
"Sepertinya, aku harus mengungkap misteri pembunuhan lagi... Tetapi, aku harus mulai dari mana?" Gumam diriku yang bingung akan cara memulai pencarian sang dalang, sambil meratapi mayat yang tergeletak di tempat itu.
"Hei, apakah kau percaya kepada kami, bahwa kami bukanlah yang membunuh pria ini?" kata salah seorang dari mereka, yang merupakan seseorang dengan badan sedikit kekar.
"Diriku tidak akan pernah mempercayai siapapun di dalam sebuah permainan pembunuhan. Itulah sebabnya, terdapat istilah 'tersangka'!" Dengan suara tegas, diriku membuat mereka semua untuk menjauh dari tempat kejadian, namun tidak ada yang boleh kabur dari tempat ini.
"Ba-Baiklah, kami bisa membuatmu percaya dengan kami! Karena kami semua mempunyai alibi untuk meyakinkan dirimu!" balasannya kembali sambil mendekat ke arahku dengan kedua tangan di angkat ke atas, seolah-olah ingin mengatakan bahwa mereka semua tidak akan berbuat apapun.
"Oh begitu, kalau begitu ceritakanlah semua yang kau tahu... Sebelum itu, Steven! Cobalah untuk menghubungi polisi dan ambulan! Cepatlah, lakukan sekarang juga!" Teriakku, sambil menyuruh Steven untuk cepat-cepat menelpon polisi dan beberapa ambulan. Walupun sudah terlambat, namun mayatnya dapat digunakan sebagai suatu bukti kepada keluarganya bahwa dia sudah meninggalkan dunia yang kejam ini, dan sudah tenang di sana.
Kenapa, para manusia-manusia harus saling membunuh satu sama lain? Bahkan, dapat dikatakan bahwa manusia itu lebih kejam dari dosa-dosa itu sendiri. Seolah-olah, perbuatan jahat mereka semua sudah melampaui ke-tujuh dosa besar yang ada.
Sungguh keterlaluan sekali, makhluk yang diciptakan dengan akal budi, namun justru yang paling sering melakukan perbuatan-perbuatan dosa.
"Hei kau, kenapa dari tadi hanya meratapi kematian orang itu terus? Kenapa kau tidak mencoba untuk menganalisisnya?" Seseorang dari balik bayangan, tiba-tiba mengejutkan diriku, karena dirinya muncul secara tiba-tiba dari belakangku.
Sontak, diriku membalikkan badanku untuk melihat siapa orang yang berbicara denganku. "O-orang yang tadi!"
Melihat jubah dan pakaian yang dipakai oleh orang itu, pikiranku langsung tertuju kepada orang yang tidak sengaja lewat di sampingku ketika aku keluar dari ruangan rahasia, dan orang yang pertama kulihat saat diriku ingin memasuki kantor Detektif Henry.
"Siapa sebenarnya dirimu ini?! Apakah kau adalah anggota dari PHF? Kenapa kita selalu bertemu ketika diriku berada di kantor Detektif Henry?!" Tanya diriku kepada orang itu. Hawa kebenaran bahkan tak dapat ku ketahui dengan jelas, kadang hadir, kadang menghilang secara instan.
"Aku? Sebelum itu-"
Namun tiba-tiba, terdengar suara sirine polisi yang sangat kencang. Hingga membuat diriku terkejut, sampai-sampai memejamkan mata.
Sesaat diriku kembali membuka mata, namun orang tadi yang berada tepat di hadapan diriku, sudah menghilang secara cepat. "Dimana...?? Orang yang barusan??"
Diriku mencari-cari keberadaan orang tersebut, namun tetap tidak dapat kutemukan dimanapun itu. Ku coba untuk bertanya kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat ini, "Hei kalian! Apakah tadi kalian melihat seseorang dengan jubah hitam di sana?!" Diriku bertanya sembari mengarahkan tangan kananku untuk menunjuk ke arah dimana diriku bertemu dengannya tadi.
"Tidak, kami semua hanya fokus kepada polisi yang baru sampai di sini. Memangnya, siapa orang yang kau cari itu?" kata salah seorang dari mereka, sambil melontarkan suatu pertanyaan.
Sepertinya mereka semua hanya berfokus pada para polisi itu, tanpa melihat ke arah orang itu maupun diriku. Kalau begitu, apa boleh buat, hanya ada satu hal yang aku tahu mengenai orang tadi.
Sekilas, aku melihat tangan kanannya... Dan, yang kulihat sungguh tidak masuk akal...
Tangan kanannya seperti terkena kutukan!
Bahkan, muncul aura-aura berwarna ungu racun di sekitar tangannya. Sungguh tak dapat dibayangkan bagaimana rasa sakitnya. Tetapi, itu masih tidak pasti apakah memiliki kutukan seperti itu akan merasakan sakit yang luar biasa dashyat.
"Hei, kita bertemu lagi ya... Edward!" Seseorang memanggil dari arah belakang, seolah-olah orang tersebut telah mengenal diriku.
"Tidak, bukan diriku... Namun, seorang detektif yang memiliki bakat dalam bidang pembunuhan. Seseorang dengan keahlian yang luar biasa dalam menganalisis victim-"
Sebelum Detektif Henry menyelesaikan kata-katanya, seseorang yang berada di belakangnya menepuk bahunya kemudian mengatakan, "Jangan melebihi-lebihkan seperti itu, Henry. Aku hanya orang yang lebih lemah daripada kalian semua!"
"Hahaha, ini dia orangnya... Biar kuperkenalkan... David V. Conny! Panggil saja dirinya sebagai, Detektif Conny!" Kata Detektif Henry sambil mempersilahkan Detektif Conny untuk mendekat ke arahku, kemudian berjabat tangan denganku.
"Aku adalah Edward! Diriku hanyalah seorang manusia biasa yang kebetulan bertemu dengan Detektif Henry!" Diriku mengatakan hal yang sesungguhnya aku pikirkan tanpa diriku ubah sedikitpun.
"Tidak usah merendah begitu, kau bahkan orang yang memecahkan misteri tentang pembunuh waktu itu!" ucap Detektif Henry yang terlihat melebihi-lebihkan cerita waktu itu, sepertinya hal tersebut dilakukan untuk menaikkan martabatku.
"Anak kecil ini... Pernah memecahkan suatu kejadian pembunuhan?? Wah, kau pasti sangat genius ya, bocah!" Detektif Conny memujiku atas pencapaian yang bahkan dia tidak tahu kebenarannya. Namun, dia sangat mempercayai ucapan dari Detektif Henry, sepertinya mereka berdua sudah berteman dari lama...
"Tidak juga, aku tidak se-genius Detektif Henry yang dapat memecahkan suatu misteri secara cepat!" Diriku kembali merendah karena tak ingin menyombongkan prestasi yang diriku punya.
"Hahaha, kalau begitu... Biarkan kami untuk menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu. Kau bisa pergi ataupun boleh menonton kami melakukan pemeriksaan! Cepat, pergi dari tempat ini. Anak kecil seperti dirimu tidak boleh dekat-dekat dengan tubuh korban!" Perintah Detektif Conny kepadaku, karena khawatir dengan kondisi pikiranku.
"B-Baiklah!" balasku secara ragu, namun aku harus menuruti apa yang diperintahkan oleh para polisi dan detektif.
Diriku berjalan ke arah Steven yang sudah berada jauh dari tubuh korban. Diriku bersandar di tembok yang di sebelahnya terdapat gang kecil dengan aura yang sangat menakutkan.
"Hei kalian, cepat bawa korban ini untuk dilakukan pemeriksaan fisik! Jika sudah menemukan sesuatu, laporkan kepada kami segera!" teriak Detektif Conny kepada para dokter yang sedang siap siaga di tempat itu.
"Baik pak! Serahkan semuanya kepada kami!" balas salah seorang dari dokter itu. Yang kemudian, beberapa di antara dokter-dokter itu membawa korban menggunakan 'Folding Stretcher' berwarna orange. Dengan cepat mereka memasukkannya ke dalam mobil ambulance.
Diriku yang memperhatikan mereka, merasa bosan dan ingin melakukan sesuatu.
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari gang kecil yang berada di samping kananku itu. Suara seorang pria yang mengatakan, "Lihatlah ke arah tembok yang berada di atas sana. Dan kau akan menemukan sesuatu!" Kata pria itu, sambil menjulurkan satu tangannya ke arah tembok yang berada tepat di atas tubuh korban yang baru akan di masuki ke dalam mobil ambulance.
"Eh, siapa kau-" Namun, saat diriku melihat ke arah gang kecil itu, tidak ada siapapun di situ. Sungguh kejadian yang aneh dan tak dapat dipikirkan di dalam otak.
Kalau tidak salah, dia berkata untuk melihat ke arah tembok yang berada tepat di atas korban itu.
Memangnya ada apa di sana?
Diriku mendekati tempat kejadian untuk melihat apa yang ada di tembok itu...
"Tunggu dulu... Akhirnya aku menemukan sebuah petunjuk!"
~ Bersambung ~