
"Apa yang terjadi denganku?" Tanyaku setelah bangun di tengah-tengah lapangan nan luas. Yang ternyata tempat tersebut adalah halaman rumahku.
...[SISTEM DIAKTIFKAN]...
...[MENGUNDUH STATUS]...
...[MENERAPKAN STATUS]...
"Ada apa ini? Tulisan-tulisan ini menutupi pandanganku!"
...[STATUS]...
...NAME : EDWARD JOSEPH...
...LEVEL : 1...
...ROLE : DETEKTIF...
...ABILITY : INTELEGENSI...
...SKILL : NONE...
...MISSION COMPLETE : 0...
...<<<<< \>\>\>\>\>...
...Back Next...
"Status? Apa maksudnya dengan itu? Levelku masih kecil sekali, bagaimana cara menaikkan levelnya ya? Dan aku masih belum memiliki skill apapun!" Tanyaku dengan berbicara pada diri sendiri.
Diriku sempat berpikir bahwa semua ini hanya mimpi semata, namun setelah melihat dengan lebih jelas, sudah tentu bahwa hal ini bukanlah mimpi.
Mengapa hidupku selalu sial seperti ini?
Selalu saja ada halangan saat aku ingin melakukan bunuh diri…
Tetapi, mungkin aku harus lebih sering bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Setelah lama kelamaan berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur. Namun pada waktu itu juga, aku baru ingat bahwa aku harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan besok hari saat di sekolah.
Walaupun hari sudah gelap, aku masih bisa mengerjakannya. Dengan kepintaranku, aku pasti bisa mengerjakannya dengan mudah.
Diriku jalan perlahan-lahan menuju kamar, dan pada saat itu adikku tengah berada di kamarku untuk membaca beberapa buku milikku.
"Emm… ambil saja bukunya, kau bisa kembalikan nanti!" Ujarku sambil beranjak ke arah kasur ku yang nyaman dan empuk.
"Tidak usah, aku ingin kau membantu pekerjaan rumah milikku!" Kata Adikku sambil menyerahkan buku matematika nya kepadaku.
"Baiklah, akan aku kerjakan! Mana yang menurutmu sulit?"
Kamu pun mengerjakan kedua pekerjaan rumah kami sampai pagi tiba…
Matahari terbit dari timur menandakan bahwa hari baru sudah datang. Segeralah kami bangun dan bersiap-siap untuk berangkat menuju sekolah.
Dengan buru-buru, kami berdua berangkat bersama-sama setelah menghabiskan sarapan. Kami berangkat dengan menaiki sepeda motor yang aku punya. Dengan kecepatan yang sangat cepat namun stabil, kami sampai di sekolah tepat waktu tanpa kendala apapun.
Sesampainya di kelas, seseorang datang menghampiri diriku yang baru saja tiba.
"Hei, kamu masih berani datang setelah mengganggu pacarku?!" Kata orang itu, yah tidak lain dan tidak bukan adalah Yoshua sang pengganggu paling mengesalkan.
Diriku tak menjawab apapun yang ia katakan, hanya bergerak menuju kursiku untuk menikmati ketenangan.
"Hei!! Kau membuatku kesal saja!! Kau ingin berantem denganku, hah!!" Teriak Yoshua kesal akan perilaku diriku yang terlihat seperti menentang dirinya.
"Tidak, aku hanya ingin duduk." Balas diriku dengan nada santai untuk menenangkan situasi.
"Kau sedang berani melawan ya!! Kalau begitu-" Setelah mengatakan hal tersebut, ia menendang diriku hingga terpental ke kursi bagian paling belakang. Di sana banyak anak perempuan yang sedang berbicara satu sama lain.
Tiba-tiba tanganku seperti digerakkan oleh sesuatu yang membuat diriku dapat bertahan untuk tidak terpental sampai ke tempat para perempuan itu berkumpul.
"Jangan ganggu aku lagi!" Kataku yang berpura-pura untuk bersikap paling hebat, supaya dirinya takut denganku.
Namun, dirinya semakin menjadi-jadi dan menantang diriku untuk berkelahi menggunakan senjata tajam, khususnya arit.
Bel masuk tiba-tiba berbunyi dengan kencang, menandakan bahwa kelas sebentar lagi akan mulai. Mendengar hal tersebut Yoshua menjadi kesal karena harus menghentikan pertarungan terlebih dahulu.
"Sore nanti temui aku di belakang sekolah, jika kau tidak datang… Bersiaplah untuk mati!!" Dirinya seperti mengancam diriku untuk menuruti perintahnya, walaupun sebenarnya aku tidak peduli lagi dengan hidupku ini.
"Baik." Balasku dengan spontan untuk menyenangkan dirinya. Sebenarnya diriku tak ingin ada perkelahian sedikitpun karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja.
Setelah itu kami pergi ke meja kami masing-masing dikarenakan guru sudah mulai memasuki ruangan untuk memulai pelajaran.
Dan pada akhirnya, hari ini masih sama dengan hari-hari lainnya. Tak ada masalah apapun jika aku tidak lari dari kenyataan. Sungguh mengejutkan, ternyata selama ini aku selalu melarikan diri tanpa bertanggung jawab. Kalau begitu, lebih baik sepulang sekolah aku pergi menemui Karin.
"Anak-anak, hari ini kita akan mempelajari 'Bahaya Dari Tawuran'! Sekarang ada yang bisa menjelaskan apa itu Tawuran?!"
Entah kenapa, rasanya seperti ia sudah mengetahui bahwa akan terjadi pertempuran yang berujung kematian pada diriku dan Yoshua.
Sebenarnya, ini hanya kebetulan atau memang dia sudah mengetahuinya?
Tetapi bagaimana cara dia dapat mengetahuinya?
Sudahlah, aku akan mengikuti pelajaran ini terlebih dahulu kemudian menemui Karin di aula sekolah kembali.
Bel pulang berbunyi…
Diriku sungguh malam untuk mengikuti tawaran dari Yoshua. Maka dari itu, aku akan pergi ke Aula untuk bertemu dengan Karin kembali.
Mengapa aku bisa mengetahui bahwa Karin berada di sana?
Pada jam-jam tertentu, para gadis dan pria nakal pasti akan berkumpul di suatu tempat saat pulang dari sekolah, lebih tepatnya setelah bel pulang berbunyi.
Tempat kesukaan Karin adalah di Aula sekolah, begitu pula dengan Yoshua. Mereka menyukai tempat itu, karena aula sangat jauh dari kantor guru. Tempat itu juga berada di dekat ruang musik yang ditakuti oleh satu sekolah akibat cerita mistis yang diceritakan turun temurun.
Dengan perlahan melangkah melalui lorong yang berada di dekat ruang musik, aku melihat seseorang sedang memainkan alat musik piano di ruang musik.
Alunan musik yang sangat indah terdengar di telingaku. Seperti permainan seorang pianis pro. Pergerakan tangannya sungguh sangat cepat, bahkan nada-nada yang dikeluarkan sungguh sempurna.
Karena penasaran, diriku melihat lebih dekat melalui jendela. Namun orang itu sudah menghilang tanpa jejak, seperti dihilangkan oleh sesuatu secara tiba-tiba.
"Hmm… kemana hilangnya? Apakah dia adalah makhluk halus? Sebenarnya aku tidak percaya dengan adanya hantu atau semacamnya."
Mumpung sudah berada di tempat ini, apakah aku harus masuk?
Sudahlah, lebih baik jika aku menemui mereka terlebih dahulu.
Sambil berlari menuju aula sekolah, aku melihat ke belakang siapa tahu ada yang mengikuti diriku, karena aku merasa seperti ada yang mengikuti.
Hawa-hawa seperti seseorang yang baru saja membunuh seseorang.
Aura yang yang sungguh mencengangkan…
"Eh?"
Pada saat itu aku melihat bayangan seseorang yang bertubuh tinggi kurus, yang sedang mencoba untuk bersembunyi.
Sungguh penasaranlah diriku melihat hal itu, namun aku tidak mempedulikan untuk saat ini dan fokus pada tujuanku yang sebenarnya.
Dengan membuka pintu aula secara perlahan, terdengar bunyi gesekan pintu yang sungguh keras hingga bergema di ruangan itu.
Tempat itu sungguh gelap, seperti tak ada cahaya sedikitpun. Karena terlalu gelap, aku jadi tak dapat melihat apapun di sekitar tempat ini.
Saklar!
Akhirnya aku menemukannya!
Dengan cepat, aku mengaktifkan tombol on pada saklar itu. Kegelapan perlahan-lahan mulai menghilang dan muncul sang terang yang menyinari tempat itu.
Namun, mataku tertuju pada sesuatu yang tak dapat ku ungkapkan melalui perkataan…
Pikiranku menjadi kosong dan tak dapat memikirkan apapun lagi. Sungguh tragedi yang luar biasa mengerikan.
...[MAYAT REPORT]...
...NAME : KARIN HONDWEY...
...GOLONGAN DARAH : AB...
...UMUR : 17 TAHUN...
...SENJATA PEMBUNUHAN : ???...
...PEMBUNUH : ???...
...MOTIF PELAKU : ???...
...[NEW QUEST \= TEMUKAN SANG PELAKU]...
...[REWARD \= RANDOM SKILL BRONZE LEVEL]...
"Apa yang terjadi di sini?!"