
Keesokan paginya ....
Benar saja apa dugaan Rinna semalam, begitu dia bangun dari tidurnya, banyak orang yang sudah menangis dengan mengenakan pakaian hitam. Termasuk dengan tiga orang lelaki yang dia lihat terakhir kali.
Rinna yang baru keluar dari kamar tidur dengan piamanya, langsung disambut beberapa orang pelayan perempuan dan diminta kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Nona Muda, tolong ganti pakaian Anda dengan pakaian ini," ucap seorang pelayan perempuan memberikan pakaian serba hitam dengan ukuran tubuh Rinna.
Rinna yang mendengar itu hanya diam dan menerima benda tersebut. Dibalik tiga orang pelayan perempuan yang ada di dalam, Rinna kembali melihat sosok Daniela yang berdiri di belakang mereka.
Wanita cantik bergaul merah itu tersenyum, akan menertawakan keadaan di rumah ini.
Rinna juga merasa konyol sebenarnya, tapi bukti yang sudah berhasil dikumpulkan sudah cukup untuk menutup hari, tinggal di rumah terkutuk ini.
"Sebaiknya kamu segera mengusir para pelayanmu, Rinna. Aku yakin kamu lebih ingin tertawa daripada menangis, kan?" celetuk Daniela, seakan tahu apa yang dirasakan Rinna dengan benar.
Sesuai permintaan Daniela, Rinna mengusir tiga orang pelayan di dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam, agar tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba dan melihat apa yang dia lakukan di sana.
Rinna tersenyum konyol, mengolah senyuman yang membuat Daniela tertawa terbahak-bahak sampai gigi gerahamnya terlihat.
"Ma, aku tahu kamu sangat cantik. Tapi jika kamu tertawa seperti itu, aku rasa kamu akan tetap jelek!" celetuk Rinna, membuat wanita itu diam dengan kedua bibir yang sudah tertutup rapat.
"Nah, aku lebih suka melihat Anda yang diam seperti itu," ucap Rinna, kembali, sambil berjalan mendekati sebuah laci yang ada di dekat pintu kamarnya.
Dia mengambil sebuah laptop dan flashdisk dari dalam sana, memasukkan dua benda itu pada tas sekolahnya dan membuka jendela kamar yang masih tertutup rapat.
Awal mulanya Rinna membuka tirai berwarna putih tipis yang menutupi kaca jendela, sebelum akhirnya dia membuka dua katup jendela untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.
Nyatanya sepi, tidak ada seorang pun yang berlalu lalang di sekitar kamarnya. Mungkin karena kamar Rinna tembus ke bagian belakang taman, dan acara pemakaman terjadi di bagian depan rumahnya. Pada halaman luas di altar pertama.
Rinna menghela napas lega dan menatap Daniela yang tampak siap membantunya kabur.
"Ingatlah, kamu juga mewarisi sebagian kekuatan kami. Kamu bisa melakukan teleportasi sesukamu. Tidak perlu capek-capek kabur, kan? Walaupun terwujud manusia, tapi kamu bukan sepenuhnya manusia. Tidak perlu berlaku seperti mereka sepanjang hari, kan?" celetuk Daniela, memberikan saran yang masuk akal padanya.
Rinna menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dan menatap ke arah pintu tepat saat seseorang mengetiknya dari luar.
Tok ... tok ....
"Kamu belum selesai bersiap-siap? Banyak tamu yang datang untuk mengenang Mama, jika sudah selesai berganti pakaian. Keluarlah dan bantu kami untuk menyajikan makanan. Kamu baik-baik saja di dalam sana? Kenapa meminta para pelayan keluar dan tidak membiarkan mereka membantumu?" ucap Atha, dengan suara beratnya yang terdengar sedikit lebih sumbang.
"Ya, aku akan segera keluar setelah selesai mengganti pakaian, Kak. Lima menit lagi aku akan turun!" ucap Rinna, bergegas mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang diberikan para pelayan.
"Kamu akan pergi ke sana? Kenapa tidak langsung melarikan diri sekarang? Takut ketahuan mereka??" tanya Daniela, menatap putrinya yang sibuk mengganti pakaian dan memoleskan sedikit bedak di wajah cantiknya.
"Ya, setidaknya aku harus hadir, kan? Bagaimanapun juga dia adalah wanita yang pernah memberikan aku beberapa perawatan sekolah dan memilihkan aku beberapa pasang pakaian yang cocok untuk digunakan!" jelas Rinna, membuat wanita bergaun merah itu mengangguk dan kepalanya mengerti dan berjalan pergi menembus pintu.
"Kalau begitu aku akan menunggumu di luar. Aku ingin melihat suasana konyol di luar sana! Sepertinya seru untuk bahan cemoohan saat kita kembali ke kastel nanti. Bagaimanapun juga, aku tetap ingin menceritakan kepada suami dan putra sulungku, tentang betapa konyolnya keluarga ini," celetuk Daniela, benar-benar menembus pintu dan meninggalkan Rinna.
Tak lama kemudian Rinna keluar dari dalam kamarnya dan melihat orang-orang yang sedang menangis tersedu-sedu di hadapan foto Maya, yang dipajang dengan tumpukan bunga Lily putih di sebuah meja yang ada di ruang tamu.
Rinna turun dengan ekspresi wajah sedih, dia berjalan mendekati peti mati Maya dan meletakkan satu batang bunga Lily di kedua tangannya yang sudah bersedekah di atas dada.
Cling!
Sebuah sinar berwarna putih muncul sejenak di bunga lily yang baru saja diletakkan oleh Rinna dia pasangan Maya.
"Setidaknya, hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu, Ma. Maaf tidak bisa menolongku dari lingkaran takdir!" celetuk Rinna, sambil berbisik di dekat telinga Maya.
Setelah Rinna mengucapkan hal seperti itu, tiba-tiba saja tubuh Maya terlihat bergetar sebentar sebelum kembali tenang. Tapi dari dua kejadian itu tidak ada seorang pun yang melihatnya.
"Kamu sudah selesai berpamitan dengan Mama? Sebentar lagi ambulance datang dan kita harus memindahkannya ke tanah kubur. Kamu baik-baik saja?" tanya Arta, menunjukkan ekspresi wajah sedih.
Padahal jelas-jelas tadi malam Rinna melihat ekspresi wajah Arta yang sangat membara ketika mencoba membantu Ayahnya, untuk melenyapkan Ibu mereka.
Rinna menggelengkan kepalanya lemah, memulai akting profesionalnya dengan sangat mulus, sampai tidak seorang pun di antara mereka yang mencurigainya.
"Tenanglah, Rin! Mulai sekarang tidak akan ada seorang pun yang bisa mengganggumu. Kami sudah melakukan upaya terbaik untuk melindungi kamu!" bisik Arta, terdengar sangat terobsesi dengan keselamatan Rinna.
Sementara Rinna yang mendengar itu hanya diam dan menatap Arta yang menunjukkan ekspresi wajah berbeda, dengan wajah sedihnya.
"Ya, aku mempercayai kalian!" balas Rinna, memeluk erat tubuh Arta dan membiarkan lelaki itu menepuk dan mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Daniela yang terus memperhatikan mereka dari pojok ruangan, hanya bisa tersenyum dan terkekeh geli melihat akting Rinna yang benar-benar meyakinkan dan membuatnya merasa takjub.
"Lihatlah anak itu, benar-benar sangat berbakat untuk mengelabui seseorang! Yah, setidaknya itu akan menjadi penghibur yang bagus di saat-saat terakhir, sebelum dia memasukkan semua orang yang ada di kediaman ini ke dalam jeruji besi! Daniela menegak sebuah sampanye sambil mengulas senyuman smirk. "Toh, mereka sudah terlalu lama hidup tenang setelah membunuh banyak orang! Dasar para manusia keji!" gumamnya, tampak geram melihat air mata palsu para manusia di depannya saat ini.
"Aku yang akan pastikan kalian ada di dalam daftar nama neraka yang aku pimpin!" celetuknya, geram.