
"Sekarang, mari kita lihat! Skill apa yang aku dapatkan!" Gumam diriku, sambil mengarahkan tanganku ke sistem yang berada di depanku.
...[INGIN MELIHAT SKILL?]...
...{YES / NO}...
"Apakah lebih baik jika aku melihatnya? Ataukah aku harus menekan tombol 'No'? Hmm... Mungkin aku akan mencoba untuk menekan tombol 'Yes'!"
...[INGIN MELIHAT SKILL]...
...{YES}...
"Baiklah, sekarang mari Kita lihat apa skill yang Ku Dapat setelah menyelesaikan misi in. Apakah Aku Akan mendapatkan skill bertarung yang hebat seperti di komik-komik yang kubaca?"
...[SKILL YANG ANDA DAPAT]...
...[LOADING...]...
...[SELAMAT]...
...[ANDA MENDAPATKAN SKILL TINGKAT E-1]...
...[QUICKLY CALCULATION]...
"Quickly Calculation? Apa maksudnya itu? Kekuatan yang hanya dapat menghitung dengan cepat, apa untungnya bagiku? Sudahlah, lebih baik untuk sekarang ini aku pergi dahulu ke rumah karena hari mulai petang."
Setelah berbicara sendiri di aula tersebut. Kini diriku memutuskan untuk pulang ke rumah untuk beristirahat.
Tetapi, masih ada satu pertanyaan yang memenuhi isi pikiranku.
Sebenarnya, apa motif dari Fajar membunuh Karin?
Dan satu hal lagi, siapa sebenarnya Karin itu? Mengapa ia tiba-tiba datang menyelamatkan diriku, kemudian mengajak diriku berkencan?
Apakah tujuan sesungguhnya memang ingin membuat diriku merasakan depresi yang luar biasa ini? Ataukah Karin hanya diberi perintah untuk melakukan hal itu? Sungguh aneh bukan?
Sudahlah, lebih baik aku pulang...
Dengan berjalan meninggalkan tempat itu, selesailah mistake!
Diriku mengambil tas yang masih kuletakkan di dalam kelas, sambil melewati Lorong yang Sangat Panjang.
Namun, ketika diriku berjalan di lorong yang berada di depan ruang kelas 11. Diriku melihat seseorang tengah berdiri di ujung lorong itu, sambil menatap langit senja yang sebentar lagi menuju malam.
Dia memalingkan badannya ke arahku, sambil mengibaskan rambutnya yang terkena angin. Pada saat itu, aku seperti melihat seorang bidadari bersayap yang penuh dengan kerahiman. Dengan latar senja, dan seorang gadis yang berada tepat di depanku, membuat perasaan bergejolak. Mataku seperti tak dapat ku gerakkan, karena keindahannya.
"Siapa kau?" Gadis itu mulai berbicara dengan suara indahnya yang selembut sutra.
Hatiku menjadi tenang dan terpukau akan suaranya itu. Rasanya, semua yang ku lakukan hari ini merupakan sebuah anugrah.
"Bukan siapa-siapa, hanya seorang manusia biasa yang ingin mengambil tas di ruang kelas." Diriku menjawab dengan wajah yang masih terpukau-pukau akan kecantikannya.
"Oh." jawabnya dengan datar, hal tersebut membuat diriku merasa sedikit bersalah. Sudahlah, lebih baik aku bergegas mengambil tas kemudian kembali pulang ke rumah.
...[SUB-QUEST]...
...[SELIDIKI GADIS TERSEBUT]...
...^^^[REWARD : SKILL TINGKAT E-2]^^^...
...{TERIMA/TOLAK}...
"Apa-apain ini? Apakah aku harus menerimanya untuk melakukan sub quest ini? Karena aku baru saja mendapatkan satu kartu skill, lebih baik aku menerimanya terlebih dahulu. Ditambah, skill yang akan kudapat adalah skill 'Tingkat E Tahap 2'! Jadi, tidak ada alasan untuk menolak!" Gumam diriku, sambil bergegas mengambil tas, kemudian kembali kepada gadis tersebut.
Setelah mengambil tas yang ku tinggalkan di dalam kelas, diriku bergegas menghampiri gadis itu lagi. Namun sebelum itu, aku akan menekan tombol 'Yes' di sistem ini.
...[SUB-QUEST]...
...[SELIDIKI GADIS TESEBUT]...
...{YES}...
...^^^[REWARD : SKILL TINGKAT E-2]^^^...
"Sialan! Kenapa ada batas waktunya? Kalau begitu, selama seminggu ini, aku akan sangat sibuk untuk bertemu dengannya! Kenapa harus ada quest semacam ini sih?!" Melihat hal tersebut, kesal lah diriku. Tetapi, karena aku sudah menyetujui questnya, maka aku harus segera menyelesaikannya.
Kemudian, sampailah diriku di tempat gadis tadi berada. Namun sepertinya, gadis tersebut sudah pergi dari tempat itu sebelum diriku sampai di tempat ini.
Apakah questnya akan gagal?
Apakah aku harus menyerah sekarang juga?
Tidak, tunggu dulu!
Mataku tertuju ke sebuah parkiran sepeda yang bertepatan dimana tempat tersebut dapat terlihat dari atas sini. Gadis tersebut ternyata masih berada di kawasan sekolah ini.
Dengan berlari secepat mungkin, diriku mengejar gadis itu sampai diriku dapat bertemu dengannya.
Lorong demi lorong kulalui!
Waktu demi waktu kujalani!
Hingga pada akhirnya, diriku melihatnya bersepeda ke arah pantai yang terletak di dekat sekolahku. Jika diperkirakan, hanya sekitar dua kilometer dari sekolahku.
Karena aku memiliki sepeda juga, maka aku dapat mengejarnya hingga sampai di tempat ini dengan cepat.
Setelah beberapa saat, kami pun sampai di pantai itu tepat sebelum matahari tersebut terbenam.
Apa ini?
Baru pertama kali aku merasakannya!
Rasanya, semua ini sungguh menenangkan hatiku.
Kulihat dirinya sedang menaruh sepeda yang ia kendarai. Kemudian berjalan perlahan ke pesisir pantai yang berdekatan dengan ombak laut.
"Hei kau! Kenapa kau mengikuti diriku?!" panggil gadis itu kepadaku yang sedang bersembunyi di balik gubuk tua yang digunakan untuk sewaan tempat duduk atau tempat santai.
"Tidak, aku hanya ingin berkenalan denganmu. Soalnya, aku tidak punya teman di sekolah!" ungkap diriku mencoba untuk menarik perhatiannya, walaupun yang ku katakan itu benar, bahwa diriku memang tidak mempunyai teman di sekolah.
"Begitu..." Setelah mengatakan demikian, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, "Haaa... Huuuffh..."
Ketika dilihat dari dekat, gadis ini memang benar-benar cantik dan menawan. Sungguh beruntung jika aku dapat berkenalan dengannya.
"Hei kau!" teriak gadis itu.
"Ya?" balasku kebingungan akan hal tersebut.
"Dasar! Kemarilah dan duduklah disampingku! Mengapa kau dari tadi hanya berdiri saja! Cepatlah, dan jangan buat aku menunggu terlalu lama! Karena sunset sebentar lagi akan tiba! Kita akan melihatnya bersama-sama." Meski nada gadis tersebut terlihat kasar, namun ternyata ekspresi di wajahnya tak sama dengan apa yang ia katakan. Tangannya seolah-olah menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
Ya sudah, mau bagaimana lagi?
Diriku akan mengikuti apa yang dikatakan gadis tersebut. Maka, pergilah diriku ke sampingnya, dan duduk tepat di dekatnya.
Kami berdua sama-sama memandang matahari yang akan terbenam tepat di hadapan kami. (Melihat ke arah barat)
"Hei, apakah kau tahu? Bahwa matahari itu sungguh indah dan bercahaya. Aku ingin menjadi matahari, karena mereka bersinar begitu terang dan memberikan senyuman terhadap dunia." ucap gadis itu dengan raut wajah yang terlihat sedih terpapar pada wajahnya. Sungguh, ternyata semua yang kita lihat, tidak dapat kita deskripsikan secara langsung tanpa tahu apa yang ada di dalamnya.
Dan akhirnya, pada saat itu. Matahari pun terbenam. Hari sudah mulai gelap, matahari yang menyinari itu pun kini kian menghilang. Kegelapan mulai menyelimuti seluruh dunia.
Maka pada saat itulah, aku berkata kepada gadis itu, "Hei, apakah kau tahu? Bahwa bulan itu sungguh indah dan menenangkan. Pesona yang dikeluarkan oleh bulan, membuat semua orang pada akhirnya akan merasa bebas dari penderitaannya. Bukankah hanya dengan melihat bulan, kita dapat merasakan perbedaan dalam hati kita? Maka dari itu, aku ingin menjadi seperti bulan. Yang membuat orang tenang dan menjauh dari stressnya."
"Sungguh bijak sekali ya kata-katamu! Oh iya, namaku adalah Rena Yonata! Panggil aku Rena!" katanya sambil menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
"Aku Edward!"
Pada akhirnya, kami berdua pun berkenalan satu sama lain!
~ Bersambung ~