
"Apakah yang dirimu katakan ini benar? Buktinya, Fajar ditangkap oleh polisi setelah dirimu mengungkapkan sesuatu yang tidak-tidak! Sudah pasti, kau menuduh Fajar melakukan pembunuhan!" Pak Gord yang berteriak itu, masih saja menuduh diriku sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, dikarenakan menuduh Fajar tanpa alasan. Padahal semua bukti itu sudah menjelaskan bahwa memang dialah pelakunya.
"Benar! Diriku dapat membuktikan kebenarannya dengan jelas jikalau engkau menginginkannya!" Karena kesal dengan perkataan guruku, diriku mencoba untuk menentang tuduhan palsu dari Pak Gord.
"Kau mencoba melawanku! Sekarang pergi dari kelas ini!" Teriaknya dengan nada tinggi, dan ekspresi wajah yang marah.
"Terserah bapak saja!"
Akhirnya, diriku menuruti apa yang dikatakan olah Pak Gord, dan bergegas menuju luar kelas. Saat berada di luar kelas, diriku berdiri berjam-jam lamanya, sembari menunggu jam pelajaran Biologi selesai.
Namun tiba-tiba, terdengar suara bantahan dari dalam kelas. Seolah-olah orang tersebut mendukung argumentku. Mereka berdua berdebat cukup lama, yang membuat Pak Gord semakin kesal, sehingga menyuruh ia untuk keluar dari kelas.
Orang tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah... Steven Doyland.
Dirinya selalu membantuku di saat diriku sedang mengalami kesulitan. Seseorang yang sungguh aku hormati keberadaan. Tanpa dirinya, aku mungkin sudah stress dan tidak ingin hidup di dunia ini lagi.
"Yo, Edward! Sudah lama menungguku?" katanya dengan wajah sombong seolah-olah dirinya baru saja melakukan hal yang keren.
"Steven, kenapa kau mendukungku? Kau belum tahu kepastian yang sesungguhnya bukan? Jadi, kenapa kau bisa mengatakan bahwa diriku tidaklah salah?" Diriku ini bertanya, untuk mencoba memastikan apa yang ada di pikirannya itu.
"Kenapa harus bertanya itu sekarang? Bukankah sudah jelas... Karena kita adalah Sahabat, bukan?!"
Mendengar Steven berkata demikian, diriku dapat dengan mudah melupakan hal yang baru saja terjadi. Orang ini, adalah orang yang paling terbaik dari yang pernah kutemui seumur hidupku. Tak ada pengecualian bagi siapapun itu.
"Begitu... ya sudah, mari kita menunggu sampai jam pelajaran berakhir!" ucapku sambil mengajaknya duduk di teras kelas.
Beberapa lama kemudian...
Bel istirahat berbunyi....
Pak Gord keluar dari kelas, dan menghampiri kami berdua yang sedang duduk di teras kelas. Dengan tatapan tajam, dirinya berkata, "Awas jika kalian menentang ku lagi!"
Setelah berkata demikian, dirinya pergi dengan muka masam, dengan kedua tangan mengepal. Tetapi, kami tidak mempedulikan hal tersebut. Sekarang kami akan pergi kembali ke dalam kelas kembali, dan belajar seperti biasanya.
Semua siswa menatapku dengan tatapan yang setajam silet. Membuat jantungku berdebar-debar. Sesungguhnya, diriku sedikit merasa bersalah kepada Fajar karena telah memasukkannya ke dalam penjara. Namun, apa boleh buat, hanya itu satu-satunya hal baik yang dapat kulakukan.
Seseorang tiba-tiba menghampiri diriku yang baru saja tiba di kursiku.
Sesaat ia berdiri di hadapanku, sebuah sistem berbentuk kartu dengan tulisan judul yakni 'Statistik Musuh', muncul di hadapanku sebagai tanda peringatan.
...[ Statistik Musuh ]...
...Power : [|||||||||||||||||||| ]...
...Durability : [|||||||| ]...
...Speed : [||||||||| ]...
...Potency : [||||||||||||| ]...
...IQ : [|||| ]...
...Stamina : [||||||||||||||||||||||||| ]...
"Sialan, apa-apaan power dan staminanya?!" Setelah melihat statistik yang dipaparkan oleh sistem tersebut. Diriku terkejut dengan kekuatan yang dimilikinya. Entah siapa yang ada di hadapanku, namun yang pasti dirinya adalah orang yang kuat.
"Hei! Apakah kau yang namanya Edward?" Orang tersebut bertanya dengan nada penuh amarah dan wajahnya yang tak dapat menahan kesalnya.
"B-benar, ada urusan apa ya dengan diriku?" Melihat dirinya yang belaku demikian, membuatku gemetar dan ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Ukh!"
Semua orang yang berada di tempat itu, menjadi sangat ketakutan melihat diriku yang terpental secara tiba-tiba.
Punggungku rasanya sakit sekali, seperti mati rasa. Diriku masih belum mengetahui apa alasan dibalik dia yang memukulku.
"Hei! Kau yang membuat Fajar dipenjara bukan! Sebelumnya, izinkan aku memperkenalkan namaku, supaya saat kau mati, kau dapat mengingatku dengan jelas!" Diriku yang masih mencoba untuk bangkit berdiri, tiba-tiba dikagetkan dengan pukulan ke arah perut yang membuatku kembali berlutut. Setelah berlaku demikian, dirinya berkata, "Namaku adalah John Martine! Ingatlah itu dasar bocah sialan!"
Sambil berjalan mundur, dirinya menyiapkan kepalan tangannya untuk menyerang diriku lagi.
Dan, pada saat ia berlari menuju ke arahku. Sebuah perhitungan matematis muncul dihadapanku. Di sambung dengan notifikasi sistem yang mengatakan...
...[ QUICKLY CALCULATION ]...
...[ AKTIF ]...
Muncul perhitungan akan arah dimana ia akan memukul, begitu juga dengan kecepatan tangannya. Sehingga membuat diriku tahu kemana dirinya akan menyerang.
Karena kau bukan ingin memukul lurus, melainkan...
"HOOK!"
Dengan menghindari pukulan ke arah bawah, diriku dengan cepat pergi ke daerah belakang lawan atau dapat dikatakan punggung lawan.
Dengan perhitungan yang terus menerus muncul, diriku sudah tahu bahwa serangan berikutnya adalah...
"Spinning Back!"
Dengan cepat, diriku menunduk kembali ke arah bawah. Tiba-tiba, terdapat salah satu perhitungan yang mewajibkan diriku untuk menendang ke kakinya. Namun diriku tak yakin, karena diriku tidak pernah melakukan hal tersebut.
Namun, ada satu hal yang membuat diriku yakin untuk menendang.
...[ CONGRATULATION ]...
...[ Your First Martial Art : Capoeira ]...
Dengan tangan kiri sebagai tumpuannya, diriku melayangkan kaki kananku ke arah kedua kakinya. Membuat dirinya tersungkur ke lantai, dengan kaki di atas, seolah-olah tubuhnya lah yang terjatuh terlebih dahulu sebelum kepala dan kedua kakinya.
Namun, pada saat itu juga. Bel masuk berbunyi dengan kencang. Itu adalah pertanda bagi kami untuk berhenti.
Tanpa kusadari, ternyata diriku sedang melakukan gerakan 'Ginga'. Entah kenapa, tubuhku bergerak sendiri untuk melakukan hal tersebut. Dan, pada akhirnya akupun memberhentikan gerakan tersebut.
"Sialan kau! Lihat saja kau nanti!" Dengan wajah yang berantakan dan penuh luka, dirinya kembali ke kelasnya sembari berlari.
"Huft! Sungguh melelahkan melakukan hal ini! Padahal hari ini aku ingin pergi ke tempat Detektif Henry. Namun, setelah melakukan hal ini, diriku menjadi malas untuk pergi ke sana. Tapi, biarlah... Aku akan tetap pergi ke sana sepulang sekolah!" Gumamku sambil berjalan menuju tempat duduk kembali.
"Hei Edward! Kau tidak apa-apa?" Steven bertanya kepadaku sambil merapikan bajuku yang terlihat kotor.
"Tenang saja, sekarang bantu aku merapikan kursi-kursi yang berantakan. Dan jangan lupakan mejanya! Namun, aku masih tidak tahu bagaimana cara merapikan dinding yang hancur ini?" Diriku mencoba untuk menaruh kembali pecahan-pecahan dinding yang bersebaran kemana-mana. Namun, itu tetaplah tidak mungkin untuk dilakukan.
Seorang guru laki-laki tiba-tiba masuk ke dalam kelas kami, seraya bertanya, "Bapak tadi dengar dentuman kuat dari kelas ini. Siapa yang-" Tiba-tiba, bapak itu melihat dinding yang hancur itu, kemudian dirinya melanjutkan kata-katanya, dengan berkata, "Siapa yang menghancurkan dinding itu!" teriaknya dengan tegas.
Semua murid menjawab secara bersamaan dan lantang, "Edward pak!" Teriak mereka semua sambil menunjuk ke arahku.
"Kau...!! Hahaha badan kecil seperti-" Lagi-lagi ucapan dari guru itu berhenti setelah melihat diriku, "Sepertinya kau menarik juga ya, bocah sialan!"
~ Bersambung ~