
Zzzz ....
Arta duduk di kursi rodanya dengan menatap Rinna yang tengah tertidur dengan tatapan lekat.
"Kamu terus melihatnya, kamu suka kita punya adik perempuan?" tanya Atha, berjalan masuk ke dalam kamar Rinna dengan membawa makan malam mereka berdua.
Arta menoleh pada Atha dan tersenyum masam. "Kenapa? Aku tidak boleh senang?" tanyanya, kembali menatap Rinna.
Atha duduk di pinggir ranjang, di dekat Arta. "Mangkanya kamu melindunginya?"
Arta menatapnya lekat, dan tersenyum masam. "Aku tidak mengingat apa pun setelah bangun tidur. Hanya mimpi buruk yang aku ingat."
Arta menghela napas lembut dengan mengulas senyuman sendu. "Aku selalu bermimpi di telan monster besar. Mimpi itu terus berulang tiap kali aku tidak sadarkan diri. Tapi kamu tahu apa yang aku lihat sebelum bangun kemarin?"
Arta menatap Atha yang tak penasaran dengan ceritanya, tapi tetap berusaha mendengarkan dengan baik. Sekedar menghargai Kakak kembarnya.
"Apa?" jawab Atha, tampak tak acuh.
Bahkan kini Atha sedang menatap ponselnya, melihat YouTube di sana.
"Aku lihat Rinna menyingkirkannya. Membunuh monster besar yang menelanku dan membawaku lari. Setelah itu aku membuka mata dan melihat wajah Ayah. Aku hanya bisa menangis! Mungkin bagimu itu mimpi yang lebay, tapi bagiku dia seperti juru selamat hidupku."
Arta menatap Rinna kembali, memandangnya dengan senyuman lembut yang terlihat amat sangat menawan.
"Dulu aku melihat banyak wanita muda yang menggantikan aku masuk ke dalam tenggorokan monster itu, tapi sekarang aku melihatnya di bunuh dengan sadis! Entah kenapa aku bahagia, padahal baru saja melihat hal menyeramkan," ucap Arta, mengakhiri ceritanya dengan memamerkan deretan giginya.
"Rinna membunuh monster itu? Sama halnya, dengan dia yang membunuh kutukan Arta. Hem, gadis yang menarik! Apa karena itu dia bisa bertahan di kamar terkutuk itu?" batin Atha, melirik ke arah Rinna yang ternyata sudah membuka matanya.
Akh!
Atha berteriak dan membuat Arta terkejut, begitu juga dengan Rinna sendiri.
"Kenapa berteriak sih? Kakak gak tahu ini sudah malam?!" pekik Rinna, bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di atas ranjang dengan menatap Atha, kesal.
Atha yang baru saja menjerit, bahkan sampai bangkit dari tempat duduknya, hanya mengusap kasar wajahnya dan melempar tatapan kesal pada Rinna.
Sementara Arta hanya diam melihat kedua adiknya yang saling adu tatap di depannya.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan kamu? Seperti suda lebih baik, ya?" tanya Arta, menyita perhatian Rinna.
Rinna mengulas senyum, menatap Arta dari ujung kaki sampai kepala dengan saksama. "Besok Kakak cobalah berjalan, pasti sudah bisa! Ular itu sudah aku singkirkan. Jadi, mulai latihlah kakimu!" pintanya, tiba-tiba.
Arta menatapnya masam, memandang Rinna yang tiba-tiba menyinggung hal sensitif baginya, dengan tatapan kurang nyaman. Tapi Arta tidak bisa marah padanya, karena Rinna memang tak terlihat memiliki niat buruk saat mengatakannya.
"Begitu, kah? Baiklah. Aku akan minta dokterku untuk rehabilitasi mulai besok. Semoga seperti katamu. Aku rindu bisa berjalan dan pergi ke sekolah," jelas Arta, mengulas senyum lembut.
"Iya, Kak. Em, Kakak tidak tidur? Ini sudah larut malam, kenapa masih di kamarku?" tanya Rinna, seakan tahu jika Arta sudah ada di sana dalam waktu yang cukup lama.
Arta menatap jam dinding yang menggantung di dekat jendela. "Sepertinya memang sudah malam. Aku akan kembali ke kamar sekarang, kalian istirahat saja. Tak perlu mengantar, di depan ada Ayah."
Rinna dan Atha hanya diam dan membiarkannya pergi. Sementara pintu mulai tertutup, tiba-tiba Atha mengganti posisinya dengan mengikis jarak di antara keduanya dengan cepat.
"Kita sudah berdua saja. Kamu tak perlu menyembunyikan cerita itu lagi. Teruskanlah, aku masih ingin mendengarnya! Aku bukan penakut seperti teman-teman kamu," ucap Atha, benar-benar menatap Rinna dari dekat.
Rina mundur satu hasta, duduk dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Yakin? Jangan menangis atau menjerit! Kamu tahu, kan? Terkadang mereka bisa tiba-tiba muncul jika kita bicarakan," seru Rinna, memberitahu terlebih dahulu, sebelum Atha di buat kejut jantung dengan kehadiran mereka.
"Tidak akan!" jawab Atha, penuh penekanan.
Rinna menganggukkan kepalanya dan menghela napas panjang, menutup jendela tempatnya berada, dengan menjentikkan jarinya.
Brak!
Atha ternganga, melihat apa yang baru saja terjadi pada pergerakan itu. "Itu apa? Kamu bisa melakukan sulap atau sihir? Hebat, memang kamu hidup di dunia fantasi?"
Rinna menghela napas lelah, melihat Atha yang tiba-tiba bersemangat, dengan tatapan malas.
Sedetik kemudian, tatapan Atha berubah menjadi dingin dan datar saat dia menatap Rinna.
"Siapa kau sebenarnya? Manusia, kah? Bangsa jin, kah? Atau kau makhluk halus yang berhasil menjelma jadi manusia?" tanya Atha, beruntun.
Rinna diam beberapa saat, lalu mengulas senyuman culas dan menatap Atha dengan tatapan merendahkan.
"Kamu tidak takut aku lempar lagi? Kenapa pertanyaanmu menyebalkan? Aku bisa saja membuatmu enyah dari dunia ini dalam sekali jentikan jari, tapi lihat sikap angkuh itu?! Seperti tak akan bisa hilang walau pun kamu terimpit masalah. Yah, mau bagaimana lagi, memang anak Maya!" celetuk Rinna, membuat Atha menatapnya tajam.
"Siapa yang baru kamu panggil? Maya? Kamu menyebut nama Ibu dengan tidak sopan?!" Atha bangkit dari posisinya, menempelkan keningnya pada kening Rinna. "Kamu ingin aku pukul?!"
"Lakukan saja jika kamu tidak takut dengan Ayah! Dari tadi dia mengawasi kita, jika tidak percaya– lihat saja di sana. Ayah menatapmu, Atha! Kau tak takut dengannya?" balas Rinna, mengulas senyuman licik.
Atha segera menjaga jarak, menoleh ke belakang dan tak menemui siapa pun di sana.
Rinna tertawa lantang, menatap wajah Atha yang kesal karena sikapnya, dengan tatapan konyol.
"Lihat wajahmu itu, kamu sangat tegang saat menoleh ke sana tadi, hahaha ... kamu takut dengan Aya–"
Plak!
Atha menampar pipi Rinna dengan keras sampai suaranya benar-benar nyaring.
Tapi yang lebih mengejutkan dari sikap itu adalah kepala Rinna yang tiba-tiba menggelinding ke ujung ruangan yang memiliki sisi gelap.
"Hihi, kepalanya lepas! Hihi ... kamu tidak berniat mengambilnya dan mengembalikanku ke tempatnya?" tanya Rinna, tanpa menunjukkan wujudnya.
Kepala Rinna bersembunyi di balik gelapnya bayangan. Membuat Atha merinding seketika.
"Sebenarnya makhluk apa dirimu? Kenapa mengerikan sekali!" celetuk Atha, mundur beberapa langkah dan menemui bingkai jendela.
"Ups! Lihat anak sombong itu, dia terpojok Rinna!" celetuk seseorang lelaki, tak memiliki wujud yang jelas, karena sama-sama bersembunyi di sudut yang gelap.
Tubuh Rinna bergerak, dia beranjak turun dan menghampiri Atha. Dengan langkah perlahan, makhluk itu membuat ketegangan nyata di hati Atha. Bahkan tubuh lelaki itu tak bisa bergerak dengan leluasa, walaupun dia mau.
"A-apa yang akan kau lakukan?!" teriak Atha, menatap dengan wajah pucat.
Tangan dina terulur ke arah bahu Atha, mendorong lelaki itu dengan kuat dan membuatnya terjun bebas.
"Hihihi, selamat tidur, Kakakku!"
BRAK!