
"Karena kita sudah mengenal satu sama lain, bagaimana jika kita menukar nomor telepon?" Dirinya seolah-olah ingin mengenalku dengan lebih dekat lagi.
"Baiklah, mari kita bertukar nomor!" Kemudian, diriku mengeluarkan smartphoneku dari tas yang ku bawa di punggungku.
Kami pun bertukar nomor telepon.
"Hmm..."
Tiba-tiba, muncul quest tambahan di hadapanku. Namun anehnya, kartu itu tidak berwarna biru, melainkan berwarna merah gelap, dengan bercak-bercak darah di sekeliling kartu tersebut.
...[DARK-QUEST]...
...[BUNUHLAH SATU ORANG SECARA ACAK]...
...[REWARD \= SKILL TINGKAT S-MAX]...
...[REWARD CASS \= RP 1.000.000.000]...
...[TERIMA QUEST?]...
...{YES/NO}...
"Apa-apaan ini? Membunuh orang? Tidak mungkin aku melakukannya! Tapi, hadiahnya adalah skill tingkat S... Apakah aku harus menerimanya? Menurutku tidak usah, aku tidak akan dibutakan oleh hal semacam ini!" Gumamku dalam hati.
"Hmm? Kenapa kau diam saja, Edward? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi?" Gadis itu bertanya kepadaku, dikarenakan diriku yang hanya berdiam diri saja di tempat seperti tak bergerak.
"Ah, tidak apa-apa... Baiklah, karena kita sudah bertukar nomor, bagaimana jika sekarang kita pulang? Karena sekarang sudah mulai gelap, lebih baik jika kita pulang sekarang!" saran dariku karena kegelapan sudah mulai menyelimuti kota kami.
"Baiklah, sampai jumpa di sekolah..." kata Rena, namun anehnya wajahnya justru terlihat pucat. Wajahnya seperti melukiskan kesedihan yang ia alami sehari-hari. Apakah ada masalah padanya? Tetapi, aku tidak boleh mengusik lebih dalam mengenai kehidupannya, aku hanya akan mengenalnya lebih dekat lagi.
"Baik!"
Setelah mengatakan hal tersebut, diriku meninggalkannya sendirian di pantai itu. Entah kenapa, Rena masih berada di sana, memandang langit malam yang penuh dengan bintang-bintang.
Aku berpikir, bahwa dirinya belum ingin untuk kembali ke tempat dimana ia tinggal. Hanya saja, rasanya, apa yang ia rasakan dapat tersalurkan kepadaku.
Seperti sebuah tumbuhan yang hidup di tengah-tengah padang gurun. Penuh derita, hampa, kesepian, dan pada akhirnya akan mati.
Kira-kira, apa yang terjadi dengannya?
Dirinya kemudian berbalik badan, dan mengambil sepeda yang ia kendarai tadi. Sebelum ia meninggalkan tempat itu, dirinya menatap mangata di laut tersebut.
Dengan tiba-tiba, diriku merasa seperti ellipsism. Jantungku berdetak dengan sendirinya, tanpa aku tahu penyebabnya.
Namun, aku tak terlalu mempedulikan hal tersebut. Karena dirinya sudah meninggalkan tempat ini, maka seharusnya aku pun meninggalkan tempat ini pula.
Segeralah aku mengambil sepedaku dan pergi ke rumahku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolahku. Jarak dari tempat ini menuju ke sekolah pun tak terlalu jauh. Maka dari itu, aku tidak perlu mengendarai sepeda jauh-jauh untuk kembali ke rumah.
Beberapa menit telah kulalui dengan sangat cepat dan tanpa kusadari diriku sudah melalui jalan yang begitu panjang. Bulan yang bersinar terang, menyinari jalan yang gelap di depanku.
Sungguh, nyaman sekali rasanya...
Namun, pada akhirnya... Aku pun sampai di depan rumahku. Diriku baru ingat, bahwa diriku pulang terlalu larut. Adikku tentunya sudah mencariku kemana-mana karena takut berada sendirian di rumah.
Pintu kubuka secara perlahan-lahan, hingga mengeluarkan bunyi bising yang kurang nyaman untuk di dengar. Adikku berdiri tepat dihadapanku saat diriku membuka pintu tersebut.
"Wah! Kenapa kau ada di depan pintu? Apakah kau menungguku pulang?" Melihat hal tersebut, terkejutlah diriku hingga sedikit melompat ke arah belakang.
"Iya memang benar, kenapa kau lama sekali?! Dari mana saja kau? Apakah kakak pergi bersama seorang pacar?" Carolina bertanya dengan nada tinggi.
"Tidak, aku hanya berkeliling sebentar. Oh iya, ngomong-ngomong mengapa kau menungguku? Kenapa tidak tidur saja duluan?" Diriku bertanya kepadanya akan alasan atas apa yang ia lakukan ini.
"Aku hanya takut berada sendirian di rumah. Ya sudah, sekarang ayo kita masuk!" ajak Carolina sambil menggenggam tanganku dengan paksa.
"Baiklah-baiklah! Tunggu sebentar!"
Setelah itu, aku pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Cukup beberapa menit saja, diriku sudah selesai. Dengan berjalan berhati-hati karena lantai di kamar mandi sangatlah licin, aku perlahan-lahan mengambil baju ganti ku yang ku gantungkan di hook wall.
Waktu yang ku gunakan saat berganti pakaian sangatlah sebentar, kira-kira satu jam... Tidak, maksudku hanya sepuluh menit saja untuk berganti pakaian.
Sesudah diriku membilas diri dengan mandi, aku pun pergi ke arah kamar tidurku. Namun, adikku berkata, "Kemarilah, dan makanlah terlebih dahulu, setelah itu baru kau boleh pergi ke kamar!"
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" balasku dengan suara yang lantang.
Tanpa pikir panjang, diriku berjalan ke arah ruang makan. Di sana telah disediakan makanan-makanan yang baru saja matang dari panggangan. Semua makanan itu terlihat sedap dan wanginya pun sungguh harum. Sambil mengambil sebuah sendok dan garpu, diriku berkata, "Selamat makan!"
Dan pada akhirnya, kami berdua pun menyantap makanan tersebut.
Namun tiba-tiba, adikku berdiam diri dengan tidak memakan makanan yang telah ia buat. Dia menatap mataku, seraya berkata, "Kak, entah kenapa aku merasakan hal yang janggal di rumah kita ini!"
Mendengar hal itu, aku mencoba untuk menarik lebih dalam tentang informasi yang baru saja ia beritahu, dengan berkata, "Hmm... apa maksud perkataanmu itu? Setahuku, tidak ada apapun di rumah ini? Bahkan sejak kita masih kanak-kanak."
"Baru-baru ini aku merasakan hawa-hawa aneh yang menyelimuti rumah ini, itulah alasanku menunggumu untuk masuk ke dalam rumah!" Jikalau adikku sudah berkata demikian, maka memang benarlah terdapat hal janggal di rumah ini.
Namun sejujurnya, aku tidak terlalu percaya akan hal-hal gaib yang ada di dunia ini.
"Jadi, apa yang terjadi pada rumah kita ini? Ah, aku ganti pertanyaanku! Apakah kau pernah melihat sendiri hal yang janggal itu? Misalnya seperti benda yang terjatuh, dan sebagainya?" tanya diriku memastikan, apakah dia pernah mengalaminya sendiri atau tidak.
"Pernah! Aku pernah mengalaminya sekali!" teriak Carolina mengingat kejadian yang telah ia alami.
"Benarkah? Kalau begitu, apa yang kau lihat pada waktu itu?" tanyaku lagi.
"Pada malam hari, kira-kira setelah kakak masuk ke dalam kamar setelah pulang dengan ekspresi kecewa. Diriku melihat sebuah bayangan yang melompatkan dirinya sendiri dari lantai atas dan berakhir di lantai bawah. Namun anehnya, saat aku mencoba mengeceknya, tubuhnya sudah tidak ada, namun darah bekas tempatnya terjatuh masih ada. Sungguh mengerikan bukan?" Carolina menjelaskan dengan rinci kepadaku.
Oh, kejadian itu ya...
Sepertinya, Carolina hanya salah melihat...
"Dan ada satu hal lagi yang membuatku merinding ketakutan...!!"
~ Bersambung ~