Mysterious System

Mysterious System
CH 2 : KEMUNCULAN SISTEM



"Jadi, kau ingin aku berkencan denganmu sekarang juga?" tanyaku memastikan kapan tepatnya kencan ini akan dilaksanakan.


"Ya benar, aku ingin kita pergi ke taman bermain! Kalau tidak salah namanya adalah 'Lagoon Land'!" Sambil mengatakan hal tersebut, ia meloncat-loncat kegirangan, karena ia sungguh ingin pergi ke tempat itu bersama seseorang.


"Oke, bagaimana jika kita berangkat sekarang juga?" saran dariku.


"Baiklah ayo pergi!" Karin menyetujui saranku dan memutuskan untuk pergi sekarang juga.


Jalan demi jalan kami lalui, serta waktu yang terus berjalan...


Sebenarnya aku masih meragukan tawaran tadi- otakku seolah-olah menolak hal tersebut.


Apakah akan terjadi sesuatu setelah ini?


"Hei, kenapa kau diam saja?" Karin bertanya kebingungan setelah melihat diriku yang hanya berdiam diri memandang ke bawah.


"Tidak apa-apa, ayo pergi!!"


Dengan berjalan lebih cepat, aku memegang tangannya yang lembut sambil menariknya supaya kita berjalan lebih cepat.


Mungkin aku akan menikmati saat-saat ini terlebih dahulu…


Tapi, secara seketika...


Terdengar suara aneh saat aku mencoba untuk berjalan menuju taman bermain itu.


Seketika kepalaku menjadi pusing tak karuan. Tulisan-tulisan aneh berwarna merah darah menutupi pandanganku…


[DON'T TRUST] [DON'T TRUST] [DON'T TRUST] [DON'T TRUST]


Seperti itulah kira-kira yang aku lihat dan aku dengar. Suara yang kudengar sungguh berat hingga menggema di telingaku.


Tulisan-tulisan yang menutupi pandanganku itu, semakin lama semakin banyak. Kegelapan mulai menyelimuti diriku, seperti ditarik oleh sesuatu yang sangat berat. Kepalaku seperti tertusuk beribu-ribu jarum lancip.


"Ada apa, Edward?" Karin bertanya sambil melepaskan tangannya dariku.


Setelah mendengar suaranya, semua tulisan-tulisan itu menghilang secara seketika. Suara yang menggema di telingaku juga perlahan-lahan mengecil.


"Kepalaku sedikit pusing, tapi tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan!" Kataku untuk membuatnya tenang akan situasi ini.


"Apa kau sakit? Jika kau sedang sakit, kita tunda dulu kencan hari ini!" tegasnya- khawatir dengan kondisiku yang terlihat parah ini.


"Tidak usah, ayo kita lanjutkan!" Diriku mengatakan hal tersebut untuk menenangkan keadaan supaya kami dapat melanjutkan kencan kami.


"Baiklah, ayo pergi!" ajaknya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arahku.


Mataku tiba-tiba terarah ke sebuah tempat, dimana tempat tersebut adalah tempat untuk menyewa sepeda. Segeralah aku mengajak Karin untuk menaiki sepeda ontel.


Karin pun menyetujui saran dariku dan pada akhirnya kami pun pergi ke Lagoon Land dengan menaiki sepeda yang dapat dipinjam di tempat peminjaman sepeda.


Pada saat itu, aku baru mengingatnya- sepedaku yang masih tertinggal di sekolah. Meskipun sekolah kami terbilang cukup aman, namun barangkali ada yang mengambilnya...


Ya sudahlah... kubiarkan saja dahulu di sekolah.


Selama diperjalanan, angin sepoi-sepoi berhembus hingga membuat rambut kami melambai-lambai.


Hingga pada akhirnya, sampailah kami di depan taman bermain itu. Tempat yang sungguh besar dan berkilauan menerangi mata kami.


"Ayo kita masuk!" Karin menggandeng tanganku dan berlari memasuki taman bermain itu.


Tetapi sebelum masuk, diperlukan untuk membeli tiket terlebih dahulu. Dengan waktu yang cukup cepat saat membeli tiket, kami pun akhirnya memasuki taman yang besar dan indah itu.


"Mari kita mencari makan terlebih dahulu!" ajak Karin sambil menunjuk ke sebuah kedai makanan ringan yang bentuk makanannya terlihat seperti crepes.


"Baiklah!" kataku, sambil berjalan perlahan-lahan menuju kedai itu.


Sesampainya di kedai itu, aku dan Karin memesan dua makanan berasa strawberry. Harganya pun tak terlalu mahal, hanya saja karena diriku yang miskin ini aku tak dapat membayarnya.


Lalu, aku harus apa?


"Biar aku saja yang bayar!" Karin menawarkan untuk membayar kedua makanan yang sudah kita beli ini.


"Eee… baiklah kalau begitu, suatu saat akan aku ganti!"


Setelah menghabiskan makanan yang bentuknya mirip dengan crepes itu, kami pergi ke arah barat untuk memainkan suatu wahana yang bernama 'Kora-Kora'. Wahana itu berbentuk seperti sebuah kapal yang melayang. Cara bermainnya adalah, kita hanya perlu duduk, kemudian kapal akan terombang-ambing ke depan dan kebelakang.


Langsung saja, kami menaiki wahana itu dengan duduk di kursi bagian tengah dari wahana tersebut.


"Baiklah, semuanya sudah siap?! Kita mulai sekarang!!" teriak pengawas wahana itu, sambil menyalakan mesin.


Perlahan-lahan mesin itu mulai berjalan, membuat kapal itu semakin semakin kencang.


Kami menikmati permainan tersebut, dan mencoba permainan yang lainnya pula.


Waktu terus berjalan, hingga senja pun tiba…


Tinggal satu permainan lagi yang belum kita naiki, yakni wahana 'Komedi Putar'. Karena sebentar lagi matahari akan terbenam, maka kami memutuskan untuk menaiki wahana tersebut sebelum meninggalkan Lagoon Land.


Tempatnya berada tepat di ujung barat sana. Sungguh tempat yang sangat tepat untuk melihat matahari terbenam. Sepertinya memang sudah disiapkan khusus untuk melihat indahnya kilauan mentari senja.


Dengan berjalan perlahan-lahan ke arah wahana tersebut, seketika itu mataku melihat suatu kejanggalan di wahana roller coaster tepatnya di dalam gua.


Seperti terjadi pembunuhan…


Ataukah aku hanya salah melihatnya?


Mungkin, aku coba dekati saja!


[DON'T GO] [DON'T GO ANYWHERE, PLEASE STAY AWAY FROM THERE]


"AKH!!" teriakku kesakitan, karena kepalaku kembali menjadi pusing tak karuan. Suara itu membuat telingaku tak dapat mendengar apapun lagi.


"Ada apa Edward?!" Melihat diriku kesakitan, Karin menjadi khawatir dan berlarian untuk mencari penjual air minum.


Diriku seperti melihat bayangan seseorang yang sedang membunuh. Namun setelah beberapa lama, kepalaku kembali seperti biasa, telingaku pun tidak berdengung lagi. Seperti semua itu berlalu begitu cepat.


Sebenarnya ada apa denganku ini?!


Sudahlah, yang terpenting…


Tunggu dulu…


Ternyata hari sudah malam, kesempatan kami untuk menaiki wahana terakhir sudah habis.


"Edward… maaf aku telat mengambilkan minuman untukmu!" ucap Karin yang baru saja datang kembali.


"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena kita tidak dapat melihat sunset di wahana itu!" Kataku sambil menunjuk ke arah wahana 'Komedi Putar'.


"Biarkan saja, yang terpenting kamu tidak apa-apa… Ayo kita pulang!" Sepertinya Karin terlihat kecewa karena tak dapat menaiki wahana itu.


"Karin!" teriakku saat Karin mencoba untuk pulang dengan perasaan kecewa.


"Ada apa? Sudah malam, lebih baik kita pulang!" Karin mengajakku untuk langsung pergi ke rumah.


"Ha? Ini untukku? Terima kasih banyak!!" jawabnya sambil melompat-lompat kegirangan.


"Yasudah, ayo kita pulang!" saranku karena hari sudah mulai gelap gulita.


Kami pun pulang dengan menaiki sepeda yang kami pinjam di toko penyewaan sepeda tadi. Kemudian berjalan ke rumah masing-masing dengan berjalan kaki.


Sesampainya di rumah, aku langsung mandi kemudian berganti pakaian. Adikku yang sedang menonton televisi sambil memakan cemilan mengatakan, "Kakak dari mana saja? Kenapa pulangnya sampai malam?"


Langsung saja ku jawab, "Aku pergi ke Lagoon Land sebentar!"


Mendengar hal tersebut, sungguh terkejutlah adikku. Ia menghampiri diriku seraya berkata, "Ha!? Dengan siapa perginya?! Sendiri? Atau dengan pacarmu!!"


Tetapi mataku tertuju kepada saluran televisi yang dilihat oleh adikku. "Tunggu sebentar!" kataku sambil bergerak duduk ke arah sofa.


"Pembunuh terjadi di Lagoon Land pada tanggal 10 Agustus 2025 ini terjadi pada pukul 18.20 sore tadi. Diduga pembunuh menusuknya dengan menggunakan pisau tajam yang ia ambil dari kedai daging…"


Baru sampai di kata-kata itu, adikku mengganti saluran ke saluran kartun karena berita tersebut menurutnya terlalu membosankan.


"Hei! Kenapa diganti?!" Teriak diriku, namun adikku berpura-pura tidak mendengarkan apa yang aku bicarakan.


Sambil memikirkan apa yang aku lihat itu sama dengan apa yang aku saksikan di televisi, diriku pergi ke kamarku lalu pergi tidur supaya esok hari dapat bangun kembali dan masuk tanpa telat.


Dan, pagi pun kembali tiba…


Seperti biasa, diriku bangun dengan tubuh yang lelah dan berjalan menuju kamar mandi untuk membilas tubuh. Setelah itu, aku pergi sarapan dan berangkat menuju sekolah.


Yah, seperti hari-hari biasa…


Setiap pagi aku selalu saja diganggu oleh Yoshua. Tingkahnya semakin hari semakin menjengkelkan. Sebenarnya aku sudah tak tahan lagi, hidupku ini penuh dengan derita.


Kebahagiaan?


Belum pernah aku dapat…


Baru kemarin aku mendapat suatu kebahagiaan, mungkin ini adalah pertanda untuk diriku supaya tidak mengakhiri hidupku dengan tragis.


Waktu demi waktu terus berjalan…


Hingga tepat pada pukul 15.00, bel pulang pun berbunyi…


Seorang gadis datang kepadaku saat aku sedang membereskan meja milik Yoshua. Diriku membersihkan mejanya atas alasan tertentu, yakni ia menyuruhku untuk membersihkannya.


"Hei Edward! Hari ini ikut aku ke aula sekolah yuk!" Ternyata gadis yang berbicara itu adalah Karin. Ia mengajakku untuk bertemu di aula sekolah.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang!" saran dariku.


"Ayo!" balas Karin, setuju dengan pendapatku.


Kami berdua pun berjalan menuju aula sekolah dengan perlahan-lahan, sambil melihat-lihat orang-orang yang baru saja keluar dari kelas.


Kami melalui lorong-lorong yang gelap dan sepi, diakibatkan tempat yang kami lewati ini adalah ruang musik.


Dikabarkan bahwa ada anak yang bunuh diri di ruang musik, dikarenakan stres yang berlebihan akibat perlakuan dari teman-temannya.


Sungguh sangat malang…


Setelah lama berjalan, akhirnya kami sampai di aula sekolah. Dirinya mengarahkan diriku untuk ke atas panggung dan menyampaikan apa isi hatiku.


Sungguh terkejutlah diriku mendengar hal itu, rasanya seperti dipaksakan untuk melakukan hal tersebut.


Dag… Dig… Dug…


Jantungku berdetak begitu kencang karena harus melakukan hal ini.


"Baiklah, perasaanku yang sebenarnya… aku sungguh mem-"


Namun saat itu juga, lampu-lampu menyala dengan terang menyorot diriku. Banyak orang sedang duduk menyaksikan diriku dan Karin.


Perlahan-lahan Karin datang ke arahku seraya berkata, "Dasar bodoh! Memangnya siapa yang mau jadi pacarmu! Hahahaha!!" katanya dengan nada mengejek.


Seseorang tiba-tiba muncul dari balik bayangan, orang tersebut tidak lain tidak bukan adalah dia… Yoshua!


"Yo! Sepertinya kau menikmati ini ya, pecundang!" ejek Yoshua sambil melemparkan botol ke arahku.


"Sialan, boneka macam apa ini!" Karin mengambil boneka beruang yang kemarin ku berikan, kemudian merobeknya hingga hancur berleburan.


"Hahahaha!!" Semua orang yang di tempat itu mulai tertawa.


Pandanganku semakin memburam, rasanya seperti ingin pingsan. Tetapi kata-kata yang menggangguku itu datang lagi…


[GO AWAY NOW]


Setelah melihat hal tersebut, diriku lari kocar-kacir menjauhi tempat itu. Semua orang justru semakin tertawa terbahak-bahak.


Diriku berlari hingga sampai di rumah dan langsung menuju ke arah kamar. Merenung kesepian memikirkan hal tersebut. Sungguh kejadian yang tak akan pernah bisa ku lupakan.


Balas dendam… Balas dendam!!


Hanya itulah yang dapat kupikirkan…


Tetapi aku sudah tidak kuat dengan hidupku yang begitu menyedihkan ini.


Tepat pada pukul 21.00 malam…


Diriku ingin meloncat dari lantai atas…


Langkah demi langkah kulalui, tiba saatnya aku mengakhiri hidupku ini.


Sudahlah, aku sudah lelah!


Kuharap, semua orang mati saja!


Pada saat itu juga, diriku meloncat maju sambil mengatakan, "Selamat tinggal dunia!"


...[SYSTEM ERROR]...


...[MENGUNDUH DATA…]...


...[ERROR]...


...[MEMUAT DATA TERSEMBUNYI…]...


...[ACTIVE]...


...[WELCOME TO MYSTERIOUS SYSTEM]...


"Pembunuhan itu sangat indah bukan!?"


~ BERSAMBUNG ~