
"Kenapa dia... mengalami hal yang sama denganku?"
"Hah? Apa maksud perkataanmu?" tanya Rena dengan nada kebingungan.
Waduh, sepertinya suara hatiku terdengar, mungkin karena diriku terlalu terkejut mendengar hal itu.
Untuk menjawab pertanyaannya diriku mengangkat tangan kananku, kemudian memegang kepalaku sendiri, seraya berkata, "Tidak, aku hanya berbicara sendiri saja..."
"Oh begitu, kalau begitu..." Dirinya tiba-tiba menggandeng tanganku dan menarikku seolah-olah ingin membawaku ke suatu tempat.
"Tunggu, kau ingin membawaku kemana?" Diriku yang sedang ditariknya itu, bertanya akan kebenaran hal ini.
"Sudahlah ikut saja, sebelum sekolah dimulai aku akan memberitahukanmu sesuatu yang mungkin akan berguna bagimu!"
Beberapa saat kemudian...
Setelah berlarian menuju ke tempat yang ingin kami tuju, akhirnya kami berdua sampai di lantai paling atas sekolahan ini, atau bisa disebut sebagai atap sekolah tanpa penutup.
"Jadi, apa yang ingi kau beritahukan kepada diriku? Apakah ada suatu hal penting yang memang harus dibicarakan saat ini?" Baru saja sampai di tempat itu, diriku mengajukan sedikit pertanyaan untuk memperjelas keadaan.
"Mungkin yang akan kuberitahukan ini tidaklah hal yang terlalu penting untukmu. Namun, akan ku tanyakan satu hal kepadamu terlebih dahulu... Kau suka dengan misteri bukan?" Dirinya memberitahukan hal itu, seolah-oleh sudah mengetahui siapa diriku ini.
"Iya, aku suka dengan misteri... Memangnya kenapa? Apakah sesuatu yang akan kau beritahukan ini merupakan sesuatu yang berkaitan dengan misteri?" Diriku memastikan terlebih dahulu tema apa yang akan diambil darinya untuk diberitakan kepadaku.
"Benar, apakah kau tahu tentang orang yang mereka panggil 'Mysterious Man'?" Sepertinya topik utama sudah mulai dikeluarkan olehnya.
"Oh, orang yang hampir dapat menangkap pembunuh berantai di perkotaan bagian utara, memangnya ada apa dengannya?" Diriku dapat mengetahui siapa orang itu, karena aku adalah penggemar berat dari orang yang mereka panggil 'Mysterious Man'.
"Entah kenapa, saat aku bertemu dengannya-"
Namun, sebelum Rena menyelesaikan kata-katanya, diriku memotongnya dengan mengatakan, "Kau! Kau pernah bertemu dengannya?!!" dengan nada terkejut.
"Iya memang benar, ada apa?" Dirinya yang mengatakan hal tersebut dengan wajah polosnya, membuat kesenangan dalam diriku tiba-tiba berhenti.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja apa yang ingin kau bicarakan! Dan katakan dengan cepat, karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi!" Kataku memburu-buru karena beberapa menit lagi, bel masuk akan berbunyi, dan kita harus segera ke dalam kelas.
"Aku hanya ingin mengatakan, entah kenapa saat diriku melihat 'Mysterious Man' secara sekilas, wajahnya sungguh mirip dengan engkau? Apakah kalian ada semacam hubungan darah? Kakakmu? Atau saudaramu?" Setelah dirinya mengatakan hal tersebut, terkejutlah diriku.
"Hubungan darah? Tidak ada... aku hanya memiliki satu orang adik perempuan!" jelaskan kepadanya untuk memperkuat bahwa orang tersebut bukanlah saudaraku.
"Oh begitu, tetapi sekilas wajahnya mirip denganmu. Kau tahu... Saat pertama kali kita bertemu, aku berpikir bahwa kau adalah orang yang sama dengan 'Mysterious Man'. Karena, kalian berdua benar-benar terlihat mirip, seperti dirimu di universe lain!" Sepertinya, dirinya hanya melebih-lebihkan ceritanya saja. Walupun begitu, diriku belum dapat mengkonfirmasi kebenaran, karena diriku belum mengetahui wajah dari orang itu.
"Mirip? Mungkin dirimu saja yang salah melihat. Tampang buruk sepertiku yang selalu di bully ini, mana mungkin mirip dengannya..." Yang dikatakan diriku ini adalah apa adanya, diriku yang memiliki tampang biasa ini tak mungkin mirip dengan orang yang memiliki julukan spesial berupa 'Mysterious Man' itu.
"Tapi-"
Sebelum dirinya melanjutkan kata-katanya, ternyata bel masuk sudah berbunyi dengan kencang hingga terdengar ke seluruh wilayah sekolah.
"Ba-Baiklah, sampai jumpa lagi nanti!" Akhirnya, Rena pun menyetujui saran dariku, dan bergegas menuju kelas sebelum terlambat.
Melihat Rena yang sudah bergegas menuju kelas, diriku juga harus cepat-cepat masuk ke dalam kelas sebelum terlambat.
Dan pada akhirnya, diriku sampai tepat pada waktunya, sebelum guru masuk ke dalam kelas.
Namun, entah kenapa para siswa di kelasku menjauhi diriku. Bahkan ada yang langsung berlari menuju ujung kelas.
Melihat semua itu, diriku tidak terlalu mempedulikannya. Karena diperlakukan seperti ini, sudah biasa bagiku. Tetapi, entah mengapa mereka lebih menjauhiku hari ini.
Terkecuali satu orang yang merupakan teman laki-lakiku satu-satunya. Dia adalah Steven Doyland. Dia adalah orang yang ingin membantuku saat diriku di bully oleh Yoshua.
"Hei Steven, kenapa semua orang menjauhiku? Apakah ada sesuatu yang terjadi padaku?" Diriku bertanya kepada Steven yang bertepatan tempat duduk di samping kananku.
"Eh, kau tidak tahu kenapa dirimu dijauhi oleh mereka semua? Padahal rumor itu sudah menyebar luar!" Edward mengatakan hal tersebut, seolah-olah dirinya lebih mengetahui tentang diriku.
"Rumor apa? Sejauh pengetahuanku, diriku tidak melakukan apapun yang berkaitan dengan preman-preman kelas. Lalu, apa penyebabku semakin dijauhi oleh orang-orang?" tanyaku untuk memperjelas keadaan ini. Diriku masih saja bingung akan kejadian ini, sepertinya aku melakukan sesuatu tanpa menyadarinya.
"Rumor tentang kau yang menuduh Fajar melakukan pembunuhan terhadap Karin! Apakah kau melupakan itu? Atau kau bukanlah orang yang membuat Fajar masuk ke dalam penjara?" Ternyata Steven juga masih belum mendalami tentang rumor tersebut.
"Menuduh Fajar? Dia memang pelakunya, tidak diragukan lagi! Bukti-bukti juga sudah mengarah kepadanya." Kataku mempertegas apa yang Steven tanyakan kepadaku.
"Benarkah itu? Jadi memang benar, rumor tentang kau menuduh Fajar itu. Kalau begitu, kau harus menjauh dari preman-preman kelas. Kalau tidak, kau akan dipukuli habis-habisan!" Steven memberikan saran yang cukup berguna bagiku. Karena memang itulah yang harus diriku lakukan saat ini.
Tiba-tiba, seorang guru laki-laki masuk ke dalam kelas kami. Dia adalah seseorang yang mengajar Biologi di kelas kami.
Namanya adalah Gord Forger, umurnya kira-kira kisaran tiga puluh tahunan. Memiliki golongan darah, AB.
"Baik anak-anak, kelas akan segera dimulai. Cepat keluarkan buku Biologi kalian!" tegas Pak Gord sambil berjalan menuju tempat duduk guru.
"Baik pak!" teriak seluruh murid secara bersamaan. Para murid kemudian berdiri dan memberi salam kepada guru itu, lalu kembali duduk di tempat masing-masing.
Sesudah guru itu menaruh seluruh bukunya di meja guru, ia berjalan ke arah tengah-tengah kelas, dan terlihat ingin menginformasikan sesuatu.
"Baik anak-anak, saya akan menyampaikan sedikit informasi. Kemarin, baru saja terjadi pembunuhan di ruang aula. Dan diperkirakan pelakunya adalah salah satu siswa dari sekolah ini. Namanya adalah Fajar. Para polisi masih menyelidiki lebih dalam tentang kasus ini, namun semua bukti-bukti yang ada sudah mengarah kepada Fajar. Yang ingin bapak tanyakan adalah...
Siapa saja yang berada di tempat kejadian saat terjadinya pembunuhan?"
Sontak satu kelas menjawab, "Edward pak!!"
"Edward, apakah kau yang menuduh Fajar melakukan pembunuhan?" Pak Gord menuduhku melakukan penuduhan terhadap Fajar. Padahal cerita yang sesungguhnya, Fajar memanglah yang membunuh Karin dengan motif yang masih tidak ku ketahui.
"T-Tidak...."
~ Bersambung ~