya, sungguh jiwa-jiwa pengusaha tertanam sejak dini dalam diri Cavi dan juga jiwa kedokteran tertanam dalam diri Cava yang saat ini sedang membaca buku anatomi.


"Cavi, siapa yang mengajari kamu berjualan online?"


"Tidak ada mami, tapi Cavi lihat banyak para penjual yang meng-upload produk yang mereka jual di instagram,"


"Cavi emang bisa pakai handphone? Cavi, tau cara menggunakan instagram?"


"Tau mami. Cavi diajari sama om Reza caranya main instagram dan youtube dengan baik dan benar."


"Coba lihat, mana instagram Cavi." Kana sungguh penasaran sekaligus kagum dengan kedua anak Vina dan Mufi, setelah hampir 4tahun tidak bertemu dan hanya bisa bicara melalui handphone membuat Kana terkejut dengan akal kepintaran mereka berdua. Terlebih dengan Cava yang pintar secara akademis.


Instagram bocah usia 7tahun, tapi pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan milik Kana, dimana tertera di layar handphone Cavi 65,7RB pengikut dan hanya 12 foto yang diunggah.


"Banyak juga ya pengikut Cavi,"


"Iya, soalnya Cavi ganteng." Jawab Cavi dengan penuh percaya diri. Ini baru duplikat asli Mufi dan Vina, memiliki rasa percaya diri setinggi langit senja.


"Emang Cavi, ganteng?"


"Ganteng lah... "


"Emang iyah? Jelek gini juga," Ejek Kana dengan mencubit kedua pipi Cavi.


"Mami, ndak boleh pegang wajah adek, ndak boleh cubit-cubit, ndak boleh bicara keras-keras, menganggu." Setelah sekian lama es kutub mulai bersuara, walau fokus matanya masih sama menghadap buku yang ada didepannya.


"Dengar itu, apa kata Cava!" Seorang laki-laki muncul dari balik pintu coklat, Mufi Pratamaja Sp.KJ ayah dari mereka berdua suami dari Vina yang berprofesi sebagai seorang psikiater.


Suara serak itu membuat bulu kuduk Kana merinding, meremang dan menegang. Jantung Kana berpacu begitu capat, berdetak tanpa aturan. Seperti ujian akan segera dimulai dan Kana harus segera menyiapkan diri.


Menit ke detik terus berjalan, tanpa bisa dihentikan. Namun, Kana dengan Mufi sama-sama diam dan engan memecah keheningan malam.


Dahaman Mufi memutus fokus pikiran kana, hingga pandangan mereka saling bertemu satu sama lain, dengan posisi yang terhalang meja bundar ditengah keberadaan mereka berdua. Kana mengerutkan dahi dengan mata disipitkan menunggu kalimat yang akan Mufi keluarkan.


"Kapan menikah?" To the poin, langsung menuju inti tanpa basa-basi. Karena waktu begitu berharga hanya untuk pembuka yang menurut Mufi tidak begitu diperlukan sebagai awal percakapan mereka.


Ekspresi wajah yang langsung berubah masam, dengan senyum yang dipaksakan tercetak jelas pada wajah Kana, "Saat sudah tiba waktunya, kak."


"Dalam usaha, kamu membentuk target bukan?"


"Saya akan menikah saat sudah tiba waktunya, tolong jangan pertanyakan tentang pernikahan kepada saya. Karena saya tidak memiliki jawaban pastinya."


"Oke, lalu. Apa yang kamu takutkan dalam dunia pernikahan?"


"Saya tidak takut membentuk rumah tangga, namun saya takut dengan tanggung jawabnya. Saya seorang perempuan yang tentunya sangat dirugikan apabila rumah tangga saya hancur berantakan karena ketidak adanya pertanggung jawaban dari kami yang membentuknya."


"Jelaskan maksudnya, bagaimana?"


"Dalam pernikahan yang berperan besar dalam rumah tangga adalah perempuan. Jika di ibaratkan seorang laki-laki sebagai genting pelindung hujan dan panas lalu keindahan dan kenyamanan di dalamnya semuanya tugas perempuan. Apabila rumah tangga saya gagal bukan hanya saya sebagai korban namun anak saya juga akan mejadi korban. Saya belum siap membentuk bahtera rumah tangga, saya belum siap bertanggung jawab dengan keluarga saya nantinya, saya belum siap secara fisik dan mental. Mental saya masih berantakan, pikiran saya masih kacau. Saya belum bisa kak!"


"Apa kamu pernah ada pikiran untuk tidak menikah?"


"Pernah, namun saya tepis pikiran itu jauh-jauh. Menjadi seorang istri dan seorang ibu adalah sebuah impian bagi perempuan. Namun, sayangnya banyak laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab dengan keputusan yang mereka buat sehingga membuat saya mengundurkan diri untuk tidak membuka hati. Saya hanya ingin seseorang yang bertanggung jawab dengan pilihannya, mampu memberikan kebaikan dan ketenangan hati bagi saya. Makna menikah bagi saya adalah menjalankan visi misi yang ada di dalamnya dimana saling menjaga dan menjalankan apa yang ingin kita capai bersama, sehingga menjadikan hidup lebih bermakna,"


Tatapan mata lekat nan tajam dari Mufi membuat Kana gugup sekaligus bingung secara bersamaan. Entahlah Kana juga bingung dengan dirinya, biasanya orang lainlah yang menghindari tatapan mata Kana. Namun, dengan Mufi? Kanalah yang harus menghindari tatapan matanya.


"Apa yang kamu takutkan dari seorang anak? Bukankah kamu mengatakan jika menjadi seorang ibu juga impian bagi kamu?"


"Saya takut jika saya tidak dapat memenuhi hak-hak mereka, saya takut jika anak saya tidak mendapatkan haknya. Karena saya adalah pondasi awal tumbuh kembang mereka yang membentuk kepribadiannya, bahkan sebelum mereka lahir di dunia."


"Kamu tau, apa hak-hak anak itu?"


"Iya, Kana tau kak. Saya telah membaca buku yang kakak kirimkan dulu. Tentang parenting,"


"Sebutkan hak anak itu apa saja dan jelaskan?"