
Seorang pria dengan mengenakan mantel hitam dan topi putih sedang memperhatikan mayat seorang gadis yang berada di depannya. Pria itu bersama dengan seorang laki-laki muda yang ia panggil 'Partner'.
"Hei, apakah menurutmu hidup itu adil?" Pria itu mulai bertanya kepada sang laki-laki muda tersebut, yang dimana ia sedang memeriksa apa yang ada di tubuh korban.
"Mengapa harus bertanya itu sekarang?" Laki-laki itu menjawab seperti orang kebingungan. Kemudian ia pun berdiri dan membalikkan badannya melihat persis ke arah pria berjubah hitam itu, sambil menanyakan, "Tidak adakah hal lain yang harus ditanyakan?"
"Tidak, aku hanya ingin mengetahui tentang dunia ini yang sesungguhnya!" Balas pria itu dengan tatapan mata penuh penasaran kepada partnernya.
"Seharusnya dirikulah yang menanyakan hal tersebut! Bukankah kau lebih dewasa dariku?"
Pria itu kemudian berjalan ke arah korban yang tergeletak di tanah, dan menutupi kepalanya dengan mantel yang ia kenakan seraya berkata, "Kau tahu, orang yang lemah akan tertindas dan orang yang kuat akan menindas!"
Setelah mencari-cari petunjuk di tubuh korban, ia pun akhirnya menyadari sesuatu, bahwa sesungguhnya pelakunya ternyata ada di dekatnya. "Bukankah aku benar, bahwa dunia ini tidak adil? Buktinya… kau lah yang membunuhnya bukan?"
~ MYSTERIOUS SYSTEM ~
Setelah tidur yang cukup panjang, fajar pun tiba menyambut. Matahari perlahan-lahan mulai terbit dari timur, menandakan bahwa hari baru telah tiba.
10 Agustus 2025, Wilayah Bagian Barat…
Seorang laki-laki kisaran umur 17 tahun, dengan tampang normal, baru saja baru bangun dari tidurnya.
Dia adalah diriku sendiri…
Namaku adalah Edward Josephus. Panggil diriku dengan menggunakan nama Edward- walaupun aku biasa dipanggil 'Pecundang' oleh teman-temanku di sekolah.
Diriku ini hanyalah seorang siswa biasa… Tidak! Mungkin diriku ini istimewa, karena aku adalah orang yang selalu dibully di sekolah.
Hanya itulah yang spesial dari diriku ini…
Mungkin, beberapa dari mereka masih menganggapku sebagai seorang manusia biasa.
Dan sebenarnya, diriku ini tidaklah bodoh dalam pelajaran, hanya saja fisikku yang tergolong lemah dan mudah untuk dihajar membuatku sering diperlakukan berbeda.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku seraya berkata, "Kakak, cepat bangun dari tidurmu! Jika tidak, kita akan terlambat!" Ternyata orang tersebut adalah adikku yang sekarang ini berumur 15 tahun.
Dia tinggal berdua denganku, bahkan sekolah kamipun sama.
Orang tua kami melakukan perjalanan jauh ke luar negeri, karena suatu urusan bisnis. Dikarenakan keluarga kami yang sederhana bahkan hampir tergolong miskin- maka dari itu, mereka mencoba untuk mencari pekerjaan di luar negeri.
Jadi, hanya kamilah yang tinggal berdua di rumah ini.
Oh iya, nama adikku ini adalah Carolina Fradeline…
Joseph adalah nama dari ayah kami, sementara Fradeline adalah nama dari ibu kami. Akhirnya kami pun diberikan nama belakang yang sama dengan kedua nama orang tua kami.
"Cepatlah!!" Carolina berteriak dari luar kamar, hingga menggedor-gedor pintu.
"Baiklah tunggu sebentar!" Diriku membalas dengan setuju.
Akhirnya, aku pun beranjak dari kasur dan berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap-siap pergi menuju sekolah.
Sungguh sangat melelahkan, padahal baru bangun dari tidur, tetapi sudah ingin tidur lagi. Jalan yang baru kutempuh ini, rasanya seperti menyusuri padang gurun berkilo-kilo meter jauhnya.
Pada akhirnya sampailah diriku di depan pintu kamar mandi. Banyak air bercucuran membasahi lantainya, dimana semua itu ternyata berasal dari bak mandi yang penuh akan air.
"Aduh, aku lupa mematikan airnya! Kakak cepatlah mandi, sebelum kita terlambat masuk ke kelas!!" Teriak Carolina yang menyuruhku untuk cepat-cepat mandi, sambil menunjuk ke arah bak mandi.
"Baiklah, aku mengerti!" Diriku pun akhirnya menerimanya dan pergi mandi secepat-cepatnya.
Setelah selesai membasuh diri dan berganti pakaian sekolah, segeralah aku menghabiskan sarapanku dan berangkat menuju sekolah.
Dalam perjalanan menuju sekolah aku hanya memandangi gedung-gedung pencakar langit, juga beberapa orang lalu lalang. Diriku pergi menggunakan sepeda yang aku pinjam dari orang tuaku.
Tepat pada pukul tujuh, diriku sampai di depan pintu gerbang sekolah. Di sana sudah terlihat beberapa orang yang berlarian masuk ke area lapangan sekolah.
Tanpa pikir panjang, aku menaruh sepedaku di parkiran, dan bergegas menuju kelas karena sebentar lagi kelas akan dimulai.
Dan sampailah diriku tepat pada saat bel berbunyi.
Namun, hal itu terjadi lagi...
"Oy! Kenapa kau telat?! Jika telat bukankah harus dihukum?! Istirahat nanti ikuti aku ke belakang!!" Kata seseorang yang paling kubenci dengan nada kasar. Dialah yang selalu membully diriku ini.
Namanya adalah Yoshua Gregory. Sekarang ini dia berumur 17 tahun, dengan golongan darah B.
"Baiklah!" Diriku hanya mengiyakan saja, dan berjalan menuju kursiku.
Sesampainya di tempat duduk, seseorang berbicara kepadaku. "Hei, biar aku temani nanti!" Ternyata yang berbicara itu adalah temanku satu-satunya. Dia selalu berada di sisiku saat diriku sendirian.
Namanya adalah Steven Doyland. Lahir pada tanggal 3 Desember 2007, dengan golongan darah AB.
"Baiklah, terimakasih Steven!" Kataku sambil mengulurkan tangan kananku untuk bersalaman dengannya.
Setelah beberapa saat, akhirnya seorang guru masuk ke dalam kelas kami. Seorang guru perempuan yang akan mengajar kami di bidang Fisika.
Namanya adalah Tora Cantika. Sekarang ini ia sudah berumur 27 tahun dan sudah mengajar selama 4 tahun di sekolah ini. Golongan darahnya adalah B.
"Baiklah anak-anak, mari kita mulai pelajarannya!!" Seru Bu Tora dari depan, yang suaranya terdengar hingga ke barisan belakang.
Dan, jam pelajaran pun berlangsung lamanya…
Hingga pada akhirnya, bel istirahat pun berbunyi...
"Iya-iya! Tunggu sebentar." Balasku dengan santai dan mengikuti apa yang ia perintahkan.
Yoshua pergi dengan beberapa temannya yang sama-sama sering membully diriku ini.
Akhirnya, sampailah kami di belakang gedung sekolah itu. Tanpa memikirkan apapun lagi, Yoshua langsung melempar tubuhku ke arah benda-benda yang terbuat dari kaca, membuat benda itu pecah hingga menusuk tubuh bagian belakangku.
Diriku mencoba untuk terus bangkit, namun tetap saja aku dipukuli hingga beberapa bagian tubuhku bengkak.
Semua itu harus aku tahan sampai tubuhku tak dapat digerakkan lagi. Rasa sakit yang terus menggumpal di tubuhku, dan darah yang berceceran dari hidungku membuatku lemah dan hampir kehilangan kesadaran.
"Hahaha!! Rasakan itu! Makannya jangan telat lagi!!" Teriak Yoshua kegirangan setelah memukuli diriku yang pengecut ini.
Namun, seorang gadis tiba-tiba saja datang ke arah kami sembari berkata, "Hentikan itu!" Dengan nada penuh amarah.
"Ha! Siapa kau?!" Yoshua kesal dan bergerak ke arah perempuan itu sambil mencoba menarik kerahnya.
Namun sayangnya, perempuan itu dapat menangkisnya menggunakan telapak tangannya seraya berkata, "Jika tidak, akan aku laporkan pada guru!" Dengan kata-kata seperti sedang mengancam Yoshua.
"Cih! Baiklah aku akan pergi, awas saja kau!" kesal Yoshua sambil pergi meninggalkan tempat itu.
Gadis itu mendekat ke arahku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Langsung saja aku jawab, "Tentu saja, terima kasih telah menolongku. Seharusnya aku tidak kelihatan lemah di depan wanita, tetapi apa boleh buat."
"Tidak apa-apa, dimataku semua orang itu sama kok." Suaranya yang sungguh lembut menggetarkan telingaku. Gadis itu pun melanjutkan kata-katanya dengan mengatakan, "Namaku Karin Hondwey- kau bisa memanggilku dengan nama Karin!" Katanya sembari membantuku berdiri.
"Wah aku sepertinya pernah mendengar namamu, kamu ketua kelas di kelas sebelah ya?" Tanya diriku memastikan apakah itu benar dirinya.
"Emm… benar! Ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya Karin penasaran akan diriku.
"Sebelum itu, aku ingin berterima kasih kepadamu. Dan panggil saja diriku ini dengan nama Edward." Balasku sambil membungkuk hormat kepadanya.
"Oke, kalau begitu aku pergi dulu ya!" Katanya sembari meninggalkan tempat itu, dan tepat pada waktunya- jam istirahat pun selesai.
Dengan terburu-buru, aku berlari hingga sampai di kelas tepat waktu. Walaupun tak sempat makan, aku sudah terbiasa menahan lapar meskipun dalam jangka waktu yang panjang.
Seorang guru laki-laki paruh baya mulai masuk ke dalam kelas kami, dia adalah guru yang mengajar di bidang biologi.
Jone Tondreas adalah namanya, dia bergolongan darah A. Sekarang ini ia sudah berumur 48 tahun.
"Baik anak-anak, mari kita mulai pelajarannya!!" Teriak Pak Jone dengan suaranya yang tidak terlalu terdengar di barisan paling belakang. "Sekarang keluarkan buku kalian!" Serunya, sambil menaruh buku-buku yang ia bawa di meja guru.
Bel pulang berbunyi…
Tepat pada pukul dua belas siang, kami beranjak pulang dikarenakan guru-guru akan mengadakan rapat bersama. Para siswa diperbolehkan untuk pulang duluan.
Tetapi, sebelum aku bergerak ke luar kelas. Sepertinya ada sesuatu di laci bawah mejaku. Dari bentuknya saja sudah seperti surat.
Surat apa ini? Coba aku buka dulu!
Setelah aku buka, aku langsung mengerti bahwa surat tersebut merupakan… Sebuah surat cinta!
Benarkah itu? Aku masih tidak yakin?
Di surat bertuliskan bahwa, diriku diarahkan untuk pergi ke belakang kantin sekolah setelah pulang sekolah.
Apa boleh buat, sepertinya aku akan meladeni hal ini terlebih dahulu, lalu setelah itu aku bisa pulang dan bersantai di rumahku yang nyaman.
Tanpa berpikir apapun, aku berjalan ke arah lokasi yang ditujukan.
Dan sampailah diriku di tempat dimana ia menyuruhku untuk bertemu.
Dari balik bayangan, muncul seorang wanita cantik dengan rambut panjang nan indah, wanita yang sepertinya seumuran dengan diriku.
Tunggu dulu…
"Jadi, kau yang memanggilku… Karin?"
"Iya benar, aku hanya ingin mengatakan sesuatu!" Ucapnya sambil tersenyum dan tersipu malu.
"Baiklah, katakan saja apa maumu, akan aku kabulkan semua permintaanmu sebagai ungkapan terima kasihku!" Balasku dengan sopan sambil tersenyum tipis.
"Aku ingin kau… menjadi pacarku!"
"Pacar?"
Mendengar hal tersebut, jiwa di dalam diriku serasa meloncat-loncat. Rasanya seperti tubuhku ingin meledak. Kupikir semua ini hanyalah mimpi semata, namun setelah diperiksa semua ini bukanlah mimpi.
"Ya, apakah kau mau menjadi pacarku?" Katanya sambil membelai-belai rambutnya sendiri.
"Tentu saja! Tapi kenapa kau ingin denganku?" Tanyaku penasaran, karena diriku ini tak yakin akan hal ini.
"Karena… aku suka sifatmu yang baik!" Setelah mengatakan hal tersebut, Karin berbalik badan hingga membelakangi diriku.
"Hmm… Baiklah kalau begitu!" Akhirnya aku pun menyetujui tawaran nya untuk berpacaran denganku.
Namun, aku masih merasakan ada yang aneh dari perilakunya. Seolah-olah diriku ini sudah terjebak di sebuah perangkap mematikan.
Mungkin aku akan mengikuti permainan ini dulu…
Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Karin?!
~ BERSAMBUNG ~