Mysterious System

Mysterious System
Pelaku Sebenarnya



"T-Tidak mungkin!! Kau pasti berbohong?!" Detektif Henry nampak panik, namun dirinya masih mencoba untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Ada apa, Detektif Henry? Apakah kau takut dengan hantu?" Diriku berasumsi bahwa Detektif Henry takut dengan yang namanya 'Hantu' atau 'Roh', karena tingkah lakunya seperti sedang ketakutan akan sesuatu yang tidak ada.


"Tidak bukan begitu... Sepertinya setelah ini akan ada misteri lain yang berkelanjutan! Maka dari itu, kita harus cepat-cepat menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu!" Kata Detektif Henry sambil berjalan kepada kepala polisi itu, seraya berkata, "Pasanglah garis polisi di dalam gedung itu terlebih dahulu! Lakukanlah sekarang juga!" Teriak Detektif Henry dengan tegas.


"Siap!" Setelah berkata demikian, polisi itu langsung mengajak beberapa polisi lainnya untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Detektif Henry.


Kemudian, Detektif Henry menyuruh diriku untuk melanjutkan asumsi yang tadi terhenti karena polisi itu memberitakan kabar yang kurang nyaman didengar di hati. Membuat kami merinding ketakutan, dan berdebar-debar. "Silakan dilanjutkan, Edward!" Kata Detektif Henry kepada diriku.


"Baiklah, kalau begitu... Sebelumnya, akan kutanyakan satu hal kepadamu, Pak Robert!" Diriku berkata demikian, sembari mendekat ke arah Robert, yang berada tepat di sebelah kanan Nyonya Laura.


"A-Apa itu? Jikalau diriku bisa menjawab pertanyaan engkau dengan benar, apakah diriku akan bebas dari tuduhan?" Dengan tatapan mati yang mengatakan bahwa dirinya sedang panik, badannya pun ikut bergetar ketakutan hingga mengeluarkan keringat dimana-mana.


"Itu mungkin saja, namun pertanyaannya dariku ini tidak mungkin dapat disangkal oleh siapapun juga!" Diriku percaya akan pertanyaan yang akan diriku lontarkan. Kemudian diriku mendekat ke arah Pak Robert, seraya mengatakan, "Apakah kau suka memancing?"


Tanpa sadar, dirinya langsung menjawabnya, "Tentu saja aku menyukainya, memang apa hub-" Dan pada saat itu juga, dirinya menyadari sesuatu bahwa ucapannya mengandung makna tersembunyi dalam pembunuhan ini. "T-Tunggu dulu..." Pak Robert seperti ingin menyangkal ucapannya barusan, namun itu tidak akan bisa dipercaya oleh semua orang yang mendengar hal tersebut.


"Hahaha! Kena kau!" Diriku mencoba untuk membuat Pak Robert semakin panik.


"Tunggu sebentar, Edward. Sebenarnya, apa yang kau maksudkan ini? Apakah yang kau maksudkan ini sama dengan apa yang kupikirkan?" Tanya Detektif Henry kepada diriku, yang berbuat seenaknya sendiri tanpa memberitahukan apapun kepada Detektif Henry.


"Mungkin saja, apa yang kita pikirkan itu sama... Pelakunya menggunakan trik sederhana yang tidak membutuhkan banyak waktu untuk melakukannya... Trik Memancing!" Diriku percaya dengan apa yang kuucapkan, karena semua bukti mengarah kepada hal tersebut.


Tiba-tiba, terdengar dering telepon dari kantung celana Detektif Henry. Dirinya kemudian mengambil Smartphone miliknya, dan menjawab panggilan tersebut. "Hallo, Detektif Henry di sini!" Ucapnya kepada orang yang menelpon dirinya.


Diriku tidak dapat mendengar dengan jelas percakapan antara mereka berdua. Mungkin Detektif Henry akan menjelaskannya kepada kami, jikalau informasi yang di dapat Detektif Henry itu penting.


Setelah beberapa saat kemudian, Detektif Henry berkata, "Baik, terima kasih!" Kemudian dirinya menutup telponnya, dan berjalan ke arah diriku. Setelah sampai di hadapanku diriku, dirinya berkata dengan tatapan mata yang serius, "Dokter berkata bahwa sang korban masih hidup!"


Nyonya Laura yang mendengar hal tersebut menjadi sangat girang tak karuan, sambil mengucap syukur terus menerus. Dirinya datang kepada kami, sambil bertanya, "Apakah benar Tuan Joe masih hidup?!"


Detektif Henry hanya menganggukkan kepalanya saja, hal tersebut mengandung arti bahwa Tuan Joe memang masih hidup.


Nyonya Laura dan Pelayan Hosen nampak kegirangan, namun lain halnya dengan Pak Robert. Dirinya justru merenung dekat tempat kejadian.


"Jadi, pelakunya benar dirimu... Pak Robert?!" Tanya Detektif Henry, yang sudah dapat dipastikan bahwa dirinya pasrah terhadap keadaan.


"B-benar, akulah yang hampir membunuh Tuan Joe!" Pada akhirnya, Pak Robert mengakui bahwa dirinya adalah sang dalang dari semua ini.


"Edward, bisakah kau jelaskan trik apa yang digunakan Pak Robert!" Detektif Henry menyuruh diriku untuk menjelaskan apa yang terjadi menurut pandangan diriku.


"Baiklah... Pada pukul 16.00, Pak Robert masuk ke dalam ruangan Tuan Joe, kemudian memintanya agar menghilangkan semua utangnya, karena Pak Robert tidak dapat lagi melakukan semua itu. Dirinya sudah lelah untuk membayar hutang kepadanya. Namun, Tuan Joe menolaknya... Lalu, pada saat itu, dirinya melakukan sesuatu terhadap Tuan Joe, yakni memasukan kail pancing ke dalam lehernya, kemudian menyelotip mulutnya supaya tidak ada seorang pun yang datang. Namun, sayangnya... Sebelum Pak Robert selesai menyelotip mulut dari Tuan Joe, dirinya berteriak memanggil Pelayan Hosen... Mendengar hal tersebut, Pak Robert menjadi sangat panik, kemudian dia menuliskan sesuatu di sebuah kertas untuk menyuruh Pelayan Hosen membuatkan makanan... Nah, setelah semuanya selesai terurus. Dirinya melemparkan benang pancing dari jendela ke arah atas, tepatnya ke arah balkon... Namun, dirinya sedikit kesulitan untuk melakukan hal tersebut, maka dari itu, dibutuhkan sepuluh menit lebih untuk melakukannya..." Jelasku, kemudian diriku mengambil nafas dalam-dalam, karena kelelahan berbicara.


"Silakan dilanjutkan, Edward!" ucap Detektif Henry kepada diriku, yang penasaran apa yang terjadi selanjutnya.


"Kemudian, Pak Robert menaruh Tuan Joe yang sudah dibuat pingsan, di jendela kamarnya. Setelah itu, dirinya pergi dari kamar itu dan menuju ruang tamu... Kebetulan, Nyonya Laura sedang menerima telepon dari seseorang. Maka dari itu kau punya kesempatan untuk pergi ke atas balkon. Di sana, dirimu menarik benang yang kau lemparkan dari arah jendela tadi, ke arah pot bunga yang ada di atas, kemudian kau sangkutkan di gagang pintu masuk. Karena itu adalah pintu yang harus ditarik dari dalam, maka pada saat pintu di tarik, Tuan Joe akan terjatuh dari jendela kamarnya." Jelas diriku melanjutkan apa yang diriku ucapkan tadi.


"Oh begitu, pantas saja tadi pintunya terasa sangat berat ketika di tarik!" Kata Nyonya Laura yang tersadarkan akan sesuatu saat membuka pintunya.


"Hahaha! Benarkan apa yang kukatakan, Pak Robert!" Tanya diriku kepadanya untuk memastikan kebenarannya.


"B-benar sekali, sungguh sempurna sekali asumsi darimu!" Kata Pak Robert yang sudah tak ingin berbohong lagi.


Detektif Henry langsung mengeluarkan borgol dari dalam kantungnya, yang akan digunakan kepada Pak Robert. Dirinya memborgol tangannya sembari berkata, "Pak, jikalau kau tidak ingin berjuang, maka tidak perlu meminta sesuatu kepada seseorang!"


Namun, Pak Robert hanya menundukkan kepalanya kebawah sambil menahan tangisnya. Detektif Henry membawanya ke dalam mobil polisi, dan menyuruh sang polisi untuk membawanya ke kantor polisi, bersama beberapa polisi lainnya.


...[ REPORT QUEST ]...


...NAME : FARIS JOESTAR...


...GOLONGAN DARAH : AB...


...UMUR : 30 TAHUN...


...SENJATA PEMBUNUHAN : BENANG DAN KAIL PANCING...


...PEMBUNUH : ROBERT PANELSON...


...MOTIF PEMBUNUHAN : TERLILIT HUTANG...


...[ QUEST COMPLETED ]...


...[REWARD \= RANDOM SKILL SILVER+ LEVEL]...


"Akhirnya, selesai juga questnya. Saatnya untuk melihat hadiah apa yang akan kudapatkan ini!" Gumam diriku sambil menekan-nekan sistem tersebut.


...[ APAKAH ANDA YAKIN INGIN MELIHAT REWARD? ]...


...[ YES/NO ]...


"Tentu saja aku yakin!" Teriak diriku yang penasaran akan apa yang akan aku dapatkan.


Tiba-tiba, saat diriku menekan tombol 'Yes'. Detektif Henry datang kepada diriku, sambil berkata, "Sekarang kita harus menangani dia!"


"Siapa yang kau maksudkan, apakah itu-" Diriku yang belum menyelesaikan kata-kataku, tiba-tiba dipotong perkataannya oleh Detektif Henry.


"Benar, sepertinya yang kita lihat itu merupakan salah satu makhluk SAC!!" Kata Detektif Henry seolah-olah sudah mengetahui siapa kakek itu sebenarnya.


"T-Tidak mungkin!"


~ Bersambung ~