My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
17. Rencana Maya



"Padahal kakak tidak pandai berekspresi, setidaknya itu menurutku! Tapi sekarang aku melihat kamu banyak menunjukkan ekspresi. Ada apa ini? Belum selesai dibuat bingung dengan ekspresi wajahmu, sekarang kamu mengatakan, kamu takut darah? Apa itu masuk akal??" celetuk Rinna, menatap aneh pada lawan bicaranya.


"Memang aku seaneh itu??" tanya Atha, kembali menunjukkan ekspresi lain, yang tidak pernah dilihat oleh Rinna sebelumnya.


***


Rinna menganggukkan kepala pelan, membuat Atha mengulas senyuman culas.


Saat itu juga Rinna langsung menceletuk, "Mulai lagi pamer sikap psikopat-nya!"


Lantas entah kenapa, Atha malah tertawa terbahak-bahak, dan membuat adik perempuannya sampai menganga.


"Hei! Kamu tertawa terbahak-bahak? Kamu bisa tertawa selebar itu? Wahh ... kenapa kamu terlihat normal?" pekik Rinna, untuk ke sekian kalinya dan membuat Atha terus tertawa dengan suara yang nyaring.


"Hahaha, entahlah. Mungkin karena Arta sudah sadar akan diri dan aku tidak memiliki kekhawatiran yang berlebihan tentangnya. Mangkanya aku kembali normal. Kenapa? Aku terlihat aneh, kah?" tanya Atha, membuat lawan bicaranya itu mengangguk dengan antusias.


"Begitu ya. Sebenarnya aku bukan anak yang mengerikan. Hanya terkadang menjadi sosok yang sedikit gelap jika ada yang mengusik ketenangan itu. Tapi sekarang aku sudah mulai tenang, jadi aku bisa bersikap normal kembali," jelas Atha, kembali membuat Rinna tidak bisa meresponsnya dengan baik.


"Bagaimana pun juga, aku bukan anak yang ada di pikiranmu selama ini. Maupun dulu ataupun sekarang. Aku belum pernah membunuh seseorang. Tapi kamu sudah berpikir kalau aku sering melakukannya, kan?!" tanya Atha, frontal.


"Tapi mayat yang aku temukan di lubang pupuk itu? Siapa yang melakukannya?" tanya Rinna, tiba-tiba ikut bersikap frontal juga.


"Tempat pupuk organikku? Di mana ada mayat? Itu hanya pembukaan karung yang keras. Kalau aku mengingatnya, dulu kamu juga pernah mengatakan itu. Ada mayat di sana! Memang kamu memegang apa saat terjatuh di sana?" tanya Atha, tidak membuat lawan bicaranya membuka mulut.


Rinna menatap Atha dengan tatapan lurus. Membuat lelaki itu bingung tentang beberapa fakta.


"Jika Rinna yang aku tampar sudah termasuk mimpi, jadi dari mana awal mimpi itu? Dari kejadian apa? Yang di laut? Apa sejak pertama kali dia datang ke rumahku?" batin Atha, menatap adik perempuannya dengan tatapan penuh selidiki.


"Kamu melihat apa?" tanya Rinna, dengan nada suara yang cukup khas.


Atha terdiam kaku, entah kenapa cara berbicaranya cukup familier. Tapi pada ingatan mana, dia melihat Rinna dengan sosok itu?


Atha kembali termenung, tapi pikirannya terganggu saat melihat kakak kembarnya dan sang ayah masuk ke dalam kamar tersebut sambil membawa makan malam untuk mereka.


"Hem? Kenapa suasananya seperti ini? Kalian berdua tidak sedang bertengkar, kan?!" tanya Arta, mendekati sisi seberang dari tempat Atha duduk.


Atha dan Rinna spontan menggelengkan kepalanya, menatap apa yang dilakukan Arta dengan tatapan tenang.


"Kak, kenapa di belakangmu selalu ada wanita itu? Kalian sudah berteman lama??" celetuk Rinna, dengan sorot mata dan nada bicara yang sangat berbeda dari sosok Rinna yang biasanya.


Di sana, lagi-lagi Atha dibuat tegang oleh tingkah laku Rinna. Padahal dulu dia sering meremehkan gadis itu. Tapi sejak kapan dia jadi takut dengannya??


Atha menggelengkan kepalanya kuat, menatap kembali pada Rinna yang masih tetap memperhatikan Arta yang membuka bungkus makanan untuk mereka.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Mereka semua terlihat ingin memakanmu," celetuk Rinna, tak acuh.


Namun perkataan itu malah membuat tiga orang lelaki yang ada di hadapannya, menatapnya dengan tatapan beragam.


Ezra dengan tatapan tidak mengerti, sementara kedua anak kembarnya, menatap Rinna dengan tatapan terkejut.


Mungkin Ezra tidak tahu apa yang dilakukan istrinya. Tapi berbeda dengan kedua anak lelakinya, yang benar-benar paham apa yang telah dilakukan sang ibu sampai terkadang mendukung tindakan gelapnya itu.


Jadi saat Rinna menceletuk seperti itu, dalam gelagat yang berbeda,  Arta dan Atha sempat saling memandang dan memikirkan satu hal yang sama.


Rinna punya banyak penjaga, yang keluar masuk dalam tubuhnya. Tapi itu hanya sebatas mekanisme pertahanan dirinya saja. Para makhluk itu tidak menginginkan Rinna terluka. Karenanya, terkadang mereka masuk dan menggantikan kesadaran gadis itu.


"Baiklah. Aku akan konsultasi dengan Mama setelah pulang dari rumah sakit. Jangan khawatir dan pergilah," ucap Arta, mengusir


Benar saja, makhluk yang membuat Rinna bersikap tidak seperti biasanya itu, langsung pergi dan membuat kesadaran Rinna kembali seutuhnya.


Kedua manik mata Rinna yang sempat mengelap, sampai hampir berubah menjadi hitam pekat, kini telah berubah warna seperti sewajarnya. Warna matanya kembali menjadi coklat pekat, dengan aura diri yang lebih cerah


"mari makan," ucap Arta, memberikan sendok pada kedua adiknya secara bergantian, dan mereka makan bersama-sama.


***


"Maya, kenapa kamu membawa balak pulang ke rumahmu? Jika kamu tidak menyingkirkannya, keluarga makan hancur dan lebih parahnya, mereka akan meninggalkanmu!" ucap seorang wanita tuah berambut putih, menatap wajah Maya yang terlihat serius saat mendengar setiap nasehatnya.


"Balak? Apa itu, Mbah?" tanya Maya, dengan kening yang berkerut dengan samar.


"Kesialan. Kamu membawanya pulang untuk dijadikan tumbal, kan? Tapi gadis itu malah membunuh makhluk kirimanku untuk putramu, dan sekarang dia tidak memiliki penjaga sama sekali. Insiden 10 tahun yang lalu, mungkin akan terjadi lagi. Bersiap-siaplah, kalau kamu tidak mampu menyingkirkannya sebelum malam bulan purnama!" celetuk wanita tua itu, membuat ekspresi Maya memburuk dengan drastis.


Kedua tangan Maya mengepal cukup kuat, sampai membuat tubuhnya gemetar hebat.


"Apa yang harus saya lakukan untuk menyingkirkannya, Mbah? Kalau dia mampu menyingkirkan makhluk kiriman Mbah. Berarti dia sangat kuat, kan? Apa Mbah punya makhluk yang lebih kuat untuk melawannya? Saya akan berikan beberapa pun asalkan saya tidak dibuang oleh keluarga saya. Hal itu tidak boleh terjadi! Karena saya tidak mau kembali ke gubuk itu dan menjadi miskin lagi. Memikirkannya saja sudah mengerikan. Saya akan mengupayakan apa pun untuk melindungi status ini!" papar Maya, menata penuh tekad.


Wanita tua itu tersenyum dan memberinya sebuah botol kecil setinggi 1 cari telunjuk.


"Di sini ada air yang bisa membuat para penjaga gadis itu pergi dan membuatnya tidak berdaya. Setelah kamu menyiramkan air ini padanya, kamu harus segera menyingkirkan gadis itu! Jika tidak, kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk menyingkirkannya. Sebab mereka pasti akan bertambah kuat jika kamu sudah menyerangnya sekali! Kamu mengerti?"


Maya menganggukkan kepalanya antusias, menerima botol berisikan air itu, dan tersenyum penuh kesombongan.


"Saya pasti akan melenyapkan gadis pembuat kekacauan itu! Anda tidak perlu khawatir, Mbah!" ucap Maya, bertekad.