Mysterious System

Mysterious System
Mencari Keberadaan SAC



"Apakah benar, kakek tua tadi adalah SAC? Tidakkah kau berpikir terlalu jauh? Mana mungkin manusia seperti dirinya adalah seorang SAC?" Diriku masih saja meragukan pendapat dari Detektif Henry, karena dari apa yang diriku ketahui. SAC merupakan sesosok makhluk abstrak yang tidak memiliki wujud asli.


"Tidak juga... Beberapa dari mereka juga dapat berubah wujud menjadi wujud manusia dan makhluk hidup lainnya, bahkan dapat berubah wujud menjadi benda mati!" Kata Detektif Henry yang lebih mengetahui mengenai SAC daripada diriku.


"Oh begitu, itu berarti ada kemungkinan bahwa beberapa benda di antara kita merupakan makhluk SAC?" Tanya Diriku memastikan kata-kata dari Detektif Henry.


"Itu mungkin saja, karena kita tidak akan bisa terus-menerus mengetahui kapan mereka akan muncul!" Tegas Detektif Henry kepada diriku. Kemudian, dirinya mengajak diriku untuk masuk ke salah satu mobil polisi di sana.


Dirinya menyuruh supir dari mobil tersebut untuk membawanya ke gedung tadi, bersama dengan beberapa orang yang tinggal di rumah tersebut.


Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempat kejadian, kami semua sampai dengan cepat karena menggunakan mobil polisi. Oh iya, diriku tidak lupa mengajak Steven bersamaku, karena sepertinya dirinya ingin ikut bersama diriku. Padahal diriku tadi sudah menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu, dan melupakan seluruh kejadian pada hari ini.


Namun, itu tidak akan mungkin terjadi, karena seseorang tidak akan bisa dengan mudah melupakan sesuatu yang membekas di ingatannya.


Maka dari itu, diriku mengajaknya untuk berkeliling sejenak, walaupun menuju ke rumah korban. Namun dengan demikian, dirinya dapat melupakan kejadian tersebut.


Akhirnya, kamipun tiba di gedung tempat dimana korban tinggal. Tempat tersebut sudah dilengkapi dengan garis-garis polisi, yang tidak boleh dilalui oleh sembarang orang.


Detektif Henry datang kepada salah satu polisi yang berjaga di sana, dan mengeluarkan kartu identitasnya, sambil mengatakan, "Henry Liberly, dari Kepolisian Bagian Barat!"


Kemudian polisi itu membiarkan kami semua untuk masuk ke dalam gedung tersebut. Dari apa yang diriku lihat, tempat tersebut dipenuhi dengan polisi-polisi yang menjaga dengan sangat ketat.


Perlahan-lahan, Detektif Henry membuka pintu masuk, namun tiba-tiba dirinya melihat Detektif Conny yang ternyata ikut bersama kemari. Dirinya terkejut sambil berkata, "Hei, kenapa kau juga ada di sini? Bukankah seharusnya kau menjaga sang pelaku supaya tidak kabur?!" dengan wajah kesalnya.


"Yah, lagipula pelaku dari penyerangan ini pun sudah menyerahkan dirinya dengan pasrah kepada polisi. Maka dari itu, lebih baik jika diriku mengikuti kalian saja!" Katanya dengan senyum tipis di wajahnya.


"Dasar! Memangnya kau tahu kenapa diriku datang kembali ke tempat ini?" Detektif Henry meragukan Detektif Conny yang hanya ikut-ikutan saja, tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Lagipula, Detektif Henry tidak ingin ada detektif lain yang ikut dengannya.


"Yah, kalau itu... Sudahlah, lebih baik kita masuk sekarang, karena hari sudah mulai gelap!" Detektif Conny mengalihkan pembicaraan, kemudian membuka pintu masuk itu, sebelum dibukakan oleh Detektif Henry.


Detektif Henry kesal akan dirinya yang menyokong masuk saja. Kemudian, Nyonya Laura datang mendekat, sambil berkata, "Tenanglah, tuan detektif! Ayo kita masuk ke dalam!"


"Baiklah... Maaf mengganggu kalian!" Kata Detektif Henry, sambil mulai berjalan masuk ke dalam.


"Jangan sungkan... Kalianlah yang telah menangkap pelaku dari penyerangan suamiku!" Nyonya Laura berkata demikian, sambil tersenyum halus kepadanya, menandakan bahwa dirinya sepenuhnya berterimakasih kepada Detektif Henry.


Detektif Henry melihat-lihat kedalam gedung tersebut sambil mencari-cari keberadaan dari kakek tua yang tadi kami berdua temui.


Setelah mencarinya beberapa lama, Detektif Henry datang kepada diriku. Kemudian dirinya mengatakan kepadaku, "Hei Edward! Apakah kau sudah menemukan kakek tadi?" Dengan penuh kekhawatiran, dirinya mencoba untuk tetap tenang.


"Mungkin kita harus masuk ke ruangan itu... Sepertinya, hanya ruangan itu dan ruangan dari Tuan Joe saja yang belum diriku masuki!" Katanya sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang berada di dekat tangga menuju ke atas.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu saja!" Balas diriku kepada Detektif Henry. Karena diriku juga belum memasuki kedua ruangan tersebut.


"Cepat ikuti aku! Mungkin kita akan menemukannya di sana!" Ucap Detektif Henry kepadaku, sambil mulai berjalan ke arah ruangan tersebut.


"Tunggu dulu!" Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil kami dari kejauhan. Suara perempuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah, Nyoman Laura. "Apakah kalian akan pergi ke tempat itu?" Tanya Nyonya Laura memastikan apakah kami ingin pergi ke dalam ruangan tersebut atau tidak.


"Ya! Kami akan pergi ke ruangan tersebut, memangnya ada apa? Apakah kami tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalamnya?" Detektif Henry memastikan kepada Nyonya Laura, apakah kami di perbolehkan masuk ke dalamnya.


"Boleh saja, hanya saja..." Nyonya Laura berhenti berbicara, kemudian dirinya mengambil sesuatu dari meja yang berada di tempat itu. "Ambil ini!" Katanya sambil memberikan sebuah lilin kecil yang telah dinyalakan.


"Sebuah lilin? Kalau boleh tahu, apa kegunaan dari benda ini?" Tanya diriku kepada Nyonya Laura, karena diriku penasaran akan apa yang harus kami perbuat dengan benda itu.


"Itu hanyalah tanda untuk menghormati orang yang sudah mati. Kalian tahu, ruangan tersebut adalah ruangan tempat dimana kakek dari Tuan Joe meninggal dunia... Pada saat itu, tepatnya pada saat malam hari... Dirinya meninggal dunia karena penyakit jantung..." Nyonya Laura menceritakan hal tersebut, karena menurutnya, hal tersebut mungkin saja berguna untuk kami.


"Oh begitu... Baiklah, sekarang kami akan masuk ke dalam! Tolong izinkan kami untuk masuk ke dalam." Detektif Henry meminta izin terlebih dahulu kepada Nyonya Laura.


"Silakan saja!" Nyonya Laura kemudian mengizinkan kami untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Segeralah, kami berbalik badan, kemudian mulai berjalan ke arah ruangan tersebut. Perlahan membuka pintunya, dan masuk dengan senyap.


Seseorang duduk di ujung ruangan tersebut. Terlihat hanya seperti merenung, dengan pandangan mata melihat ke arah bawah. Dengan kursi roda yang dirinya duduki, dan beberapa lilin kecil yang menerangi ruangan tersebut.


"Ada!" Teriak diriku karena akhirnya telah menemukan kakek itu. Diriku beranggapan bahwa kakek tersebut bukanlah makhluk SAC dan bukanlah kakek dari Tuan Joe.


Namun, semua itu salah...


Pada saat itu, orang itu berbalik badan dengan kursi rodanya. Dan, apa yang kulihat tidak dapat kubayangkan...


Wajahnya tersenyum dengan sangat lebar hingga ke pipinya. Dengan matanya yang berwarna merah menyala dalam gelapnya ruangan tersebut.


"M-Makhluk apa itu?!!" Teriak diriku terkejut setelah melihat dirinya memiliki wajah demikian, dan tubuhnya yang penuh dengan wajah-wajah yang tersenyum lebar. Saking lebarnya, diriku tidak dapat membayangkan, bagaimana rasa sakitnya.


"Bukankah itu... SAC-Smiling Man??!!"


~ Bersambung ~