Mysterious System

Mysterious System
Mencari Barang Bukti Pelaku



"Sebenarnya ada apa disini? Kenapa perempuan itu berlumuran darah?! Oy Edward, tidak usah bercanda! Ini tidak mungkin bukan?!" Fajar yang terlihat panik dan kebingungan setelah melihat Karin yang terbaring berlumur darah, perlahan-lahan mulai menarik kerah bajuku dan terlihat kesal karena mengira bahwa ini hanyalah sebuah permainan.


"Tidak, maka dari itu tenanglah terlebih dahulu, kita akan cari pelakunya bersama-sama! Untuk saat ini, cobalah untuk memanggil polisi, kalau bisa sekalian dengan ambulan. Meskipun sudah terlambat, tetapi jasadnya dapat dijadikan bukti bahwa dia memang benar-benar sudah mati!" Diriku mencoba untuk menenangkan situasi terlebih dahulu supaya tidak terjadi kepanikan dan informasi tentang kematian Karin tidak akan menyebar. Walaupun lama-kelamaan, informasi tentang kematian Karin pasti akan tersebar.


"Baiklah, aku mengerti! Mungkin aku harus tenang terlebih dahulu. Biar aku saja yang memanggil polisi, dan kau tunggu saja disini, atau jika memungkinkan pergilah mencari pelakunya!" Fajar mulai melepaskan tangannya dari kerahku, kemudian mengambil smartphone miliknya di kantung celana kiri bawah.


"Kau!" Diriku memanggil Sena untuk membuat dirinya tenang dan dapat mengendalikan ketakutannya. "Kemarilah, jika kau takut, pergilah ke luar aula. Namun, jangan pergi kemanapun! Karena kau masih ditetapkan sebagai tersangka!"


"Ba-Baiklah! Aku mengerti!" Akhirnya, ia pun menyetujui saran dariku yang kemudian dirinya berjalan menuju ke luar aula dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Bagaimana? Apakah kau sudah memanggil polisi beserta ambulan kemari?" Tanyaku memastikan apakah ia sudah memanggil polisi dan ambulan ataukah belum.


"Sudah! Baiklah, jadi di sini kau menganggapku sebagai tersangka? Jangan konyol, aku juga dapat membuatmu menjadi tersangka!!" Melihat diriku tidak mempercayainya, Fajar pun mulai mencurigai diriku yang ia kira bahwa akulah pembunuhnya.


"Kau memang benar, aku juga dapat kau jadikan tersangka! Bahkan aku tak punya alibi untuk membuktikannya! Yang pasti, kau menjauhlah dahulu. Bagaimana jikalau kita bergantian memeriksa tubuh korban?" Diriku mengusulkan sebuah saran yang menurutku cukup baik untuk dilakukan.


"Sudahlah, kau saja! Aku akan menunggu diluar aula ini, dan kupercayakan kau untuk mencari siapa pelakunya sambil menunggu polisi datang kemari!!" Ujar Fajar sambil berjalan perlahan menuju ke luar aula ini, namun ada yang aneh dengan tatapan matanya. Dirinya seolah-olah seperti sedang mengecek sesuatu di tubuh korban.


Sebenarnya apa yang dia lakukan?!


Sudahlah, untuk saat ini aku akan mengecek sekitar, apakah ada barang bukti yang tertinggal di tempat ini.


Tunggu, apa itu?!


Mataku tiba-tiba tertuju kepada suatu benda yang berada di ujung kanan aula ini, tepatnya berada di samping panggung untuk turun.


Hmm... bukankah ini...


Tidak mungkin!


Sebuah kacamata?!


Tunggu dulu, ada yang aneh dari hal ini...


Diriku mencoba untuk berpikir merenung sejenak akan kejadian ganjil ini. Tadi, aku melihat dengan jelas bahwa orang yang mengikutiku mengenakan kacamata, namun kenapa di tempat ini terdapat kacamata yang sama.


Kapan?


Hanya itulah pertanyaanku satu-satunya yang membuat diriku berpikir sekeras ini.


Kapan, sang pelaku melemparkan kacamata ke tempat ini?


Sudahlah, sepertinya aku harus mencari barang bukti lain yang ada di tempat ini. Diriku masih kekurangan barang bukti untuk membuat kesimpulan utama.


Ngomong-ngomong, pukul berapa sekarang ini?


Disaat diriku melihat jam dinding yang berada di atas pintu masuk, anehnya seperti ada bercak darah yang menempel pada jam tersebut. Warna merah yang sungguh pekat, membuat diriku teringat sesuatu.


"Oh iya, tadi saat diriku memasuki aula untuk pertama kalinya disaat aku ingin menemui Karin. Terdapat bercak darah di lantai, tepatnya di bawah jam dinding tersebut. Kira-kira apa hubungannya ya?"


Bukti-bukti yang telah diriku kumpulkan, kira-kira seperti ini:



Seseorang yang menguntitku menggenakan kacamata.


Timur dengan Matahari.


Kacamata yang sama dengan penguntit ditemukan di ujung aula ini.


Jam dinding yang terdapat bercak-bercak darah.



Sepertinya, semua itu ada hubungannya!


Sudahlah, aku ingin keluar terlebih dahulu untuk mencairkan suasana dan ketegangan terlebih dahulu. Sebelum itu, sepertinya aku harus mengecek sedikit tubuh korban apakah ada yang janggal ataupun tidak. Namun, aku harus berhati-hati untuk tidak meninggalkan sidik jari di tubuhnya, karena bisa saja dirikulah yang akan dicurigai nantinya.


Hmm... sepertinya tidak ada apa-apa di tubuh korban, seperti sesuatu telah hilang. Karena cipratan darah yang berada di samping kanan korban terlihat sedikit aneh.


Tunggu, tempat itu bukankah mengarah ke...


Benar, lantai si bawah jam dinding tersebut!


Bukankah itu berarti bahwa jam dinding itu seharusnya berada di bawah? Apakah pada saat itu jam tersebut terjatuh karena suatu dentuman?


Sudahlah, aku ingin menjernihkan pikiranku terlebih dahulu dengan mencari udara segar di luar aula.


Dengan berjalan cukup cepat, aku sampai di tempat mereka berdua sedang duduk di koridor ruang musik.


"Eh, kalian tidak takut dengan ruang musik ini? Bukankah dikabarkan bahwa ruang musik ini berhantu?" Diriku bertanya kepada mereka yang sepertinya tenang-tenang saja berada di depan ruang musik.


"Berhantu? Sebenarnya aku tidak terlalu takut dengan hantu!" Ujar Sena sambil perlahan berdiri dan menghadap ke arahku.


"Begitu ya... lalu bagaimana dengan kau Fajar? Sepertinya kau takut dengan hantu ya? Padahal hantu itu tidak ada seram-seramnya!" Diriku dapat berkata demikian, setelah melihat gerak-gerik Fajar yang terlihat merinding ketakutan dengan tubuh yang bergemetar.


"T-tidak kok, aku tidak takut dengan hantu... Sama sekali tidak takut, hanya saja rasanya aura di tempat ini sangat mengerikan! Untuk apa pula aku takut dengan hantu, lagian hantu itu tidak ada bukan?!" Dirinya mengatakan itu seolah-olah menyombongkan dirinya, padahal sudah terlihat jelas bahwa dia sedang merinding ketakutan.


"Dasar! Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan. Apakah kita harus menunggu polisi datang, ataukah kita harus mencari pelakunya saat ini juga? Menurut kalian apa yang harus kita lakukan sekarang?!" Tanyaku memastikan apa yang sedang mereka pikirkan. Jika menurut diriku, sebaiknya kita mencari dalang dibalik semua ini. Walaupun korban yang tewas adalah pembully saat dirinya masih hidup, tetapi siapa pun ini aku harus tetap membantunya.


"Jikalau engkau dapat mencari pelakunya sekarang, mama carilah! Jika kau tak dapat menemukan, ya sudah kita tunggu saja polisi datang!" Fajar pun mengatakan hal yang ada dipikirannya, yakni untuk mencari pelakunya sekarang juga bila aku dapat melakukannya.


"Bagiamana denganmu, Sena?" Diriku bertanya kepadanya sambil melirik ke arah matanya dengan tatapan biasa.


"Menurutku, kita harus menunggu polisi datang, entah sampai kapanpun itu. Bahkan sampai esok pagi saat matahari terbit pun, kita tetap harus berada di tempat ini!" Katanya dengan kedua tangan memegang kepala akibat ketakutan yang berlebihan.


Namun, sarannya itu membuatku tersadar akan sesuatu...


Matahari Terbit!


Akhirnya aku tahu siapa pelakunya!


Ternyata, pelakunya adalah...


~ Bersambung ~