My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
7. Atha



"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Atha, dengan tatapan murka.


Dalem sekejap perhatian anak-anak itu berubah. Mereka fokus menatap anjing gilanya sekolah mereka, yang tiba-tiba saja berteriak begitu lantang.


Lain halnya dengan Rinna yang lebih condong ke arah terkejut, saat melihat kehadiran Atha berdiri di depan kamar mandi dengan ekspresi suram.


"A-apa?" tanya Rinna, dengan suara mencicit seperti anak tikus.


Atha menempuh keningnya ampun, segera berjalan mendekati adiknya dan menggantikan posisi Rinna.


"Minggir sana. Kamu tidak melihat bajumu merah seperti itu?! Pakaian dalam sampai terlihat karena itu, dasar bodoh!" celetuk Atha, membuat Rinna menyadari penampilannya.


Rinna segera menutupi bagian tubuhnya yang terlihat jelas ini balik ke meja putih yang dibasahi darah itu. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dan ditarik kasar oleh Ningsih yang sudah menunggunya di belakang barisan bersama Naufal dan Afi, teman dekat mereka sekaligus keluarga di panti asuhan mereka.


Naufal, anak kelas sebelah itu, langsung melepaskan kemejanya dan menyisakan kau seputih yang dia pakai sebagai dalaman, untuk memberikan Rinna penutup auratnya.


Rinna menatap Naufal dengan tatapan penuh terima kasih. Dan lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk sambil membawanya pergi, mengikuti langkah kedua temannya.


Atha yang sempat melihat pemandangan itu hanya menatap dalam diam. Tapi kedua tatapan matanya terlihat sangat mengerikan, sampai membuat beberapa anak yang melihatnya bergidik ngeri dan memilih memalingkan perhatian mereka pada yang lain.


UKS ....


Ternyata darah yang membasahi pakaian Rinna, bukankah darah dari si korban. Melainkan darah dari tangan kirinya yang entah tertancap apa, sampai mengeluarkan darah sebanyak itu.


Guru kesehatan yang mengobatinya, bahkan sampai melihat ngeri luka di telapak tangan kiri Rinna, karena katanya itu begitu dalam dan seperti terkena paku yang menancap sampai hampir menembus tangannya.


"Kamu yakin tidak merasa sakit? Padahal kami yang tidak merasakannya saja, sampai merinding seperti ini. Bagaimana bisa kamu tidak merasakan apa-apa?!" celetuk Ningsih, menelan ludahnya susah.


"Ah, mungkin kamu lupa jika aku tidak pandai merasakan rasa sakit. Bulu maupun sekarang, aku masih belum pernah menangis karena terluka sampai berdarah-darah seperti ini, kan? Aku yakin kalian masih mengingat tentang kecelakaan yang terjadi 3 tahun yang lalu," celetuk Rinna, menyahuti dengan memamerkan senyuman yang tampak tengil.


Ketiga orang temannya hanya bisa menunjukkan wajah ngeri sekaligus sakit karena melihat itu.


"Hahhh, aku bahkan tidak berani mengingatnya. Tapi dia malah mengatakan kejadian itu tanpa beban?! Memang dasar strong woman," pekik Afi, mengusap-usap kedua lengan bahunya yang terasa merinding.


Klek ....


Seorang lelaki masuk ke dalam ruang kesehatan, membuat tiga orang teman Rinna yang menatap ke arah pintu, langsung membeku di tempat.


Rinna menatap sikap aneh ketika temannya dengan daratan bingung, dan bertanya, "Kenapa?"


Ningsih menyenggol bahu Afi, membuat lelaki itu menatap pada Rinna, dan berkata, "Itu, ada Kak Atha." Sambil menunjuk ke arah pintu.


Rinna segera menoleh ke belakang, menatap kakak lelakinya yang berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya tidak ada, memamerkan wajah tampan dengan ekspresi dinginnya.


"Kau baik-baik saja? Ada paku aku di sepatu gadis itu. Kakinya cedera kata para petugas medis, jadi aku kira tanganmu juga akan terluka."


Setelah mendengar jawabannya, Atha berlalu pergi meninggalkan tempatnya dan kembali bersama Tony ke kelas mereka.


Rinna dan ketika temannya, langsung menghela napas lega dan menatap guru kesehatan yang tersenyum, menertawakan ketegangan mereka.


"Ibu sangat heran dengan kalian ataupun para siswa yang lain, padahal Atha orang yang cukup baik saat sudah mengenal ya. Tapi dia memang memiliki wajah dingin yang membuat orang-orang menghindarinya. Jadi sekarang Ibu, kalian tidak perlu takut dengannya, karena dia Kakak kelas yang baik," ucap guru kesehatan, menasihati mereka.


Tapi mereka berempat hanya tersenyum masam dan menganggukkan kepalanya, sembari berterima kasih sebelum pergi meninggalkan ruang UKS tersebut.


"Terima kasih telah membantu, kalau begitu kami berempat kembali ke kelas dulu ya, Bu?!" ucap Naufal, mewakilkan teman-temannya yang sudah pergi begitu saja dari ruang UKS, setelah mengucapkan terima kasih secara singkat.


"Ya, jangan datang lagi! Ibu tidak suka melihat kalian sakit. Anak-anak muda itu harus tetap menjaga tubuh mereka agar tetap sehat. Mengerti?"


Naufal hanya mengangguk singkat sambil tersenyum lebar, seraya dia menutup pintu dan mengejar ketertinggalannya.


"Kamu dengar kata Bu Guru, kan? Kak Atha bukan orang yang jahat. Jadi kita tidak perlu takut dengannya," celetuk Ningsih, sangat bersemangat.


Afi menaikkan sebelah alisnya dengan memamerkan wajah  tak yakin. "Memangnya kamu bisa menghadapi Kak Atha, yang bahkan saat melihat kamu saja sudah seperti menusuk boneka jerami dengan pedang, bagaimana kamu bisa bersikap sok akrab dengan orang seperti itu?" celetuknya.


Ningsih langsung tersenyum masam sambil menggaruk belakang kepalanya yang terasa gatal. "Hem, ujian akan berhasil setelah 100 kali percobaan? Bagaimana, ada yang tertarik untuk mencobanya denganku?"


Naufal, Afi dan Rinna langsung menghilangkan kepala mereka dengan cepat, dan mempercepat kedua langkah kaki mereka juga.


Ningsih yang ditinggal ketiga temannya, segera memacu kedua kakinya untuk mengikuti langkah mereka. "tunggu aku! Enggak usah ninggal juga lah, hemzh!" kesalnya, memasang pipi menggembungnya.


***


Rinna baru sampai di rumah pada pukul 08.00 malam. Dan saat pulang, dia langsung disambut dengan tatapan dingin oleh kakak keduanya. Siapa lagi kalau bukan Atha, si usil dan kulkas berjalan?!


Rinna yang baru mengucapkan salam, langsung dibuat membeku melihat ekspresi wajahnya yang tidak senang.


"A-apa?" cicit Rinna, dengan suara lirih dan ekspresi takut.


"Kenapa pulang terlambat? Kamu juga tidak izin pada orang rumah jika ingin pulang ke larut malam. Para pelayan yang menyiapkan makan malam untukmu, jadi harus membuang sisanya, kan?!" marah Atha, sambil melipat kedua tangannya di dada.


Rinna menundukkan kepalanya dalam, merasa bersalah karena tidak bisa menghubungi mereka. "Maaf, aku tidak punya ponsel. Jadi tidak bisa menghubungi orang rumah. Teman-temanku juga sama, karena anak pantai asuhan tidak boleh memiliki laptop ataupun ponsel. Maaf," cicitnya, berusaha menjelaskan situasinya.


Atha yang mendengar itu langsung terkejut, mengapa pada perempuannya dengan kedua mata membulat. "Kamu tidak punya ponsel?" celetuknya, seakan tidak percaya.


Rinna menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, sambil mengangguk ambigu.


"I-iya, Kak. Aku tidak punya ponsel. Ta-tapi mulai besok, kalau aku ingin pulang terlambat karena ada urusan di luar, aku akan memberitahumu sebelum kamu pulang sekolah. Aku benar-benar bukan sengaja untuk tidak mengabari orang rumah kalau pulang terlambat. Maafkan aku," ucapnya, bersalah.