
"Selamat datang kembali, Rinna. Aku kira kedua orang tuamu memindahkan mau ke sekolah yang baru. Tempat kakak keduamu bersekolah," celetuk Ningsih, duduk di depan bangku Rinna.
Rinna mengulas senyuman masam, dia tidak bisa memberitahu Ningsih tentang siapa kakak keduanya itu. Karena jika gadis itu tahu, dia pasti akan langsung pingsan.
"Ya, seperti itulah. Aku cukup bersyukur karena mereka menghargai kenyamananku," jawab Rinna, memberi tahu satu fakta yang cukup mengejutkan.
Ya, walaupun kedua orang tuanya cukup memiliki sikap yang menjanggal, tapi tidak bisa dipungkiri jika mereka berdua selalu memberikan yang terbaik untuk pendidikan dan kebutuhan Rinna.
Rinna menghela napas, menunjukkan wajah masamnya dengan baik, dan berkata, "Semoga saja aku tidak stres karena memiliki kakak yang usil seperti dia. Aku sudah pernah cerita di chat kita, kan? Kakak keduaku itu benar-benar orang yang sangat menyebalkan. Sangat berbeda dengan kakak pertamaku yang sabar dan baik hati. Hem, tapi sayang aku jarang bertemu dengannya."
Ningsih ikut sedih, dia mengerucutkan bibirnya, cemberut. "Hah, memang sejak kapan halo baik selalu kita jumpai setiap hari? Jangan aneh-aneh deh, Rin."
Rinna hanya mendengus dan melihat seorang lelaki yang masuk ke dalam kelasnya, dengan mata yang sudah bengkak, seperti bekas pukulan.
Ningsih dan Rinna yang melihat teman mereka, teman satu panti mereka, yang lagi-lagi mendapatkan luka dari perlakuan buruk teman mainnya, langsung terdiri dari tempatnya dan menghampiri lelaki itu.
"Astaga, hari ini apa yang kamu permasalahkan dengan mereka? Aku heran karena kamu sering sekali dipukuli mereka, tapi tetap masih mau main dengan mereka. Aku jadi tidak bisa menyalahkan mereka, karena kamu juga menginginkannya!" sindir Ningsih, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Afi, lelaki yang tengah mendapatkan sikap julid dari Ningsih itu, hanya menghela napas panjang dan kasar sambil beranjak duduk di bangkunya.
"Sudah berapa kali aku harus menjelaskannya padamu? Aku tidak mau main dengan mereka, tapi mereka yang mau main denganku! Baru datang ke sekolah saja sudah diseret ikut mereka ke belakang sekolah. Andai saja tubuhku sekuat kalian berdua, mungkin aku juga akan ikut kelas karate dan membela diriku sendiri!" celetuk Afi, sambil menyiapkan buku mapel pelajaran pertama.
Rinna dan Ningsih hanya bisa tersenyum masam dan meninggalkan bangkunya, untuk duduk di tempat mereka masing-masing karena guru mapel pelajaran pertama sudah datang.
Pelajaran dimulai seperti biasa, dengan tenang dan tenteram bagi kedua gadis itu, sampai akhirnya jam istirahat datang.
Disanalah sebuah keributan besar berawal. Tari, seorang adik kelas yang tiba-tiba berlari keluar dari kamar mandi dengan berteriak sangat lantang, di koridor kelas.
Beberapa anak yang hendak keluar dari kelas, untuk melaksanakan istirahat ketiga, karena sekolah mereka memiliki jam belajar yang cukup panjang. Jadi istirahat di sekolah itu ada tiga waktu.
"Aaaahhkkk ...."
Tari berteriak dengan histeris, wajahnya yang ketakutan dan air matanya yang tidak bisa berbohong karena hal menyeramkan yang dia lihat, membuat beberapa anak yang menyaksikan kejadian itu, mengerutkan keningnya dalam. Dan dua anak di antaranya adalah Ningsih dan Rinna.
"Apa-apaan itu? Jangan lari-lari di koridor!" tegur anak kesiswaan, yang bertugas untuk mendisiplinkan para siswa, sambil menggerutu kesal.
Tapi teriakannya tidak didengar Tari, karena gadis berusia 15 tahun itu sudah keburu masuk ke dalam kelasnya dan menghilang dari pengawasan mata sang anggota kesiswaan.
Rinna bergumam dengan suara lirih. "Hah, sebenarnya kenapa dia lari-lari kayak gitu? Memang ada apa di kamar mandi?"
"Ada apa di kamar mandi? Kalau penasaran, sebaiknya kita lihat sendiri. Kamu mau melihatnya, Rin?" tanya Ningsih, dengan kedua mata yang sudah berkilau dengan rasa penasaran.
Yang penasaran dengan alasan adik kelas mereka bertindak seperti, tampaknya bukan hanya mereka berdua. Tapi banyak anak yang sudah berkerumun di depan kamar mandi dengan ekspresi wajah kaku, seakan takut dan terkejut.
Rinna dan Ningsih segera melihat alasan tatapan tersebut muncul, dan siapa sangka jika pemandangan yang ada di dalam sana benar-benar mengerikan.
Dua orang siswi telah tewas. Entah sejak kapan dua korban itu ada di dalam sana. Yang jelas, satu siswi tergantung di tengah-tengah kamar mandi. Sementara siswi yang satu lagi, duduk di atas wastafel dengan tubuh yang bersimbah darah. Bahkan wajahnya juga sangat mengerikan, karena mendapatkan beberapa luka sayatan.
"Bukankah sebaiknya kita panggil guru dan polisi untuk menangani masalah ini?" celetuk salah satu, anak di antara kerumunan mereka.
Tiga orang siswa lelaki, yang sempat bekerumunan dengan mereka, langsung mengambil sikap sigap dengan pergi ke ruang guru bersama-sama.
Sementara dua sisi perempuan, berusaha menyampaikan laporan ini pada pihak kepolisian dan rumah sakit.
"A-ah ... sepertinya yang satunya masih hidup!" celetuk anak yang berdiri di barisan paling depan, tempat di ambang pintu masuk kamar mandi.
Rinna yang notabenya sering melihat kejadian seperti, sejak masuk ke dalam rumah keluarga barunya, langsung sikap masuk ke dalam sana di tengah-tengah ketakutan teman-temannya yang lain.
"Kamu baik-baik saja?!" seru Rinna, membuat kedua tangannya menjadi sanggahan kaki, agar perempuan yang dalam kondisi tergantung itu bisa menapakkan kakinya.
"Bi-bisa hantu aku turun? Leher aku sangat susah dan sakit. Seseorang sudah menyayatnya tadi!' ucap gadis itu, dengan suara gemetar dan air mata yang terus turun dari matanya.
Rinna mendongak, menatap tetesan darah yang terus mengalir dari leher gadis itu dan membasahi kerah pakaiannya.
"Ce-cepat ambilkan bangku atau meja yang disusun! Asalkan bisa dibuat untuk dia menapak!" seru Rinna, dengan suara yang sangat gampang sampai membuat beberapa anak yang ada di kerumunan itu terkejut dengan suaranya.
Atha yang selesai pulang dari kantin, dengan membawa makan siangnya, langsung menoleh ke arah keributan anak kelas 1 yang ada di lantai dua.
"Kenapa tuh?" celetuk Tony, teman sekolah Atha, yang melihat kerumunan itu saat mereka hendak menaiki tangga agar sampai di lantai 3, tempat kelas mereka berada.
"Kalau aku tahu, kenapa juga aku penasaran sampai menoleh ke sana?" sahut Atha, dengan nada sinis sambil berjalan ke arah kerumunan tersebut.
Dua anak lelaki segera berlari keluar dari kerumunan itu, masuk ke dalam kelas yang berada paling dekat dengan kamar mandi, mengambil satu meja dan satu kursi untuk disusul sebagai alat menapakkan kaki si korban.
Sesuai arahan Rinna, teman-temannya bergerak dengan sigap untuk membantunya menurunkan si korban. Yang masih tertolong nyawanya.
Mungkin karena terlalu panik, Rinna sampai tidak menyadari tangannya yang terkenal tetesan darah, dari sepatu si korban hingga membuat seragam putihnya ikut tercemar noda merah pekat itu.
Atha membulatkan mata, menyelak kerumunan itu dengan segera sampai akhirnya dia sampai di depan ambang pintu kamar mandi, melihat tampang adiknya yang dekil karena keringatnya yang bercucuran.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Atha, dengan tatapan murka.