
"Ternyata semua ini hanyalah permainan sederhana yang dimainkan sang dalang untuk membuatku kesulitan menyimpulkan sesuatu. Namun akhirnya, diriku langsung paham siapa pelakunya setelah mendengar perkataanmu Sena. Ternyata sang pelaku sudah berada di sini sejak tadi, bahkan dia berada tepat di depanku!" Diriku dapat mengatakan tersebut, karena diriku memang sudah tahu siapa dalang dibalik pembunuhan ini. Sebenarnya trik yang digunakan sang pelaku itu cukup mudah, bahkan bisa dibilang tak ada trik apapun di dalamnya.
"Hei, apa kau menuduh kami? Yang berada didepan kau kan hanya kami berdua! Apakah kau benar-benar mencurigai kami? Kami berdua tidak tahu-menahu tentang kejadian tersebut!" Fajar mulai menentang perkataanku, yang seolah-olah menganggapku bahwa diriku menuduh mereka berdua.
"B-benar! Aku bahkan tidak terlalu mengenal orang itu! Bahkan, aku baru tahu bahwa terjadi kejadian pembunuhan di aula ini saat engkau memberitahukannya kepadaku!" Sena juga mulai menentang apa yang diriku katakan. Dirinya seolah-olah mengatakan bahwa ia sama sekali tidak berhubungan dengan kasus ini.
"Tidak, aku tidak menuduh kalian kok. Hanya saja, aku hanya menaruh sedikit curiga kepada salah satu diantara kalian. Tetapi, diriku masih tak yakin apakah memang benar diantara kalian adalah pelakunya." Diriku berkata demikian, untuk meyakinkan mereka bahwa diriku tak menuduh mereka supaya mereka tidak tahu rencanaku kedepannya.
"Apakah engkau yakin? Aku masih tidak percaya dengan dirimu, jika dikau tidak percaya denganku, maka aku akan membuktikan kebenarannya! Aku akan terus menunggu di sini sampai polisi datang!" Fajar masih saja menentangku dengan memberikan kata-kata yang sulit dipahami. Tetapi apa boleh buat, aku akan kembali ke aula untuk mengecek apakah ada yang tertinggal di tempat kejadian.
Diriku mencoba untuk mencari bukti-bukti lain, yang akan digunakan untuk membuat kesimpulan yang benar adanya.
Dan pada saat itu, mataku langsung tertuju ke arah butiran-butiran roti kecil yang berada di dekat pintu masuk.
Hmm... Bukankah roti ini sama dengan yang dimakan oleh Sena?
Saat itu juga, terjadi flashback disaat diriku baru saja bertemu dengan Sena.
Apa yang dilakukan setelah bertemu diriku?
Benar!
Dia membuang rotinya!
Apakah itu hanya kebetulan, karena dia memang sudah kenyang saat diriku datang?
Hmm... Apakah semua itu ada hubungannya? Diriku masih tidak terlalu yakin akan hal tersebut. Namun dapat dipastikan bahwa terdapat seseorang yang sudah berada di sini sebelum diriku datang, namun sudah datang setelah pelaku membunuh sang korban.
Sepertinya dia juga sudah menyaksikan peristiwa yang sungguh tragis ini.
Pertanyaanku hanya satu!
Siapakah dia?!
Baiklah, satu petunjuk sudah ditemukan! Selanjutnya aku akan mencari petunjuk lain yang memadai.
Apakah ada petunjuknya lain di tempat ini? Sepertinya sudah semua tempat ku jelajahi, namun masih saja tidak dapat menarik kesimpulan yang masuk akal.
Eh? Kenapa ada tangga lipat di ujung sana?
Apakah kemarin tangga itu digunakan? Seharusnya, tangga tersebut berada di gudang penyimpanan barang, bukan di aula ini. Sepertinya seseorang baru saja menggunakan tangga ini.
Dan, di ujung kanan dan kiri bawah tangga ini terdapat bercak darah yang sudah hampir kering layaknya seperti baru beberapa jam saja terciprat oleh lumuran darah.
Apakah tangga ini juga berhubungan dengan kasus ini?
Karena diriku merasa sudah menemukan petunjuk yang cukup, aku pergi lagi keluar aula, dan menemukan seorang pegawai kebersihan lingkungan sekolah sedang berjalan melewati aula.
Dirinya membawa jam dinding berwarna putih yang sudah rusak di tangannya. Tanpa pikir panjang, diriku menghampiri orang tersebut seraya berkata, " Pak, apakah jam itu sudah rusak pak? Dan mengapa bapak membawa jam yang rusak itu?"
"Bapak baru saja ingin mengganti baterai dari jam ini. Dan jam ini adalah jam yang bapak ambil kemarin di aula untuk diperbaiki." Begitulah kata bapak itu sambil menunjukkan jam dinding itu kepadaku.
Eh?! Lalu yang berada di dalam aula itu apa? Jam milik siapakah itu?
"Baiklah kalau begitu, terima kasih pak!" Ujarku sambil membungkuk hormat dan meninggalkan bapak itu kemudian masuk kembali ke dalam aula.
Begitu ya!!
Akhirnya aku tahu kronologinya!
Dengan sangat kebetulan, polisi datang menghampiri kami semua. Mereka sepertinya mengamankan Sena dan Fajar di samping mereka.
Salah seorang dari mereka mendekat ke arahku dan bertanya, "Apakah kau yang menelpon tadi? Jelaskan bagaimana situasinya?!"
"Bukan aku yang menelpon tadi, tetapi aku dapat menjelaskan situasinya!" Diriku berkata demikian sambil bergerak masuk ke dalam aula, sambil membiarkan para polisi mengikuti diriku.
"Baiklah!"
Diriku beserta para polisi mulai masuk ke dalam aula yang diselimuti bercak-bercak darah nan merah pekat, dengan seorang korban wanita muda di tengah-tengah darah tersebut.
"Amankan, dan periksa korban!" Sorak salah seorang petugas berseragam.
Mereka pun segera mengecek tubuh korban dan memastikan tidak menyentuh apa pun. Jika ingin menyentuhnya, mereka menggunakan sarung tangan khusus supaya tidak meninggalkan jejak apa pun di tubuh korban.
"Jadi nak, apa yang kau ketahui tentang ini? Apakah kau melihat seseorang yang mencurigakan?" Tanya salah seorang petugas yang mana orang tersebut sama dengan orang yang bertanya padaku di awal.
"Aku tahu siapa pelakunya, bahkan aku tahu seluruh kejadian pembunuhan ini dari awal hingga akhir menurut analisis dariku!" Diriku berkata seolah-olah sudah mengetahui seluruh kronologi dari kejadian ini.
"Jangan bercanda nak, kami di sini sedang tidak bermain, kami sedang-" Tiba-tiba omongan polisi itu dipotong oleh seseorang yang berada tepat di belakang polisi itu.
"Biarkan dia berbicara terlebih dahulu!" Kata laki-laki yang menggenakan mantel hitam dan celana jeans biru. Laki-laki itu terlihat sungguh keren dan menawan, sepertinya dirinya juga sangat cerdas karena nada dari perkataannya sungguh dapat dicerna dengan baik.
"Oh, rupanya kau... Detektif Henry!"
Ternyata namanya adalah Henry Liberly, seorang detektif terkenal yang sudah memecahkan beribu-ribu kasus pembunuhan. Tak kusangka aku dapat bertemu dengan orang sepertinya.
"Ya memang benar aku, jadi biarkanlah anak itu mengemukakan pendapatnya, siapa tahu analisis yang diberikan anak itu dapat berguna bagi penyelidikan!" Perkataan Detektif Henry memang sungguh hebat, bahkan kata-kata barusan dapat membuat polisi tadi menyetujuinya.
"Baiklah, akan aku mulai hasil analisisku..."
Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata diriku masih saja gugup. Semua pemikiran yang aku pikirkan tadi hilang seketika dari otakku.
"Bagaimana? Apakah kau ingin mengemukakan pendapatmu? Atau hanya ingin berdiri merenung di tempat itu?" Tanya Detektif Henry yang membuat isi pikiranku kosong.
Namun, sistem itu datang kembali...
...[ MEMUAT DATA ]...
...[ KONVERSI HASIL PEMIKIRAN ]...
...[ MENAMPILKAN DATA ]...
Inilah yang aku butuhkan sekarang!
~ Bersambung ~