
"Sepertinya, aku tahu 'Trik Benang Zig-Zag' yang kau maksudkan itu. Lagi pula, tempat ini memang cocok untuk melakukan trik semacam itu. Namun, akan sulit bagi sang pelaku untuk melakukannya hanya dengan waktu 15 menit saja." Detektif Henry berkata kepada diriku, sambil memikirkan bagaimana cara sang pelaku melakukan pembunuhan tersebut.
"Benar, akupun masih tidak mengetahui bagaimana cara sang pelaku bisa melakukan trik itu dengan sangat cepat. Kemungkinan terbesarnya adalah dia tidak menggunakan trik tersebut!" Balas diriku kepada Detektif Henry, sambil memikirkan trik lain yang mungkin digunakan oleh sang pelaku.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi ke dalam gedung itu, Edward?" Tanya Detektif Henry kepadaku, dengan nada mengajak diriku untuk pergi ke tempat itu. Dirinya bermaksud untuk membawaku pergi bersamanya, supaya diriku mendapatkan sesuatu ataupun sebuah petunjuk untuk membawa kepada kebenaran.
"Hmm... kenapa kau mengajakku? Bukankah seharusnya, diriku tidak boleh pergi ke sana? Bukankah gedung itu hanya untuk polisi-polisi dan beberapa detektif yang mempunyai kepentingan saja?" Diriku yang mendengar tawaran dari Detektif Henry, menjadi sangat kebingungan dan hampir menolaknya.
"Tenang saja, aku akan izin terlebih dahulu kepada mereka semua. Sebaiknya kau menyamar menjadi salah satu dari anak korban." Detektif Henry memberi saran yang cukup baik dan efesien untuk digunakan saat ini. Daripada tidak melakukan apapun, diriku memutuskan untuk mengikuti saran dari Detektif Henry.
Segeralah kami pergi ke gedung tersebut, dengan jalan yang harus memutar. Karena, tidak ada jalan dari gang itu, yang menuju keluar ke arah gedung tersebut. Maka dari itu, kami diharuskan untuk memutari jalan itu.
Setelah sampai di tempat yang sedang kami tuju, segeralah kami berlari masuk ke dalam gedung tersebut, dan langsung menuju balkon sambil mengucapkan, "Permisi, kamu dari kepolisian ingin memeriksa gedung ini!" teriak Detektif Henry kepada orang-orang yang masih merenung di dalam.
Seorang kakek tua yang menggenakan kursi roda datang kepada kami dan menjawab, "Silakan saja, tidak usah ragu-ragu."
Namun pada saat itu, diriku dan Detektif Henry memiliki pemikiran yang sama, "Kenapa, kakek itu tidak diperiksa tadi? Apakah karena dia sudah tua?" pikir kami berdua.
Tetapi kami tidak terlalu menghiraukan hal tersebut, dan bergegas menuju ke lantai atas tempat dimana balkon tersebut berada.
Tangga yang kami lalui ternyata cukup panjang, berbeda sekali dengan harapan kami yang awalnya kami pikir, gedung ini tidaklah terlalu tinggi jaraknya, antara lantai satu dengan lantai dua. Ternyata, jaraknya lumayan jauh untuk di capai, hingga membuat kami berdua kelelahan saat sampai di atas sana.
Tanpa berpikir panjang, kami langsung mengecek area sekitar untuk memperhatikan detail-detail yang ada di balkon itu. Terlihat sebuah goresan kecil pada salah satu pot gantung yang ada di atap-atap balkon tersebut.
"Hmm... sepertinya memang benar bahwa senjata dari sang pelaku adalah sebuah benang!" Diriku berasumsi bahwa sang pelaku menggunakan benang untuk melakukan semua kejahatan itu. Karena, dari bukti-bukti yang terlihat, semua mengarah kepada satu alat saja, yakni sebuah benang. Namun, diriku masih belum mengetahui, benang apa yang digunakan oleh sang pelaku.
"Jadi maksudmu, sang pelaku hanya membunuhnya dengan menggunakan sebuah benang saja? Itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Lagipula, dibutuhkan lima belas menit lebih untuk melakukan pembunuh sulit seperti itu. Kecuali, jika trik yang digunakkan sang pelaku, memang hanya membutuhkan sedikit waktu untuk melakukan pembunuh!" Detektif Henry masih bingung akan senjata yang digunakan sang pelaku dalam pembunuhan kali ini. Dirikupun masih tidak yakin, apakah sang pelaku benar-benar mengenakan senjata berupa benang saja untuk melakukan pembunuhan ini.
"Baik, mungkin kita harus mencari petunjuk lainnya!" ajak diriku kepada Detektif Henry. Karena kami baru saja menemukan satu petunjuk di balkon ini.
"Bagaimana kalau kita membagi tugas... Aku akan pergi ke bawah, memeriksa serta menanyakan kakek tua tadi, sementara kau carilah petunjuk di tempat ini!" Saran Detektif Henry kepadaku, yang kemudian diriku menyetujuinya dengan mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah itu, Detektif Henry langsung berjalan menuju ke arah bawah, melalui tangga tadi. Sepertinya dia harus menguras tenaga dua kali lipat untuk hal semacam ini.
Baiklah, sekarang aku harus mencari petunjuk-petunjuk lain yang mungkin akan berguna saat diriku nanti membuat kesimpulan.
"Tunggu dulu... Apa itu?" Diriku tiba-tiba melihat benang putih yang tersangkut di sela-sela pintu.
Pada saat itu juga diriku langsung tersadar akan sesuatu. Kemudian berlari menuju pagar balkon, dan langsung memeriksa apakah ada sesuatu di sana.
Benar saja... Pagar besi tersebut tergores!
Sudah kuduga... Ternyata sang pelaku bukanlah menggunakan 'Trik Benang Zig-Zag', namun menggunakan trik sederhana, yang bahkan tak memerlukan waktu yang lama untuk melakukannya.
Namun, diriku tidak dapat memastikan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Karena, asumsi yang dikatakan oleh para tersangka dan para saksi masih sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Mungkin aku akan meminta Detektif Henry untuk menanyakan hal ini kepada mereka semua.
Setelah berlama-lama memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya, dirikupun mulai berjalan ke arah bawah untuk menemui Detektif Henry.
Ternyata dirinya masih saja berbincang-bincang dengan kakek tua itu. Diriku mendekati mereka berdua dan mencoba mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi, kau melihat Nyonya Laura pergi ke atas apa pukul 16.15?" Tanya Detektif Henry yang melanjutkan pembicaraannya, sebelum dia sadar akan keberadaan diriku.
"Ya, benar... Dia terlihat ketakutan dan segera berlari ke bawah... Aku tidak tahu apa yang terjadi..." Balas kakek itu, dengan suara yang terbata-bata karena ragu akan apa yang dia ucapkan.
"Hmm... bukankah ini semakin ambigu, Edward?" Detektif Henry sepertinya sudah mengetahui bahwa diriku berada di sampingnya. Sungguh hebat sekali seluruh indra yang Detektif Henry punya ini.
"Ya, namun dapat dipastikan bahwa sang pelaku tidak menggunakan 'Trik Benang Zig-Zag' yang tadi ku katakan. Namun, dirinya menggunakan sebuah trik sederhana lain untuk melakukan pembunuhan itu!" Balas diriku sambil menerangkan apa yang telah aku temukan di balkon tadi.
"Kalau begitu, mari kita tanya para tersangka lagi. Mungkin kita akan mendapatkan informasi berguna lainnya!" Setelah Detektif Henry mengatakan demikian, kamipun segera kembali menuju tempat kejadian dengan menaiki motor milik Detektif Henry.
Sesudah sampai di tempat itu, kami langsung berlari menuju salah satu dari tersangka. Lebih tepatnya, kami mulai bertanya kepada, Nyonya Laura.
"Hei, nyonya! Kudengar dari kakek tua yang berada di dalam gedungmu, kau sudah kembali ke atas pada pukul 16.15? Bukankah kau bilang, kau masih menelpon pada saat itu dan kembali pada pukul 16.20?" tanya Detektif Henry dengan tatapan serius.
"Kakek tua? Siapa yang kau maksudkan?" Nyonya Laura tampak kebingungan setelah mendengar ucapan dari Detektif Henry.
"Eh?"
~ Bersambung ~