
Hari terasa sama tanpa bisa dirasakan liburnya, Kari dipadatkan dengan segala urusan tugas praktik dan satu operasi besar yang cukup menyita waktu pulang Kari dari jam seharusnya.
"Kantin?" Ajak Zino pada kari kala mereka sedang mencuci kedua tangan. Operasi besar yang baru saja mereka selesaikan namun tidak dapat menyelamatkan ibu dari bayi yang menangis kencang kala mereka mengambil bayi itu dari rahim yang tersayat.
"Hmm, sepertinya... "
"Ayolah, sesekali kita ngopi. Sudah lama kita tidak saling bicara tentang suatu hal diluar pekerjaan, diluar masalah pasien."
"Baiklah,"
"Nah gitu bro," Zino dan kari berjalan bersama menuju kantin, dengan tangan Zino merangkul pundak Kari layaknya seorang kakak adik.
Senyum menawan terukir pada wajah mereka berdua, dengan sesekali menyapa pengunjung ataupun rekan kerja yang berpapasan dengan mereka.
Sesampainya di kantin Kari menduduki kursi pada meja kosong yang ada disamping jendela, dengan Zino sedang memesan dua gelas kopi sebagai bentuk traktiran karena dia yang mengajak Kari kemari.
"Gimana rumah tangga lo dengan Kana?" Tanya Zino dengan mendudukkan diri didepan Kari.
"Berjalan dengan baik tanpa masalah. Btw lo yang jadi penanggung jawab istri gue ya bro."
Zino nampak terkejut dengan kalimat yang Kari lontarkan, "Kenapa tidak lo tangani sendiri? Itu impian lo dari dulu bukan, memeriksa dan memantau perkembangan sang beby hingga lahir di dunia, dengan tangan lo sendiri dan tanpa tersentuh orang lain." Pasalnya dulu Kari pernah mengatakan pada Zino jika nanti istrinya hamil dia sendirilah yang akan memantau dan bertanggung jawab atas bayi yang dikandung.
"Setelah gue pikir-pikir, lebih baik orang lain yang menangani Kana dibandingkan gue yang menangani dia. Karena gue takut tidak bisa fokus saat melakukan pemeriksaan dan melewatkan penyakit ataupun masalah pada kandungan Kana dan diri Kana sendiri."
"Gue paham, kalau begitu istri gue lo yang tangani yaa!"
Kari nampak tercengang, berdiam sejenak mencerna maksud dari ucapan yang Zino lontarkan."Istri lo hamil?"
Zino tak menjawab hanya memanggukan kepala sebagai jawabannya, di iringi dengan senyum lebar yang tidak dapat dia tahan.
"Akhirnya bro, jadi ayah kita. Selamat!" Kari meraih telapak tangan Zino dengan mata berbinar dan senyuman yang mengembang.
Zino telah menikah sejak 7tahun yang lalu, namun belum juga dikaruniai seorang anak semenjak sang istri mengalami keguguran 3tahun lalu dan sekarang Zino dititipi seorang anak melalui rahim sang istri yang harus dia jaga kembali dengan hati-hati.
"Terimakasih, selamat juga buat lo,"
"Thanks, btw udah berapa bulan?"
"Baru menginjak dua bulan ini,"
"Sama dengan Kana. Ohh iya besok gue bawa Kana periksa ke lo urutan pasien trakhir ya, soalnya gue harus jemput dan tunggu Kana pulang kerja dulu menyesuaikan dengan jadwal kerja dia. Besok ini untuk pemeriksaan kedua bulan ini."
"Siap bro, entar gue atur jadwal khusus buat istri lo. Lo tau, gue sadar kalau istri gue hamil itu saat mood dia mudah marah untuk masalah sepele, awalnya gue nggak curiga kalah dia hamil hingga kemarin dia demam tinggi gue periksa ehh udah sepuluh minggu aja dia tumbuh tampa memberi tahu orang tuanya."
"Itu lo nggak sadar akan tanda-tanda kehamilan dia?"
"Memang perempuan itu unik dan menarik dengan segala tingkah dan pemikirannya,"
"Iya bro, Kana gimana apa dia sudah?"
"Kana jauh lebih baik sekarang, dia the best gue nggak salah mencintai dia bertahun-tahun lamanya. Karena dia sungguh luar biasa tangguh dan hebatnya dan yang buat gue kagum dengannya, dia tetap kerja namun tidak lupa dengan kewajiban dia sebagai seorang istri. Setiap pagi Kana selalu bangun paling awal buat masak sarapan untuk saya sebelum berangkat kerja."
Zino memanggukan kepala mendegar penjelasan dari Kari, "Dari awal gue udah curiga dia itu kuat dalam arti dia bisa mengendalikan diri. Saat dia dipaksa gila oleh keadaan namun dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa tetap menjadi manusia normal, walau terkadang dia tampak seperti menyerahkan diri pada keadaan dengan mengikuti arus kegilaan."
"Itu lo tau tentang Kana. Sudah jam setelah sepuluh malam ini gue pulang dulu ya bro, istri gue sendirian dirumah soalnya,"
"Iya hati-hati dijalan, jagan main kebut-kebutan. Ingat anak dalam kandungan dan istri dirumah, matanya jagan jelatatan."
"Sialan, nggaklah istri gue cantik." Dengan diiringi tawa keduanya kari beranjak dari kursi.
Sudah benayak yang megetahui, bahkan seluruh pengawai seantoro rumah sakit mengetahui jika Kari adalah fack boynya RS yang suka mengoda pasien ataupun dokter, suster yang ada disini, tapi satupun tidak ada yang Kari beri kepastian dengan status pacar.
Perjalanan malam yang tenang, dengan banyaknya para remaja pacaran terlebih di alun-alun kota pekalongan. Kari keluar dari mobil setelah memarkirnya dengan rapi didalam bagasi.
"Tidak dikunci?" Kari berjalan masuk kedalam dan nampak semua lampu masih memancar. Sebuah tanda tanya muncul pada pikiran Kari, karena Kana biasanya akan mematikan lampu ruang tamu dan membiarkan lampu ruang tengah yang menyala, tapi kini semua lampu memancarkan cahaya terangnya.
Dengan langkah lebar dan terburu-buru masuk kedalam kamar yang redup tanpa cahaya. Tidak seperti biasa dan sangat berbalik dengan ruang tamu karena Kana akan sangat sulit untuk tidur jika dalam keadaan gelap.
Jari kari terulur menyalahkan cahaya ruang kamar, hingga pandangan matanya terfokus pada seseorang perempuan yang tertidur dengan selimut membalut tubuh.
Kari berjalan pada meja kerja meletakkan tas yang ia bawa disana dan mengeluarkan sneli yang ada didalamnya, lalu menggantungkan sneli itu disamping jaz Kana. Setelahnya ia berjalan membuka almari mengambil baju dan celana pendek sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Kari berjalan menuju kasur dan berisiap untuk tidur, "Maaf ya... " Kari menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Kana dan berakhir kecupan mendarat disana.
"Kamu demam?" Kari menyentuh dahi Kana dengan pengung tangannya dan juga menyentuh leher Kana dengan telapak tangannya. "Badan kamu panas!"
"Tidak apa-apa, hanya panas biasa... "
"Tidak apa-apa, gimana. Badan kamu panas Kana, kita kerumah sakit ya?"
"Nggak ini udah malam,"
"Apa masalahnya dengan malam?" Sekuat tenaga Kari menetralkan suaranya agar tetap stabil dan tidak menbentak Kana, walaupun jantungnya berdetak begitu cepat, terlebih saat ini Kana sedang berbadan dua."Mau itu malam ataupun siang rumah sakit tidak akan pernah tutup Kana, mereka akan tetap buka 24jam."
"Tapi saya tidak mau kesana."
Terdengar helaan nafas berat nan lelah dari hidung kari. Setelah seharian penuh ada dirumah sakit menyelesaikan segala tugas dengan kesulitannya masing-masing dan sekarang sesampainya dirumah Kari harus menghadapi sang istri dengan ego tingginya.