Mysterious System

Mysterious System
Penjelasan Tuan Rendy



"Benar, itulah aku... Alison Dempster Rendy!" Kata pria itu sambil menjulurkan tangannya ke arahku.


Mendapati hal itu, terkejutlah diriku dengan langkah kaki yang perlahan-lahan mundur kebelakang. Saking terkejutnya, diriku sampai lupa bahwa Tuan Rendy sedang menjulurkan tangannya. Hingga pada akhirnya, dirinya berkata, "Hei, cepat jabat tanganku. Kau kira melakukan hal ini tidaklah lelah?"


"Oh, baiklah..." Setelah mengatakan hal tersebut, diriku mulai mendekat ke arahnya, sambil mencoba untuk bersalaman dengannya.


Namun, pada saat diriku menggenggam tangan kanannya. Pria itu menarik tanganku ke arahnya dan memasangkan kaki kanannya di belakang kakiku. Kemudian secara sekilas, mendorong tubuhku ke belakang dengan kaki yang digerakkan pula ke arah sebaliknya. Hal tersebut membuat diriku terpental ke atas, hingga tubuhku terbalik.


"AIKIDO?!"


Karena diriku tidak sadar akan hal tersebut, maka diriku tidak dapat berbuat apa-apa selain jatuh tersungkur ke lantai. "Akh! Pinggangku!" Teriak diriku sembari menahan rasa sakit yang menyelimuti tubuhku.


"Hahaha! Maafkan aku karena telah membantingmu. Diriku hanya sedang mengetes kemampuan bela diriku!" Katanya sambil membantu diriku untuk berdiri kembali. Setelah itu, Tuan Rendy bertanya kepada diriku untuk memastikan perkataanku tadi, "Jadi, kau benar-benar ingin tahu mengenai hal itu?"


"Tentu saja! Jikalau berkenan, diriku ingin mengetahui SAC lebih dalam... Oke, mengenai pertanyaanku yang barusan. Diriku akan mengulangi sekali lagi... Bagaimana kalian bisa membuat makhluk SAC menjadi rekan kalian?" Diriku mulai mengajukan beberapa pertanyaan, yang telah diriku tanyakan tadi.


Secara seketika, sesosok makhluk dengan tubuh yang sangat mirip dengan bintang, muncul di bahu Tuan Rendy.


Sontak, diriku terkejut melihatnya, sambil mengatakan, "Heh, kenapa binatang yang ada di bahumu itu bentuknya aneh sekali?!"


"Eh, kau bisa melihatnya?" Tuan Rendy bahkan lebih kebingungan mengetahui bahwa diriku dapat melihat makhluk yang ada di bahunya itu.


"Tentu saja bisa, memangnya makhluk itu tidak dapat dilihat dengan mata orang normal?" Tanya diriku mencoba untuk memastikan hal tersebut, karena diriku juga bingung mengapa diriku ini dapat melihat makhluk tersebut.


"Sebelum menjawab pertanyaan darimu, izinkan diriku untuk menanyakan sesuatu terlebih dahulu. Apakah kau sudah mendapatkan rekan SAC seperti diriku ini?" Tuan Rendy menanyakan hal tersebut, sebelum menjawab pertanyaan yang telah kulontarkan. Mungkin saja, hal ini sangat penting, sehingga mengharuskan dirinya untuk bertanya hal itu terlebih dahulu.


"Jika yang kau maksudkan adalah SAC yang diberikan oleh Detektif Henry, tentu saja belum diberikan. Diriku baru saja bergabung ke dalam PHF, beberapa hari yang lalu." jelas diriku kepadanya.


"Aneh sekali... Seharusnya, orang yang dapat melihat SAC, adalah orang yang sudah memiliki rekan seorang SAC! Apakah kau sudah benar-benar memastikan, bahwa kau belum mendapatkan rekan seorang SAC?" Tuan Rendy bertanya sekali lagi, untuk memastikan semua hal itu. Karena, dari apa yang dirinya tahu, orang normal tidak akan bisa melihat makhluk abstrak itu.


"Jika dilihat-lihat, Edward memang belum diberikan seorang rekan SAC!" saut Elena yang mendengar pertanyaan dari Tuan Rendy.


"Lalu, bagaimana bisa orang ini melihat sesosok makhluk yang bentuknya bahkan sudah diluar definisi berbentuk?" Kata-kata dari Tuan Rendy ini sangat sulit untuk ditafsirkan hanya dengan sekali pendengaran saja.


Maka dari itu, diriku mencoba untuk bertanya ulang mengenai apa yang baru saja dirinya katakan itu, "Tunggu, apa yang kau maksudkan dengan 'makhluk yang bentuknya bahkan sudah diluar definisi berbentuk'? Bisakah kau berikan penjelasan mengenai hal itu?"


Kemudian, dirinya berjalan ke arahku, sambil berkata, "Kau pasti sudah mengetahui mengenai SAC yang merupakan makhluk dengan bentuk abstrak, bukan?" Dirinya bertanya hal tersebut untuk memastikan pengetahuanku.


"Tentu saja? Memangnya kenapa?" Jawabku dengan tegas.


"Begitu, kata-katamu mungkin sudah dapat ku nalar dengan baik!" Setelah mendengarkan penjelasan darinya, diriku sudah semakin mengerti mengerti mengenai para makhluk itu.


"Baiklah, kalau begitu-" Saat Tuan Rendy sedang ingin berbicara. Secara seketika, alarm berbunyi keras hingga menggema di seluruh ruangan.


"Ada apa ini?" tanya diriku kebingungan akan hal tersebut.


"Sepertinya, muncul seorang SAC di sekitar tempat ini. Kalau begitu, mari pergi! Oh iya, lebih baik kau pulang saja siapapun namamu, karena akan bahaya jika kau mengikuti tugas sipil kami!" Katanya, sambil bergegas pergi dari ruangan ini.


Namun, diriku melihat Elena yang hanya bengong tanpa sadar di tempat itu. "Hei Elena, kenapa kau tidak pergi bersamanya?" Tanya diriku kepadanya.


"Ah!" Elena tiba-tiba kembali sadar, dan berkata kepadaku, "Oh iya, aku lupa... Sudahlah, seperti pada misi kali ini, aku tidak akan ikut dengannya!"


"Begitu, apakah boleh jika kau tidak ikut dalam misi ini?" Tanya diriku memastikan terlebih dahulu, apakah melakukan hal ini diperbolehkan.


"Sebenarnya melakukan hal tersebut sangat tidak diperbolehkan. Tapi, sudahlah lebih baik kita pergi saja dari tempat ini!" Katanya, yang kemudian, dirinya menggenggam tanganku kembali, dan menarikku keluar dari ruangan itu. Hingga pada akhirnya, kami pun sampai di tempat awal kami, yakni di kamar Elena.


Setelah itu, Elena mengajakku untuk pergi berjalan-jalan malam, sebelum diriku pulang. Dengan melalui lift yang kugunakan bersama Detektif Henry pada waktu itu. Kamipun pergi keluar melalui kantor Detektif Henry yang sangat sepi hingga hanya terdengar suara jangkrik saja.


Kemudian, Elena membuka pintu untuk keluar dari tempat itu, menggunakan kunci yang dirinya temukan di laci dekat tempat Detektif Henry biasanya melakukan pekerjaan menulisnya.


Setelah itu, Elena membawaku ke sebuah tempat, lebih tepatnya ke daerah dataran tinggi, tempat dimana kita dapat melihat seluruh kota bagian barat.


Sesampainya di sana, diriku melihat sesuatu yang sangat luar biasa. Bersama dengan Elena, kami melihat kita yang sangat menakjubkan. "Pemandangan yang cantik, bukan?" Tanya Elena kepada diriku dengan mata yang berbinar-binar.


"Kau benar, ternyata selama ini, diriku tinggal di sebuah tempat yang sangat indah!" ungkapku kepadanya, karena selama ini, diriku menganggap bahwa hidupku ini selalu penuh dengan penderitaan.


"Huft..." Elena menghela nafas lega. Kemudian, dirinya melanjutkannya dengan kata-kata, "Jika saja, waktu bisa berhenti saat ini. Aku hanya ingin, kenyamanan ini berlangsung selamanya..." Katanya sambil melihat cahaya bulan yang bersinar di tempat itu.


"Benar juga... Sepertinya, hidup yang indah ini, memang harus dilalui dengan menghadapi tantangan-tantangan yang berat terlebih dahulu." Kataku kepadanya.


"Hei... Jika saja diriku sudah tidak ada lagi di dunia ini... Ingatlah kata-kataku...


Jika kau sedang mengalami duka ataupun kesulitan apapun yang membuat dirimu ingin mati, datanglah ketempat ini sendirian pada malam hari, kemudian berteriaklah, 'Aku akan tetap hidup!' sambil melihat ke arah bintang-bintang di langit!" Katanya dengan penuh air mata di matanya, dan senyum tipisnya yang semanis malaikat.


Mendengar hal tersebut, terkejutlah diriku... Namun, aku hanya dapat mengatakan, "Baiklah, aku akan melakukannya!"


~ Bersambung ~