
"Pertama-tama, kita mulai dari orang itu! Yang memakai pakaian layaknya seperti seorang pelayan itu!" Kata diriku, sambil menunjuk salah seorang diantara mereka, yang menggenakan kaos berwarna abu-abu, dan jeans berwarna biru tua.
"Baiklah, sebelumnya izinkan diriku untuk memperkenalkan diriku sendiri... Namaku adalah Hosen D. Andrew! Saya adalah seorang pembantu yang selalu membantu Tuan Joe yang baru saja terbunuh!" Orang itu mulai mengenalkan dirinya, sambil menunduk hormat layaknya seperti kebanyakan pembantu-pembantu elite yang sedang memberi hormat pada tuannya.
"Lalu, apakah kau tahu siapa nama panjang dari korban tersebut?" Detektif Henry mulai memberi pertanyaan ringan kepadanya.
"Tentu saja aku tahu! Faris Joestar adalah namanya! Dirinya biasa dipanggil dengan nama, Joe!" Jelas Pembantu tersebut. Dirinya dapat berkata apa yang dipikirkannya tanpa ragu, sepertinya dirinya memang sudah dilatih dalam keadaan seperti ini.
"Baiklah, kalau begitu... Sekarang, bisakah kau memberitahukan apa yang sedang kau lakukan pada sore ini, tepatnya pata pukul 16.20 yakni pada saat pembunuhan tersebut terjadi?" Detektif Henry kembali melontarkan pertanyaan kembali. Sebenarnya, dirinya belum mengetahui pasti, pukul berapa kejadian tersebut terjadi. Namun, menurut pendapat saksi, kejadian tersebut memang terjadi kira-kira pada pukul empat sore lewat.
"Baik, izinkan saya menjawab! Pada saat itu, saya sedang memasak makanan untuk dihidangkan kepada tuan saya yang berpesan kepada saya, bahwa dirinya sedang merasakan lapar. Kalau tidak salah-" Dirinya memegang-megang kantung-kantung yang ada di pakaiannya, seperti sedang mencari sesuatu yang ia lupakan tempat menaruhnya. "Oh, ternyata disini!" Akhirnya dia menemukannya di saku kiri bajunya.
"Apa yang sedang kau cari itu? Apakah itu merupakan hal yang penting sampai-sampai kau harus menyimpannya di sakumu?" Tanya Detektif Conny yang heran melihat benda yang sedang dipegangnya ternyata hanyalah sebuah kertas sobekan.
"Tentu saja, coba kalian baca apa yang ada di dalamnya. Itulah alibi yang mungkin dapat membuktikan bahwa diriku bukanlah pembunuhnya, karena pada saat itu, diriku sedang memasak di dapur untuk memenuhi pesanannya!" Kata Pelayan tersebut sambil memberikan kertas itu kepada Detektif Conny.
Tulisan dalam kertas:
Hosen, buatkanlah makanan pada saat jam 16.00 nanti. Karena diriku sedang merasakan lapar, dan aku harus menyelesaikan kerjaanku dahulu. Maka dari itu, jika makanan tersebut sudah jadi, hantarkanlah makanan itu ke kamarku.
Melihat apa yang ada di dalam kertas tersebut, kami semakin yakin bahwa dirinya bukanlah pelakunya. Di dalam kertas tersebut terdapat sebuah tanda tangan dengan menggunakan pena. Awalnya kami berpikir bahwa isi kertas tersebut hanyalah bualan dari pelayan tersebut. Namun dibawah tanda tangan tersebut, terdapat cap tangan yang telah para polisi buktikan kebenaran, bahwa cap tangan ini memang dari Tuan Joe. Yah, mungkin untuk saat ini, kami semua akan percaya kepada orang itu.
"Baiklah, untuk saat ini, kami semua akan percaya kepada apa yang telah engkau ucapkan barusan... Kalau begitu, selanjutnya adalah dirimu!" Setelah mengintrogasi pelayang tersebut, sekarang kami menyelidiki seseorang dengan menggunakan pakaian nelayan dengan warna bajunya yakni biru tua.
"S-saya adalah Robert Panelson! Seorang nelayan biasa yang kebetulan sedang membayarkan utangku kepada Tuan Joe! Tepatnya pada pukul 16.10 tadi, yang kemudian diriku diwajibkan untuk menunggu di ruang tamu sekitar sepuluh menitan sebelum diriku mengetahui bahwa Tuan Joe telah tewas." Dirinya berkata demikian, dengan gugup dan gemetar, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Atau mungkin, dirinya hanya tidak tahan dengan situasi seperti ini.
"Begitu, lalu dimanakah hasil tangkapanmu itu? Kau baru saja pulang dari memancing bukan?" Tanya Detektif Conny yang kebingungan mengapa orang itu memakai pakaian nelayan padahal hanya ingin membayarkan utangnya saja.
"Ah, itulah sebabnya aku harus menunggu di ruang tamu beberapa saat, karena aku ingin mengatakan kepada Tuan Joe, bahwa diriku belum dapat tangkapan satupun hari ini... Oh iya, karena aku tidak mempunyai uang, maka aku membayarnya dengan menggunakan hasil tangkapan yang telah kudapatkan." Jelas dirinya dengan pengucapan yang sedikit terbata-bata. Dengan demikian, Detektif Henry kembali memanggil beberapa polisi, dan memerintahkan mereka untuk mencari catatan tentang orang itu. Namun yang terpenting, mereka diperintahkan untuk izin terlebih dahulu kepada keluarganya.
"B-baik, terima kasih sir!" Setelah berkata demikian, nelayan itupun duduk bersama dengan pelayan yang sedang bersandar di dinding tempat yang sedikit jauh dari tempat terjadinya pembunuhan itu.
"Terakhir adalah dirimu! Coba sebutkan siapa namamu dan apa hubunganmu dengan Tuan Joe?" Tanya Detektif Henry kepada orang tersebut.
Namun, pada saat itu juga, dirinya tersungkur jatuh ke bawah, samb meneriaki nama korban, "Joe! Joe! Joe! Joe!" yang semakin lama semakin terdengar keras.
"Hei kau, tenanglah terlebih dahulu. Coba kau sebutkan apa yang menjadi masalahmu? Memangnya apa hubunganmu dengannya?" Detektif Conny mencoba untuk menenangkan wanita tersebut.
"Hiks... Diriku adalah istri dari orang tersebut, namaku adalah Laura Joestar! Atau, jika diriku belum menikah dengan pria itu, namaku adalah Laura Paulina!" Katanya masih dengan beberapa rintik tangisnya.
"Oh begitu, tenanglah nyonya karena ini memang sudah takdir dari pria itu... Sekarang, bisakah kau jelaskan apa yang sedang kau lakukan pada pukul 16.00 sampai 16.20?" Detektif Henry mulai melontarkan beberapa pertanyaan, selagi menenangkan dirinya yang masih saja menangis dengan kencang karena terlalu sedih akan kematian dari suaminya.
"Diriku sedang mencuci pakaian di balkon pada pukul 16.00, yang kemudian diriku mendapatkan sebuah panggilan telepon pada pukul 16.05. Pada awalnya, diriku tidak mendengar apapun karena jarak antara telepon rumah dengan balkon sangat jauh. Maka dari itu, pelayan tersebut memanggil diriku, dengan tangan yang masih menggunakan sarung tangan untuk memasak. Dan pada saat itu juga, diriku langsung menuju ke arah bawah untuk mengangkat telepon tersebut. Kemudian diriku kembali pada pukul 16.20 untuk melanjutkan menjemur, sebelum diriku melihat sesuatu di lantai... Hiks... Yang kulihat adalah bercak-bercak yang berada di lantai dekat dengan pot bunga. Karena ketakutan, diriku langsung berlari menuju ke bawah dan mencoba untuk melupakan hal tersebut, karena mungkin semua itu hanyalah bayanganku saja karena terlalu lelah bekerja!" Jelasnya dengan panjang lebar kepada kami semua.
"Begitu, kalau begitu... kau boleh duduk untuk menenangkan dirimu terlebih dahulu!" Saran Detektif Henry kepadanya.
Kemudian dirinya berjalan ke arah 'Pelayan' dan 'Nelayan' itu sedang duduk.
"Jadi, apa kesimpulannya, Edward? Apakah kau sudah menemukan sesuatu dari pendapat mereka semua?" Tanya Detektif Henry kepada diriku, yang padahal seharusnya dirinyalah yang tahu akan hal tersebut.
"Belum, tapi yang pasti, kejadian ini adalah kejadian yang sungguh tidak masuk akan... Karena pembunuhnya, hanya melakukan semua trik tersebut hanya dengan waktu 15 menit. Itu adalah waktu yang kurang untuk melakukan trik benang zig-zag!" Diriku semakin kebingungan setelah mendengar penjelasan dari Laura.
"Trik benang zig-zag?" Detektif Conny yang baru datang dan mendengar percakapan kami, menjadi penasaran akan hal yang baru saja kuucapkan.
"Benar, mungkin sang pelaku menggunakan trik tersebut!"
~ Bersambung ~