
"Ke mana Kak Arta pergi? Beberapa saat yang lalu aku masih melihatnya di sini! Aku ingin mengucapkan terima kasih juga, karena dia sudah menolongku keluar dari masalah," ucap Rinna, dengan suara berbisik.
Lantai Atha yang mendengar itu langsung menjauhkan telinganya dati Rinna, menatap perempuan itu dengan kedua manik mata membesar.
"Kamu melihat Arta?" tanya Atha, setengah berbisik, walaupun dia sangat ingin berteriak.
Rinna menganggukkan kepalanya pelan, menatap sang Kakak dengan tatapan polos. "Memangnya kenapa? Aku tidak seharusnya melihat dia??" tanyanya, balik, dengan tatapan bingung.
Atha malah tersenyum, membuat Rinna bingung melihat sikap kakaknya itu. Yah, walau sikapnya tak pernah jelas di mata Rinna, tapi sikap seperti ini tak pernah menjadi biasa baginya.
"Kak, kenapa malah tersenyum? Tidak jawab pertanyaanku?" tanya Rinna, melambaikan tangannya di depan wajah Atha.
Atha menoleh padanya, kembali fokus pada Rinna yang terlihat memperhatikannya dengan saksama, sembari menunggu jawaban darinya.
"Kau ingin tahu di mana Arta sekarang?" tanya Atha, membuat kedua mata Rinna berbinar cantik.
"Iya. Boleh aku bertemu dengan dia sekarang? Aku ingin berterima kasih padanya," ucap Rinna, seakan memohon padanya.
"Oke, tak ada masalah. Aku akan bawakan kursi roda untukmu. Tunggu di sini dulu," ucap Atha, dan berjalan pergi.
"Aku bisa jalan, Kak!" seru Rinna, beranjak turun dari ranjang dan mengejar langkahnya dengan membawa infusnya.
Atha diam beberapa, dan menunggunya mendekat. "Yakin?" tanyanya, mendapatkan anggukan kepala dari Rinna.
"Ya, hanya tangan saja yang terluka. Kakiku baik-baik saja, Kak. Ayo pergi, aku ingin bertemu dengan–"
Deg!
Rinna menatap seorang anak lelaki yang di larikan pergi ke arah ruang operasi oleh beberapa suster.
Begitu Atha membukanya, pemandangan itu membuat tubuh Rinna merinding seketika.
"Ada apa?" tanya Atha, menatap wajah Rinna yang terdiam kaku dengan kedua mata yang tersentak.
Tak ada jawaban, Rinna malah berjalan pergi meninggalkan Atha dengan langkah tertatih mengejar orang-orang tadi.
Atha mengejar Rinna, menghentikan gadis itu dengan mencekal pergelangan tangannya. "Ada apa denganmu? Kenapa malah lari ke sana? Katanya mau bertemu Arta, kenapa malah meninggalkan aku?"
Plak ....
Rinna menepis tangan Atha yang mencekal pergelangan tangannya. "Itu Kak Arta! Yang di bawa mereka ke sana!!" jeritnya, tampak tertekan.
Atha langsung menatap ke depan, melihat beberapa orang yang memang membawa saudara kembarnya ke arah lorong operasi.
"Arta ...." Atha berlari, meninggalkan Rinna untuk mengejar kakaknya.
Rinna tak memusingkan itu, dia hanya berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan jejak Atha di depan sana.
"Kenapa? Ada apa ini, Sus? Kenapa membawa saudara saya ke ruang operasi? Apa yang terjadi??" tanya Atha, kepada para suster itu.
"Maaf, Tuan Atha. Kami akan menjelaskannya setelah kondisi Tuan Arta stabil. Sekarang tolong menepi," ucap salah satu suster itu, menghentikan Atha untuk bertanya lebih lanjut tentang kondisi saudaranya.
"Sampai lupa, di mana gadis itu? Kenapa tidak menyusulku?" gumam Atha, menghentikan langkahnya sejenak dan melihat ke belakang, namun dia tak menemukan keberadaan Rinna di sana.
Sementara Rinna yang berakhir di ruang gelap, ruang kecil tempat tangga darurat berada ....
Seseorang membekap mulut Rinna, tak membiarkan wanita itu menjerit, saat tiba-tiba tubuhnya di seret masuk ke ruangan ini.
"Maaf, kamu baik-baik saja?" tanya seseorang dengan suara yang cukup di kenali oleh Rinna.
Rinna mendongak, menatap lelaki yang duduk di kursi roda, setelah membuatnya jatuh terduduk di antara kedua kakinya dengan posisi memunggungi.
"Kak Arta? Bukannya Kakak di bawa ke sana?" tanya Rinna, menunjuk ke arah luar.
Arta menatap rekannya, yang ada di ujung ruangan, tepat di pojok gelap dari sisi ruangan itu.
Rinna menoleh ke arah sana dan melihat wanita tanpa kepala yang biasanya di dalam kamarnya, dengan tatapan terkejut.
"Hai, Nona!" ucap wanita itu, melambaikan tangannya dan menampilkan senyum pada kepala yang tak pernah ada di tempatnya itu.
"Akh! Bukan seharusnya dia menyapa seperti itu, kan? Dia menyeramkan!" jerit Rinna, merapatkan diri di dalam lingkup Arta.
Arta menundukkan kepalanya dan menatap Rinna yang benar-benar takut dengan wanita itu. "Hem ... maaf, Rin. Tapi aku juga tak jauh berbeda dari dia. Kamu tak percaya?"
Rinna menggelengkan kepalanya, menatap Arta dengan tatapan aneh. "Enggak sama sekali. Kalau Kakak sama kayak dia, pasti bentuknya udah aneh-aneh kayak Mbak itu, kan? Terus kenapa Kakak masih ganteng? Mana ada setan handsome?! Jangan mengada-ngada deh," celetuknya, menolak percaya faktanya.
Arta menatap wanita itu dengan tatapan masam, membuat Rinna menatap keduanya dengan tatapan bergantian.
"Kenapa saling memandang begitu? Apa yang ingin di buktikan?" tanya Rinna, seakan membaca pikiran keduanya.
"Karena kamu tidak percaya, aku akan tunjukan sulap!" celetuk Arta, membuat fokus perhatian Rinna tersita olehnya.
"Apa itu?" tanya Rinna, penasaran.
Namun saat sebelah tangan Arta meraih ke bola mata kirinya, tiba-tiba Rinna merasa merinding karena dia mengambil benda bulat putih itu dari tempatnya dan mengulurkannya pada Rinna.
"Kamu mau memegangnya?" tanya Arta, malah membuat Rinna pingsan di tempat.
"Lah, lah! Dia pingsan, Mbak! Bagaimana ini?" tanya Arta, memasang kembali bola matanya dan menatap Rinna yang terkapar di bawahnya dengan kepala bersandar di paha kanannya.
"Bagaimana apanya, Tuan? Anda harus menunggunya sampai bangun. Anda yang membuatnya terkejut, Anda juga yang harus bertanggung jawab!" ucap Kunti tak berkepala itu, menghela napas lelah dan menatapnya datar.
Arta menatapnya masam. "Apa aku tidak bisa bersikap sepertimu saja? Aku kan sedang bukan manusia, sekarang?! Kenapa tetap harus tanggung jawab kalau membuat manusia kaget???"
Susi, wanita Kunti tanpa kepala itu langsung menepuk keningnya ampun, menatap Arta dengan tatapan enggan.
"Karena Anda belum mati dan Anda masih kakaknya! Semua yang terjadi pada gadis itu, akan terus berhubungan dengan Anda. Jadi Anda yang harus bertanggung jawab. Jangan mengelak, dia di bawa ke rumah terkutuk itu karena Anda."
Susi mendengus dan menatap Rinna dengan sorot sendu. "Walaupun dia takut dengan aku dan teman-temanku, yang Anda minta menjaganya di rumah itu. Dia tak pernah mengumpati kami! Dia baik, dan saya mengatakan itu agar Anda benar-benar mencegah kutukannya turun padanya."
Arta menghela napas lelah dan mengelus puncak kepala Rinna, pelan. "Padahal aku baru sehari melihatnya pindah ke sana. Tapi roda takdirnya sudah bergulir saja. Membuat kesal saja," pekiknya, menatap sedih sosok Rinna.
"Mama Anda yang jahat, bukan Anda atau yang lainnya. Walaupun saya tahu alasan Maya berbuat begitu, tapi saya tetap tak suka dengan wanita gila itu," pekik Susi, tampak jengkel karenanya.