
"Pelakunya adalah kau, Fajar! Yang diriku katakan ini, benar bukan?" Diriku menyaut sambil menunjuk ke arah Fajar yang sedang berada di samping Polisi Counly.
Beberapa seperdetik setelah mereka semua mendengar hal tersebut. Tertujulah mata mereka satu per satu ke arah Fajar sambil menggigit bibir bawahnya seperti orang yang sedang merasa kesal.
Ketakutan perlahan-lahan mulai menyelimuti Fajar, tubuhnya terasa terbakar seperti nyala api yang membara di dalam jiwanya. Gemetar kaki yang tak dapat ia hentikan. Namun, dirinya mencoba untuk menyangkal pendapatku dengan mengatakan, "Tidak, bukan aku!! Sudah kubilang bahwa aku tidak mengenal Karin! Dia bahkan tidak pernah berbicara sedikitpun dengan diriku! Dengan motif apa diriku melakukan pembunuhan?!"
Dirinya bersikeras mengatakan bahwa dirinya bukanlah dalang dari pembunuhan ini, bahkan ia sempat mengeluarkan benda tajam berupa gunting dari kantung kanannya. Namun pada akhirnya, kedua tangannya dipegang oleh Polisi Counly.
"Mengapa kau dapat mengatakan bahwa orang tersebut adalah pembunuhnya? Apakah semua barang bukti yang kau temukan merujuk kepada dirinya? Kalau begitu, buktikanlah kepadaku sekarang juga!" Dengan senyum tipisnya yang beraura layaknya seperti seorang iblis, dirinya melontarkan pertanyaan sebagai bentuk permintaan bukti kepada diriku.
"Semuanya sudah sangat jelas, bukan? Apakah diriku harus menceritakan dengan detail tentang kebenaran dari kasus ini?!" Diriku menguji apakah Detektif Henry memang tidak tahu tentang kejadian sesungguhnya, apakah justru dirinya yang sedang menguji diriku.
"Heh...? Begitu ya? Kau tidak ingin mengungkapkan kebenaran dari kasus ini. Kalau begitu... kaulah yang akan kumasukkan kedalam penjara, karena sudah menghalangi tugas polisi!" ancamnya dengan lirikan matanya yang tajam langsung menuju ke arahku.
"Tidak, bukan begitu maksud dari perkataan ku. Diriku hanya memastikan apakah kau memang sudah mengetahui kejadian-kejadian terjadi dengan jelas?!" saut diriku kepada detektif itu, sambil berjalan perlahan-lahan ke arah tempat dimana Fajar berada.
"Begitu ya... Bagaimana jika aku mengatakan, bahwa aku sudah mengetahuinya? Dan, bagaimana pula jika aku mengatakan, bahwa diriku belum mengetahuinya? Apakah engkau akan memberitahukan diriku tentang semua ini?" Sepertinya Detektif Henry mulai tahu akan semua rencana yang sudah ku buat.
Kalau begitu, tidak ada cara lain lagi selain memberikan kebenaran mutlak yang telah aku ketahui seluruhnya, walaupun ini semua masihlah dalam tahap dugaan sementara, namun apa yang diriku pikiran ini berkaitan erat antara kejadian satu dengan kejadian yang lainnya.
Waktu telah berlalu begitu cepat, sehingga membuat kami merasa bahwa saat ini adalah akhir dari segalanya. Diriku akan mengungkap seluruh kejadian yang logis di mataku.
"Baiklah, aku akan memberitahukan dirimu...!!
~ Pertama-tama, sang pelaku pergi dari kelas menuju tempat ini, tepat setelah bel berbunyi. Sebelum ia berada di tempat ini, dirinya mengajak sang korban untuk ikut pergi bersamanya ke aula ini. Mungkin sang pelaku menghasut sang korban supaya ia ingin pergi ke aula bersamanya!
~ Setelah sampai di tempat kejadian, sang pelaku dan korban menemukan sebuah jam dinding yang terjatuh tepat di depan pintu. Mereka mengambil jam tersebut, dan berupaya untuk mengembalikan jam tersebut ke tempat semula.
~ Pada saat itu, sang pelaku terpikirkan cara untuk membunuh sang korban. Dirinya pun melakukan aksi pembunuhan pada saat itu pula...
~ Setelah itu, sang pelaku meninggalkan tempat kejadian dan pergi ke arah ruang musik. Namun, tepat pada waktunya, diriku sedang berada di tempat itu. Maka dari itu, sang pelaku hanya dapat bersembunyi sambil memata-matai diriku. Kebetulan pula, ada seseorang yang melihat sang pelaku sedang memata-matai diriku, dia adalah Sena!
~ Pada saat diriku bertemu dengan Sena, awalnya dia berkata bahwa ia tidak melihat apa-apa. Namun, pada akhirnya ia mengakui telah melihat sang pelaku di tempat itu. Bahkan sebenarnya, Sena menyaksikan secara langsung pembunuhan tersebut. (Bukti ini diperkuat dengan adanya remah-remah roti yang berserakan di tempa kejadian)
~ Dan pada saat kami berdua mencari Fajar, entah kenapa Fajar muncul tepat di dekat tempat kejadian itu. Sepatu yang ia kenakan saat ini bercucuran darah. Itu disebabkan oleh darah yang menggenang di lantai atau tepatnya di bawah jam dinding tersebut.
~ Fajar pura-pura tidak tahu-menahu akan kejadian itu, padahal ia baru saja keluar dari tempat itu.
Sekian penjelasan dariku, jika ada yang ingin diperdebatkan, silakan saja!"
Diriku menjelaskan dengan panjang lebar, untuk membuktikan bahwa apa yang diriku katakan ini bukanlah sembarang belaka. Tegasan dari diriku membuat Detektif Henry kagum. Dengan mengangkat kedua tangan setinggi bahu, ia menepuk tangan sambil berseru, "Hebat, sungguh mengagumkan deduksi dari dirimu itu! Namun, apakah ada bukti bahwa Fajar melakukan kejahatan selain dari sepatunya? Kalau tidak ada bukti yang pasti, sama saja, semua yang kau katakan barusan hanyalah omong kosong belaka!"
"Kita tidak memerlukan bukti, kita dapat menanyakan langsung kepada orangnya, benar begitu bukan, Fajar?" lirihku sambil menatap Fajar dengan tatapan tajam.
"T-tidak! Aku tidak membunuh siapapun! Diriku bahkan tidak menghasut Karin untuk pergi ke tempat ini dengan memberinya sebuah hadiah pertemanan!" Teriak Fajar dengan penuh ketakutan di dalam dirinya. Tubuhnya yang bergetar dashyat membuat dirinya tertekan di suatu tempat, hingga sekujur tubuhnya tak dapat bergerak.
Sontak, semua mata tertuju ke arahku, seolah-olah apa yang diriku katakan barusan membuat semua orang terkejut secara seketika.
"Maksudnya? Mengapa kau mengatakan 'Check mate'? Apakah ada hal yang janggal dari yang barusan dirinya katakan?" Polisi Counly meragukan sekaligus penasaran dengan apa yang diriku katakan.
"Tidakkah kau dengar apa yang tadi dia katakan? Dia mengatakan 'memberinya sebuah hadiah pertemanan' padahal diriku tidak mengatakan bahwa kau menghasutnya dengan menggunakan hadiah pertemanan..." tegas diriku dalam pernyataanku yang tadi ku katakan.
Perlahan-lahan keringat dari tubuh Fajar mulai mengalir. Suasana di tempat itu seketika menjadi jenuh dan tegang. Tidak ada hal yang perlu ditanyakan lagi untuk saat ini.
Kebenaran sudah terbukti!
Sang dalang sudah ditemukan!
...[Tersangka Kedua]...
...Name : Fajar .......
...Age : 16...
...Gender : Male...
...Attributes : None...
...Guilty : {Yes}...
"Pelakunya adalah kau, Fajar! Sudah tidak diragukan lagi! Dan akan kupertegas, apakah kacamata ini milikmu?" Diriku berkata demikian, seraya mengangkat sebuah kacamata yang diriku temukan di ujung aula ini tadi. Kacamata dengan pegangan berwarna hitam.
"B-benar... Diriku tak dapat menyangkal hal ini lagi! Memang benar, akulah yang membunuh Karin! Tidak ada komentar lagi, sekarang masukkan aku ke dalam penjara!" Akhirnya, Fajar pun mengakui semua kesalahannya dan memutuskan untuk menyerahkan diri kepada polisi.
Tak lama setelah itu, Detektif Henry berjalan ke arahku sambil menyerahkan secarik kertas dengan sebuah tulisan di atasnya, yang bertuliskan nama beserta tempat dirinya bekerja. Dia menatapku, seraya berkata, "Datanglah ke alamat yang tertera di tempat itu besok petang. Diriku akan menyambutmu di sana!"
"Baiklah..."
...[Mission Completed]...
...[Congratulation]...
...[Kamu mendapatkan uang tunai sebesar Rp 500.000]...
...[Mendapatkan Skill Baru]...
.........
~ Bersambung ~