My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
18. Di Sekolah



"Arta, hari ini kamu sudah masuk sekolah? Wah, selama kalian bertiga tidak sekolah kekacauan di sekolah sangat banyak. Bahkan polisi tidak berhenti keluar masuk ke sekolah kita. Mereka memperlakukan sekolah kita seperti kantornya sendiri, hahhh ... kejadian yang terjadi akhir-akhir ini memang seperti itu sih. Aku tidak bisa memprotes mereka," ucap Tony, teman si kembar.


Arta dan Atha yang mendengar itu hanya diam dan menganggukkan kepalanya, mereka tidak ingin memikirkan masalah seperti itu. Karena akhir-akhir ini, mereka juga memiliki banyak pekerjaan di kantor ataupun di sekolah.


Terutama untuk Arta, yang menjabat sebagai ketua OSIS. Karena dia sudah tidak masuk sekolah terlalu lama, pekerjaannya di ruang OSIS pasti sangat menumpuk. Lalu dirinya juga harus menyiapkan telinga, sebab keluhan para anggotanya tentang pekerjaan yang berjibun masih akan menyambut kedatangannya dengan ramah.


"Begitukah? Memang apa yang terjadi selama kami tidak masuk?" tanya Atha, sekedar basa-basi dan menghargai Tony yang memiliki antusias tinggi untuk membagi ceritanya kepada mereka berdua.


"Hampir 7 anak perempuan loncat dari atas gedung. Mereka masih menyelidiki alasannya, tapi sepertinya ada banyak kekerasan di dalam tubuh mereka. Hasil autopsinya juga mengatakan seperti itu. Mengerikan sekali, padahal hal ini belum pernah dibahas oleh komite kedisiplinan. Tapi kenapa tiba-tiba muncul 7 orang korban sekaligus?" celetuk Tony, malah membuat kedua orang itu semakin tertarik dengan topik pembicaraan mereka.


"Kak Rinna, kau baik-baik saja? Aku dengar kamu sakit beberapa hari. Lukanya sudah sembuh? Wah, kecelakaan yang menimpamu memang sangat mengerikan. Bahkan aku sampai melihatnya di berita. Karena itu juga banyak polisi yang berlalu lalang di sekitar sekolah kita untuk memastikan keamanan para murid. Walaupun kepala sekolah tidak memintanya secara langsung, tapi sepertinya pihak menteri pendidikan yang memintanya," celetuk seorang gadis berusia 15 tahun, menghampiri Rinna yang berjalan di belakang Arta, Tony dan Atha dari tadi.


Rinna yang mendengar hal itu langsung terdiam, menatap Liani dengan tatapan lekat sebelum tersenyum lembut.


"Kau baik-baik saja? Aku dengar kamu hampir menjadi korban dari 7 orang gadis yang melompat dari atap gedung itu. Kamu berhasil selamat dari psikopat itu?" tanya Rinna, membuat tiga lelaki yang ada di depannya menoleh dan menatapnya dengan tatapan kaget.


Bahkan Liani yang tidak pernah menceritakan itu pada siapa pun, tentu saja terkejut mendengar perkataan Rinna yang seakan mengetahui kejadiannya secara mendetail.


"Kak, bagaimana kamu tahu itu? Kamu mendengarnya dari seseorang?" tanya Liani, dengan suara gemetar ketakutan.


Alasan dia bungkam adalah karena ingin menghindari para polisi itu. Tapi jika Rinna sampai mengetahuinya, berarti ada seseorang yang tahu jika dia terlibat, kan? Karena tidak mungkin Rinna yang sudah tidak masuk selama 3 hari bisa mengetahui insiden buruk itu dengan detail, padahal kejadiannya sudah dua hari yang lalu.


"Tidak bisa dikatakan seseorang, karna mereka tidak memiliki wujud yang pasti. Yah, yang bisa kupastikan padamu, hanya keadaan saja. Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Tenanglah, aku tidak berniat mengatakan apa pun pada siapa pun juga. Kamu tahu sendiri serapat apa mulutku, kan?" celetuk Rinna, menatap Liani dengan tatapan tajam nan menusuk.


Tatapan itu bukanlah tatapan mata yang akrab dengan Liani. Justru karena pandangan itulah, Liani jadi merasa lebih tertekan dan takut kepadanya.


Tapi setelah itu, Rinna malah meninggalkan Liani dan pergi masuk ke dalam kelasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada tiga kakak kelasnya atau pun pada adik kelasnya itu.


"Kenapa sikap Kak Rinna sangat berbeda? Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa memasang pertahanan yang mengerikan seperti itu?" batin Liani, menatap ke dalam kelas Rinna beberapa saat, memperhatikan gadis itu dengan saksama sebelum memutuskan pergi kembali ke kelasnya.


"Aku boleh bertanya sesuatu? Aku sangat penasaran tentang ini. Tapi tidak pernah mengatakannya dan hanya terus menduga," celetuk Tony, membuat sih kembar menoleh ke arahnya secara bersamaan.


"Apa? Katakan saja jika ingin bertanya, kenapa terlihat sungkan? Seperti pada siapa saja," celetuk arta, merangkul leher Tony dengan akrab sambil meneruskan perjalanan mereka kembali ke kelas.


"Siapa gadis itu? Seberapa hari yang lalu aku sering melihat Atha naik satu mobil dengannya. Aku kira dia hanya teman sesaat saat kamu tidak ada di sini, Arta. Tapi sekarang kalian malah bareng bertiga? Apa jangan-jangan itu kekasihmu, Tha?" celetuk Tony, menoleh pada Atha.


Atha tersentak, segera menggelengkan kepalanya kuat menolak alibi tersebut.


Padahal kedua anak kembar itu tahu dengan jelas, alasan seperti apa yang membuat Mamanya lebih senang menanggung hal buruk tersebut dari pada tidak mengadopsi anak perempuan setiap tahunnya.


"Tapi sekarang dia bertahan cukup lama, ya? Aku sudah mengenal kalian bertahun-tahun. Dan baru kali ini ada seorang gadis yang selamat setelah kamu sakit, Arta. Apa dia gadis yang unik?" tanya Tony, tiba-tiba membuat hawa si kembar berubah menjadi gelap.


Pertanyaannya memang sangat sensitif. Tapi sepertinya Tony sengaja melakukan itu untuk sekalian menyindir mereka berdua.


"Tindakan yang buruk, tetap akan tercium baunya! sama seperti bangkai tikus, walau pun kalian sudah menguburnya di dalam tanah. Sedalam apa pun tanahnya, selama ada seorang penggali! Itu tetap akan bisa ditemukan," celetuk Tony, sekedar mengingatkan saja.


Tapi siapa sangka jika ucapkan itu akan menjadi perkataan terakhir yang bisa dia katakan di depan kedua si kembar.


Karena saat jam istirahat, ketika Tony izin pada Arta dan Atha untuk pergi ke toilet sebentar untuk melakukan ritual alamnya. Lantas setelah 3 jam berlalu, lelaki itu bahkan tidak pernah kembali kepada mereka, yang menunggunya di kantin.


"Aakkhhh!"


Seorang murid lelaki berteriak sangat kencang sambil berlari terburu-buru keluar dari kamar mandi, yang ada di dekat kantin tersebut.


Sontak hal itu membuat perhatian para pengunjung kantin tersita olehnya.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang anggota komite kedisiplinan, segera menghampiri anak lelaki yang memiliki wajah pucat pasi itu.


"D-di dalam sana, T-Tony kehilangan kepalanya!!" serunya, membuat heboh anak satu kantin.


Arta dan Atha yang sudah resah karena teman satu-satunya mereka tidak segera kembali dari kamar mandi, langsung bangkit dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Benar saja, cairan merah darah memenuhi ruangan itu. Bahkan cairan itu menyebar sampai ke arah pintu masuk.


Lantas di salah satu bilik yang ada di dalamnya, beberapa bercak merah membentuk tangan, tertempel di beberapa bagian dinding bilik tersebut.


Arta melangkah masuk ke dalam salah, meninggalkan Atha yang fobia dengan darah di depan pintu untuk memastikan apa yang terjadi di bilik kamar terbuka itu.


Tony tengah duduk di bawah toilet dengan menyandarkan tubuhnya di sana, tubuhnya yang bersimbah darah, terpampang dengan jelas di dalam sana.


Kedua mata Arta, sontak membulat dengan sempurna. Tubuhnya pun telah membeku di tempatnya berdiri.


"Apa yang terjadi?!" batin Arta, terkejut.