
"Sepertinya kau menarik juga ya, bocah sialan!"
"Apa maksud dari perkataan engkau? Apa yang menarik dari diriku yang lemah ini?" tanya diriku yang mencoba untuk mencari dimana letak 'menarik' dalam diriku ini.
"Hahaha! Tidak apa-apa, hanya saja aura yang kau pancarkan itu, sungguh tak dapat dibayangkan oleh manusia normal. Aura yang berbeda dari kebanyakan orang lain. Dan, baru pertama kali aku melihat yang seperti ini." Kata-kata yang baru saja dia ucapkan, sungguh tak dapat kucerna dengan baik. Seperti kiasan-kiasan aneh yang masih belum kupahami dengan jelas.
"Aura? Apa maksud dari kata 'Aura' yang bapak jelaskan ini? Apa seperti yang di film-film itu, cahaya yang dipancarkan dari diri seseorang?" Diriku menanyakan hal tersebut, untuk mengetahui apa yang sebenarnya dia katakan itu.
"Kau tahu, setiap orang memiliki aura yang berbeda-beda dalam dirinya. Aura tersebut adalah pondasi dasar dari setiap makhluk di dunia ini. Baik kita sebagai manusia, hewan, maupun tumbuhan-tumbuhan yang merupakan makhluk hidup juga. Bisa dikatakan, aura tersebut adalah pondasi manusia agar dapat hidup!" jelas dirinya sambil menuliskannya di papan tulis yang tersedia di depan kelas.
Semua yang dikatakan olehnya, membuat kepalaku pusing saja. Diriku masih tidak dapat mencerna dengan jelas, apa yang ia ucapkan barusan. Walupun, ada beberapa hal yang sudah tergantung di dalam pikiranku. "Coba jelaskan tentang hal ini lebih lanjut, pak!"
"Kalau begitu, akan ku jelaskan... Begini, jika seseorang sudah mati, apakah mereka sudah benar-benar mati?" Bapak itu melontarkan pertanyaan yang sedikit sulit untuk dijawab hanya dengan menggenakan logika.
"Emm... mungkin belum, karena jiwa mereka masih ada?" jawab salah satu murid terpintar di kelas. Dirinya selalu mendapat peringkat satu dalam pelajaran manapun.
Namanya adalah, Ginko Roswald. Seseorang dari kalangan orang kaya yang memiliki harta melimpah. Turun demi temurun, hartanya tak akan pernah habis. Seolah-olah takdir miskin di dalam keluarganya, seperti dibantah oleh keluarga itu sendiri.
"Jiwa? Kau benar sekali! Namun, apakah kau tahu, 'Jiwa' merupakan keberadaan dari suatu makhluk hidup itu sendiri. Kau memang benar, jiwa akan membuat manusia tetap hidup. Tetapi, element yang mendasari jiwa tersebut adalah sebuah pancaran dari jiwa itu. Yang kita sebut sebagai, 'Aura'!" Setelah guru itu menjelaskan dengan panjang lebar, akhirnya aku mengerti tentang apa yang dikatakannya itu. Semua yang dikatakan guru itu, masuk secara ajaib ke dalam pikiranku. Dan kali ini, diriku dapat mencernanya dengan baik.
"Oo... begitu ya? Lalu, apa yang membedakan auraku dengan aura yang lain? Apakah aura yang kupancarkan adalah aura orang-orang gagal?" ucap diriku sambil perlahan berjalan kembali ke tempat duduk.
"Kau penasaran? Suatu hari kau akan mengetahuinya... Baik, sekarang mari kita buka buku pelajaran kita halaman 72. Kita akan mempelajari sub bab yang baru!" teriak guru itu untuk mengganti topik pembicaraan. Diriku masih belum mengetahui jawaban dari pertanyaanku, sehingga membuatku penasaran akan hal tersebut.
Namun, apa boleh buat... Sepertinya hanya orang khusus saja yang dapat melihat aura dari seseorang. Sekarang, diriku akan mengikuti pelajaran yang akan guru itu berikan terlebih dahulu, dan suatu saat nanti aku akan bertanya kepadanya.
Oh iya, diriku belum memperkenalkan nama dari guru itu. Namanya adalah, Arnold Vandoran. Guru yang dikabarkan adalah mantan dari pasukan Intel khusus nasional. Karena terjadi sesuatu dalam pekerjaannya, dirinya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan intelnya dan beralih menjadi seorang guru di sekolahan kami.
Jam pelajaran berlangsung cukup lama...
Kemudian, bel pun berbunyi dengan kencang sebanyak tiga kali...
Itu adalah pertanda bahwa waktu pulang sudah tiba. Dengan mendengar lonceng tersebut, itu artinya sekolah telah usai. Para murid sungguh senang karena hal tersebut.
Steven datang kepadaku, kemudian dirinya bertanya, "Hei Edward, pulang sekolah nanti kau ingin pergi ke mana? Apakah ada kegiatan atau kesibukan tertentu?"
"Oh, aku ingin pergi ke salah satu kantor tempat tinggal detektif, karena ada yang ingin kutanyakan di sana." Balas diriku dengan nada gembira dan senang karena tidak sabar bertemu dengan Detektif Henry.
"Begitu ya, padahal aku ingin mengajakmu makan bersama di 'Chicken Food'. Tapi tidak apa-apa, aku akan pergi sendiri saja!" Steven mengatakan hal tersebut dengan wajah masam dan sedih. Namun, dirinya memaksakan untuk membiarkan diriku pergi ke tempat Detektif Henry.
"Apakah kau yakin ingin pergi sendiri? Bukankah itu terlalu menyedihkan untuk dilakukan? Lebih baik kau ajak beberapa orang untuk ikut." Diriku memberi saran yang lumayan bagus untuk diikuti. Karena dari apa yang diriku tahu, dirinya juga memiliki seorang teman selain diriku.
Namun, diriku curiga dengan orang-orang tersebut. Tetapi, karena Steven sudah berkata 'jangan khawatir' maka diriku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.
Dan sekarang saatnya, untuk pergi ke tempatnya...!!
Perlahan-lahan diriku berjalan ke arah timur dari sekolahku. Dimulai dengan kaki kanan, kemudian kaki kiri, begitupun seterusnya.
Selama diperjalanan, diriku hanya memandangi orang-orang yang lalu lalang di sekitar tempat itu. Dengan beberapa suara dari kendaraan yang mengganggu telingaku.
Hingga pada akhirnya, diriku sampai di tempat tinggal Detektif Henry. Di pintunya, tertulis kata-kata 'Open'. Sehingga, sudah dapat dipastikan bahwa tempatnya sedang buka.
Langkah demi langkah ku ambil untuk memasuki kantor tersebut.
"Dag-dig-dug..." Mulai terdengar dari jantungku yang merasa tak nyaman dengan tempat ini.
Saat sedang berjalan, seorang laki-laki yang menggenakan jaket hitam hingga menutupi wajahnya, lewat disampingku. Diriku merasa ada yang aneh dengan orang itu. Orang itu baru saja keluar dari kantor ini, itu berarti ada suatu hubungan antara dirinya dengan Detektif Henry.
Tanpa berpikir apapun lagi, diriku membuka pintu masuk dan berjalan menuju meja yang berada beberapa centimeter jauhnya.
Di sana, terdapat seorang perempuan muda kira-kira sama umurnya denganku. Menggenakan pakaian 'Blus Ruffles' berwarna pink dengan rambut yang dikuncir dua, tepatnya di sebelah kanan dan kiri.
"Emm... siapa kau?" tanya gadis itu kepadaku. Sungguh, dia adalah gadis yang manis, aku tak dapat menyangkalnya.
"Aku datang untuk bertemu dengan Detektif Henry." Balasku dengan tenang dan santai, juga mencoba untuk terlihat keren.
"Oh, dia sedang keluar sebentar. Kau tunggu saja di sofa." Sambil tangan kanannya menunjuk ke arah sofa, dirinya berkata demikian.
"Baiklah..."
Diriku berjalan ke arah sofa yang telah di sediakan di tempat ini, kemudian duduk di sofa tersebut sambil membaca koran yang telah di sediakan.
"Hei, kau!" Panggi gadis itu kembali, sambil menyuguhkan teh kepadaku. Entah kenapa, tiba-tiba saja pakaiannya berganti menjadi pakaian pelayan.
"Emm... iya ada apa?" tanya diriku yang terkejut setelah melihatnya mengenakan pakaian pelayan.
"Apakah kau ingin bergabung dengan kami?" Gadis itu mengatakan hal tersebut dengan wajah serius dan tatapan mata yang langsung menembus ke jantung.
"Bergabung?"
~ Bersambung ~