My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
21. Janji



Byurr ....


Arta membuka kedua matanya saat sekujur tubuhnya terasa basah dan dingin.


Dia melihat ke sekeliling, air memenuhi pandangannya. Ikan-ikan besar yang berenang di sekitarnya, membuat Arta tidak berani bergerak sembarangan karena takut dimakan.


Grep ....


Arta mendengarkan kepalanya, menatap seorang wanita yang menarik kerah bagian belakang bajunya dan membawanya ke permukaan.


"Hoek!" Rinna memindahkan air dari mulutnya, membasahi sebagian daratan yang menjadi pijakan kakinya.


Arta dibiarkan duduk di samping Rinna yang masih berdiri sambil memerintahkan semua isi air yang memenuhi tenggorokannya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arta, menatap wajah adiknya yang terlihat lebih cantik dengan bola mata merah pekat seperti warna darah, yang bersinar karena silaunya sinar matahari.


Rinna menoleh padanya dan menatap Arta beberapa saat. "Kau tidak takut pada aku?" tanyanya, dengan menaikkan sebelah alisnya.


Arta memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rinna dengan tatapan tidak mengerti yang terkesan polos, lalu berkata, "Takut apa? Karena matamu berubah??"


Rinna mengangguk dan duduk di samping Arta dan melihat ke arah lautan. "Ya, anak-anak panti saja sempat takut melihat aku berubah tiba-tiba. Tapi kenapa kamu tidak takut? Kamu tidak merasa aneh?"


Arta menggeleng pelan dan ikut mendapat ke arah laut biru yang membentang luas di hadapan mereka.


"Untuk apa? Aku bahkan pernah melihat wujud tubuhku yang lebih mengerikan dari sekedar perubahan bola matamu. Jadi kenapa aku harus takut melihat hal remeh itu?" ucap Arta, menjawab dengan jawaban masuk akal.


"Hem, tumbal pemakan manusia. Sebenarnya bukan monster yang muncul di mimpi Kakak, yang memakan baru manusia itu, kan? Kamu sendiri yang melakukannya. Hanya saja, kamu terus membohongi dirimu sampai membuat ilusi di dalam mimpimu sendiri, ya kan?"


Rinna terus menatap Arta yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Karena lelaki itu hanya diam, dan seakan tidak ingin menjawab perkataan Rinna.


Rinna tersenyum simpul, dan berkata, "Seburuk-buruknya saat ini. Kamu masih ciptakan yang di atas. Tidak ada satu pun makhluk yang tidak mendapatkan campur tangannya. Meskipun kamu makhluk dari neraka sekalipun."


Arta mengulas senyuman miris. "Aku harus mempercayai perkataan sesamaku, kan?"


Rinna tertawa, "Hahaha ... itu terserah padamu, Kak. Sebagai makhluk yang dibenci oleh manusia tapi sebagian juga membutuhkan bantuan kita, mereka terlalu munafik untuk menjadi Tuan dan majikan kita, kan? Bagaimana pendapatmu tentang Maya?"


Arta menoleh padanya, tersenyum masam dan menundukkan kepalanya sejenak. "Dia masih Mamaku, jangan mengatakan hal buruk tentangnya. Aku masih tidak senang mendengarnya seseorang membicarakannya di belakang, walaupun sikapnya memang buruk."


Rinna hanya mengangguk mengerti dan menoleh ke arah belakang, tempat saat sebuah mobil berwarna hitam terparkir tak jauh dari mereka.


Atha dan sopir pribadi mereka segera keluar, menatap kedua anak itu dengan tatapan cemas dan khawatir.


"Hahhh ... aku bisa gila kalau kalian seperti ini terus. Tidak bisa kak bersikap seperti orang normal saja?!" celetuk Atha, menghela napas lega berulang kali saat melihat kedua saudaranya baik-baik saja.


"Apa ini, Tuan? Mereka benar-benar ada di sini?" celetuk Pak Thomas, menatap kedua anak remaja yang duduk di pinggir dermaga itu, dengan tatapan terkejut.


"Ya, kan! Anda juga tahu tentang Arta. Tapi Anda pasti akan lebih terkejut jika sudah mengetahui tentang Rinna! Fakta tentangnya lebih gila dari milik Arta," pekik Atha, sambil mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Thomas, yang berdiri di depan mobil.


Atha berjalan mendekati kedua saudaranya di ujung sana, bergabung dengan mereka sambil terus menghela napas lelah.


"Hahhh ... kalian baik-baik saja?" tanya Atha, menatap kedua saudaranya dengan tatapan intens, memastikan keadaan mereka baik-baik saja dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Kamu bisa melihatnya sendiri. Kami baik-baik saja, kenapa dengan wajahmu? Panik sekali," kekeh Arta, menertawakan wajah adiknya yang masih terlihat cemas dan gundah.


Atha tersenyum simpul, dia benar-benar menunjukkan banyak ekspresi saat keadaan Arta tak lagi sakit-sakitan.


"Ya, tentu saja aku sangat panik. Melihat kedua saudaraku yang ternyata Ghoul, sering melakukan hal yang di luar nalar!" pekik Atha, mengeluarkan sebuah handuk dari dalam tasnya dan melemparkan masing-masing kain berwarna putih itu pada kedua saudaranya.


"Keringkan tubuh kalian, baru setelah itu kita akan kembali ke kota. Kalian ingin makan? Makan aku belikan sesuatu di sekitar sini," ucap Atha, bangkit dari tempat duduknya dan menatap Arta dan Rinna dengan tatapan menanti.


"Aku ingin makan ayam kampung sekarang. Memangnya di sini ada yang jual? Paling banyak mereka hanya menjual ikan segar, bagaimana kalau kamu membelikan beberapa oleh-oleh orang rumah saja?" ucap Arta, memberikan saran.


Atha diam beberapa saat, ketika dia mendengar kata "ayam kampung" keluar dari mulut saudaranya, sontak dia menatap pada Rinna, yang hanya tersenyum miring kepadanya.


"Apa-apaan itu? Jadi dia menggantikan nyawa seseorang dengan menebalkan ayam kampung? Yah, kalaupun aku pernah dengar cara itu. Tapi aku dan Mama tidak pernah melakukannya. Karena itu tempat kami lebih sulit mencari ayam kampung daripada tumbal manusia!" batin Atha, menatap pada Rinna dengan tatapan yang semakin lama semakin tajam.


"Kenapa melihat Rinna seperti itu? Kamu ingin menyampaikan sesuatu? Tidak jadi membeli oleh-oleh untuk orang rumah??" tanya Arta, membubarkan lamunan Atha.


Atha segera menggelengkan kepalanya dan meninggalkan mereka berdua. Dia kembali mendekati Pak Thomas dan mengajaknya pergi untuk mencari ikan segar di pasar dekat sini, untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.


Sementara Arta dan Rinna yang ditinggal berdua saja, kembali memandang ke arah laut dengan sibuk bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Kenapa kamu bisa memikirkan solusi seperti itu? Kamu pernah melakukan itu?" tanya Arta, tiba-tiba.


Rinna menoleh padanya dan mengerutkan keningnya dalam. "Apa maksudnya? Memang aku melakukan apa? Kemarin aku hanya ingin menyelamatkan nyawaku. Tapi mungkin, Maya tidak akan pernah menerima cara itu. Jadi mulai sekarang pun aku harus berhati-hati, karena aku berfirasat jika dia akan mulai memburuku mulai sekarang."


Arta mengerutkan keningnya dalam. "Aku tidak akan membiarkan Mama melukai kamu, Rin. Bagaimanapun juga, kamu sudah menghapus monster di dalam mimpiku dan membuatku bebas untuk beberapa saat. Sebagai rasa terima kasihku, aku akan melindungimu dari Mama!"


Rinna tersenyum culas, menatap wajah Arta yang tampak bertekad saat mengatakan dia ingin melindungi dirinya.


"Hahaha, janji yang menarik!" celetuk Rinna, memalingkan pandangannya ke arah laut dan tidak melihat ekspresi Arta yang terlihat serius.


"Dia saya tidak tahu rasa sakit yang akan dia derita saat aku memberinya pengganti tumbal itu. Hem, saat dia mulai merasakan sakit itu. Mari kita lihat, apakah dia masih bisa melindungi itu?" batin Rinna, tersenyum penuh muslihat.