
Segala administrasi dan keperluan Kana telah Kari persiapan, hingga tepat pukul sebelas siang Kana sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Siap pulang hari ini?" Tanya Kari melihat Kana bersandar di atas bed tempat tidur tanpa tangan terikat ataupun terborgol.
"Pulang?"
"Iya, pulang kerumah?"
"R-rumah...?" Dengan tatapan bingung dan bengong Kana bertanya pada Kari.
"Kana pulang kerumah dokter!"
"P-pulang kerumah dokter, Kana ndak punya rumah?"
"Tidak ada,"
Dengan bibir yang langsung bungkam dan wajah penuh kesedihan, membuat Kari Iba melihat perubahan wajah Kana. "Kana pulang dengan dokter, rumah dokter juga rumah Kana. Tapi sebelum itu Kana harus tanda tangan disini!"
Sebuah buku kecil yang Kari ulurkan pada Kana dengan bulpoint didalamnya. Kana terlihat bingung saat melihat buku tersebut, sebuah buku yang terdapat foto seorang perempuan didalamnya. "Tanda tangan? Kenapa tidak dia yang tanda tangan. Ini buku dia dokter ambil dimana kembalikan lagi pada orangnya."
Tutur kata yang Kana keluarkan membuat Kari tercengang, "Ini foto Kana dulu, buku ini punya Kana. Jadi Kana harus tanda tangan dibuku ini, biar bisa tinggal sama dokter."
Tanpa membantah lagi Kana langsung mengambil bulpoint tersebut lalu menandatanganinya.
"Terimakasih," Kari memeluk Kana penuh haru hingga detik air mata mengalir keluar.
Kana tidaklah gila namun dia nampak amesia ringan dia tak mengingat kejadian yang telah terjadi sebelumnya. Kerena banyaknya masalah yang Kana pendam tanpa mau menceriakan pada sekitar, membuat dirinya secara perlahan dihancurkan oleh pikirannya sendiri, sebuah pikiran negatif yang terus memakan habis kehidupan Kana sebelumnya. Hal yang Kana alami saat ini membawa Kari memanfaatkan situasi dia memperkenalkan diri sebagai dokter yang bertanggung jawab atas kehidupan Kana dan Bayi yang ada didalam kandungannya. Sehingga Kana harus terus ada dalam di dekatnya.
"Dokter menangis?" Tanya Kana merasakan basah pada pundak kanannya dengan telinga yang mendengar suara isak tangis Kari.
"Tidak, mari kita pulang." Kari menuntun Kana turun dari kasur lalu memapahnya keluar dari rungan. Namun saat sampai pada lorong menuju life mata Kana melihat begitu banyaknya perawat yang berlalu lalang hingga membuat tubuhnya menegang.
Kari merasakan ketegangan tubuh Kana karena satu tangan kiri Kari merangkul pundak Kana dan tangan kanan menggenggam tangan kiri Kana yang telah Kana remas berkali-kali karena ketakutan yang kian menjalar dalam diri.
"Tutup mata kamu, jagan dibuka sebelum saya perintahkan. Oke," Kari menggendong tubuh Kana ala bridal style dan Kana yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja memanggukan kepala untuk menuruti apa yang Kari perintahkan.
Setelah melangkah cukup panjang yang memakan energi Kari habis-habisan kini mereka telah sampai diparkiran. Kana, Kari turunkan pada pijakan bumi di samping mobil Kari berada. "Sekarang, boleh buka mata."
Jalan bahagia pekalongan disanalah rumah Kari berada, sebuah rumah yang baru selesai Kari bangun dari hasil uang tabungannya. Kari berharap kehidupan keluarganya akan sama dengan nama jalan dan tempat yang Kari tinggali saat ini, bahagia.
Rumah yang tak terlalu besar dan mewah namun cukup nyaman dan asri. Gaya minimalis yang Kari pilih membuat rumah ini nampak sederhana namun jagan tanyakan dalamnya seperti apa, berisi barang-barang antik nan mewah dari belahan dunia.
"Ini kamar kita, apa kamu suka?" Tanya Kari pada Kana setelah mereka memasuki kamar utama yang ada dilantai bawah dengan didominasi warna abu-abu.
"Suka,"
"Terimakasih Kana, saya lega mendengarnya. Kamu belum makan siang bukan, terlebih pagi tadi kamu hanya makan sedikit dirumah sakit. Bagaimana jika kita makan sekarang?" Tawar Kari merasa canggung dengan keadaan yang tercipta diantara mereka.
Kana hanya menatap Kari sesaat, sebelum Kari menarik tangannya lebih dulu untuk berjalan mengikuti dirinya. Diruang dapur bersih nampak makanan telah tersaji diatas meja. Dan muncullah sosok nenek tua yang sudah berumur dari ruang dalam dapur kotor.
"Selamat datang nyonya," Sapa orang tersebut tersenyum pada Kana dan Kari yang akan melangsungkan makan siang. Kana tak menjawab hanya menatap orang asing itu dengan datar, namun Kari tersenyum lebar padanya.
"Simbok sini makan siang dengan kami,"
"Tidak tuan, saya nanti saja setelah selesai menyapu halaman."
"Yasudah kalau begitu, jangan lupa makan ya mbok."
"Nggeh tuan matursuwun, saya pamit." Ucapnya dengan berjalan kedepan dan tinggallah mereka Kana dan Kari diatas meja makan.
"Nama dia mbok Isma dia yang membersihkan rumah ini, kamu bisa memanggilnya mbok." Jelas Kari pada Kana yang terlihat bingung dengan kehadiran orang itu didalam rumah ini.
Kana hanya memanggukan kepala dan menyendok makanan dengan lauk pauk ikan laut diatas piringnya, yang sudah disiapkan oleh kari sebelumnya. Namun sebelum makanan tersebut sampai kedalam mulut Kana perutnya terasa mual hingga ia harus berlari kebelakang untuk mengeluarkan segala isi yang ada didalam perut, namun hanya cairan saja yang terus keluar tanpa adanya sari-sari kunyahan makanan Kana pagi tadi.
Kari yang khawatir langsung menyusul Kana, memegang rambut Kana yang tergerai lalu memijat tengkuk leher Kana dari belakang. Tanpa jijik atau bau Kari terus memijat dan sesekali mengusap punggung Kana dengan perlahan.
"Sudah?" Tanya Kari yang melihat Kana dengan keadaan tubuh lemas tanpa tenaga, dengan perlahan Kana dipapah sampai kursi meja makan.
Setelah mereka berdua sama-sama duduk Kana langsung meletakan kepala keatas meja dan Kari mengambil minyak kayu putih yang ada disaku atas baju yang telah ia persiapan sejak Kana akan memasuki mobil karena Kari takut jika Kana mual saat perjalanan. Namun prediksinya salah, Kana mual saat telah sampai rumah.
"Dibalur dulu perut dan punggungnya biar nyaman dan hangat," Kari ini mentang-mentang Kana sudah menjadi istri sahnya, jadi seenaknya saja menyentuh-nyentuh tubuh Kana tanpa izin dari Kana lebih dulu.