
Seorang gadis berlumur darah dengan bekas tusukan di perut bagian tengah dengan badan yang terlentang, sekarang ini berada tepat di hadapanku.
Pikiranku menjadi kosong setelah melihatnya, dan lagi-lagi jantungku berdegup sangat kencang.
Tubuhku rasanya menjadi sangat kaku, seperti ditarik oleh beribu-ribu tali yang mengikat di sekujur tubuh diriku.
Namun, diriku mencoba untuk menenangkan diri, kemudian mencari suatu cara untuk menyelesaikan masalah ini.
"Pikirkan lagi?! Siapa yang baru saja lewat di tempat ini?"
Pada saat itu juga, pikiranku langsung tertuju kepada satu orang misterius yang terlihat seperti seorang penguntit saat diriku ini sedang berjalan menuju aula ini.
"Sialan! Tadi aku tidak dapat melihat spesifikasi orang itu dengan jelas! Tetapi yang pasti, dia mengenakan kacamata!"
...[PETUNJUK SANG PELAKU]...
...[~MENGGUNAKAN KACAMATA~]...
...[.....]...
"Aku harus mencari bukti-bukti lain dari orang itu, sepertinya menanyakan seseorang ditempatkan kejadian mungkin akan memberikan suatu petunjuk!"
Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya diriku memutuskan untuk pergi ke depan ruang musik yang berada di dekat aula tersebut. Lebih tepatnya, hanya lima puluh meter jarak dari aula ke ruang musik.
Lorong yang gelap mulai kulalui dengan perlahan, melangkah dengan sunyi senyap. Bahkan suara angin pun tak terdengar. Seperti berada di ruang kosong nan hampa.
Hanya diriku seorang yang berada di tempat itu, sebelum diriku melihat sesosok bayangan hitam yang berada di dalam ruang musik tersebut.
Sungguh mengejutkan, ternyata bayangan itu terlihat seperti menatap diriku yang berada tepat di luar ruangan tersebut.
Tunggu, dia seperti memanggilku!
Rasanya, seperti tubuhku digerakkan olehnya untuk mendekat ke ruangan tersebut.
Tatapan matanya yang tajam dengan warna merah menyala, seolah-olah memanggil namaku dalam keheningan ini.
Semakin aku mendekat ke arah bayangan itu, semakin memudar pula bayangan tersebut. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiam diri di tempat aku berdiri saat itu.
Bayangan itu pun berhenti memanggil diriku dari ruang music itu, kemudian menangkat tangan yang diselimuti kegelapan itu, mengarah ke arah belakangku atau lebih tepatnya ke arah timur. Di lanjutkan dengan tangannya mengarah ke arah matahari yang sedang bersinar terang.
“Timur dan matahari? Apakah mereka ada hubungannya?” Pikirku dalam hati sambil melihat-lihat ke arah sekitar dan memastikan apakah ada orang lain di tempat itu.
Pada saat itu juga, aku melihat seseorang sedang makan dengan santai di tepi lorong yang gelap ini sendirian. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri orang itu sambil menunduk hormat ke arah bayangan yang sudah membantuku tadi, namun bayangan tersebut sudah tidak ada lagi di jendela ruang musik itu.
Sudahlah, lebih baik aku menanyakan alibi dari orang tersebut terlebih dahulu.
Saat tengah menghampirinya, dia terlihat terkejut dan sedikit panik akan kedatangan diriku. Dia langsung membuang makanan yang ia makan ke dalam tong sampah terdekat. “Hei kau!” teriakku dari kejauhan sesaat sebelum aku sampai didekatnya.
“A-ada apa?” Dirinya menjawab dengan tubuh gemetar dan suara yang terbatah-batah.
“Tidak ada, hanya saja mengapa kau membuang makanan yang belum kau habiskan?” Tanya diriku sekaligus ingin membuat dirinya tenang terlebih dahulu sebelum aku menanyakan sesuatu dengan serius, yakni tentang kematian dari Karin.
“A-aku hanya kenyang saja…” Balasnya dengan keringat yang perlahan-lahan mulai mengalir dari tubuhnya.
“Begitu ya.” Diriku yang mendengar hal tersebut, langsung menaruh curiga terhadapnya. Namun aku mencoba untuk mengkaji lebih dalam mengenai dirinya. Dengan tersenyum tipis dan menjulurkan tangan kanan, diriku bertanya, “Ngomong-ngomong, siapa namamu?”
Dia terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku, namun setelah beberapa lama menunggu, akhirnya ia pun mengatakannya, “Namaku, Sena Vonderia!”
Tiba-tiba, dihadapanku muncul sebuah sistem berbentuk kartu dengan warna biru tua, dengan tulisan…
...[Tersangka pertama]...
...Name : Sena Vonderia...
...Age : ???...
...Attributes : Use Glasses...
...Guilty : {Yes/No}...
“Hmm… aku harus mencari petunjuk lain!” pikirku dalam hati sambil berusaha memikirkan rencanaku kedepannya.
“Sebenarnya ada apa ya?” Dirinya bertanya kepadaku karena penasaran apa yang sebenarnya ingin kulakukan.
“Tidak apa-apa, satu hal lagi yang ingin kutanyakan darimu sebelum aku pergi…” kataku sambil berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan mata yang seolah-olah mengatakan bahwa sudah waktunya untuk serius dan kembali ke topik utama.
“Apa itu?”
“Selama pulang dari sekolah hingga saat ini, kemana saja kau dan apa saja yang kau lakukan?!” tanyaku untuk memastikan apakah dirinya bukanlah pelakunya.
“Sepulang sekolah, aku pergi ke kantin untuk bermain bersama dengan teman-temanku. Kemudian aku memutuskan untuk pergi ke aula. Namun, terdengar suara teriakan seorang perempuan yang terdengar dari ruang musik, anehnya aku merasa bahwa suara itu tidaklah dari ruang music tersebut. Karena aku mempercayai rumah bahwa ada hantu di ruang music itu, pikiranku langsung menyetujui bahwa teriakkan itu berasal dari ruang tersebut. Yah, karena aku ini penakut, aku langsung berlari menuju ujung lorong tempat kita berada sekarang, dan langsung mencoba menengkan pikiran dengan makan sesuatu yang aku beli di kantin sekolah.”
Begitulah kira-kira apa yang ia ceritakan dengan panjang lebar. Kesimpulan yang dapat diriku ambil untuk saat ini adalah bahwa dirinya bukanlah pelakunya, karena dia tidak tahu menahu akan kejadian pembunuhan itu.
Lantas siapa lagi yang harus aku curigai sebagai pelaku pembunuhan Karin?
Berpikir! Cepatlah berpikir! Siapa lagi orang yang berada di sekitar tempat ini!
“Ada!”
“Hmm… ada apanya?” kata Sena yang mendengar ucapanku barusan, sepertinya aku tidak sengaja berbicara saat sedang berpikir hingga terdengar olehnya.
“Lupakan, hei apa kau melihat seseorang yang berada di sekitar tempat ini tadi?” tanyaku untuk mencari tahu siapa orang yang akan kujadikan sebagai tersangka kedua.
“Ah, tadi aku melihat Fajar baru saja keluar dari aula tepat saat kamu melirik ke arah ruang musik!” katanya.
Setelah mendengar hal itu, sungguh terkejutlah diriku. Langsung saja aku pergi menelusuri sekolah untuk mencari keberadaan Fajar. Diriku juga menyuruh Sena untuk membantuku mencari, sekaligus tidak ingin dia kabur dari pandanganku. Karena tersangka tetaplah seorang tersangka, baik dia seorang laki-laki maupun seorang perempuan.
Setelah berjam-jam mencarinya, akhirnya aku menemukannya di depan ruang musik yang aku lalui tadi, dimana tempat itu berdekatan dengan aula. Sepertinya dia baru saja mengambil sesuatu di ruang musik…
Tidak, tunggu! Apakah sepatunya terciprat darah?
“Hei Fajar!” Panggilku dari kejauhan yang berada di ujung lorong kanan yang menuju ke arah kelas sebelas.
“Hmm… siapa kau?” katanya seolah-olah tidak mengenalku yang padahal kami ini sebenarnya satu kelas.
“Jangan berpura-pura bodoh, apa yang kau lakukan di tempat ini? Kenapa kau tidak pulang?!” Tanya diriku penasaran aka napa yang baru saja dilakukannya. Mengapa ia berada di depan ruang musik? Itulah yang ingin aku tanyakan.
“Ha? Apa yang kau maksud? Mengapa kau ingin tahu kenapa aku disini? Itu bukan urusanmu!” Katanya kesal dengan perkataanku yang dikiranya adalah perbuatan menguntit, karena menanyakan aktivitas-aktivitasnya.
“Cepatlah!”
“Untuk apa aku harus memberitahu pecundang sepertimu?!” Katanya dengan nada penuh ejekkan dan mengungkit masalahku yang tidak ada hubungannya dengan apa yang kutanyakan.
Sambil berjalan ke arahnya, diriku berkata, “Dasar sialan! Beritahu aku cepat!”
“Baiklah, aku pergi ke ruang musik ini untuk mengambil kacamataku yang ketinggalan, dan sekarang aku sudah menemukannya! Bagaimana, apa sekarang kau puas?!”
“Baiklah, jangan kemana-mana dulu, ikuti aku ke aula dan jangan beritahu siapapun. Kau juga Sena-“ Diriku langsung berhenti berbicara saat melihat Sena tidak ada lagi di belakangku. Sangat kesal lah diriku hingga tubuhku rasanya seperti tidak dapat dikendalikan.
“AHH!!”
Seseorang berteriak dari dalam aula sekolah, yang ternyata orang itu adalah Sena.
“Hei, apa yang terjadi di sini?” Fajar bertanya.
“Seperti yang kau lihat…”
~Bersambung~