Mysterious System

Mysterious System
Menganalisis Kebenaran Kasus Pembunuhan



"Hei kau cepatlah, kami kehabisan waktu disini! Jika kau hanya ingin bermain-main, maka pergilah dari tempat ini!" Detektif Henry mulai kesal kepada diriku yang mengira bahwa diriku hanya bermain-main saja, namun karena dirinya sudah memperbolehkan aku untuk berbicara, maka saat ini juga akan kuungkap kebenarannya.


"Baiklah, aku akan mulai serius sekarang juga! Tolong kalian dengarkan apa yang akan aku katakan, dan jika ada pernyataan yang menurut kalian janggal bilang saja kepadaku!" Setelah mengatakan demikian, diriku mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan sambil memikirkan kata-kata yang akan ku ucapkan.


"Silahkan, berpendapat lah secara logis, dan lakukanlah secara cepat dan singkat! Kami tidak ingin berlama-lama mendengarkan ocehan mu yang tidak berbobot!" Polisi itu juga menyetujui untuk mendengarkan perkataanku terlebih dahulu, sebelum mereka mencari barang bukti yang belum mereka temukan.


"Baiklah, pertama-tama..."


Diriku mengangkat salah satu tanganku, kemudian mengarahkan tanganku ke depan seperti menunjuk sesuatu. Kemudian, menariknya kebawah hingga membentuk garis vertikal.


Saat diriku melakukan hal tersebut, munculah sebuah sistem yang berbentuk persegi panjang berwarna biru dengan tulisan...


...[ HASIL PEMIKIRAN ]...


...{1}...


...Kacamata yang ditemukan sama dengan kacamata sang pelaku....


Dengan berdiri tegak sambil menghadap ke arah detektif itu, diriku melanjutkan kata-kataku yang aku hentikan tadi, dengan mengatakan, "Pertama-tama, aku menemukan sebuah barang yang berada di tempat kejadian, yakni sebuah kacamata yang terlihat sama dengan orang yang menguntit diriku. Itu berarti sang pelaku melakukan aksinya setelah jam pulang berbunyi. Mungkin terdapat jeda beberapa menit setelah bel pulang berbunyi."


"Hmm... opini yang bagus, itu berarti kau berada di tempat kejadian saat pelaku sudah membunuh sang korban?" Sahut Detektif Henry dengan menanyakan pertanyaan tersebut kepadaku.


"Benar, bisa dibilang bahwa sang pelaku sudah membunuh sang korban sesaat setelah bel pulang berbunyi. Itu berarti, sang pelaku pasti sedang berkeliaran di dekat tempat kejadian karena mengkhawatirkan barang bukti yang tertinggal. Dan, diriku melihat mereka berdua berada di sekitar tempat kejadian, maka dari itu aku pun mencurigai mereka berdua." Tegasku sambil menunjuk ke arah Fajar dan Sena yang sedang berdiri di samping kanan dari salah seorang polisi.


"Sudah kubilang, aku tidak pernah membunuh, tahu!" Geram Fajar yang mulai berjalan dengan cepat ke arahku, namun sayangnya ia ditahan oleh polisi untuk tidak melakukan kekerasan apapun.


"Hei kau, tenanglah! Jika tidak ingin tenang, maka kau akan kumasukkan ke dalam penjara yang dipenuhi kegelapan tanpa ujung!" Detektif Henry mengancam Fajar supaya ia tenang dan tidak melakukan kekerasan apa pun terhadap diriku.


"B-Baiklah aku mengerti! Silahkan dilanjutkan, aku akan menunggu di sini!" Fajar pun menyetujui untuk tenang terlebih dahulu, bahkan Sena yang seorang perempuan saja dapat mulai menenangkan diri dari situasi ini.


"Sekarang, lanjutkan lah asumsimu, sepertinya semua yang kau katakan itu ada logisnya! Mungkin saja apa yang kau katakan itu adalah kebenaran yang sesungguhnya." Kata Detektif itu sambil mengambil bangku yang berada di dekat tempat itu, kemudian duduk di atasnya.


"Izinkan diriku untuk melanjutkan penjelasanku!" Setelah mengatakan demikian, diriku melakukan hal yang sama dengan yang tadi ku lakukan, saat ingin memunculkan sistem yang berbentuk kartu tadi.


...[ HASIL PEMIKIRAN ]...


...{1}...


...Kacamata yang ditemukan sama dengan kacamata sang pelaku....


...{2}...


...Darah yang berada di jam dinding, serta tetasan darah yang menggenang di dekat pintu masuk....


"Baiklah, untuk yang kedua adalah darah yang berada di atas sana! Darah yang menempel di jam dinding itu!" Ujar diriku sambil mengarahkan jari telunjuk kananku ke arah jam dinding yang berada tepat di atas.


Namun, entah kenapa aku tahu!?


Mungkin karena...


Diriku tersenyum tipis sambil melihat sistem yang berada di depanku, karena sebenarnya sistem itulah yang memberitahukan kepadaku tentang hal-hal yang tak aku mengerti.


"Akan ku jelaskan semuanya, sampai-sampai kau tak akan dapat menebaknya!" Dengan tersenyum tipis dan mata langsung tertuju ke arah detektif itu, diriku membuka sistem itu lagi dan melihat dengan jelas apa yang akan aku katakan.


"Kalau begitu, jelaskanlah! Dan kalian para polisi, duduklah didekatku untuk mendengar apa kata bocah ini. Namun, untuk kau Pak Counly, jagalah kedua bocah yang berada di sampingmu itu, jangan biarkan salah satu pun dari mereka lolos dari hadapanku!" Tegasnya kepada para polisi yang berada di dekat tempat itu.


"Baiklah, akan ku lanjutkan sekarang juga..."


...[ HASIL PEMIKIRAN ]...


...{1}...


...Kacamata yang ditemukan sama dengan kacamata sang pelaku....


...{2}...


...Darah yang berada di jam dinding, serta tetasan darah yang menggenang di dekat pintu masuk....


...{3}...


...Keterangan dari saksi : Hubungan antara 'Timur' dan 'Matahari'...


Setelah terdiam beberapa saat, diriku melanjutkan perkataanku yang sempat aku hentikan sejenak tadi, dengan mengatakan, "Salah seorang saksi yang aku temui mengatakan bahwa sang pelaku ada hubungannya dengan timur dan matahari, walupun sekarang aku masih belum paham arti dari kata tersebut, namun yang pasti setelah mengetahui kata-kata itu, kita pasti akan dapat menemukan siapa pelaku yang sesungguhnya!" Diriku mencoba untuk memastikan apakah arti dari kata tersebut sesuai dengan apa yang aku pikirkan.


"Hmm.. begitu ya... Ngomong-ngomong, siapa nama dari temanmu ini ya?" Tanya Detektif Henry sambil menatap kedua orang itu.


"N-Namaku adalah Sena Vonderia!" Sena langsung menyaut dengan menyebutkan nama panjangnya, karena ia takut dengan detektif tersebut.


"Cih sialan! Namaku adalah Fajar! Sekarang kau puas bukan? Diriku seharusnya sudah pulang sekarang dan tidur-tiduran di kasur!" Geram Fajar karena ia ingin segera menghabisikan waktunya dengan bermain game dirumahnya yang nyaman.


"Hmm... sepertinya aku sudah tahu siapa pelakunya!" Kata Detektif itu dengan senyum tipis di wajahnya yang mengatakan seolah-olah bahwa yang dikatakannya itu benar apa adanya.


"Apa? Cepat sekali kau bisa mengetahuinya! Apakah kau yakin bahwa kau mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya, kita bahkan belum mengetahui dengan pasti apakah bocah itu berbohong atau tidak!" Polisi Counly meragukan pendapat dari Detektif Henry, namun ia yakin bahwa Detektif Henry memang benar-benar sudah mengetahui siapa pelakunya.


"Kau juga sudah mengetahuinya bukan, bocah yang benar-benar terlihat detektif! Siapapun namamu, kau sudah tahu siapa pelakunya dari awal bukan?" Senyum yang mengerikan mulai dikeluarkan dari Detektif Henry, aura yang dipancarkan dari tubuhnya pun membuat diriku merasa sedikit ketakutan.


"Benar, pelakunya adalah..."


~ Bersambung ~