Mysterious System

Mysterious System
Susunan Kota



Pagi hari yang cerah, akhirnya tiba menyambut. Dengan suara yang menenangkan, membuatku terbangun dengan suasana yang nyaman.


Sepertinya diriku melupakan untuk menyetel alarm. Tetapi, tidak apa-apa... Justru lebih baik begini daripada terbangun dengan suara dentuman keras dari smartphone yang membuat telingaku sakit ketika pagi hari.


"Huamm..."


Sebenarnya aku tidak ingin bangun dan ingin berbaring sebentar lagi, namun jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Maka, aku harus bergegas untuk pergi menuju sekolah.


Tetapi, tumben sekali adikku tidak membangunkanku. Biasanya dia akan mendobrak pintu kamarku dan membangunkan diriku secara paksa.


Lebih baik jika diriku mengeceknya, siapa tahu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Ku coba untuk beranjak dari kasur dan berjalan menuju ke kamar Carolina yang berada tepat di sebelah kanan dari kamarku.


Jaraknya kira-kira hanya beberapa meter saja untuk ditempuh. Untuk berjalan ke kamar adikku, tidak diperlukan tenaga yang banyak, hanya beberapa tenaga saja untuk sampai di tempat tersebut. (Kamarnya tepat bersebelahan dengan kamarnya)


Jadi, aku akan pergi dengan cepat, dan kembali lagi ke kamarku... Tidak, aku harus pergi mandi, lalu pergi menuju sekolah.


Dengan suara yang pelan, diriku mengetuk pintu kamarnya. Tidak terdengar suara apapun dari dalam kamarnya, sungguh memprihatinkan.


Perlahan, kubuka kamarnya dan berharap dirinya baik-baik saja. Ternyata, dirinya memang baik-baik saja. Carolina masih tertidur pulas di kasurnya. "Dasar bocah, bikin khawatir saja!" Gumam diriku yang melihatnya tertidur dari pintu masuk kamarnya.


Akhirnya diriku memutuskan untuk membangunkannya karena hari ini kita harus bersekolah. "Hei kau, bangunlah sekarang sudah pagi!" Kataku sambil menggerak-gerakkan tubuh adikku.


Dirinya mulai bangun dari tidurnya, seraya berkata, "Selamat pagi, kakak." katanya dengan suara pelan dan serak.


"Pagi, pagi! Cepatlah bersiap-siap! Jikalau engkau ingin tidur lagi, maka dikau akan terlambat masuk sekolah!" tegas diriku kepadanya yang masih malas-malasan, walaupun sebenarnya aku juga masih ingin tidur.


"Baiklah! Tunggu lima menit lagi! Kakak bersiap-siaplah dahulu!" balas Carolina, kemudian menutupi dirinya dengan selimut yang berwarna biru.


Setelah mendengar ucapannya barusan, akupun memutuskan untuk pergi mandi terlebih dahulu, kemudian kembali lagi ke sini untuk memastikannya.


Dengan beberapa menit saja, diriku sudah selesai bersiap-siap untuk pergi menuju sekolah. Hanya saja, adikku masih berada di dalam kamarnya.


Apakah terjadi sesuatu kepada dirinya?


"Hei, Carolina!! Cepatlah bersiap! Aku akan pergi ke sekolah duluan!" Teriak diriku dari ruang makan. Namun tiada jawaban dari dirinya, membuat diriku semakin khawatir pada dirinya.


Namun karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, maka diriku harus cepat-cepat pergi ke sekolah.


Sambil memakan roti yang ku gigit di mulutku. Diriku berlari ke sekolah dengan sangat cepat, karena sebentar lagi bus umum akan tiba di halte bus.


Dan, untung saja diriku tepat waktu untuk menaiki bus umum. Sebenarnya, aku bisa saja berjalan menuju sekolah. Namun, akan lebih cepat sampai jikalau diriku menaiki bus. Itulah alasan mengapa diriku sekarang ini lebih sering menaiki bus daripada berjalan menuju sekolah.


Sekarang, aku hanya tinggal menunggu bus sampai di "Halte Bus 5' yang berada di dekat sekolahku. Perkotaan Bagian barat, memiliki tiga halte bus yang bertempatan sedikit berjauhan.


Oh iya, aku belum memberitahukan bahwa negara kami ini dibagi menjadi 5 bagian.


Bagian-bagian tersebut adalah:



Perkotaan Bagian Barat (West City)


Perkotaan Bagian Timur (East City)


Perkotaan Bagian Utara (North City)


Perkotaan Pusat (Kingdom City)



Di setiap kota memiliki Halte Bus, Stasiun, dan Bandara yang berbeda-beda penamaan.


Diriku ini tinggal di perkotaan bagian barat, khususnya di kota yang bernama 'Kota Onfive'. Tempat dimana seluruh warga kebanyakan adalah seseorang yang menyukai kedamaian. Tidak dengan orang-orang di wilayah perkotaan bagian Utara. Banyak sekali terjadi pembunuhan berantai di kota tersebut, dan diperkirakan pembunuh itu masih berkeliaran di sekitar wilayah itu. Para polisi tidak dapat menangkap pembunuh tersebut. Hingga pasukan khusus pun tak dapat menangkapnya.


Namun, ada satu orang pria yang hampir dapat menangkapnya. Seorang pria misterius yang masih tidak diketahui asal-muasalnya.


Seseorang yang dijuluki dengan nama, 'Mysterious Man'.


Dikabarkan di dalam berita, bahwa dirinya kadang-kadang hadir secara tiba-tiba dan menghilangkan secara tiba-tiba. Seperti terjerat dalam ruang dan waktu. Tiba-tiba ada, tiba-tiba tidak ada.


Apakah dirinya merupakan salah satu anomali dari yang di beritakan televisi tadi malam? Namun, menurutku itu tidaklah benar. Jika dilihat dari beberapa bukti seseorang yang melihatnya, semuanya terlihat seperti manusia pada umumnya.


Meskipun begitu, diriku belum mengetahui apakah ada anomali yang berbentuk layaknya seperti seorang manusia.


Apa nama anomali tersebut aku lupa... Oh iya, SAC!


Benar juga, aku belum mengetahui kepanjangan dan arti dari SAC yang dibicarakan oleh pria pembawa berita itu. Apakah SAC itu berarti 'Sekolah Anak Cerdas'?


Hahaha... sungguh tidak masuk akal!


Mungkin, aku harus pergi ke tempatnya... Detektif yang waktu itu bertemu denganku dan memberikan kartu nama beserta kantor tempat dirinya bekerja.


Benar, dialah... Detektif Henry!


Setelah pulang sekolah, aku akan pergi ketempat dimana dia bekerja. Jika dilihat-lihat lagi, tempatnya sedikit jauh dari sekolahan. Tetapi tidak apa-apa, aku akan pergi menaiki bus untuk sampai di sana. Lagipula, setelah pulang sekolah, diriku mempunyai banyak waktu luang.


"Bagi yang ingin turun di perhentian selanjutnya, yakni 'Halte Bus 5' silakan bersiap-siap untuk turun!" Bunyi dari pengeras suara itu, mengingatkan diriku untuk bersiap-siap turun.


Kemudian, akupun mengakhiri semua pemikiran yang aku pikirkan di dalam bus tadi, dan bergerak cepat menuju sekolah sebelum gerbang sekolah ditutup.


Ternyata, sekolah masih sepi dan hanya ada beberapa siswa dan guru yang berada di sekitar sekolah. "Kalau begini, aku tidak perlu terburu-buru, lagipula kenapa bus nya datang terlalu cepat, biasanya setiap aku sampai di sekolah, pasti gerbang masuk sudah ingin di tutup." Gumam diriku sambil berjalan perlahan-lahan menuju kelas dengan lorong-lorong yang masih sepi dan sunyi.


Ternyata di ujung lorong yang berada di dekat kelasku. Seorang wanita sedang memandangi langit yang penuh awan-awan. Diriku mendekati wanita tersebut, sembari berjalan ke arah kelas.


"Eh, Edward?" Wanita tersebut terkejut melihat diriku yang berada di belakangnya secara tiba-tiba. Wanita tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Rena Yonata. Wanita yang aku temui kemarin setelah diriku mengungkap kebenaran kasus Karin. Ternyata dia sering datang awal.


"Ah, Rena... Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau sering sekali memandangi langit?" Diriku bertanya kepadanya, hal ini juga berkaitan dengan apa yang ia lakukan saat pertama kali kami bertemu.


"Oh itu, dahulu ada seorang wanita cantik yang berbicara kepadaku, kalau tidak salah ia mengatakan, 'Jika kau sedang gelisah, maka arahkan pandanganmu ke langit, dan cobalah untuk mencari seseorang yang kau cintai!' begitulah katanya, namun aku masih kurang mengerti dengan arti dari bagian 'seseorang yang kau cintai'. Apakah seseorang yang aku cintai berada di langit?" Dirinya mulai menceritakan kepadaku tentang seseorang yang ia temui saat kecil.


"Ngomong-ngomong, bagaimana rupa wanita tersebut?" Tanyaku untuk memastikan wajah dari orang yang berkata hal tersebut.


"Entahlah, aku juga tidak tahu wajahnya. Seluruh wajahnya seperti tertutup oleh bayangan hitam saat aku mengingat. Seakan-akan pikiranku mencoba untuk menghapus ingatan darinya..."


"Kenapa, dia...


Mengalami hal yang sama denganku!"


~ Bersambung ~