Mysterious System

Mysterious System
Kebenaran Sang Pelaku



"Benar, pembunuhannya adalah..."


Namun, seketika itu juga, suara telfon berbunyi dari dalam kantung seseorang. Lebih tepatnya, suara itu berasal dari luar ruangan ini.


"Halo, bagaimana pak kerja di sekolah ini?" Suara dari telfon itu menggema hingga ke seluruh aula ini.


"Ada sedikit keanehan pak di hari pertama saya! Saat aku masuk ke aula sebelum bel pulang berbunyi tadi, aku melihat jam dinding yang tergeletak di bawah, namun setelah aku pergi beberapa detik dari tempat itu, jam itu sudah terletak di tempat semula?!" Ucap petugas yang tadi bertemu denganku.


Setelah mendengar hal tersebut, terkejutlah diriku. Karena, apa yang dikatakan oleh petugas itu, langsung membekas di pikiranku, seolah-olah semua kejadian dan kronologi telah menjadi satu.


Sungguh meyakinkan, bahwa yang dia katakan merupakan kebenaran mutlak yang membawa arus menuju kebenaran yang sesungguhnya.


Mungkin pada saat ini, ketegangan mulai memuncak hingga kakiku tak dapat ku gerakan lagi. Mataku yang dipenuhi dengan rasa keingintahuan mulai bersinar dengan benderang.


Mulutku rasanya seperti ingin mengatakan sesuatu...


"Baiklah, sepertinya sekarang ini kau sudah mengetahui semua kronologinya bukan? Dengan mendengar hal tadi, tubuhmu seakan digetarkan oleh aura misteri yang begitu menyenangkan! Benarkah begitu, siapapun namamu?!" Dengan senyum tipisnya yang begitu mengerikan, ia menatap mataku dengan penuh hasrat yang kuat dalam memecahkan misteri ini.


"Benar sekali apa yang engkau ucapkan itu! Sekarang ini, aku sudah mengetahui siapa pelakunya dan bagaimana cara dia membunuhnya dengan senjata yang tidak ditemukan di tempat kejadian!" Gumam diriku sambil berjalan perlahan-lahan ke arah detektif itu.


Setelah berada tepat di depannya, kira-kira hanya beberapa centimeter jauhnya. Diriku mengatakan apa kronologi yang sesungguhnya.


Walaupun kronologi tersebut sudah tertera di sebuah sistem berbentuk kartu yang berada di depanku ini. Namun, aku akan menjelaskannya dengan lebih rinci lagi dari rangkaian kata-kata dan kalimat yang berada di sistem tersebut.


"Oke, aku mulai sekarang juga untuk menjelaskan kronologi kejadian ini! Pertama-tama, sang pelaku datang dengan sang korban ke aula ini pada saat bel pulang berbunyi. Mereka berdua melihat jam dinding yang tergeletak di tempat itu. Awalnya mereka hanya ingin mengembalikan jam tersebut ke dinding yang berada di atas pintu masuk. Namun, pada saat itu tepat pada saat aku berjalan dari ruang kelas menuju ke aula, terjadilah pembunuhan itu!" Jelas diriku sambil berjalan kesana-kemari.


"Jadi maksudmu, pembunuhannya menggunakan jam dinding untuk membunuhnya? Bukankah itu hal yang sedikit mustahil untuk dilakukan? Karena yang kita tahu, jam adalah benda yang tidak tajam, jadi akan sulit membunuh sang korban dalam waktu dekat!" Polisi Counly meragukan pendapatku karena ia menganggap bahwa jam dinding tak kan dapat membunuh seseorang dalam waktu sekejap.


"Apakah aku mengatakan bahwa senjatanya hanya jam dinding saja?" Dengan melontarkan pertanyaan itu, siapapun pasti akan menyadari sesuatu yang janggal.


Ada tiga benda tajam yang berada di dalam jam dinding tersebut...


Apakah itu?


Benar, itulah jarum jam!


"Oh, sekarang aku mengerti! Jadi, senjata sang pembunuh adalah salah satu jarum jam yang berada di jam dinding itu! Pantas saja, ada beberapa bercak darah yang menempel pada salah satu jarum jam itu!" Kata Polisi Counly dengan nada sedang sambil mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah jam dinding tersebut.


Kemudian terdengar sorak-sorai orang ramai yang menghitung secara berjamaah, "5... 4... 3... 2... 1... dan...!!"


Pada saat itulah, kebenaran dari perkataan ku telah terbukti dengan jelas, bahkan dengan tepat sekali.


Pada jam inilah seharusnya akan terlihat darah yang menggumpal pada satu tempat!


Karena, pada awalnya sang pelaku lupa pada saat pembunuhan itu sedang menunjukkan pukul berapa.


Maka dari itu, kelemahan sang pelaku pada akhirnya terlihat dengan jelas, seperti mentari yang baru saja terbit dari kegelapan malam yang tak berujung.


"Bagaimana kau bisa mengetahui hal ini?" Polisi Counly bertanya akan kejeniusan diriku dalam menghadapi situasi ini.


"Sebenarnya mudah saja, karena aku sudah beberapa tahun bersekolah di tempat ini, maka aku paham kapan jam pulang yang sesungguhnya terjadi. Begitu pula dengan sang pelaku yang lupa akan hal tersebut!" Ucapku dengan kata-kata yang sepertinya membuat orang-orang awam bingung.


"Apa maksudnya itu? Memang, kapan jam pulang sesungguhnya terjadi? Bukankah kalian pulang seperti biasa hari ini?" Polisi Counly bertanya lagi akan apa yang aku katakan ini, mungkin apa yang kukatakan masih kurang jelas untuk dipahami.


"Seharusnya kita pulang pada pukul 15.30 setiap hari senin sampai dengan kamis, dan pulang pukul 13.00 setiap hari jumat. Dan sekarang ini, pada hari jumat tanggal 14 Agustus 2025, pramuka ditiadakan untuk sementara. Maka dari itu, pelakunya salah mengira bahwa hari ini adalah hari kamis karena tidak ada kegiatan pramuka. Karena sedang terburu-buru, sang pelaku langsung menaruh jarum jam di jam 15.30. Setelah itu, lari meninggalkan tempat kejadian! Dan pada saat itu, aku baru saja sampai di depan ruang musik dan melihat sang pelaku sedang melarikan diri serta menjauh dari aula itu!" Diriku menjelaskan dengan panjang lebar ke Polisi Counly supaya dirinya bisa memahami kata-kata diriku yang sungguh rumit untuk dipahami.


"Begitu ya, lalu bagaimana cara sang pelaku mengganti jamnya ke jam semula? Kau barusan lihat bukan, jam nya masih berada di bawah 15.30?" Polisi Counly hanya dapat bertanya, tak dapat menalar. Sialan, diriku sudah lelah untuk menjelaskan! Namun, karena dirinya adalah seorang polisi, maka aku harus selalu hormat kepadanya.


"Saat diriku sedang pergi dengan seseorang untuk mencari pelaku, dirinya langsung pergi ke aula untuk memperbaiki jam dinding tersebut. Pada saat itu, bapak yang membersihkan sekolah ini berada di sekitar aula itu, yang menyebabkan sang pelaku panik. Sehingga kacamatanya terlepas menuju ke ujung ruangan. Pada saat itu, ia berpura-pura berjalan kesana-kemari karena melihat diriku sedang berjalan ke arah aula ini." Jelas diriku lagi kepadanya, semoga tidak ada pertanyaan lagi yang membebani pikiranku.


"Lalu, bagaimana kau mencari siapa pelaku yang sebenarnya?" Tanah Polisi Counly dengan nada yang membuatku sungguh kesal dan geram kepadanya.


"Kita hanya perlu melihat sepatunya!" Detektif Henry menyatu dari tempat duduknya.


"Sepatu?"


"Benar, karena pelakunya adalah seseorang di antara kedua orang yang berada di sana itu! Kalau begitu kau bocah, cepat sebutkan siapa pelakunya!" Kata Detektif Henry sambil menunjuk ke arah Sena dan Fajar.


"Pelakunya adalah kau, Fajar!"


~ Bersambung ~