My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
9. Insiden



"Rin, kamu yakin baik-baik saja? Kenapa kamu berjalan pincang seperti itu? Habis jatuh?" tanya Naufal, berjalan mengikutinya dari samping.


"Iya, padi pagi tidak sengaja terkilir di tangga. Tapi enggak papa kok, aku masih bisa jalan," sahut Rinna, mengulas senyuman ramah.


Tapi tetap saja, tampaknya Naufal masih terus mengkhawatirkannya, sambil menatap dirinya dengan tatapan cemas.


"Sungguh, aku-"


"Maaf permisi, apa kamu yang namanya Rinna dari kelas 1-II?" tanya seorang, petugas polisi perempuan, menghentikan langkah mereka berdua saat keduanya ingin masuk ke dalam gedung belajar.


Rinna yang mendapat teguran itu, langsung mengangguk dan menatap petugas polisi itu dengan tatapan bingung. "Kenapa ya? Setahu saya, saya tidak terlibat tentang insiden kemarin, jadi ada perlu apa Anda dengan saya, Bu?" tanyanya, dengan sopan.


"Tidak, saya hanya ingin mendengar keterangan dari kamu. Bisa ikut dulu ke mobil sebentar? Aku akan menjelaskannya di dalam sana, di sehat selalu banyak orang, kan? Rasanya tidak terlalu nyaman untuk berbicara di sini," ucap petugas polisi perempuan itu, mengajaknya masuk mobil.


Rinna menatap Naufal sejenak, seakan bimbang harus menjawab apa tentang pertanyaan itu.


"Ikutlah, sekecil pun kesaksian dari kita sangat berarti untuk mereka. Siapa tahu kamu bisa sedikit membantu, kan?" ucap Naufal, memberinya saran.


Rinna menghela napas panjang dan segera mengikuti langkah petugas perempuan itu, keluar kembali dari arena sekolah dan masuk ke dalam mobil polisi, yang diparkir di dekat pos satpam.


Naufal juga mengikuti keduanya, tapi dia hanya duduk di pos satpam sambil menunggu Rinna menyelesaikan urusannya di sana.


Tapi belum sampai 10 menit Rinna masuk ke dalam mobil itu, tiba-tiba saja mobilnya sudah berjalan dan membuat Naufal mengerutkan keningnya dalam.


"Lah? Kok mereka malah pergi?" cetus Naufal, kebingungan.


Lantas kedua matanya melihat sosok Rinna yang terperangkap di dalam sana, dengan dua orang yang berusaha membekap mulutnya, dan membuatnya pingsan.


Naufal yang melihat itu segera berlari keluar pos satpam, menghentikan seorang siswa yang melintas dengan sepedanya.


"Pinjamkan aku sepedamu. Aku akan membayar menanti! Aku harus segera mengejar mobil itu!" ucap Naufal, dengan suara lantang dan panik.


Sampai membuat si pemilik sepeda menyerahkan sepedanya kepada Naufal tanpa banyak pertimbangan.


Faiz dan Azmar, kedua anak panti asuhan Bintang, yang tahu kelakuan Naufal, adik mereka. Langsung mengejarnya tanpa banyak bicara.


Seperti biasa, mereka selalu menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah. Alih-alih naik bus, mereka lebih suka berolahraga dengan bersepeda saat pergi ke sekolah.


"Fal, kenapa kamu buru-buru? Kamu mengejar apa?!" tanya Azmar, berhasil menyamai lagu kecepatan sepeda Naufal.


"Rinna dibawa pergi mobil polisi yang ada di depan sana! Kita harus mengejarnya, aku merasakan firasat buruk!" ucap Naufal, sambil berteriak.


"Apa? Kamu pikir para polisi itu menculik adik kita?!" teriak Faiz, dengan kedua mata yang sudah berkobar oleh api amarah.


Lantas setelah mengucapkan itu, Faiz semakin mempercepat kayuh sepedanya, sampai dia bisa menyamai laju kecepatan mobil polisi itu.


"Rinna!! Kamu dengar aku?!" teriak Faiz, membuat gadis yang dia panggil langsung menggebrak kaca jendela mobil itu.


Kedua mata Faiz berkilat marah, melihat ekspresi wajah Rinna yang buruk dengan air mata yang membasahi pipinya, cukup membuat amarah Faiz memuncak seketika.


Tapi para orang yang menyamar sebagai anggota kepolisian itu, tidak mendengar perkataannya dan terus berusaha untuk mengikat tubuh Rinna dan membekap mulutnya dengan kain, agar tidak menimbulkan suara.


Tapi yang aneh dari kejadian itu, saat mobil melaju semakin kencang, ketika sepeda Faiz sudah tidak dapat menyusul kecepatan mobilnya, tiba-tiba seorang anak lelaki yang duduk di kursi roda, mendadak hadir ditengah-tengah jalan raya.


Sang pengemudi mobil polisi itu, membanting setir dan membuat mobil mereka oleng ke samping.


Sementara Rinna yang melihat siapa lelaki, yang menghalangi jalan mereka dan membuat mobil mereka kecelakaan, hanya bisa diam dengan air mata yang semakin deras keluarnya.


"Aku yakin, tadi aku melihat Kak Arta! Tapi di mana dia sekarang?!" batin Rinna, menatap ke arah belakang saat mobil yang dia tumpang terseret ke tepi jalan oleh sebuah truk pasir.


Brak!


Kecelakaan besar terjadi, mobil polisi yang di tumpangi Rinna, truk pasir yang menabrak mobil mereka, serta seorang pengendara motor terjun begitu saja ke jurang tempat pembangunan sungai.


Ketiga kendaraan itu terperosok masuk ke dalamnya, menewaskan beberapa orang di dalam mobil Rinna.


Tapi tidak dengan Rinna yang selamat dan langsung berusaha keluar dari sana, tidak peduli dengan kaki dan tangannya yang sudah berdarah-darah.


Faiz, Azmar dan Naufal segera terjun turun ke tempat kejadian, membantu Rinna yang melarikan diri dari kejaran salah seorang yang berusaha menculiknya.


"Hei! Kau sudah gila? Kenapa petugas keamanan malah membuat onar di jalan raya?!" teriak pengemudi truk pasir itu, berjalan keluar dengan berjalan pincang menghampiri orang yang tengah mengejar Rinna.


Begitu juga dengan pengendara motor yang sempat terseret oleh mereka. Walaupun tidak terluka parah, tapi bagian pelipis pemuda berusia 22 tahun itu berdarah cukup parah.


Pengemudi motor melepaskan helmnya, membawa benda itu mendekat ke arah anggota penculik Rinna dan melemparkan benda itu, nyaris mengenainya.


"Yang benar saja! Kalau tidak bisa menyetir tidak usah menyetir. Memang kau ini jalan milik nenek moyangmu?! Pikirkan pengendara lain, kenapa egois sekali! Kita semua membayar pajak jalan sama rata, bodoh!" pekik pengendara motor itu, tampak marah.


Sementara tiga orang itu ribut, empat orang remaja termasuk Rinna, mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri dari tempat tersebut.


"Kau baik-baik saja?" tanya seorang ibu-ibu, saat mereka berhasil keluar dari wilayah pembangunan sungai.


"Kami baik-baik saja, Bu. Tidak perlu cemas," jawab Rinna, dengan memegangi lengan kirinya yang berdarah.


"Haduh, mereka ini ada-ada saja. Padahal dia itu polisi, tapi kenapa punya tabiat yang buruk dalam mengemudi?! Haih, orang-orang jaman sekarang memang sudah gila!" celetuk ibu-ibu itu, sambil menggelengkan kepalanya ampun.


"Mereka bukan bagian pihak berwajib, Bu. Mereka hanya segerombolan penculik yang menyamar sebagai anggota kepolisian. Tolong jangan salah paham, tidak mungkin para polisi melakukan hal sembrono seperti ini, kan?!" celetuk Rinna, tampak tegas dan membuat ibu itu, dia mendengarkannya dengan baik.


"Jadi itu hanya parah penculik? Tapi kau keluar dari mobil itu, kan? Jadi kamu ingin diculik mereka??" tanya ibu itu, dengan intonasi bicara yang heboh dan membuat beberapa orang berkerumun di sekitar mereka.


"Aku akan segera panggil polisi dan ambulance untukmu. Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya seorang pria paruh baya, sambil melakukan panggilan pada pihak berwajib.


"Tidak apa, Pak. Hanya luka sedikit, terima kasih atas bantuannya," ucap Rinna, memilih duduk di tepi trotoar karena banyak orang yang mulai berkerumun di sekitar dirinya dan mengajukan banyak bertanyaan.


Ya, tidak ada ruginya juga Rinna melakukan hal itu. Semakin banyak orang yang tahu kejadian ini, maka semakin banyak pula seksi kejadiannya. Jadi para pelaku bisa di hukum dengan layak atas kesehatannya.


Tapi mungkin Rinna telah melupakan satu hal penting untuk sekarang. Dan itu akan memancingnya masuk ke dalam masalah yang lebih besar.